Beranda / Romansa / Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin / Bab 5 : Petunjuk dari Masa Lalu

Share

Bab 5 : Petunjuk dari Masa Lalu

Penulis: qia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-02 08:01:46

Keira menatap berkas di tangannya. Map tipis itu tergeletak di atas ranjang, lembaran-lembarannya berantakan. Data dan salinan email di dalamnya jelas menuliskan satu nama: Nero.

Seharusnya malam ini ia bisa tidur nyenyak, tapi kepalanya justru dipenuhi ribuan pertanyaan. Nero pernah melindunginya, bahkan beberapa kali menyelamatkan nyawanya. Lalu kenapa namanya tercatat dalam dokumen sabotase?

Ia bangkit, berjalan mondar-mandir, lalu berhenti di depan cermin. Rambutnya kusut, matanya sembab. Bayangan yang menatap balik bukan lagi pewaris keluarga Valen yang disegani, melainkan seorang perempuan yang dilanda keraguan pada suaminya sendiri.

Kalimat ibunya tiba-tiba terngiang: “Kalau kamu ingin tahu siapa teman atau musuhmu, lihat siapa yang diam saat kamu dijatuhkan.”

Dengan tangan gemetar, Keira membuka kotak kayu berukir nama Amara di gudang bawah. Di dalamnya, sebuah buku harian tua. Halaman demi halaman ia baca, sampai pada kalimat yang membuatnya membeku:

"Aku tahu Marina akan kembali. Dan Ervan terlalu buta untuk menyadari luka yang ia tinggalkan akan membalas melalui anaknya."

Marina ibu Nero. Ervan ayahnya sendiri.

Pernikahan ini bukan soal bisnis. Ini soal dendam lama yang diwariskan.

Keira menutup buku itu, tubuhnya bergetar. Ia ingin percaya Nero tak tahu apa-apa, tapi segalanya terasa terlalu kebetulan.

Malam itu, ia membuka laptop. Data perusahaan menunjukkan log aktivitas Nero, seminggu setelah pernikahan mereka. File bernama “INT-LogN.ERO.247.p*f” menegaskan jejak itu.

Untuk apa? Menyusup… atau melindungi?

***

Keesokan paginya, Nero sudah duduk di meja makan, rapi dengan kemeja putih, secangkir kopi mengepul di depannya. Keira melangkah pelan, meletakkan map di meja.

Nero menatapnya, datar. “Apa ini?”

“Kamu tahu,” jawab Keira, suaranya nyaris berbisik.

Ia membuka map itu tanpa panik. “Kau pikir aku menyabotase perusahaan ayahmu?”

Keira menelan ludah. “Aku pikir kau menyimpan terlalu banyak rahasia.”

Tatapan Nero mengeras. “Aku memang punya akses. Tapi bukan untuk menghancurkan. Aku sedang mencari siapa yang benar-benar menyusup. Masalahnya, aku tak tahu bisa mempercayaimu atau tidak.”

Keira tertawa hambar. “Jadi ini pernikahan? Suami-istri yang saling mencurigai?”

Nero berdiri, matanya tajam. “Kita adalah korban masa lalu yang tidak pernah kita pilih.”

Air mata menggenang di mata Keira. “Masalahnya, bahkan saat kau bicara kebenaran… aku tetap meragakanmu.”

Nero menatapnya lama, lalu berbisik, dingin.

“Karena kau belum tahu, Keira… siapa sebenarnya yang jadi budak.”

Nero tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, lalu berbalik memunggunginya, seolah tak ingin memperlihatkan ekspresi apa pun. Keira tak lagi peduli pada sikap dingin itu, meski hatinya terus diguncang badai yang diciptakan oleh generasi sebelum mereka.

“Jawab aku satu hal saja,” suaranya pelan, hampir bergetar.

Nero menoleh sedikit, cukup untuk menunjukkan ia mendengar.

“Kalau semua ini memang bukan permainan, kenapa kamu terlihat seperti seseorang yang sedang menang?”

Ia menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, datar tanpa nada.

***

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Diamnya justru menambah beban di dada Keira. Ia ingin memaksanya bicara, ingin menyeret kebenaran keluar dari mulutnya, tapi lidahnya kelu.

Di luar, burung gereja berkericau seakan pagi berjalan normal, tapi bagi Keira, dunia seolah runtuh. Ia menatap Nero yang berbalik, memunggunginya, seolah tak ingin memperlihatkan ekspresi apa pun.

“Jawab aku satu hal saja,” suaranya pelan, hampir bergetar.

Nero menoleh sedikit, cukup untuk menunjukkan ia mendengar.

“Kalau semua ini memang bukan permainan, kenapa kamu terlihat seperti seseorang yang sedang menang?”

Ia menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, datar tanpa nada.

Kata-katanya menggantung, tajam, seperti pisau yang menusuk pelan. Dan untuk pertama kalinya, Keira merasa pernikahan ini bukan hanya tentang cinta atau kebencian tetapi tentang siapa yang mampu bertahan lebih lama di dalam lingkaran rahasia yang penuh jebakan.

Keira menggenggam ujung meja erat-erat, jemarinya memutih. Kata-kata Nero masih berputar di kepalanya, menghantam lebih keras daripada teriakan sekalipun. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi tatapan lelaki itu sudah seperti tembokdingin dan tak bisa ditembus.

Keheningan itu menusuk, hanya terdengar detik jam yang bergerak pelan. Keira merasa dirinya terperangkap, seakan dinding rumah itu ikut menutup rapat rahasia yang tak ingin terungkap. Nafasnya pendek, dada sesak.

“Apa semua ini memang sudah ditentukan sejak awal?” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Nero tidak menjawab, tapi gerak bahunya menegang. Ada sesuatu dalam sikapnya antara ingin berkata, tapi memilih diam. Dan diamnya itulah yang lebih menyakitkan bagi Keira.

Ia menoleh ke jendela. Cahaya matahari pagi menyorot tirai, tapi yang dirasakannya hanyalah gelap. Seandainya ibunya masih ada, mungkin ia bisa mendapat jawaban. Tapi kini, ia hanya punya dirinya sendiri, dan suami yang entah berdiri di sisi yang sama atau sebaliknya.

“Kalau memang kita hanya korban,” lanjut Keira dengan suara bergetar, “kenapa aku merasa kau menikmati permainan ini?”

Tatapan Nero beralih padanya, dalam dan tak terbaca. Senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya justru membuat Keira semakin tersiksa. Itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum orang yang sudah terlalu lama menyimpan luka.

“Kau akan tahu pada waktunya,” jawabnya singkat, lalu ia mengambil jas yang tergantung di kursi. Gerakannya tenang, nyaris terlalu biasa, seolah percakapan barusan tak pernah terjadi.

Keira menatap punggungnya saat Nero melangkah pergi. Suara pintu berderit, kemudian menutup pelan, meninggalkannya sendirian.

Saat itulah ia sadar, perjalanan yang sedang dijalaninya jauh lebih rumit daripada sekadar mempertahankan sebuah pernikahan. Ia bukan hanya istri, tapi juga saksi dari pertarungan dua masa lalu yang menuntut balas. Dan entah bagaimana, ia tahu dirinya harus menemukan kebenaran itu sebelum kebenaran yang justru menghancurkannya terlebih dahulu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 88 : Garis Tipis

    Undangan kedua datang dengan detail yang lebih jelas.Tanggal. Waktu. Agenda.Namun ada satu perbedaan yang membuat Keira membaca ulang surel itu perlahan: pertemuan kali ini meminta komitmen arah, bukan sekadar diskusi.Garis tipis mulai terlihat.Rapat persiapan tidak panjang.Bukan karena kurangnya hal yang perlu dibahas, melainkan karena semua sudah tahu batas masing-masing.“Jika mereka meminta eksklusivitas?” tanya Rina.Keira tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela sejenak, lalu berkata, “Kita dengar syarat lengkapnya dulu. Eksklusivitas tanpa keseimbangan bukan kemitraan.”Tidak ada yang menyela.Pertemuan berlangsung di ruang yang lebih terbuka.Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada upaya menyembunyikan apa pun. Kali ini, pihak seberang berjumlah lebih banyak dan salah satunya adalah sosok yang jelas memiliki keputusan akhir.Ia memperkenalkan di

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 87 : Uji Sunyi

    Tidak ada kabar selama tiga hari.Keira tidak menanyakannya. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah.Hari-hari berjalan seperti biasa rapat mingguan, penyempurnaan sistem, satu klien kecil yang meminta penyesuaian mendadak. Semua ditangani tanpa drama. Tanpa rasa “ini penentu segalanya”.Justru di situlah ujiannya dimulai.Uji sunyi tidak datang dengan konflik terbuka. Ia datang dalam bentuk ketidakhadiran.Tidak ada panggilan lanjutan.Tidak ada email klarifikasi.Tidak ada sinyal.Dulu, kekosongan seperti ini akan menggerogoti Keira. Ia akan membaca ulang percakapan, mencari celah, meragukan setiap kalimat yang telah ia ucapkan.Sekarang, ia hanya mencatat diam juga bentuk respons.Pada hari keempat, masalah kecil muncul.Bukan krisis. Tapi cukup untuk menguji konsistensi yang sedang diamati pihak luar.Salah satu mitra lama terlambat memenuhi kewajiban. Dampaknya tidak besar

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 86 : Ambang

    Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datarPertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.Ini ambang.Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”Semua menoleh.“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 85 : Tumbuh Pelan

    Tumbuh pelan sering disalahartikan sebagai diam. Padahal di dalamnya, ada perubahan yang bekerja tanpa suara menguat, merapikan, dan membentuk arah dengan kesabaran yang jarang disorot.Keira mulai merasakan pertumbuhan itu bukan dari angka, melainkan dari cara tim berfungsi. Keputusan tidak lagi selalu naik ke mejanya. Masalah diselesaikan di tempatnya muncul. Percakapan menjadi lebih langsung, tanpa lapisan kehati-hatian berlebihan.Ia mengamati itu dengan tenang.Tidak mencampuri. Tidak mengklaim.Pertumbuhan juga terasa di dalam dirinya.Keira tidak lagi bangun dengan daftar panjang hal yang harus dibuktikan. Ia memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana apa yang perlu dijaga hari ini?Kadang jawabannya teknis. Kadang emosional.Dan ia belajar bahwa keduanya sama penting.Satu minggu berjalan tanpa kejutan besar.Tidak ada lonjakan. Tidak ada penurunan. Namun ada stabilitas yang mulai terasa kons

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 84 : Bangun dari Nol

    Membangun dari nol tidak pernah benar-benar berarti kosong. Ia berarti memilih ulang apa yang dibawa, apa yang ditinggalkan, dan apa yang sengaja tidak diulang.Keira memulai minggu itu dengan papan rencana yang lebih sederhana. Tidak ada target ambisius. Tidak ada proyeksi yang memerlukan pembenaran panjang. Hanya tiga fokus utama, ditulis dengan spidol hitam, tanpa hiasan.“Ini cukup?” tanya Rina, menatap daftar itu.“Untuk sekarang,” jawab Keira. “Lebih dari itu hanya akan jadi kebisingan.”Langkah pertama terasa paling sunyi.Tidak ada sorotan. Tidak ada validasi eksternal. Keira dan tim bekerja seperti orang-orang yang tahu mereka tidak sedang dipantau dan justru karena itu, mereka lebih jujur.Mereka memperbaiki proses yang selama ini ditoleransi meski melelahkan. Mereka menyederhanakan alur yang terlalu bergantung pada satu orang. Keira memastikan satu hal: tidak ada sistem yang hanya bisa berjalan jika ia hadir.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 83 : Dampak

    Dampak tidak datang sebagai ledakan. Ia merembes pelan, pasti, dan menyentuh bagian yang tidak bisa dihindari.Hari pertama setelah penolakan terasa biasa saja. Email tetap masuk. Telepon tetap berdering. Tidak ada tanda bahwa satu jalur besar baru saja ditutup.Namun Keira tahu dampak sejati selalu datang setelah keheningan awal.Hari kedua, penyesuaian dimulai.Satu proyek harus dijadwal ulang. Satu rencana ekspansi dikecilkan skalanya. Tidak ada kepanikan, tapi setiap perubahan membawa beban tambahan yang harus ditata ulang.Rina membawa daftar revisi ke ruangannya. “Ini masih bisa jalan. Lebih pelan.”Keira mengangguk. “Pelan tidak apa-apa. Tersesat yang berbahaya.”Mereka bekerja dalam diam. Tidak ada keluhan. Tidak ada drama.Hari ketiga, dampak mulai terasa di luar lingkaran dekat.Beberapa pihak menarik diri tanpa penjelasan. Nama Keira tidak lagi muncul di beberapa percakapan strategis. Bukan k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status