Share

Part 3 (Flashback)

Penulis: Lisfi K. Ali
last update Tanggal publikasi: 2026-09-25 10:56:04

Part 3 (Flash back)

Saat itu, di ruang kerja yang luas dengan dinding kaca yang menampilkan lanskap megah ibu kota, atmosfernya tidak kalah mencekam dari ruang makan malam ini.

"Anda harus menerima keputusan saya, Bapak Aryo Wicaksana," suara bariton itu terdengar tegas.

Ryuzha Kanaka Putra—pengusaha muda nan berpengaruh yang namanya bertengger di posisi nomor satu di negeri ini sedang duduk bersandar di kursi kerjanya yang mewah. Ia melirik jam tangan mahalnya sekilas, lalu menatap sinis ke arah Aryo yang duduk di hadapannya dengan gurat wajah lelah dan tubuh yang tampak menyusut akibat beban utang.

"Tapi... anak saya tidak akan setuju dengan pernikahan ini, Pak Ryu," Aryo mencoba menolak, suaranya bergetar lemah. Ia berusaha mencari belas kasihan di tengah kondisi perusahaannya yang sudah berada di ujung tanduk.

Ryu tidak langsung menjawab. Pria itu hanya mengetuk-ngetukan pulpen mahalnya ke atas meja marmer hitam, menciptakan ketegangan. Tatapannya dingin, menusuk langsung ke netra Aryo.

"Apa peduli saya?" tanya Ryu tajam, senyum meremehkan terbit di bibirnya. "Jika Anda tidak bisa menikahkan salah satu anak Anda dengan saya, maka jangan pernah berharap akan menerima suntikan dana dari Kanaka Group. Biarkan saja perusahaan yang Anda rintis itu hancur dan menjadi kenangan dan cerita menyedihkan,” cibirnya.

"Apa... apa tidak ada dengan cara lain, Pak Ryu?" Aryo memohon, suaranya nyaris menyerupai bisikan putus asa.

Ryu seketika tergelak. Suara tawanya terdengar merdu penuh kepuasan keangkuhan. Siapa di dunia bisnis ini yang bisa mengubah keputusan seorang Ryuzha? Tidak ada. Semua orang tahu betapa keras kepala dan arogannya pria berstatus duda itu jika sudah menyangkut negosiasi. Baginya, tidak ada ruang untuk belas kasihan, yang ada hanyalah untung dan rugi, semua baginya hanya bisnis.

"Tentu saja tidak ada!" tegas Ryu, tawanya seketika lenyap, digantikan sorot mata sekeras baja. "Selain menikahkan putri Anda dengan saya, tidak ada opsi lain. Nilai investasi puluhan miliar yang saya tawarkan untuk menyelamatkan Anda bukanlah nominal yang kecil, Pak Aryo. Jujur saja, saya bahkan meragukan perusahaan Anda bisa berkembang dan mengembalikan uang yang sudah saya tanam."

Aryo mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menyembunyikan getar amarah sekaligus ketidakberdayaan. "Baiklah... saya memiliki dua anak perempuan. Anda bisa memilih salah satu dari mereka. Namun, beri saya waktu untuk bertanya dahulu, apakah mereka bersedia atau tidak. Karena bagaimana pun... pernikahan bukanlah hal yang bisa dijadikan sebuah permainan, terlebih Anda..."

Ucapan Aryo mendadak terhenti, tenggorokannya mendadak kelu ketika menangkap tatapan mata Ryu yang menajam dengan kilat mengerikan.

"Saya suka bermain wanita? Begitu?" tebak Ryu blak-blakan, memotong kalimat Aryo tanpa beban.

Aryo hanya bisa memberikan anggukan kaku, tidak berani membantah rumor yang memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan sosialita.

"Yes! You’re absolutely right, calon Ayah mertua," jawab Ryu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan. "Saya memang tidak benar-benar berniat untuk menikah karena cinta. Saya hanya mencari status pernikahan yang sah demi menyenangkan orang tua saya yang terus menuntut cucu. Saya tidak berniat untuk berkomitmen dengan satu wanita saja."

'Pernikahan model gila apa yang akan dijalani anakku nanti, sialan! Pria ini benar-benar sakit!' geram Aryo dalam hati. Dadanya bergemuruh hebat, tapi mau bagaimana lagi? Ia terpaksa menelan bulat-bulat makian itu. Ia tahu betul, sedikit saja ia menyinggung perasaan Ryu, maka habislah seluruh hidupnya. Pria di depannya ini bisa menghancurkan sisa kejayaan Wicaksana hanya dalam satu kedipan mata.

"Kita sama-sama diuntungkan di sini, Bapak Aryo," imbuh Ryu lagi, memperhatikan kepalan tangan Aryo dengan pandangan geli. "Jangan memasang tampang tidak suka seperti itu. Seharusnya Anda pulang dengan senyuman karena mendapatkan penawaran terbaik dari saya."

Ryu bangkit dari kursi besarnya, berjalan mendekati dinding kaca besar di belakangnya, membelakangi Aryo dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

"Dan satu hal lagi yang harus Anda catat baik-baik..." Ryu membalikkan badan sedikit, memberikan penekanan penuh ketegasan yang tak terbantahkan. "Saya yang akan memilih siapa calon istri saya di antara dua anak perempuan Anda, Pak Aryo. Bukan Anda yang menentukan, dan jelas bukan anak perempuan Anda yang memilih saya!"

Di balik punggungnya yang tegap, batin Ryuzha bergejolak tak kalah sengit. 'Enak saja dia yang mau mengatur pilihan. Aku bukan pria picisan yang harus mengemis cinta, apalagi membiarkan perempuan memilihku. Duda berkualitas tinggi sepertiku pantas mendapatkan hak penuh untuk memilih, bukan dipilih. Mereka semua berada jauh di bawah kakiku.' Ia membatun, kesal.

"Baiklah... jika memang itu keputusan Anda, Pak Ryuzha," jawab Aryo akhirnya, menyerah sepenuhnya pada takdir pahit yang ia ciptakan sendiri. Genggangan tangannya perlahan melonggar, berpasrah pada satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan dinasti bisnisnya.

"'Dengan cara apa pun... aku harus mendapatkan suntikan dana dari Ryu. Bagaimana pun caranya, bahkan jika aku harus mengorbankan salah satu putriku sendiri," bisik Aryo dalam hati, mengunci rapat-rapat rasa bersalahnya sebelum berpamitan pergi dari ruangan yang pria dengan status calon menantu.

****

Mengingat pertemuan itu, sisi lain dalam diri Aryo mencibir, “Kau menjual putrimu!” kalimat itu berdengung kencang berkali-kali. Aryo memegang kepalanya yang terasa berputar sekarang, “Argh!” erangnya.

Sisi lain....

[Dok, ada pasien darurat yang membutuhkan penanganan Dokter Amoura, pasien Ibu hamil dengan penderita pre-eklampsia, ketuban sudah rembes. Mohon Dokter untuk datang secepatnya ke rumah sakit, Dokter Safina berhalangan hadir, hanya Dokter yang kami harapkan saat ini untuk bisa membantu proses melahirkan yang sangat beresiko.]

Pesan seorang perawat yang membuat Amoura semakin gelisah, ketika kemacetan sudah terurai ia langsung menambah kecepatan mobilnya. Ketika melihat tikungan tajam, ia menurunkan kecepatan tapi tiba-tiba dentuman keras di menghantam mobil yang ia kendarai.

Seketika Amoura mengerem laju mobilnya, dengan jantung yang rasanya melorot hingga lutut kaki bahkan seolah terhenti beberapa saat karena begitu terkejut dengan apa yang baru saja menghantam mobilnya.

Jendela mobilnya di ketuk cukup keras dari luar, menampilkan sosok pria dengan tubuh tinggi, rahang kokoh dan mata yang seperti elang, sangat tajam dan sangat kentara betapa arogannya pria yang kini semakin keras menggedor kaca jendelanya.

“Buka! Apa kau baik-baik saja, Nona?” tanyanya dari luar.

Dari dalam mobil Amoura tertegun, melihat pria yang terus menggedor jendela kaca mobilnya. Hingga ia menurunkan kaca mobil dan detik kemudian tatapan keduanya terkunci …..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 9 (Terkejut)

    Ryuzha tersentak terkejut selama sepersekian detik, tetapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sosok itu ....Aryo Wicaksana!Pria paruh baya itu kini berdiri kaku di ambang pintu bersama Mike, asisten pribadi Ryu. Netra Aryo seketika membelalak lebar, menatap lurus ke arah aktivitas yang sangat menjijikkan di matanya saat ini. Rahang Aryo mengeras rapat menahan gejolak emosi yang membakar dada, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Ngamuk? Tentu tidak... ia sadar sama posisinya dan siapa yang berkuasa, bukan dirinya, melainkan Ryuzha!“Akhirnya tamu kehormatan datang juga,” kata Ryu santai seraya langsung menegakkan tubuhnya kembali.Begitu pun dengan Violet, sang sekretaris, yang ikut merapikan diri dengan santai tanpa ada sedikit pun panik yang terlihat. Keduanya tampak bersikap biasa saja, ya ... karena ini memang bukan pertama kalinya mereka terpergok oleh karyawan lain

  • Terpaksa Menikahi Duda   PART 8 (Hanya Amoura)

    Deru mesin mobil mewah Ryu melambat saat akhirnya berhenti tepat di depan area drop-off gedung pencakar langit Ryuzha di mana perusahaannya berada. Begitu pintu dibuka, sepatu pantofel hitamnya yang mengilat menginjak lantai marmer teras luar. Ryu keluar dari mobil dengan gerakan yang begitu berkelas. Mengenakan setelan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, aura kepemimpinan pria itu langsung mendominasi sekitar.Ada yang berbeda dengan CEO perusahaan itu, pagi ini di kantor ketika sebuah senyuman menawan terukir jelas di wajah tampan nan penuh ketegasan yang biasanya dingin tak tersentuh.Tak ada tatapan tajam.Heran memang. Tetapi, begitulah yang ditampilkan Ryuzha pagi ini. Dengan langkah mantap dan percaya diri, Ryu berjalan melintasi pintu kaca otomatis menuju lobi utama. Kehadiran pria itu seketika menghentikan kesibukan di sana, situasi kantor mendadak riuh oleh bisikan kagum yang tertahan.Pemandangan langka ini membuat para karyawan wanita di lobi rasanya ingin melel

  • Terpaksa Menikahi Duda   PART 7 (KEKECEWAAN MASA LALU)

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas ranjang king size mewah milik penerus Kanaka Group. Ryuzha tak berhenti tersenyum pagi ini ketika bangun, suasana hatinya begitu baik, lebih bersemangat, hal yang sangat langka karena biasanya ia berekspresi datar. Biasanya, pagi hari bagi Ryuzha hanyalah awal dari rutinitas bisnis yang menjemukan dan hampa. Namun, ingatan tentang insiden semalam tentang seorang wanita galak berprofesi dokter yang dengan berani merampas kunci mobilnya terus berputar di kepala, menyuntikkan adrenalin baru yang meletupkan rasa penasaran. Ryu sudah tidak sabar berangkat dari rumah menuju kantor untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya—Aryo Wicaksana. Ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya, mengetahui bahwa ia memegang kendali penuh atas nasib keluarga wanita galak itu.Sambil bersiul kecil, langkah tegapnya membawa tubuh jangkungnya menuruni undakan tangga menuju ruang makan yang megah. Di ujung meja marmer, sesos

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 6 (Ditakdirkan bersama?)

    “Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup.“Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu.“Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh.“Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas ap

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 5 (Sial)

    Amoura merutuki dirinya ketika mengetahui identitas pria yang menabrak mobilnya, tertera dengan jelas nama seseorang yang baru saja ia dengar dari sang Ayah. Seseorang yang sungguh tidak menarik untuknya bahkan untuk sekadar berkenalan, tidak penting menurut Amoura.Namun, kata tidak penting rasanya sudah tak berarti apa pun ketika takdir malam ini mempertemukan mereka melalui kejadian yang tidak menyenangkan.“Ryuzha Kanaka Putra,” gumam Amoura sambil mengayunkan langkah menuju ruang IGD rumah sakit.“Arghh! Aku harus tetap fokus, ayo Amoura lupakan kejadian tadi bersama pria yang sama sekali tidak ingin kau temui, sekarang ada tugas yang lebih penting dari itu,” ucap Amoura membisikkan dirinya sendiri sambil tetap melangkah melewati pintu utama lobi rumah sakit dan menuju ruang IGD.Langkah kaki Amoura menggema cepat di lorong unit gawat darurat yang riuh oleh bunyi monitor. Bau antiseptik yang tajam menyambut penciumannya. Di ujung selasar, seorang suster yang tampak kewalahan lan

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 4 (Pertemuan Tak Terduga)

    Kontras dengan wajahnya yang terlihat penuh ketegasan, pria itu tidak melontarkan satu pun kalimat kasar. Nada suaranya datar, tapi keangkuhan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.Amoura mendorong pintu mobilnya lebar-lebar. Ia keluar dan berdiri tegak hingga mereka kini saling berhadapan di bawah temaram lampu jalanan."Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ujar pria itu tenang, melangkah maju satu tapak. "Tapi kecelakaan ini bukan sepenuhnya salah saya. Anda menurunkan kecepatan mobil secara tiba-tiba di jalur cepat,” kilahnya tak ingin disalahkan sepenuhnya dan memang kejadiannya seperti itu.Tetapi, penuturan itu sukses membuat Amoura berkacak pinggang. Enak saja menyalahkannya! Pikir Amoura. Sepasang matanya memicing tajam, menatap sinis pria jangkung di hadapannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Amarah dari rumah tadi tampaknya telah menemukan tempat yang pas untuk menjadi pelampiasan sebelum tiba di rumah sakit."Kau menyalahkanku?" Amoura mendesis, suaranya meninggi. "Hei! Kau y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status