“Welcome to my paradise!!”
Aurelia berseru girang saat akhirnya ia dan Gian membuka pintu apartemen mereka. Ruangan yang familiar menyambut, dengan cahaya matahari menembus tirai tipis dan aroma kopi dari mesin otomatis di dapur. Ia melompat-lompat kecil sambil menutup pintu, matanya bersinar riang.
“Walaupun di rumah ibumu yang mewah itu semuanya serba lengkap, tapi aku lebih suka di sini,” lanjut Aurelia sambil menepuk-nepuk sofa yang sudah lama ia rindukan.
Gian mengangguk sambil tersenyum, menatap istrinya dengan lembut. “Aku juga senang karena bisa melihat istriku pakai bikini setiap saat.”
Aurelia menoleh tajam, pura-pura memasang wajah galak, meski pipinya merona kemerahan. “Gian?”
Melihat wajah memerah itu, Gian merasa gemas. Tangannya meremas lembut bokong sang istri tanpa bisa menahan diri. Aurelia menjerit pelan, tertawa sambil menepis tangan Gian.
“Sudah, cukup!” katanya
Aurelia melangkah cepat, napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dada. Suara langkah kaki di ujung tangga terdengar makin jelas, bergema di lorong sempit yang diterangi cahaya lampu redup. Malam itu terasa menyesakkan, seolah udara di sekitar ikut bersekongkol untuk membuatnya semakin waspada. Matanya menajam, tubuhnya condong ke depan, sikapnya mirip pemburu yang sudah siap menangkap mangsa.Begitu sosok itu muncul, tertangkap cahaya lampu lorong yang kuning pucat, langkah Aurelia terhenti. Matanya melebar, tubuhnya menegang. Ia terperangah.“Mbok… Sumi?” suaranya tercekat, serak, campuran antara kaget, geram, dan perasaan tak percaya.Sosok perempuan paruh baya itu terlonjak seolah baru saja dipergoki sedang mencuri. Tubuhnya menegang, wajahnya pucat pasi. Tangan keriputnya masih menggenggam sesuatu—se
Hari itu terasa berjalan lebih cepat daripada biasanya. Matahari sore sudah mulai condong ke barat saat Aurelia kembali dari kampus. Sopir keluarga yang ditugaskan Nyonya Lestari mengantarnya pulang dengan tenang, sementara pikirannya masih penuh dengan teori psikologi perkembangan yang ia baca untuk tesis.Sesampainya di rumah, ia mendapati sang mertua sedang duduk santai di ruang tamu dengan teh hangat di genggaman.“Bagaimana? Apa kau kerasan di sini?” suara Nyonya Lestari terdengar ramah, seolah ingin memastikan menantunya itu betah tinggal di rumah besar ini.Aurelia mengangguk canggung. “Kerasan, Bu. Sopirnya juga baik. Aku jadi lebih leluasa bolak-balik kampus.”“Syukurlah,” balas Nyonya Lestari singkat. Senyum yang tipis itu sekilas tampak tulus, namun di mata Aurelia tetap menin
Baru saja ia bergerak waspada, ternyata yang muncul adalah seorang pelayan yang sedang tersenyum ramah. Aurelia akhirnya bisa bernapas lega.“Ada apa?”“Tidak, Bu,” jawab Aurelia cepat ketika melihat mertuanya tampak panik.Hari pertama Aurelia menjejakkan kaki di rumah besar itu terasa lebih tenang daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Meski pada awalnya hatinya diliputi kegelisahan karena harus berpisah dengan Gian untuk beberapa hari, ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan terbaik.Rumah sang ibu mertua memang luas, dengan halaman depan yang ditata rapi, dan para petugas keamanan yang selalu berjaga membuatnya merasa sedikit lebih aman.Sejak pagi, Aurelia sudah dijemput sopir pribadi yang ditugaskan Gian untuk mengantarnya ke kampus. Duduk di kursi belakang dengan tenang, ia memperhatikan jalanan yang ramai. S
Gian tercekat. Kalimat Aurelia barusan terasa bagai hantaman lembut yang justru menimbulkan luka di dada. Ia tidak menyangka istrinya akan berkata seperti itu. Dengan segala keraguannya, Aurelia justru memilih untuk mengalah, menerima opsi yang sebelumnya ia sendiri tolak keras.“Sayang… apa kau yakin?” suara Gian terdengar bergetar, nyaris tak keluar.Aurelia menatapnya, mencoba tersenyum meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kecemasan. “Aku hanya tidak ingin kau berangkat dengan hati berat. Kalau memang harus begitu, aku akan berusaha menerima. Semua demi anak kita.”Gian menghela napas panjang. Ia meraih kedua tangan Aurelia, meremasnya hangat. “Aku tidak ingin kau merasa tertekan. Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Ibu. Tapi aku juga tidak bisa tenang kalau meninggalkanmu sendirian di sini.”Sunyi menyelimuti ruang tamu kecil itu. Hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi sela-sela hening. Aurel
Suasana ruang tamu malam itu masih dipenuhi sisa riuh. Aurelia duduk di sofa dengan wajah pucat, tubuhnya masih bergetar meski Gian tak henti-hentinya memeluk dan mengusap punggungnya. Segelas air hangat di tangannya belum disentuh. Mbok Sumi berdiri kikuk di sudut, menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung jarik yang dikenakan. Sementara itu, Nyonya Lestari duduk dengan sorot mata tajam yang nyaris membuat udara di ruangan tersebut terasa kaku.“Sudahlah, Gian. Ibu tidak bisa tenang kalau begini terus,” suara ibunya memecah hening. “Bawa saja Aurelia ke rumah. Ada ibu, ada Mbok Sumi dan yang lain juga. Setidaknya kalau kau kerja, dia tidak sendirian.”Gian menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Aurelia yang masih terpaku. Hatinya terjepit antara keinginan untuk melindungi istrinya dan keyakinan bahwa apartemen mereka adalah tempat paling layak bagi keluarga kecil ini. Ia tahu maksud ibunya baik, tetapi ada sesuatu dalam cara ibunya berbic
“Aaaakhhh!”Suara teriakan itu memecah keheningan malam. Aurelia berdiri di ruang tengah apartemen dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya gemetar, tangannya memegangi perut seolah melindungi buah hati yang belum lahir. Napasnya tersengal, matanya liar menyapu ruangan yang baru saja membuatnya merinding. Pintu apartemen tadi seperti ada yang berusaha membukanya dari luar, dan ia yakin mendengar suara gesekan gagang pintu.Dalam hitungan detik, pintu benar-benar terbuka. Aurelia terlonjak mundur, hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya.“Lia!” suara Gian terdengar panik. Ia muncul dari balik pintu, diikuti Mbok Sumi yang membawa kantong plastik sampah. Wajah Gian tegang, langsung berlari menghampiri istrinya. “Kau kenapa?!”Aurelia gemetar hebat. Tanpa pikir panjang, Gian meraih bahu dan memeluk tubuh rapuh itu erat-erat. “Tenang, sayang. Aku di sini.”“A—ada yang isengin aku, Gian. Sumpah! Ak