LOGINKarena sebuah kesalahan, Marissa harus tidur dengan bos barunya di kantor. Ia tidak bisa menghindar karena duda itu terus menjeratnya. Pria itu sangat penasaran dengan sosok Marissa. Wanita itu punya anak, namun masih perawan.
View MoreBau sabun bayi bercampur wangi nasi hangat memenuhi rumah kecil itu. Dari dalam kamar, seorang bocah berlari keluar sambil menyeret tas sekolah bergambar kartun.
"Mama! Aku mau berangkat sekarang!" katanya sambil duduk dan berusaha memakai sepatunya sendiri. "Ayang, tunggu sebentar!" Marissa muncul dari dapur, tergesa tapi tetap dengan senyum lelah yang hangat. Ia jongkok, meraih tas kecil itu lalu memasukannya ke dalam tas. "Bekalnya Mama buat banyak, cukup sampai makan siang nanti! Oh, iya! Mungkin Mama akan pulang telat, Ayang tidak apa-apa kan, sendirian di rumah?" "Tenang, Ma! Aku udah besar, bisa tinggal di rumah sendiri!" Bocah itu berdiri dengan gaya sok dewasa. Lalu berkata sambil berkacak pinggang, "Mama, mulai sekarang jangan panggil aku ‘Ayang’ lagi! Malu kalau didengar teman-teman!" "Hah? Kok begitu?" Marissa terkekeh. Ia pun menjawab dengan pelan, "Mario adalah anak kesayangan Mama! Jadi, panggilan Ayang itu artinya kesayangan. Mau itu udah besar atau masih kecil, Mario tetap ayangnya Mama!" Mario tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan, lalu berlari menuju bus jemputan yang sudah menunggunya di depan. "Bye Ma!" teriaknya ketika bus mulai berjalan. "Bye, Sayang!" balas Marissa dengan dada hangat dan mata berbinar. Lima tahun yang lalu ia dicap hina karena merawat bayi kecil yang ditemukannya di depan pintu rumah. Semua orang menganggapnya gadis kotor yang tidak bisa menjaga diri karena hamil di luar nikah. Dan sekarang, melihat bocah itu tumbuh sehat membuat semua lukanya terasa ringan. *** Tiga puluh menit kemudian, taksi sudah sampai di tempat kerjanya. Marissa bergegas turun dari taksi, lalu berlari masuk ke dalam gedung kantor tanpa mempedulikan apapun. Rasanya, ia akan terlambat kalau tidak segera masuk ke dalam. Ketika berlari sambil berbelok, matanya malah melihat ke arah bawah. Ia tidak menyadari dari arah berlawanan ada beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya. Hingga tabrakan pun tidak bisa terhindarkan. BRUK! "Aahh!" Marissa menabrak tubuh tinggi dan kekar yang ada di depannya dengan sangat keras. Wajahnya pun sampai sakit karena benturan itu. "Maaf.... Tidak sengaja!" ucapnya sambil membungkuk di depan orang itu. Detik berikutnya, Marissa ditarik ke samping, lalu dibisiki sesuatu di telinganya. "Kau mau cari mati? Dia adalah bos baru kita!" "Hah???" Marissa membuka mulutnya lebar. Terkejut dengan ucapan rekan kerjanya tentang orang yang ada di depannya itu. Wajah pria itu terlihat sangat tampan dengan tubuh tinggi dan tegap, mata elangnya menatap Marissa dengan tajam. "Minggir!" Asisten pribadinya segera memberi jalan untuk bosnya. Setelah itu mereka pergi tanpa mempermasalahkan kecerobohan Marissa. "Ayo Sa! Kita harus segera pergi ke aula!" ajak Fanny—rekan kerja, sekaligus teman baik Marissa. "Ah, ya!" Marissa pun mengerti. Ia segera mengikuti Fanny berjalan menuju aula. *** Di ruangan yang sangat luas, dengan cahaya terang dari jendela besar yang ada di sekeliling dinding itu, semua karyawan sudah berkumpul dan duduk di kursi yang sudah tersedia. Marissa dan Fanny segera duduk di kursi paling belakang untuk menghindari perhatian semua orang karena keterlambatannya datang ke acara tersebut. Tidak lama, acara penyambutan pun dimulai. "Selamat pagi, semuanya!" sapa seseorang di depan sana. "Di pagi ini, saya ingin memperkenalkan wakil presdir kita yang baru! Yang mana, dia adalah kakak saya sendiri, dan anak tertua dari pemilik perusahaan ini! Mulai hari ini, Pak Danen akan menjabat sebagai wakil presdir kita yang baru! Dia lulusan universitas di Amerika, dan baru kembali setelah mengurus cabang di sana!" "O, iya!" Wilyam pun melanjutkan ucapannya, "Untuk merayakan kedatangan Pak Danen ke perusahaan ini, saya akan menyampaikan kabar gembira untuk kalian semua!" "Wuuuuu!" Semuanya bersorak. "Nanti malam akan ada pesta penyambutan di hotel Mirlon. Kalian semua dihimbau untuk hadir dan diperbolehkan untuk menginap secara gratis di hotel tersebut. Tentu saja, besoknya kita harus bekerja lagi," canda Wilyam di tengah ucapannya. "Pokoknya hari ini semua karyawan KJK Grup harus bersenang-senang!" "Wuuuuu!" Semuanya kembali bersorak dan bertepuk tangan. Sangat gembira dengan acara pesta nanti malam. "Dipersilahkan Pak Danen untuk memperkenalkan diri!" ucap Wilyam lagi. Lalu ia memberikan mikrofonnya pada sang kakak. Danendra segera berdiri. Ia memperkenalkan diri dan berbicara banyak hal tentang dirinya dan visi misinya di perusahaan itu. Marissa yang duduk di kursi paling belakang, sama sekali tidak mendengar ucapan bos barunya tersebut. Selain itu, ucapan pria itu tidak terlalu jelas karena suaranya terlalu pelan. Marissa hanya duduk tanpa benar-benar mendengarkan penjelasan dari Danendra. Fanny yang duduk di sampinnya malah bisa mendengar semuanya dengan jelas. Ia berkata pada Marissa, "Sa! Pak Danen itu ternyata kakaknya Pak Wilyam! Dia juga masih muda untuk ukuran wakil presdir, tiga puluh satu tahun! Aku kira, orang yang dipanggil Bapak itu adalah pria tua berusia empat puluhan!" Fanny melanjutkan ucapannya, "Pak Danen ini tidak tua, dan tentunya sangat tampan! Tapi, sayang ...." Tiba-tiba Fanny menarik napas dan berhenti berbicara. Marissa pun menjadi penasaran dengan kelanjutan cerita Fanny tentang bos barunya. Marissa segera bertanya, "Sayang kenapa?" Fanny membuang napasnya berat. Ia pun menjawabnya dengan pelan, "Sayangnya, dia seorang duda!" "Hah? Dari mana kau tahu dia seorang duda?" tanya Marissa dengan heran. Marissa segera mengangkat kepalanya ke depan, menatap pria yang saat ini masih berbicara di depan sana. Sekilas, pria itu juga menatap ke arah Marissa, memerhatikan Marissa dengan tajam. Itu membuat Marissa salah tingkah. Marissa segera menarik pandangannya kembali, merasa tidak enak dengan tatapan maut dari bos barunya tersebut. "Aish! Kau ini ...." Fanny memukul kepala Marissa dengan pelan. Ia sedikit kesal dengan kelambatan pikiran sahabatnya ini. "Pak Danen tadi yang bilang sendiri, dia seorang Duda. Istri dan putranya meninggal lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan mobil. Dulu, dia menikah di usia dua puluh lima tahun. Dan—" "Oh, itu! Ya ... ya ... ya! Tadi aku mendengarnya! Kau tidak perlu menjelaskannya lagi! Haha!" potong Marissa dengan cepat, namun juga berbohong. Marissa menghentikan ucapan Fanny karena tidak ingin mendengar tentang kehidupan pribadi orang lain. Mungkin karena sejak lima tahu yang lalu Marissa selalu jadi bahan gosip orang-orang dan dikatai jelek tentang kehidupannya, jadi sekarang, ia tidak ingin bergosip tentang masa lalu orang lain. Fanny yang melihat raut wajah sahabatnya segera tertawa, lalu berkata, "Kenapa wajahmu? Apa kau tidak suka Bos menceritakan kehidupan pribadinya?" "Bukan!" tepis Marissa dengan cepat. "Tadi aku sudah mendengarnya, kau tidak perlu menjelaskannya lagi kepadaku! Hehe!" Marissa berbohong lagi. "Sudahlah!" Marissa mengalihkan pembicaraan. "Nanti kita pulang dulu, baru pergi ke hotel!" "Untuk apa pulang? Rumahmu cukup jauh dari hotel itu! Lebih baik kita langsung ke salon saja, sewa baju dan dimake-up! Bagaimana?""Bagaimana Sa? Sekarang kau percaya, kan, ada dua bayi di dalam perutmu?" tanya Fanny yang menemani Marissa di ruang periksa. Saat ini dokter dan susternya sedang menyiapkan obat. "Ya!" Marissa pun mengangguk. Ia duduk bersama Fanny di depan meja dokter. "Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Marissa dengan pelan. Pandangan matanya sedikit kosong dan melihat ke sembarang arah. Pikiran Marissa masih kacau, dan beban di kepalanya semakin banyak. Ia memikirkan banyak hal, termasuk bayi tak berdosa yang ada di perutnya. "Bagaimana apanya?" Fanny tidak mengerti. Ia segera memegang kedua bahu Marissa, memaksa teman baiknya itu untuk menatap dirinya. "Dengarkan aku! Yang harus kau lakukan saat ini ialah... fokus pada bayi yang ada di dalam perutmu! Jangan lagi memikirkan hal-hal yang membuatmu stres! Kematian Tante Merina, aku tahu, dan aku pun bisa merasakannya! Kau pasti sedih dan kecewa! Tapi kau tidak boleh murung terus, ibumu akan sedih melihatmu seperti ini! Ayo, semangat, Sa! Tun
Pukul delapan malam, Fanny mengetuk pintu kamar Marissa beberapa kali, lalu mendorong pintu tanpa mendengar jawaban dari dalam. Seketika pintu kamar itu terbuka lebar, cahaya terang dari lampu luar langsung masuk ke dalam kamar yang nampak gelap. Fanny pun segera menyalakan lampu kamar itu dan melihat Marissa berbaring di tempat tidur tanpa memakai selimut. "Sa! Bangunlah! Jangan dulu tidur, kau kan belum makan!" ucap Fanny sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia duduk di samping tempat tidur, lalu mengusap punggung Marissa dengan pelan. Wanita itu tidur menyamping, memunggungi Fanny. "Sa! Apa kau sudah tidur?" Fanny menunduk, melihat Marissa yang tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan tajam menatap Fanny. Tindakan Marissa itu membuat Fanny terkejut. Dia hampir loncat ke bawah saking terkejutnya melihat tatapan maut Marissa. "Kau sungguh mengagetkan aku!" ucap Fanny sambil mengelus dadanya sendiri. Marissa pun segera bangkit, lalu duduk sambil bersandar di kepala tempa
Danendra tidak menyangka, Sely, yang kabur dari rumah tahanan itu malah datang ke Kota B dan membuat masalah di tempat usaha ibunya Marissa. Ini sungguh aneh. "Coba, putar ulang saat mereka bertiga duduk di meja itu!" tunjuk Danendra pada layar laptop di depannya. Saat ini, Asisten Anas dan Danendra sedang duduk di sofa kamar Danendra sambil melihat rekaman CCTV pada saat seseorang menaruh racun di makanan pelanggan itu. "Yang ini, Tuan?" tanya Asisten Anas yang sudah memutar ulang kejadian sebelumnya. "Coba, putar lagi, tapi dipelankan saja! Aku ingin melihatnya dengan jelas, wanita yang memakai topi hitam dan masker itu benar Sely atau bukan?" jelas Danendra sambil menatap tajam layar di depannya. Ia begitu fokus memperhatikan gelagat aneh mereka bertiga yang akhirnya satu pria menaburkan serbuk di atas makanan yang dibawanya. "Lihatlah! Dia mulai membuka topi dan maskernya. Coba perbesar lagi gambar wanita itu!" perintah Danendra yang semakin tidak sabar. Asisten Anas
Setelah selesai memeriksa tempat makan Merina dan mengambil perangkat CCTV yang dulu dipasang oleh Danendra untuk keamanan tempat itu, sekarang mereka pergi ke rumah Marissa untuk bertemu dan menjemputnya pulang. Namun ternyata, di kota kelahiran istrinya ini, Danendra malah tidak bisa bertemu dengan Marissa. Wanita itu tidak ada di manapun, termasuk di rumahnya sendiri. "Apa Marissa belum pulang ke rumah?" tanya Danendra pada tetangga yang sedang duduk di luar bersama tetangga lain. Karena tadi mereka mengatakan Marissa tidak ada. "Ya, Tuan! Setelah Merina dimakamkan, Marissa tidak pulang ke sini lagi! Mungkin sekarang dia tinggal di rumah pria itu," jelas Bu Nemi yang kemarin—pada saat di pemakaman—Marissa dibawa oleh seorang pria. "Hah? Pria? Pria yang mana lagi?" Danendra lebih serius lagi. Ia selalu merespon berlebih jika sudah membahas masalah pria lain di hidup Marissa. Trauma karena dulu dikhianati oleh istrinya menjadi sesuatu hal yang membuat Danendra seperti ini. "Ap
Di rumah tua yang sangat sepi, samar terdengar suara hewan-hewan dari sekitaran rumah tersebut. Bukan hanya suara hewan-hewan kecil saja, hewan besar seperti long-longan anjing pun begitu jelas terdengar. Marissa yang dikurung di tempat yang sepi itu merasa merinding dan sedikit takut. Marissa ma
Hari sudah sangat larut, suasana di tempat itu pun semakin malam semakin menyeramkan. Marissa tidak menyadari ponsel yang ada di dalam tasnya masih menyala, dan seseorang dari seberang telepon masih bisa mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di tempatnya.
Setelah Marissa naik ke atas motor tinggi dan besar itu, bukannya membelokan motornya dan pergi dari sana, Zain malah berjalan lurus menuju rumah tua itu. Ia menghiraukan teriakan Marissa dari belakang. Dia terus saja berjalan. "Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku ke rumah tua itu lagi?
Malam hari, Marissa baru turun dari bus setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit dari tempat kerja menuju rumahnya. Tubuhnya terasa capek dan lelah, untuk berjalan pun rasanya sangat sulit. Marissa ingin segera sampai di rumah dan tidur. Hari ini, pekerjaan Marissa di kedai mie cukup meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews