Share

Part 2 (Tamparan)

Penulis: Lisfi K. Ali
last update Tanggal publikasi: 2026-09-25 10:52:51

PLAK!

 

Tamparan itu begitu keras hingga memekakkan telinga. Kepala Amoura terhentak ke samping. Sudut bibirnya berdenyut nyeri, menyisakan sensasi panas yang langsung membakar kulit pipinya yang putih. Namun, alih-alih menangis atau ketakutan, Amoura perlahan menoleh. Sebuah seringai dingin justru terukir di wajahnya yang kaku. Jemarinya mengusap bekas tamparan itu dengan gerakan yang teramat santai, seolah pukulan barusan tidak berarti apa pun untuknya bahkan tak menyakitinya secuil pun.

 

Di hadapannya, dada Susi naik-turun memburu napas. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, dipenuhi murka yang tak lagi bisa ditutupi oleh topeng keanggunannya.

 

"Tidak tahu terima kasih!" tukas Susi, suaranya melengking tajam, menatap nyalang ke arah anak tirinya. "Sama seperti ibumu! Dia itu terlalu egois, tidak bisa menerima keberadaanku hingga membuatnya frustrasi dan gila! Itu pilihannya sendiri untuk hancur, bukan karena kesalahanku! Sekarang, lihat apa yang kamu lakukan? Kamu tidak jauh berbeda dengan ibumu yang menyedihkan itu! Egois, terlalu sombong, dan selalu merasa diri paling benar!"

 

Mendengar nama ibunya diseret dalam hinaan, kilat di mata Amoura semakin menggelap. Bukannya mundur, ia justru melangkah maju, memangkas jarak hingga Susi tanpa sadar menahan napas. Amoura memiringkan kepalanya, menyodorkan sisi wajahnya yang lain dengan tatapan menantang yang mematikan.

 

"Tante sudah puas?" tanya Amoura, nadanya merendah, berbisik halus namun menuntut. "Atau... ingin menambahnya lagi di pipi sebelah sini? Silakan," tantangnya.

 

"Cukup, Amoura! Cukup!"

 

Aryo akhirnya berteriak, melerai pertengkaran yang semakin tegang di setiap detiknya.

 

“Tolong hentikan pertengkaran kalian.....” Pria paruh baya itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Suaranya terdengar parau, sarat akan keputusasaan seorang kepala keluarga yang kehilangan wibawa tanpa bisa melakukan apa-apa.

 

"Tolong, jangan buat keributan lagi. Ayah hanya menginginkan dukungan dari kalian," ucap Aryo, menatap kedua putrinya dengan pandangan memohon. "Jujur... perusahaan Ayah sedang dilanda krisis hebat. Kita berada di ujung tanduk, dan kita sangat membutuhkan suntikan dana dari Ryuzha untuk tetap bertahan. Ayah harap, siapa pun di antara kalian yang akan dipilih olehnya nanti, maulah berlapang dada. Yakinlah pada Ayah... Ayah tidak akan pernah berniat menyengsarakan darah daging Ayah sendiri."

 

Telinga Aryo sudah terlampau panas mendengar perdebatan yang tak ada ujungnya. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada rasa sesak yang menghimpit dada. Ia tidak ingin rumah tangga yang ia bangun saat ini dipenuhi oleh pertengkaran tak berujung, amarah, dan kebencian. Namun, nurani kecil Aryo tidak bisa berdusta. Ia mengakui, jauh di dalam sana, ia tahu bahwa semua kekacauan ini adalah buah dari awal yang salah. Rumah tangga yang kini ia banggakan, sejak awal memang dibangun di atas fondasi nafsu, luka, dan pengkhianatan masa lalu.

 

Amoura menatap ayahnya, lalu tawa hambar lolos dari tenggorokannya. Senyumnya menyeringai, dengan sepasang mata memicing tajam seolah sedang menelanjangi kemunafikan pria di depannya.

 

"Tidak menyengsarakan, kata Ayah?" Amoura berbisik, tapi seperti biasa setiap katanya menghantam ulu hati Aryo tanpa ampun. "Tapi yang sedang Ayah lakukan saat ini... adalah menjual anak kandung Ayah sendiri."

 

Deg.

 

Tenggorokan Aryo seketika terasa tercekik. Ludahnya mendadak kering, bahkan untuk sekadar menelan saliva pun rasanya begitu menyakitkan. Sepasang matanya melebar, menatap Amoura dengan keterpautan yang luar biasa. Ucapan putri sulungnya itu terlalu jujur, terlalu menohok, dan menembus tepat ke bagian paling berdosa dalam hatinya.

Tanpa menunggu balasan, Amoura membalikkan badan. Langkah kakinya terdengar tegas dan berat, meninggalkan ruang makan dengan amarah yang membakar dada dan kebencian yang kian memuncak ke ubun-ubun. Ia menyambar tasnya, langsung melangkah keluar menembus dinginnya malam menuju rumah sakit tempatnya bertugas. Ia butuh pelarian, dan bau obat-obatan jauh lebih baik ketimbang bau kemunafikan di rumah ini.

 

Di ruangan, tersisa hening. Aryo, Susi, dan Alana hanya diam terpaku, larut dalam pikiran masing-masing. Di posisinya, hati Alana sebenarnya sempat terusik. Kalimat Amoura tentang 'Ayah menjual anaknya sendiri' sempat terngiang-ngiang dan menggores egonya, benarkah ini bisa disebut menjual anak?

 

Namun, mengingat Ryuzha dengan kilau materi langsung memadamkan semua pemikiran itu, 'Argh, apa peduliku?' bisik hati Alana, mencoba menghalau rasa tak nyaman yang sempat mampir. 'Ryuzha sudah pasti bisa membahagiakanku dengan kekayaan melimpah yang ia miliki. Menjadi nyonya Kanaka Putra adalah segalanya.' Alana tersenyum tipis, memantapkan ambisinya agar pria itu menjatuhkan pilihan pada dirinya.

 

"Ayo kita lanjutkan makan," suara Susi akhirnya memecah hening yang menyelimuti. Ia merapikan letak sendoknya, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski tangannya masih sedikit bergetar karena emosi.

 

Aryo tidak menyahut. Ia hanya menatap piringnya yang masih penuh dengan pandangan kosong. Pikiran pria itu justru melesat jauh, mundur ke beberapa hari lalu, terlempar kembali pada momen penting pertemuan di sebuah ruangan kerja yang menjadi awal dari seluruh petaka malam ini.

Ingatannya membawa Aryo kembali pada pertemuan dengan tatapan arogan dari pria yang memegang kendali atas hidup mereka... Ryuzha!

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 9 (Terkejut)

    Ryuzha tersentak terkejut selama sepersekian detik, tetapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sosok itu ....Aryo Wicaksana!Pria paruh baya itu kini berdiri kaku di ambang pintu bersama Mike, asisten pribadi Ryu. Netra Aryo seketika membelalak lebar, menatap lurus ke arah aktivitas yang sangat menjijikkan di matanya saat ini. Rahang Aryo mengeras rapat menahan gejolak emosi yang membakar dada, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Ngamuk? Tentu tidak... ia sadar sama posisinya dan siapa yang berkuasa, bukan dirinya, melainkan Ryuzha!“Akhirnya tamu kehormatan datang juga,” kata Ryu santai seraya langsung menegakkan tubuhnya kembali.Begitu pun dengan Violet, sang sekretaris, yang ikut merapikan diri dengan santai tanpa ada sedikit pun panik yang terlihat. Keduanya tampak bersikap biasa saja, ya ... karena ini memang bukan pertama kalinya mereka terpergok oleh karyawan lain

  • Terpaksa Menikahi Duda   PART 8 (Hanya Amoura)

    Deru mesin mobil mewah Ryu melambat saat akhirnya berhenti tepat di depan area drop-off gedung pencakar langit Ryuzha di mana perusahaannya berada. Begitu pintu dibuka, sepatu pantofel hitamnya yang mengilat menginjak lantai marmer teras luar. Ryu keluar dari mobil dengan gerakan yang begitu berkelas. Mengenakan setelan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, aura kepemimpinan pria itu langsung mendominasi sekitar.Ada yang berbeda dengan CEO perusahaan itu, pagi ini di kantor ketika sebuah senyuman menawan terukir jelas di wajah tampan nan penuh ketegasan yang biasanya dingin tak tersentuh.Tak ada tatapan tajam.Heran memang. Tetapi, begitulah yang ditampilkan Ryuzha pagi ini. Dengan langkah mantap dan percaya diri, Ryu berjalan melintasi pintu kaca otomatis menuju lobi utama. Kehadiran pria itu seketika menghentikan kesibukan di sana, situasi kantor mendadak riuh oleh bisikan kagum yang tertahan.Pemandangan langka ini membuat para karyawan wanita di lobi rasanya ingin melel

  • Terpaksa Menikahi Duda   PART 7 (KEKECEWAAN MASA LALU)

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas ranjang king size mewah milik penerus Kanaka Group. Ryuzha tak berhenti tersenyum pagi ini ketika bangun, suasana hatinya begitu baik, lebih bersemangat, hal yang sangat langka karena biasanya ia berekspresi datar. Biasanya, pagi hari bagi Ryuzha hanyalah awal dari rutinitas bisnis yang menjemukan dan hampa. Namun, ingatan tentang insiden semalam tentang seorang wanita galak berprofesi dokter yang dengan berani merampas kunci mobilnya terus berputar di kepala, menyuntikkan adrenalin baru yang meletupkan rasa penasaran. Ryu sudah tidak sabar berangkat dari rumah menuju kantor untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya—Aryo Wicaksana. Ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya, mengetahui bahwa ia memegang kendali penuh atas nasib keluarga wanita galak itu.Sambil bersiul kecil, langkah tegapnya membawa tubuh jangkungnya menuruni undakan tangga menuju ruang makan yang megah. Di ujung meja marmer, sesos

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 6 (Ditakdirkan bersama?)

    “Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup.“Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu.“Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh.“Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas ap

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 5 (Sial)

    Amoura merutuki dirinya ketika mengetahui identitas pria yang menabrak mobilnya, tertera dengan jelas nama seseorang yang baru saja ia dengar dari sang Ayah. Seseorang yang sungguh tidak menarik untuknya bahkan untuk sekadar berkenalan, tidak penting menurut Amoura.Namun, kata tidak penting rasanya sudah tak berarti apa pun ketika takdir malam ini mempertemukan mereka melalui kejadian yang tidak menyenangkan.“Ryuzha Kanaka Putra,” gumam Amoura sambil mengayunkan langkah menuju ruang IGD rumah sakit.“Arghh! Aku harus tetap fokus, ayo Amoura lupakan kejadian tadi bersama pria yang sama sekali tidak ingin kau temui, sekarang ada tugas yang lebih penting dari itu,” ucap Amoura membisikkan dirinya sendiri sambil tetap melangkah melewati pintu utama lobi rumah sakit dan menuju ruang IGD.Langkah kaki Amoura menggema cepat di lorong unit gawat darurat yang riuh oleh bunyi monitor. Bau antiseptik yang tajam menyambut penciumannya. Di ujung selasar, seorang suster yang tampak kewalahan lan

  • Terpaksa Menikahi Duda   Part 4 (Pertemuan Tak Terduga)

    Kontras dengan wajahnya yang terlihat penuh ketegasan, pria itu tidak melontarkan satu pun kalimat kasar. Nada suaranya datar, tapi keangkuhan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.Amoura mendorong pintu mobilnya lebar-lebar. Ia keluar dan berdiri tegak hingga mereka kini saling berhadapan di bawah temaram lampu jalanan."Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ujar pria itu tenang, melangkah maju satu tapak. "Tapi kecelakaan ini bukan sepenuhnya salah saya. Anda menurunkan kecepatan mobil secara tiba-tiba di jalur cepat,” kilahnya tak ingin disalahkan sepenuhnya dan memang kejadiannya seperti itu.Tetapi, penuturan itu sukses membuat Amoura berkacak pinggang. Enak saja menyalahkannya! Pikir Amoura. Sepasang matanya memicing tajam, menatap sinis pria jangkung di hadapannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Amarah dari rumah tadi tampaknya telah menemukan tempat yang pas untuk menjadi pelampiasan sebelum tiba di rumah sakit."Kau menyalahkanku?" Amoura mendesis, suaranya meninggi. "Hei! Kau y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status