เข้าสู่ระบบLeo menaiki lift yang membawanya turun ke ruang bawah tanah. Keluar dari lift Leo langsung menemukan sebuah pintu besi yang di kunci dengan sistem. Kali ini Leo tak perlu menggunakan kemampuan merentasnya untuk membobol kata sandi pintu ini.Ia cukup memasukkan kata sandi yang tadi sudah di berikan oleh temannya Ahnan."Dandelion merah," gumam Leo sembari memasukkan kata sandi ke layar monitor kecil itu.Klik!Kunci pintu terdengar terbuka.Ssreeeeekkkk!!!Pintu otomatis langsung berbuka. Pemandangan pertama yang Leo tangkap dengan matanya adalah seorang wanita berbadan kurus tengah meringkuk membelakangi pintu.Tuk!Tuk!Tuk!Langkah kaki Leo menggema ketika ia memasuki ruangan itu. Rosna tetap tak bergeming sama sekali. Entah dia tidur atau tidak Leo tidak tahu karena wanita itu benar-benar tidak terlihat wajahnya.Grep!Leo terkejut luar biasa saat Rosna berbalik dengan cepat dan memegang tangan Leo."Siapa kamu?" Tanya Rosna."Aku Ahnan," jawab Leo berbohong."Bohong!" Teriak Rosn
"Nona, usia kehamilan Nona adalah 11 minggu. Kondisinya cukup sehat. Tapi mengingat usia Nona masih di bawah umur ini akan meningkatkan resiko kematian ibu maupun janinnya. Sebaiknya Nona melakukan pemeriksaan rutin. Juga segera ke rumah sakit jika merasakan ketidaknormalan yang terjadi selama kehamilan," terang Dokter Linda yang memeriksa Bella hari ini."Baik Dok." Bella bangun dari tempat tidur sembari membenahi pakaiannya."Oh, iya, Nona apakah suami Nona tidak ikut mengantarkan Nona?" Tanya Dokter Linda."Hehehe nggak Dok. Suaminya itu anak saya. Sekarang masih ada di Paris untuk kuliah," jawab ibunya Gara.Tadinya Dokter Linda pikir ibunya Gara adalah ibunya Bella. Karena periksa kehamilan hanya ditemani oleh Ibunya pikiran Dokter Linda sampai kemana-mana.Seperti kebanyakan kasus siswa hamil di luar nikah. Dokter Linda awalnya menduga Bella bagian dari segelintir bocah-bocah yang salah pergaulan dan berujung kehamilan yang tidak diinginkan. Rupanya ia telah salah sangka. Sehing
"Maaf, aku harus segera masuk. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Gara untuk menghindari Leticia.Sampai saat Gara menutup pintu Leticia masih mengulurkan tangannya dengan wajah tersenyum. Baru setelah beberapa saat senyumnya memudar berganti cemberut."Hmmm... Ganteng sih tapi cuek," ucap Leticia."Yah, tidak apa-apa Leticia. Baru permulaan. Masih banyak kesempatan untuk menghancurkan Gara dan Bella. Aku tidak akan mengecewakan Tuan Rendy yang sudah membayarku mahal-mahal untuk membalaskan perbuatan Gara."Leticia tersebut mengerikan.***Ibunya Gara berdandan rapi dan cantik. Wanita yang ramah dan penuh senyuman itu turun dari tangga. Kebetulan saat itu ia melihat asisten rumah tangganya berjalan terburu-buru menuju pintu depan."Siapa Bu?" Tanya Ibunya Gara pada wanita tua yang sudah menahun kerja di kediaman keluarga Rihanda. Bahkan saking lamanya wanita itu sampai dianggap seperti keluarga sendiri dan dipanggil dengan sebutan Ibu."Ada tamu Nyonya.""Ohh, kalau begitu Ib
Bella keluar dari kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan. Tangannya gemetar tidak terkendali. Entah ia harus senang atau sedih. Tapi sejujurnya ia belum siap untuk semua ini."Bagaimana nasibku ke depan?" Gumam Bella bingung. Ia lantas duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya.Ia melihat hasil alat tes kehamilan itu lagi yang hasilnya benar-benar garis dua. Bella rasanya ingin menangis. Ia benar-benar hamil anak anak Gara. Lalu bagaimana dengan nasib sekolahnya?Tidak seperti Sabia yang kehamilannya sudah berada di penghujung kelulusan. Bella masih menempuh waktu satu tahun lagi untuk lulus.Iya, semua orang memang tahu Bella telah menikah dengan Gara. Tapi tetap saja yang namanya manusia pasti akan tetap saja mencari-cari kesalahannya untuk dihujat.Posisi Bella sekarang tidak lagi seperti dulu yang selalu ada Gara sebagai Garda terdepannya ketika ada netizen yang mencoba julid dengannya. Bella sekarang sendiri. Mungkin masih ada Vano dan Vanilla. Tapi tetap saja dilind
Edo melepaskan pelukannya."Bi, aku tidak percaya ini."Sabia meraih wajah Edo."Aku tahu ini berat. Tapi kau tahu tindakanku telah menyebabkan sahabat paling berhargamu meninggal. Kau kehilangan dia bukan? Bahkan kau masih menangis saat mengenangnya.""Bi, jangan gegabah. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Apa yang kamu pikirkan Bi? Kau ingin aku membesarkan anak kita sendirian. Sementara kamu? Apa yang ingin kamu lakukan?"Edo tak bisa menahan air matanya membayangkan apa yang akan terjadi."Aku mencintaimu Bi. Sungguh sangat mencintaimu jauh sebelum kamu berpacaran dengan Gara. Jauh sebelum Revan menyukaimu. Aku lah orang yang selama ini lebih dulu mencintaimu. Tapi aku selalu memendam perasaanku demi sahabat-sahabatku. Sekarang saat kamu sudah menjadi milikku kenapa kamu dengan teganya ingin meninggalkan aku? Padahal sedetikpun aku tidak ingin berpisah denganmu."Edo kembali merengkuh tubuh Sabia. Ia memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat seakan tak mau berpisa
Sabia duduk bersama Bella di ruang tengah rumah keluarga Hyuugo yang lain. Ya, orang yang datang menyelamatkan Sabia adalah Bella."Terimakasih sudah menyelamatkanku dari orang-orang seram tadi Bel," ucap Sabia tulus. Ia tak menyangka perempuan yang pernah dimusuhinya mati-matian kini datang sebagai penyelamatnya. Kalau dipikir-pikir kadang Sabia malu juga. Kejahatannya justru dibalas kebaikan oleh Bella.Bella tersenyum penuh arti. Umpan sudah mengenai target. Selanjutnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menarik target itu."Jangan berterima kasih," kata Bella."Jika bukan berterima kasih apa yang harus aku lakukan untukmu? Kau benar-benar datang di waktu yang tepat. Jujur, saat aku mengandung, aku menjadi jauh lebih takut. Ada nyawa yang harus kulindungi selain nyawaku sendiri.""Aku mengerti perasaanmu," jawab Bella."Semua mama pasti ingin melindungi anaknya. Beruntung sekali mereka yang hidup bersama mamanya. Tidak seperti aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari
Ceklek!Bella membuka pintu rumahnya. Tiba-tiba Gara yang mengekor langsung memeluk Bella dari belakang."Ngapain sih Ra?" Tanya Bella heran melihat kelakuan suaminya.Gara meletakkan kepalanya di atas bahu Bella."Aku nggak mau kalah dari Edo," jawab Gara kayak bocah.Bella menoleh sambil mengusap lembu
Gara dan Bella baru saja tiba dirumah ketika gawainya berdering. Gara melihat nama yang muncul di layar gawainya adalah Edo."Ya, Do?" Tanya Gara begitu ia mengangkat telepon."Ra! Revan Ra! Revan!" Edo langsung terteriak kencang begitu telepon tersambung bahkan nada Edo terdengar panik."Kenapa dengan
Gara masih menggandeng tangan Bella saat mereka melewati wahana ice skating. Gara menoleh."Mau nyoba main?" Tanya Gara."Aku nggak bisa Ra. Nanti malah jadi tontonan orang. Malu-maluin yang ada.""Aku ajarin.""Kamu bisa?""Dikit." Gara main tarik tangan Bella saja. Mereka berbelok ke wahana itu."Duduk
Bella membuka matanya. Tidak ada kantuk yang tersisa. Tidur berkualitas memang membuat tubuh menjadi segar.Bella menoleh. Gara masih terlelap. Tangannya setia melingkar memeluk pinggang Bella. Sepertinya laki-laki itu tetap memeluk Bella sepanjang malam yang tersisa."Jam berapa sih?" Bella meraih ga







