LOGINAluna, seorang mahasiswa yang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe, harus kehilangan kesuciannya oleh seorang CEO tampan yang gila hasrat dan kehangatan. Seharusnya Aluna menyesal, tetapi kelembutan dan perhatian manja yang diberikan oleh CEO itu membuatnya terlena dan tenggelam dalam candu hasrat gila milik CEO tampan, Faris, hingga berakhir menjadi wanita simpanan kesayangannya.
View More"Berapa yang kamu butuhkan?"
Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.
Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.
Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.
Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-erat
Pria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya menembus tulang. Seolah jengah menunggu mulut Aluna terbuka.
"Kenapa diam?" Suara baritonnya yang agak keras mengejutkan Aluna hingga tubuhnya tersentak dan langsung membuka mata. Bibirnya gemetar, ingin bersuara tapi juga merasa gentar.
"A-aku ...." Aluna mencoba melirik orang itu, tetapi tatkala mata mereka bersirobok, Aluna lantas terkejut dan segera membuang pandang. Tangannya meremas ujung baju dengan kuat.
Pria itu menarik napas berat menatap Aluna tak sabar.
Dia lantas mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Berapa, sejuta, dua juta?"
Aluna malah terisak, harga dirinya seolah habis dinjak bagai kotoran tak berguna. Ia tak pernah menyangka, malam ini dia akan kehilangan mahkota suci yang selama ini dijaganya dalam diam, dan sekarang kepalanya terasa berat oleh rasa malu yang tak kasat mata.
Sakit, teramat sakit, jauh lebih sakit dari rasa ngilu dan perih di bagian bawah tubuhnya. Seluruh tulang dan sendinya terasa luruh dan hancur lebur. Bahkan untuk bergerak pun terasa sulit.
Aluna semakin kuat menggigit bibir, dan semakin erat memejamkan mata, Isak tangisnya terdengar pilu. Bayangan dirinya saat memaksa pria itu menyentuhnya, seolah bermain di pelupuk mata.
"Aku ngapain jadi gila begitu?" ratap Aluna dalam hati.
'Padahal tadi cuma minum cola, kenapa bisa sampai kayak mabuk kecubung?' Aluna terus menggeleng sedih.
Ia masih ingat saat dirinya mendatangi kantor bosnya untuk meminta tolong.
"Pak, boleh gak aku ngutang dulu, nanti aku cicil pake gajiku tiap bulan?"
"Berapa?" tanya sang bos tanpa menatap Aluna.
"Delapan juta, Pak. Aku mau beli laptop."
Bosnya lantas mendongak menatapnya lekat, lalu berdiri dan menghampirinya.
"Butuh uang banyak?" Aluna mengangguk cepat, menatap bosnya penuh harap
"Ayo ikut aku!"
Aluna lalu mengikuti bosnya hingga berakhir di ruangan VVIP kafe tempatnya bekerja sebagai pengantar minuman.
"Masuk ke dalam dan temani mereka minum." Aluna lagi-lagi mengangguk patuh dan segera masuk. Namun, gadis itu terdiam mematung dengan tubuh gemetar tatkala melihat tiga lelaki bertubuh besar tengah berpesta minuman keras, ia hanya bisa meremas-
remas roknya.
"Gadis ini bakal menemani kalian, tapi ingat, kasi tips yang banyak, ya, dia butuh delapan juta!" Bosnya tersenyum pada orang-orang itu, lalu mengedipkan sebelah mata ke Aluna membuat gadis itu semakin gugup ketakutan.
"Masih perawan gak?" Tawa mereka memenuhi ruangan. Aluna tak berani mendekat, pikiran kotor sudah bertengger di kepalanya. Ia memutar badan ingin keluar, tetapi salah satu pria segera menghampiri dan menarik tangannya.
"Ayolah, cuma minum doang kok."
Senyum seringai dari dua orang lagi tampak mencurigakan, membuat Aluna semakin panik dan gemetar. Salah satunya menyodorkan minuman.
"Jangan takut, ini cuma cola."
Aluna menerima gelas itu dengan tangan gemetar dan meminumnya. Benar saja, minuman yang diminumnya cuma cola sehingga ditenggaknya hingga habis.
Pria yang tadi menariknya, menekan bahunya hingga terduduk di sofa, memeluk erat bahunya hingga Aluna sulit melepaskan diri.
Aluna mencoba menepis dengan sopan, tetapi pria itu semakin kuat menekan, ditambah temannya yang lain mulai main raba, akhirnya Aluna tidak tahan dan segera memberontak, menggigit lengan pria yang memeluk bahunya dan segera melompat, berlari keluar. Saat salah satu pria berhasil mengejarnya, Aluna langsung menyelinap masuk ke salah satu ruangan di sebelahnya. Pria itu ikut masuk, tetapi saat melihat seorang pria yang duduk di dalam, ia tampak ciut.
Ketika pria yang di dalam itu mendongak menatapnya, dia langsung nyengir, tertawa sumbang dan segera menangkap lengan Aluna. Gadis itu kaget, takut, dan panik berusaha melepas cengkeraman tangannya.
"Maaf, Pak. Aku salah ruangan, gadis ini sedikit liar soalnya." Ia pun berbalik dengan menarik kuat tangan Aluna.
"Lepasin, aku gak mau!" Aluna terus berontak.
"Om, tolongin aku, Om!" Aluna menoleh menatap pria dingin yang duduk sendirian di ruangan itu.
"Lepasin!" Aluna masih terus berusaha melepaskan diri.
"Om, tolong!" Wajah Aluna pucat ketakutan dengan tubuh gemetar hebat.
"Berhenti!" Suara berat dan tegas mampu membuat langkah kaki pria yang menangkap Aluna langsung berhenti.
Dia menoleh, kembali dengan tawa cengir sumbangnya.
"Ah, haha, maaf udah mengganggu Bapak. Aku permisi." Pria itu kembali ingin melangkah, Aluna lagi-lagi menoleh menatap pria dingin di sofa itu dengan wajah memelas.
"Tunggu!" Pria itu bangkit, berjalan mendekati mereka.
Terlihat nyali pria yang memegang Aluna ciut, senyumnya jadi kecut.
"lepasin!"
Pria itu tidak melepaskan, melainkan cengengesan mencoba menjelaskan.
"Em, begini Pak. Anak ini kan lagi butuh uang, jadi yah ... aku ... aku minta dia temani minum, ya cuma buat teman minum aja, Bapak jangan khawatir, aku ... aku juga gak tega nyakitin anak orang, Pak. Hehe."
Tiba-tiba Aluna merasa di tubuhnya mengalir perasaan aneh. Ada rasa panas dan ada rasa gejolak yang ia tak pernah rasakan sebelumnya. Seolah-olah membuat dirinya ingin diraba, ingin diremas, dan yang paling aneh, bagian bawah tubuhnya berkedut dan berdenyut. Aluna mulai oleng, rasa panas dan gerah yang tak tertahankan membuatnya tak sadar melepas kancing baju.
Pria yang memegangnya jadi agak panik, seolah takut ketahuan, segera menatap pria dingin di depannya.
"Ah haha, aku permisi Pak, sepertinya anak ini mulai mabuk, aku mau mengantarnya pulang dulu."
"Jangan, aku gak mau!" Aluna masih berusaha melawan dengan sisa tenaganya.
Pria dingin itu seolah memahami keadaan Aluna, segera mencegat tangan Aluna.
"Lepasin!" Tatapan tajam dan dingin penuh dengan aura membunuh ditujukan pada pria berandal membuatnya langsung patuh, melepaskan tangan Aluna dan segera mundur lalu keluar. Tinggallah Aluna dengan kondisinya yang sudah dipenuhi oleh gejolak nafsu.
Aluna menggeleng kuat saat bayangan dirinya menggelayut di leher pria asing itu, memelas minta diremas, dan kelakuan gila lainnya yang ia lakukan, benar-benar membuatnya mau gila. Ia tak mampu berkata-kata, hanya air mata dan gigi gemeretaknya yang terdengar. Sangat benci dengan dirinya sendiri.
Melihat Aluna yang terus diam dan terisak, Pria itu sekali lagi menarik napas panjang, lalu menghempaskan setumpuk uang di meja, mengejutkan Aluna yang sedang tenggelam dalam pikirannya.
"Ambil itu, dan kita impas!" Pria itu lantas berbalik hendak pergi.
Aluna segera bangkit, duduk di sofa dengan susah payah, wajahnya terlihat meringis menahan rasa perih di selangkangan.
"Tapi, Om, itu gak cukup buat beli laptop!" Aluna akhirnya bersuara dengan lantang. Ia menatap tumpukan uang yang tak seberapa di atas meja bergantian dengan pria matang yang berusia sekitar tiga puluhan itu.
Pria itu berhenti, menoleh menatap Aluna dengan tajam. Seketika gadis itu terhenyak melihat aura dingin dan tajam seolah tatapan membunuh, ia sedikit bergidik.
Pria itu berjalan mendekat, menatapnya datar, menarik napas, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Ambil nomorku, kirimkan nomor rekeningmu."
Aluna menggeleng pelan. "Aku gak punya rekening, Om." Aluna tertunduk, tak berani menatap wajah dingin pria asing di depannya.
"Ya udah, save nomorku, besok kirimkan alamatmu, nanti aku bawakan laptop."
Aluna mendongak."Om beneran mau ngasih laptop?" tatap Aluna tak percaya.
Pria itu, bernama Faris Pradipta, merupakan CEO sebuah perusahan ekspedisi itu hanya menangguk, tarikan napasnya terdengar berat. Rasa tanggung jawabnya yang besar jelas terpancar dari wajahnya. Pengaruh alkohol yang ditenggaknya semalam membuat nalurinya menghilang, membuatnya merasa menyesal pada gadis di depannya.
Aluna menatap ke sekeliling menacari keberadaan tasnya yang ternyata ada di ujung sofa. Ia segera mengambilnya, mengeluarkan ponsel, dan memindai barcode aplikasi chatnya.
"Udah, makasih ya, Om." Aluna menundukkan sedikit kepala sebagai tanda menghormati.
Pria itu pun berbalik dan pergi tanpa ada komentar. Aluna kembali menatap ponselnya, melihat nama orang itu yang tertera di nama kontak tersimpan. Ia menarik napas panjang, lalu memeluk ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ia belum bisa mempercayai kenyataan jika kesucian dirinya telah hilang hanya karena sebuah laptop.
“Sumpah, bukan ini yang aku mau.” Aluna terisak penuh penyesalan.
Ketika ia mendongak dan menyadari uang dari pria itu masih di atas meja, Aluna segera berdiri dan memanggilnya yang saat ini telah memegang gagang pintu hendak keluar.
“Om, uang om?”
Faris menoleh sebentar.
“Ambil aja, itu buat kamu.”
“Ta-tapi, Om?” Aluna terlihat enggan dan merasa take nak, tetapi orang itu sudah menghilang di balik pintu.
Bu Mirah menatap Maya bergantian dengan Aluna yang sedang terbujur di lantai, wajah kesalnya belum hilang.“Kalau pingsan memangnya kenapa? Gak usah panik, sana ambilkan air!” Bu Mirah berbalik dan kembali ke sofa, duduk dengan santai seolah tak ada yang terjadi, meskipun aura kesalnya masih terlihat di wajahnya.Maya mengangguk dengan gugup, beranjak perlahan diselimuti rasa takut dan cemas di wajahnya, masuk ke dalam mengambil segayung air.Gadis itu lantas menyerahkan air itu ke mamanya.“Ini Ma.” Wajahnya terlihat bingung menatap mamanya dan air di tangannya.Bu Mirah berdiri, meraih gayung di tangan Maya, menuju Aluna yang masih terbaring di lantai, dan langsung menyiramkan air segayung di wajahnya.Gadis malang itu terperanjat, perlahan matanya terbuka, terlihat sangat lemah. Ia menarik napas pelan berusaha mengatur ingatannya yang kabur agar segera terkumpul kembali. Lambat laun jiwanya yang karam kini telah menangkap sosok dirinya yang terkapar, terpuruk dan terperosok dalam ju
“Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”“Sialan, kamu menggigitku?!”Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan AlunaGadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.“Aluna, kamu ngapain!?”Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”Syani ikut kelimpungan d
Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.“Bagaimana, sudah selesai?”Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya.Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa.“Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin.Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesa
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.