LOGINEvara tengah berbadan dua saat Brian meninggal karena kecelakaan. Ariana sang mertua yang dulu menentang pernikahan mereka membawanya pulang ke rumah mewahnya. Evara harus hidup bersama Adamis sang adik ipar yang sangat membencinya. "Boleh Aku memanggilmu Adam?" "Kenapa? Apa agar Kita berjodoh? jangan mimpi!" Ketus dan menusuk. Itu yang selalu Adamis ucapkan. Kepolosan Evara membuat kebencian Adamis berubah jadi cinta. simak, yuk. Kisah manis mereka.
View More"Aahh!"
Brakk! Ciiiii... iiittt...!! Motor berdecit, rodanya menjerit menggesek aspal sebelum akhirnya, Brakk! Benturan keras kedua. Kali ini pohon yang menjadi sasaran. Mobil yang sudah menghajar motor itu terus melaju setelah berhenti sesaat untuk mengamati keadaan sekitar. Ia menganggap keadaan aman terkendali meski tak dapat dipungkiri wajahnya menjadi pucat karena takut. Prang! Piring di tangan Evara lepas begitu saja dan berderak mencium lantai. 'Kenapa? Ada apa?' gumam hatinya cemas. Evara Katrina, perempuan cantik yang baru tiga bulan menikah itu merasa ada yang jatuh dari dalam dadanya. "Eva! Apa yang Kamu lakukan, hah?" Teriak laki - laki yang lebih muda darinya. Laki - laki kurus kecil dan sebelah kakinya ... cacat. Evara mencoba untuk tenang. "Tanganku licin. Maaf." Katanya pada Athena, adik laki - lakinya itu. "Ibu! Apa Eva ingin menghabiskan piring Kita?" Sergah Athena marah. "Atha, Aku nggak sengaja." Evara setengah mengeluh. "Apa yang Kamu lamunkan, Eva?" Tanya sang Ibu dengan nada dingin. Sang Ibu lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin dan sangat menusuk, "Kami sudah lapar. Kamu masak begitu lamban. Dan sekarang Kamu malah menjatuhkan piring nya." "Tapi Ibu, Aku benar - benar nggak sengaja." "Apa Kamu memikirkan suamimu yang miskin itu?" Sang ibu berdecih. Brian, memang itu yang sedang Evara pikirkan. "Cepat, Eva! Mana piringku? Apa Kamu akan membuatku kelaparan?!" Atha seakan melolong. "Atha, Kamu kan bisa mengambilnya sendiri. Aku harus.." "Buat apa ada Kamu kalau Aku harus mengambilnya sendiri?" Gerutu Athena. Evara menghela nafas. Dia bukan seperti kakak bagi Athena tapi lebih seperti pengasuh yang harus melayani semua kebutuhannya. Sebelah kaki Athena pincang. Itu karena Evara, begitu yang selalu diceritakan oleh sang ibu. "Waktu Kalian kecil Kamu membuat adikmu celaka, Eva. Mulai saat itu Kamu harus bertanggung jawab mengurusnya." Tentu saja Evara tidak dapat mengingatnya. Yang ia ingat adalah perlakuan pilih kasih sang ibu padanya dan Athena. Ibu begitu memanjakan Athena tapi menindasnya dengan semena - mena. "Aku mau menikah. Sediakan uang mahar untukku!" Kata Athena sambil menyuap makanannya. Makanan yang dimasak sendirian oleh Evara. Seperti semua pekerjaan yang lain di rumah ini. Sang Ibu tidak ingin memiliki pelayan dengan alasan semua dapat dikerjakan oleh Evara. Lagipula Tidak ada biaya untuk itu. Evara bahkan harus memenuhi kebutuhan finansial keluarga ini. Gaji Evara yang hanya bekerja di sebuah toko sepatu dalam sebuah Mall itu harus dapat mencukupi semua kebutuhan mereka. Athena tidak ingin bekerja. Ia seperti pangeran tanpa mahkota. Sang Ibu menatap Athena sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Sebenarnya ia belum ingin Evara tahu tentang rencana pernikahan adiknya ini. "Dengan apa Kamu akan menghidupi istrimu? Lalu mengapa Kamu meminta uang mahar dariku?" Tanya Evara. "Itu urusanku, Eva! Urusanmu mencarikan uang mahar untukku!" Sentak Athena marah. Ia memang selalu marah untuk memaksakan kehendaknya. "Kamu Kakaknya. Kamu bertanggung jawab penuh pada Adikmu." Timpal sang Ibu membelanya. Sebenarnya ia ingin menunda pemberitahuan ini. Tapi, 'Eva sudah terlanjur mengetahui nya.' geram hati. Safira. 'Semua karena Athena. ' Athara yang tidak merasa bersalah tersenyum puas. Evara terdiam. Hatinya masih resah karena menjatuhkan piring itu tanpa sebab tapi sudah ada masalah yang membuatnya pusing seperti ini. Darimana ia mendapatkan uang mahar untuk Athena? Ia bahkan tidak berani bertanya berapa uang mahar yang Athena butuhkan. Ia teringat pada suaminya, Brian. Pekerjaannya sebagai mandor tentu tidak dapat membantunya untuk mencarikan uang mahar itu. Oh ya, kenapa Brian belum pulang? Biasanya ia akan pulang untuk makan siang. "Kamu nggak makan, Eva?" Tanya sang ibu melihat ia hanya berdiri di depan mereka. Ia terlihat bingung dan gelisah. Eva tersentak. "Aku.. Aku menunggu Brian, Ibu." Jawab Evara. Ia semakin gelisah. Tidak biasanya Brian terlambat seperti sekarang ini. "Suami miskin gitu Kamu pikirin terus. Apa yang bisa ia berikan padamu? Kamu bodoh, Eva. Kamu menolak calon yang Ibu pilihkan untukmu!" Kecam sang Ibu. "Ia memberikan Aku kebahagiaan, Ibu. Meski itu bukan materi." sanggah Evara. "Naif sekali." Dengus sang Ibu. "Lihatlah Athena. Adikmu itu berhasil mendapatkan calon istri dari kalangan atas." Kata sang ibu bangga. Athena mengangguk -angguk dengan mata penuh kesombongan. *********** Sekitar 3 bulan yang lalu, "Apa Kamu bisa mencarikan sepatu yang cocok, untukku?" Sapa Brian. Itulah awal perkenalan mereka. "Eh, ya, Tuan mau model yang bagaimana?" Tanya Evara gugup. Brian terlihat begitu tampan dan elegan. Ia memakai kemeja lengan panjang polos warna biru muda. Begitu kharismatik. Brian tersenyum. Ia sudah sering melihat Evara bila ia ada meeting di Mall ini. "Sebentar, Tuan. Akan Saya pilihkan beberapa model." Ucap Evara. "Brian. Panggil Aku, Brian. Sejak kapan Aku menjadi Tuanmu?" Evara yang cantik dan terlihat polos membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. "Selidiki keadaan keluarganya, Sony. Aku ingin menikahinya." pintanya pada Sony, sahabat yang menjadi bawahannya. "Secepat itu, Bos? Bahkan Kalian belum saling kenal." "Apa urusanmu? Apa Kamu bisa menguasai hati dan pikiranku?" Brian nampak gusar. "Tapi Nyonya nanti.." "Itu urusanku dengan Mama. Kamu nggak usah ikut memikirkannya." Tegas Brian. Ia meminta bawahannya itu untuk menyelidiki latar belakang Evara. Dan ia menemukan kenyataan yang menyedihkan. "Gadis yang malang. Aku akan mengangkatmu dari jurang yang diciptakan oleh Ibu dan Adikmu." Gumamnya saat itu. "Andai saja namaku Adam." Katanya. "Kenapa?" Tanya Evara bingung. Brian baru saja menanyakan namanya saat menerima sepatu yang ia sodorkan. "Adam dan Eva. Tentu berjodoh." Senyumnya menggombal. "Ah!" Evara tersipu. "Apalah artinya sebuah nama." Katanya tanpa sadar. Secara tak langsung ia ingin mereka berjodoh. Belum apa - apa laki - laki ganteng ini sudah menggodanya. Dan seperti Brian, Evara jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Brian bukan hanya terlihat tampan dan gagah tapi ia juga begitu lembut dan ramah. Sejak saat itu Brian acapkali menyapa Evara saat melewati toko sepatu itu sampai akhirnya, "Maukah Kamu menikah denganku?" Tanpa kencan, tanpa pacaran, Brian membuat Evara ingin pingsan karena bahagia. "Aku.. Aku.." "Berarti Kamu mau." Putus Brian percaya diri. Evara hanya menunduk karena malu. Keinginan Brian untuk meminang Evara tidak berjalan mulus. Ibunya, Ariana, menentang hubungan mereka. "Bisa - bisanya Kamu cari jodoh dari keluarga kelas bawah, Brian? Mau diletakkan dimana wajah Ibu pada para leluhur dan kalangan Kita?" sesal Ariana. "Mama, Aku mencintai Evara. Aku akan tetap menikahinya, dengan atau tanpa restu darimu." "Brian! Kamu tau konsekwensinya jika Mama nggak setuju?" Ariana mulai mengancam. "Brian tau, Ma." Brian akan kehilangan haknya atas perusahaan dan semua fasilitasnya. "Apa Kamu masih ingin melakukannya? Kamu nggak akan menyesal?" dengus Ariana marah. "Aku nggak akan menyesal, Ma. Aku akan memulai lagi dari nol." Jawab Brian tegas. "Brian!" "Kakak! Tolong dipikirkan lagi!" Teriak adik Brian satu - satunya, Adamis. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun. Masih lebih tua dari Evara. "Dami, tolong jaga Mama." Kata Brian sambil melangkah ke kamarnya. Ia akan membereskan barang - barang yang akan ia bawa. "Tinggalkan kunci mobil dan kartu kredit mu!" Teriak Ariana putus asa. Brian tidak menolak. Ia tinggalkan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapatkan demi mengejar cintanya pada Evara. "Kamu akan mengerti bila sudah mengenal Evara." Katanya pada Adamis. Brian tidak pernah mengatakan pada Evara kalau ia - tadinya - adalah seorang CEO sebuah perusahaan. "Aku dipecat, Eva. Aku sedang mencari pekerjaan. Apa Kamu masih mau menikah denganku?" Tanyanya. Apa Evara dapat menerimanya? *************"Bawa semua pakaian dari kamar Nyonya Muda Kalian. Pindahkan ke sini dan tata dengan rapi." Titah Ariana. "Kalau sudah selesai baru Kalian pindahkan pakaian Tuan muda." Katanya lagi. Merapikan paviliun hanya membutuhkan waktu sebentar. Paviliun itu selalu dibersihkan setiap hari. Ariana hanya perlu menambahkan ini dan itu. Adamis tersenyum puas sedang Evara terlihat canggung. Apa mereka akan tidur berdua di kamar ini? "Kenapa, Sayang?" Tanya Adamis melihat sikap canggung istrinya. Evara menggelengkan kepalanya. Ia tentu saja tidak berani mengatakan apa yang ia pikirkan. Bagaimana kalau itu menyinggung perasaan Adamis? "Katakan saja." Desak Adamis. "Apa Kamu takut Aku akan marah dan menelamu?" Katanya dengan maksud bercanda. Evara tersentak. Ia menatap suaminya dengan mata polosnya untuk menyelami pikiran Adamis. Tapi mata coklat muda itu terlihat begitu cerah karena bahagia. Adamis tertawa. Ia menganggap Evara ini sangat kekanakkan. Usia Evara memang jauh lebih muda dari Bria
"Apa Kita tidak buka dulu kadonya?" Tanya Evara selepas Adamis mencium pelipisnya. "Apa Kamu sangat ingin tau?" Adamis balik bertanya. Ia sendiri merasa enggan mengetahui kado apa yang diberikan oleh keluarga Alea. Itu megingatkannya pada Alea yang agresif dan membuatnya sebal! Tapi itu adalah kado yang sangat besar. Tentu saja Evara ingin mengetahuinya. Tapi jawaban yang keluar dari mulut Evara berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. "Enggak." Tegas Evara seraya menggelengkan kepalanya. Tanpa ia sadari tangannya telah melingkar di pinggang Adamis. Kepalanya juga ia sandarkan pada bahu suaminya. Mereka berjalan sambil berpelukan dan membuat cemburu tapi juga kekaguman para pelayan. "Mereka mesra sekali. Aku sampai meleleh dibuatnya." Bisik salah seorang pelayan. Temannya mengangguk dan meletakkan telunjuk di bibirnya. Ia tidak ingin percakapan mereka di dengar oleh yang lain terutama oleh Tuan muda dan istrinya. Tapi pelayan itu tidak peduli. Ia berkata lagi, "Dunia ini ngga
"Semuanya terserah keinginanmu, Sayang. Kita bisa pulang kapan saja bila Kamu menginginkannya." Kata Adamis. Panggilan sayang darinya membuat pipi Evara memerah. Ia menganggap Adamis tidak tau malu karena menunjukkan kemesraannya di depan Ariana. "Tapi.. Tapi.." Kata Evara gugup. "Tapi apa, Eva?" Kata Ariana seraya menahan senyumnya. Ia tau Evara merasa tidak nyaman dengan sikap Adamis tadi. Tapi apa salahnya bermesraan dengan istri sendiri? "Adam 'kan harus bekerja, Mama. Ia nggak bisa libur seenaknya hanya untuk menuruti keinginanku." Sahut Evara. Entah kenapa kini ia dapat berbicara begitu lancar. Adamis dan Ariana tertawa. "Jadi Bos itu, bebas." Bisik Ariana. Evara menggeleng - gelengkan kepalanya. "Nggak boleh begitu. Justru jadi Bos itu harus memberikan contoh yang baik." Katanya. Adamis saling memandang dengan mamanya. Evara ternyata bukan perempuan yang suka membuat suami mengikuti semua keinginannya. "Iya, Sayang. Kamu benar." Panggilan Adamis itu kembali membuatny
"Ada apa, Axel? Apa ada yang Kamu sembunyikan?" Desak Alvian seraya menerima kopi yang disodorkan pelayan. Axel berusaha keras menutupi perasaan kalutnya dengan meminta pelayan itu juga membuatkannya secangkir coklat panas. "Baik, Tuan."Axel menyadari kakak dan ibunya menatapnya untuk menunggu jawaban. "Enggak, lah. Memang apa yang bisa kusembunyikan dari Kalian?" Kelit Axel. Ia berhasil mengatasi rasa gugupnya. Selama ini tidak ada kabar polisi mencari penyebab kecelakaan waktu itu. Tidak ada CCTV juga di jalanan sepi itu. Dia aman. Alvian menyeruput kopinya. Sebenarnya ia tidak begitu saja percaya pada adiknya ini. Ia berjanji dalam hatinya akan menanyakan ini lebih intens di saat yang lain. Ia lalu menatap sang mama. "Habis ini Aku mau keluar. Papa memintaku mengntarkan kado untuk Adamis." Tunjuknya pada kotak besar di atas meja bar. Artika mengangguk. Mereka memang tidak datang ke pernikahan Adamis kemarin. Itu karena Alea melarang mereka. Ia lalu membantu pelayan yang sed












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.