LOGINCinta seharusnya tumbuh dari hati, bukan dari paksaan. Tapi bagi Amoura Wicaksana, dokter spesialis obgyn yang tegas dan mandiri, pernikahan ini bukan tentang cinta—melainkan sebuah benteng yang harus ia bangun agar tidak terseret dalam perasaan yang bisa menghancurkannya. Di sisi lain, Ryuzha Kanaka Putra tidak pernah berpikir akan menikah lagi setelah pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Namun, wasiat sang ayah membuatnya tak punya pilihan. Ia harus memiliki pendamping hidup, dan takdir mempertemukannya dengan Amoura.
View MoreBab 1—Transaksi dengan sang Duda
Suasana ruang keluarga kediaman Wicaksana mendadak hening, padahal mereka sedang berkumpul di sana, tetapi situasi begitu dingin dan canggung. Di kursi kebesarannya, Aryo Wicaksana tampak menghela napas berat. Pria paruh baya itu menatap kedua putri kandungnya secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan. Baiklah ... ini saatnya memberitahu kedua putrinya, ia membatin. Amoura dan Alana. Siapa pun yang melihat mereka pasti akan langsung menyadari bahwa keduanya adalah perwujudan dari dua dunia yang bertolak belakang. Mereka sama-sama cantik, pasti semuanya mengakui. Namun, jelas memiliki karakter, sorot mata, bahkan profesi yang jauh berbeda. Perbedaan mencolok itu wajar saja terjadi, mengingat mereka lahir dari rahim wanita yang berbeda. Amoura adalah putri dari mendiang istri pertama Aryo, sikapnya dingin dan tenang terkesan cuek, ia tak peduli pada siapa pun di rumah itu. Sementara Alana, si bungsu yang modis dan penuh ambisi, lahir dari istri kedua yang kini duduk dengan anggun di samping Aryo. "Ayah akan menikahkan salah satu dari kalian," ujar Aryo memecah keheningan. Suaranya terdengar datar, tapi jelas sarat akan beban yang disembunyikan. Alana yang sedari tadi sibuk mengagumi kuku-kuku cantiknya langsung menegakkan punggung. Matanya berbinar, sementara jemarinya berhenti bergerak. Dari nada suara sang ayah, ia sudah bisa memprediksi bahwa ini bukanlah perjodohan biasa. Sebagai anak yang terbiasa dengan kemewahan, Alana tahu ayahnya tidak mungkin sudi menurunkan gengsi dengan menikahkan salah satu putrinya pada pria dari kalangan biasa. Ia benar-benar penasaran. "Memangnya siapa yang akan menjadi calon di antara kami berdua, Yah?" tanya Alana tak sabaran. Senyum tipis mulai terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah merekah. Aryo terdiam sejenak. Ia memijat pelipisnya yang mulai beruban, seolah nama yang akan diucapkannya adalah sebuah kutukan, tetapi mau bagaimana lagi? Bukan hanya seperti kutukan, nyatanya pria itu bisa sekaligus menjadi penyelamat bagi bisnis keluarga mereka. "Ryuzha Kanaka Putra," jawab Aryo akhirnya. Suaranya terdengar berat dan sama sekali tidak bersemangat saat melafalkan nama itu. Namun, respons yang ditunjukkan Alana justru bertolak belakang. Begitu nama itu bergema di ruangan, jantung Alana berdebar padahal hanya nama yang ia dengar, ia tampak antusias sekali bahkan matanya membola sedikit tak percaya. Siapa di jagat raya ini yang tidak mengenal Ryuzha? Di kalangan pebisnis kelas atas, nama pria itu adalah definisi dari kemewahan, kekuasaan, dan ketampanan yang tak tertandingi oleh siapa pun. Meskipun reputasinya terkenal sebagai seorang player kelas kakap yang dingin, statusnya yang kini menjadi duda keren justru menjadi magnet terbesar. Hal itu sama sekali tidak menyurutkan nyali banyak wanita sosialita untuk mencoba menaklukkan hati pria tersebut. Bagi Alana, Ryuzha adalah trofi tertinggi kalau ia benar-benar bisa mendapatkannya. "Wow! Kalau begitu, aku saja, Yah!" seru Alana semringah, tak bisa lagi menyembunyikan ambisinya. Ia menatap ayahnya dengan pandangan memohon sekaligus menuntut. "Aku yakin bisa menjinakkan pria player seperti dia. Ayah tahu sendiri, kan, kalau Alana jauh lebih cantik, modis, dan tahu cara bersikap di depan publik dibandingkan Kak Amoura?" sahutnya cepat-cepat, khawatir keduluan saudaranya. Tidak! Pokoknya tidak boleh! Alana membatin tak rela. Mendengar namanya disebut dalam nada merendahkan, Amoura yang sedari tadi hanya diam membolak-balik halaman buku di sudut ruangan sama sekali tidak terprovokasi. Ia hanya melirik sekilas, lalu menutup bukunya perlahan. "Ambil saja. Aku tidak peduli," sahut Amoura dingin, nyaris tak berminat dengan drama perjodohan ini. Bagi Amoura, pernikahan tanpa cinta dengan pria asing berstatus player hanya akan menjadi neraka jahanam. Melihat reaksi dingin anak tirinya, Susi—istri kedua Aryo sekaligus Mommy dari Alana—langsung tersenyum lebar dan menimpali dengan nada mendominasi. Ia mengusap bahu suaminya dengan lembut, mencoba memengaruhi keputusan pria itu. "Mama sangat setuju denganmu,” sahutnya pada sang putri lalu menoleh ke arah sang suami, “Sayang. Biar Alana saja," pinta Susi dengan nada manja yang dibuat-buat. "Anak kedua kita ini tidak akan pernah mengecewakan keluarga. Dengan pesona yang Alana miliki, dia pasti bisa membuat pria sekelas Ryuzha bertekuk lutut dalam waktu singkat,” katanya yakin. “Tapi sayangnya, keputusan tidak ada di tangan kita," sela Aryo. Kalimat itu seketika meruntuhkan angan-angan indah di kepala istri dan putri bungsunya. Pria paruh baya itu menghela napas berat, bahunya merosot drastis. "Ryuzha yang akan memilih salah satu dari kalian, bukan dipilihkan. Jadi, Ayah tidak tahu siapa yang akan dia tunjuk nanti. Kamu, Alana... atau justru Amoura." Saat nama terakhir lolos dari bibirnya, sepasang mata Aryo perlahan terseret, menatap putri sulungnya dengan binar penuh rasa bersalah yang teramat dalam. Entah mengapa, ada ketakutan besar yang mencengkeram dada Aryo. Demi Tuhan, ia tidak akan pernah rela jika Ryuzha memilih Amoura meskipun Alana juga merupakan darah dagingnya sendiri. Aryo tahu seberapa kejam dunia gelap yang dijalani Ryuzha, dan ia tidak ingin menghancurkan Amoura untuk kedua kalinya setelah apa yang terjadi di antara mereka. Mendengar apa yang diucapkan sang ayah, sebuah senyum sinis dan dingin terukir di sudut bibir Amoura. Gadis itu meletakkan cangkir tehnya perlahan, sampai terdengar denting halus yang di ruangan itu. "Kalau begitu, semoga kamu berhasil, Alana," celetuk Amoura. Nada suaranya terdengar begitu tenang, tapi terdengar tajam di telinga belum lagi ekspresi yang tampak mencibir. "Aku berdoa dengan setulus hati agar kaulah yang terpilih, jadi kamu bisa memuaskan ambisimu untuk menaklukkan pria sehebat Ryuzha. Lagi pula, aku tidak mengenalnya. Aku hanya seorang dokter yang menghabiskan waktu di rumah sakit, bukan calon penerus perusahaan Ayah yang haus akan takhta seperti dirimu. Pernikahan ini sama sekali tidak penting untukku," tandasnya. Kalimat itu bagai tamparan keras yang menelanjangi harga diri Alana. Sialan Amoura! Geramnya tertahan. Wajah yang semula semringah seketika memerah padam, menyulut amarah yang membakar dada. "Dasar perempuan sombong!" bentak Alana, tidak lagi bisa menjaga tata kramanya di depan sang ayah. Ia berdiri dari kursinya, menunjuk wajah kakaknya dengan jari yang bergetar hebat akibat emosi yang nanjak keubun-ubun. "Ingat posisimu, Amoura! Kamu itu hanya menumpang di rumah Mommy-ku! Seharusnya kamu tahu diri dan berterima kasih kepada Mommy serta aku yang sudah sudi menampungmu untuk tinggal bersama di sini!" BRAK! Bunyi hantaman keras mengguncang ruangan. Amoura menggebrak meja marmer di hadapannya dengan sekuat tenaga hingga beberapa cangkir teh di atasnya bergetar hebat. Sudut-sudut ruangan seolah ikut mencekam seiring dengan napas Amoura yang memburu. Sepasang mata Amoura yang biasanya sedingin kaca kini berkilat bagai kobaran api, menatap sinis bergantian ke arah Alana, Susi, dan ayahnya sendiri. Kemarahan yang selama bertahun-tahun ia pendam di balik jubah dokternya, malam ini tumpah tak bersisa. "Aku? Berterima kasih?" Amoura mendesis, suaranya merendah tapi penuh ancaman dan penekanan. Ia melangkah maju, memangkas jarak, menatap lurus ke dalam manik mata Alana dengan sorot yang membuat adiknya itu mendadak ciut. "Berkacalah sebelum bicara! Ibu kandungmu itu tidak lebih dari seorang wanita pemuas yang merebut suami orang! Dia bukan ibu peri yang sedang menampungku secara percuma!" "Amoura, jaga ucapanmu!" jerit Susi yang wajahnya kini pucat pasi sekaligus murka karena rahasia terbusuknya dikuliti tanpa ampun di depan anaknya sendiri. Namun, Amoura sudah tidak bisa dibendung lagi. Luka lama di hatinya telah menganga lebar. "Jika perempuan itu tidak hadir dan merusak keluarga kita, ibuku tidak akan pernah kehilangan akal sehatnya hingga akhir hayatnya! Kalian semua adalah perusak kebahagiaanku! Manusia-manusia bermuka dua yang menyembunyikan pengkhianatan menjijikkan ini sekian lama!" Amoura mencengkeram pinggiran meja, menatap Alana dan Susi yang napasnya sama-sama memburu karena dihantam kemarahan yang membabi buta. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Amoura, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Diperasnya seluruh rasa sakit itu menjadi untaian kata penuh penekanan: "Kalian semua... licik! Sialan! Peng-khi-a-nat!" Plak! Sebuah tamparan melayang dan mendarat ke pipi Amoura, hingga wajah terlempar ke samping dengan rasa panas dan nyeri yang terasa dalam satu waktu. Mata Amoura memejam, meresapi setiap rasa sakit dengan kebencian yang semakin menjadi.Ryuzha tersentak terkejut selama sepersekian detik, tetapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sosok itu ....Aryo Wicaksana!Pria paruh baya itu kini berdiri kaku di ambang pintu bersama Mike, asisten pribadi Ryu. Netra Aryo seketika membelalak lebar, menatap lurus ke arah aktivitas yang sangat menjijikkan di matanya saat ini. Rahang Aryo mengeras rapat menahan gejolak emosi yang membakar dada, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Ngamuk? Tentu tidak... ia sadar sama posisinya dan siapa yang berkuasa, bukan dirinya, melainkan Ryuzha!“Akhirnya tamu kehormatan datang juga,” kata Ryu santai seraya langsung menegakkan tubuhnya kembali.Begitu pun dengan Violet, sang sekretaris, yang ikut merapikan diri dengan santai tanpa ada sedikit pun panik yang terlihat. Keduanya tampak bersikap biasa saja, ya ... karena ini memang bukan pertama kalinya mereka terpergok oleh karyawan lain
Deru mesin mobil mewah Ryu melambat saat akhirnya berhenti tepat di depan area drop-off gedung pencakar langit Ryuzha di mana perusahaannya berada. Begitu pintu dibuka, sepatu pantofel hitamnya yang mengilat menginjak lantai marmer teras luar. Ryu keluar dari mobil dengan gerakan yang begitu berkelas. Mengenakan setelan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, aura kepemimpinan pria itu langsung mendominasi sekitar.Ada yang berbeda dengan CEO perusahaan itu, pagi ini di kantor ketika sebuah senyuman menawan terukir jelas di wajah tampan nan penuh ketegasan yang biasanya dingin tak tersentuh.Tak ada tatapan tajam.Heran memang. Tetapi, begitulah yang ditampilkan Ryuzha pagi ini. Dengan langkah mantap dan percaya diri, Ryu berjalan melintasi pintu kaca otomatis menuju lobi utama. Kehadiran pria itu seketika menghentikan kesibukan di sana, situasi kantor mendadak riuh oleh bisikan kagum yang tertahan.Pemandangan langka ini membuat para karyawan wanita di lobi rasanya ingin melel
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas ranjang king size mewah milik penerus Kanaka Group. Ryuzha tak berhenti tersenyum pagi ini ketika bangun, suasana hatinya begitu baik, lebih bersemangat, hal yang sangat langka karena biasanya ia berekspresi datar. Biasanya, pagi hari bagi Ryuzha hanyalah awal dari rutinitas bisnis yang menjemukan dan hampa. Namun, ingatan tentang insiden semalam tentang seorang wanita galak berprofesi dokter yang dengan berani merampas kunci mobilnya terus berputar di kepala, menyuntikkan adrenalin baru yang meletupkan rasa penasaran. Ryu sudah tidak sabar berangkat dari rumah menuju kantor untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya—Aryo Wicaksana. Ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya, mengetahui bahwa ia memegang kendali penuh atas nasib keluarga wanita galak itu.Sambil bersiul kecil, langkah tegapnya membawa tubuh jangkungnya menuruni undakan tangga menuju ruang makan yang megah. Di ujung meja marmer, sesos
“Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup.“Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu.“Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh.“Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas ap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.