Partager

Bab 42 : Harga

Auteur: qia
last update Date de publication: 2026-01-04 12:52:20

Tekanan yang berkurang tidak selalu berarti beban yang hilang.

Sering kali, ia hanya berpindah tempat.

Keira merasakannya pada minggu-minggu setelah keputusan itu diambil. Ritme kerja melambat, bukan karena kurangnya tugas, melainkan karena setiap langkah kini harus dihitung dua kali. Tidak ada lagi jalur cepat. Tidak ada pintu belakang.

“Semua harus lewat kita,” kata Rina suatu sore.

Keira mengangguk. “Dan itu artinya semua kesalahan juga berhenti di kita
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   207 : Wajah Di Ambang

    Ceklek!!Pintu terbuka sepersekian, cukup untuk membiarkan cahaya lorong masuk dan memotong gelap ruang arsip. Bayangan di lantai memanjang, bergerak pelan seiring daun pintu terdorong lebih jauh. Rendra sudah setengah langkah di depan, tubuhnya menutup sebagian meja. Arief berdiri kaku di sisi lain, tablet masih di tangan, tapi jari-jarinya tidak lagi bergerak.Seeyana tidak mundur. Ia hanya menggeser flash drive itu ke dalam genggamannya, menutupnya rapat tanpa suara.Pintu terbuka penuh. Sosok di ambang tidak langsung masuk. Ia berhenti sejenak, seperti memberi waktu bagi mata mereka menyesuaikan.Lalu melangkah.“Seharusnya saya tahu kalian akan ke sini.”Suara itu familiar. Terlalu familiar.Arief menghembuskan napas pendek. “Pak Adrian.”Adrian Pratama menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Tidak ada tergesa, tidak ada gerakan yang sia-sia. Jasnya masih rapi seperti sebelumnya, seolah

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   206 : Pintu Dalam

    “Kita sudah terlalu dekat untuk mundur sekarang.”Suara Rendra rendah, hampir seperti gumaman, tapi cukup untuk membuat langkah Seeyana berhenti sepersekian detik sebelum kembali berjalan. Koridor menuju ruang arsip lama terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu di langit-langit menyala stabil, tapi pantulannya di lantai marmer menciptakan kesan dingin yang tidak nyaman.Arief berada sedikit di belakang mereka, tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan lantai utama. Tangannya memegang tablet, tapi layar itu tidak lagi menampilkan data baru. Hanya catatan yang sama, dibaca ulang berkali-kali seolah ada sesuatu yang terlewat.“Kita tidak masuk tanpa rencana,” kata Seeyana akhirnya, suaranya tenang tapi lebih datar dari biasanya. Ia tidak menoleh, matanya tetap lurus ke depan.“Ini bukan bagian dari rencana awal,” jawab Arief.“Sekarang sudah.”Tidak ada yang menambahkan. Hanya suara langkah m

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   205 : Nama Tersembunyi

    “Tidak sekarang.”Suara Seeyana tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan reaksi spontan yang hampir keluar dari Rendra dan Arief. Tangannya masih menggenggam ponsel, layar belum padam, pesan terakhir itu seperti menggantung di antara mereka, tidak meminta jawaban, tapi jelas menuntut keputusan.Rhea tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan Seeyana, menunggu arah.“Kalau kita menyebut nama itu sekarang,” lanjut Seeyana pelan, “kita kehilangan satu hal yang belum kita punya.”Rendra menyipitkan mata. “Apa?”“Kontrol.”Kata itu jatuh dengan tenang, tapi beratnya terasa jelas.Arief bersandar sedikit ke meja, tangannya terlipat. “Kita sudah punya log. Akses override. Itu bukan bukti kecil.”“Bukan,” jawab Seeyana. “Tapi itu juga belum cukup untuk menjelaskan bagaimana Helios bisa berjalan selama tiga tahun tanpa ada satu pun alarm yang

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   204 : Jejak Tidak Terlihat

    “Kalau dia bukan orangnya… berarti kita selama ini melihat ke arah yang salah.”Rendra bicara pelan, tapi cukup untuk membuat langkah mereka yang sempat tertahan kembali bergerak.Seeyana tidak langsung menjawab. Ia berjalan lebih dulu, melewati koridor yang kini terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu di langit-langit memantulkan bayangan tipis di lantai marmer. Suara sepatu mereka terdengar jelas, terlalu jelas, seolah setiap langkah ikut dihitung.Arief menyusul di sisi kiri.“Pesan itu bisa saja jebakan,” katanya. “Mengarahkan kita menjauh dari Adrian.”“Bisa,” jawab Seeyana singkat.Ia menekan tombol lift tanpa melihat mereka.“Dan kalau bukan?”Lift belum datang. Angka di atas pintu bergerak lambat dari lantai bawah.Rendra menyandarkan bahu ke dinding.“Kalau bukan… berarti kita baru saja berhadapan dengan seseorang yang tahu s

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   203 : Wajah Terlalu Tenang

    Pintu lift terbuka dengan bunyi halus yang hampir tidak terdengar, dan seseorang melangkah keluar dengan gerakan yang tenang, seolah tidak ada satu pun hal di gedung ini yang mampu membuatnya tergesa. Jas abu-abu yang ia kenakan terlihat rapi tanpa satu lipatan pun, langkahnya stabil, dan ekspresinya sama seperti yang mereka lihat beberapa jam lalu di ruang rapat komisaris.Rendra langsung mengenali orang itu bahkan sebelum pintu lift sepenuhnya terbuka. Ia menoleh sedikit ke arah Seeyana.“Dia.”Seeyana tidak menjawab, tetapi matanya mengikuti sosok itu yang kini berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Orang itu belum melihat mereka, atau mungkin sudah melihat tetapi memilih untuk tidak menunjukkan reaksi.Arief berdiri lebih tegak dari sebelumnya.“Ini kebetulan yang aneh.”“Bukan kebetulan,” kata Seeyana pelan.Orang itu akhirnya melihat mereka bertiga berdiri di dekat

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   202 : Orang Yang Salah

    Koridor lantai komisaris mulai kembali ramai ketika para staf keluar masuk membawa dokumen rapat berikutnya. Namun Seeyana, Rendra, dan Arief masih berdiri di tempat yang sama. Tidak ada yang terburu-buru pergi. Percakapan mereka terasa seperti potongan terakhir dari sesuatu yang baru saja mulai terbuka.Rendra menatap Seeyana dengan lebih serius daripada sebelumnya. “Tadi kamu bilang kita mungkin melihat orang yang salah.” Ia menurunkan tangannya dari dada dan mendekat sedikit. “Maksudmu Surya bukan orang yang menjalankan Helios?”Seeyana tidak langsung menjawab. Ia membuka kembali map merah itu, kali ini lebih hati-hati. Halaman pembayaran yang tadi mereka lihat masih berada di tengah berkas. Dua nama tercetak jelas di sana. Nama kedua membuat seluruh ruangan rapat tadi berubah tegang. Surya Pratama. Namun nama pertama yang tercantum di atasnya justru hampir tidak mendapat perhatian setelah itu. Semua orang terlalu fokus pada Surya.Ia menunjuk baris pertama i

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 105 : Tekanan Diam

    Panggilan lanjutan datang dua hari kemudian.Tidak ada nada mendesak dalam email itu, hanya kalimat rapi yang menyebutkan waktu, tempat, dan daftar dokumen tambahan yang perlu dibawa. Seeyana membaca detailnya dua kali, lalu menutup laptop dengan gerakan pelan. Ia tidak ingin memberi rua

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 104 : Garis Tipis

    Pagi datang dengan suara notifikasi yang beruntun.Seeyana belum sepenuhnya membuka mata ketika ponselnya bergetar di sisi bantal. Ia menghela napas pelan, lalu meraih perangkat itu tanpa tergesa. Ia sudah terbiasa hidupnya kembali bergerak, dan ritme baru selalu menuntut penyesuaian.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 103 : Jejak yang Tidak Pergi

    Langit pagi tampak bersih, hampir terlalu bersih untuk kota yang jarang memberi ruang pada ketenangan. Seeyana berdiri di depan jendela apartemen barunya, secangkir kopi mendingin di tangannya. Pemandangan di luar berbeda bangunan asing, ritme orang-orang yang belum ia kenal namun ada sesuatu yan

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 102 : Ruang Antara

    Ada hari-hari ketika hidup tidak bergerak maju atau mundur.Ia hanya berada.Seeyana merasakannya pada minggu ketiga di kota baru. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada kabar mengejutkan. Rutinitas berjalan rapi, hampir terlalu rapi, seperti garis lurus yang belum diberi belokan.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status