Hari itu terasa berjalan lebih cepat daripada biasanya. Matahari sore sudah mulai condong ke barat saat Aurelia kembali dari kampus. Sopir keluarga yang ditugaskan Nyonya Lestari mengantarnya pulang dengan tenang, sementara pikirannya masih penuh dengan teori psikologi perkembangan yang ia baca untuk tesis.
Sesampainya di rumah, ia mendapati sang mertua sedang duduk santai di ruang tamu dengan teh hangat di genggaman.
“Bagaimana? Apa kau kerasan di sini?” suara Nyonya Lestari terdengar ramah, seolah ingin memastikan menantunya itu betah tinggal di rumah besar ini.
Aurelia mengangguk canggung. “Kerasan, Bu. Sopirnya juga baik. Aku jadi lebih leluasa bolak-balik kampus.”
“Syukurlah,” balas Nyonya Lestari singkat. Senyum yang tipis itu sekilas tampak tulus, namun di mata Aurelia tetap menin
Rumah itu mendadak terasa membeku. Udara yang semula biasa saja kini seolah menekan dari segala arah. Aurelia berdiri kaku, jemarinya masih menempel di pergelangan Mbok Sumi yang berlutut, seakan-akan sedang ditarik ke dalam kegelapan. Tubuh perempuan tua itu terguncang hebat, air matanya bercucuran deras, suaranya pecah di udara, membuat seisi rumah seakan mendengar jeritan batin yang pilu.“Nyonya… Mbok tidak kuat lagi…” lirih Mbok Sumi, dengan tangis yang tersendat-sendat. Kata-katanya terdengar penuh kepasrahan, getir, dan sengaja dipahat sedemikian rupa agar tampak meyakinkan. Bahunya bergetar, tubuhnya meringkuk, memamerkan sosok yang tampak teraniaya.Aurelia tercekat. Lidahnya kelu, jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menusuk dadanya. Semua berjalan begitu cepat. Dalam sekejap, ia yang sebenarnya korban justru tampak seperti pelaku yang menekan seorang perempua
Aurelia melangkah cepat, napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dada. Suara langkah kaki di ujung tangga terdengar makin jelas, bergema di lorong sempit yang diterangi cahaya lampu redup. Malam itu terasa menyesakkan, seolah udara di sekitar ikut bersekongkol untuk membuatnya semakin waspada. Matanya menajam, tubuhnya condong ke depan, sikapnya mirip pemburu yang sudah siap menangkap mangsa.Begitu sosok itu muncul, tertangkap cahaya lampu lorong yang kuning pucat, langkah Aurelia terhenti. Matanya melebar, tubuhnya menegang. Ia terperangah.“Mbok… Sumi?” suaranya tercekat, serak, campuran antara kaget, geram, dan perasaan tak percaya.Sosok perempuan paruh baya itu terlonjak seolah baru saja dipergoki sedang mencuri. Tubuhnya menegang, wajahnya pucat pasi. Tangan keriputnya masih menggenggam sesuatu—se
Hari itu terasa berjalan lebih cepat daripada biasanya. Matahari sore sudah mulai condong ke barat saat Aurelia kembali dari kampus. Sopir keluarga yang ditugaskan Nyonya Lestari mengantarnya pulang dengan tenang, sementara pikirannya masih penuh dengan teori psikologi perkembangan yang ia baca untuk tesis.Sesampainya di rumah, ia mendapati sang mertua sedang duduk santai di ruang tamu dengan teh hangat di genggaman.“Bagaimana? Apa kau kerasan di sini?” suara Nyonya Lestari terdengar ramah, seolah ingin memastikan menantunya itu betah tinggal di rumah besar ini.Aurelia mengangguk canggung. “Kerasan, Bu. Sopirnya juga baik. Aku jadi lebih leluasa bolak-balik kampus.”“Syukurlah,” balas Nyonya Lestari singkat. Senyum yang tipis itu sekilas tampak tulus, namun di mata Aurelia tetap menin
Baru saja ia bergerak waspada, ternyata yang muncul adalah seorang pelayan yang sedang tersenyum ramah. Aurelia akhirnya bisa bernapas lega.“Ada apa?”“Tidak, Bu,” jawab Aurelia cepat ketika melihat mertuanya tampak panik.Hari pertama Aurelia menjejakkan kaki di rumah besar itu terasa lebih tenang daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Meski pada awalnya hatinya diliputi kegelisahan karena harus berpisah dengan Gian untuk beberapa hari, ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan terbaik.Rumah sang ibu mertua memang luas, dengan halaman depan yang ditata rapi, dan para petugas keamanan yang selalu berjaga membuatnya merasa sedikit lebih aman.Sejak pagi, Aurelia sudah dijemput sopir pribadi yang ditugaskan Gian untuk mengantarnya ke kampus. Duduk di kursi belakang dengan tenang, ia memperhatikan jalanan yang ramai. S
Gian tercekat. Kalimat Aurelia barusan terasa bagai hantaman lembut yang justru menimbulkan luka di dada. Ia tidak menyangka istrinya akan berkata seperti itu. Dengan segala keraguannya, Aurelia justru memilih untuk mengalah, menerima opsi yang sebelumnya ia sendiri tolak keras.“Sayang… apa kau yakin?” suara Gian terdengar bergetar, nyaris tak keluar.Aurelia menatapnya, mencoba tersenyum meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kecemasan. “Aku hanya tidak ingin kau berangkat dengan hati berat. Kalau memang harus begitu, aku akan berusaha menerima. Semua demi anak kita.”Gian menghela napas panjang. Ia meraih kedua tangan Aurelia, meremasnya hangat. “Aku tidak ingin kau merasa tertekan. Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Ibu. Tapi aku juga tidak bisa tenang kalau meninggalkanmu sendirian di sini.”Sunyi menyelimuti ruang tamu kecil itu. Hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi sela-sela hening. Aurel
Suasana ruang tamu malam itu masih dipenuhi sisa riuh. Aurelia duduk di sofa dengan wajah pucat, tubuhnya masih bergetar meski Gian tak henti-hentinya memeluk dan mengusap punggungnya. Segelas air hangat di tangannya belum disentuh. Mbok Sumi berdiri kikuk di sudut, menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung jarik yang dikenakan. Sementara itu, Nyonya Lestari duduk dengan sorot mata tajam yang nyaris membuat udara di ruangan tersebut terasa kaku.“Sudahlah, Gian. Ibu tidak bisa tenang kalau begini terus,” suara ibunya memecah hening. “Bawa saja Aurelia ke rumah. Ada ibu, ada Mbok Sumi dan yang lain juga. Setidaknya kalau kau kerja, dia tidak sendirian.”Gian menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Aurelia yang masih terpaku. Hatinya terjepit antara keinginan untuk melindungi istrinya dan keyakinan bahwa apartemen mereka adalah tempat paling layak bagi keluarga kecil ini. Ia tahu maksud ibunya baik, tetapi ada sesuatu dalam cara ibunya berbic