تسجيل الدخولYura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.
“Kenapa diam?”
“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.
“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.
Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”
Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.
“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”
“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.
Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.
“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”
Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.
“Aku tidak memintamu langsung mencintaiku,” lanjut Adrian. “Aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuatmu percaya kepadaku lagi. Mulai sekarang, aku akan mendengarkanmu. Aku juga tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”
Yura akhirnya mengangguk kecil, mungkin ini adalah awal baru dalam pernikahannya. Yura berharap setelah ini ia akan menemukan kebahagiaan yang selama ini dinantikannya.
“Habiskan makananmu, setelah itu ikut aku.”
“Ke mana?”
“Nanti kamu juga akan tahu.”
Adrian tersenyum lembut, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yura tidak melihat kebencian di mata pria itu.
***
Setelah makan, Yura kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Begitu menyalakannya, ia mendapati banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Belum sempat ia memeriksanya, ponselnya kembali berdering. Nama Andreas muncul di layar.
“Hallo.”
“Kamu di mana?” tanya Andreas karena saat pulang ke apartemen, ia sudah tidak melihat Yura di sana.
“Aku di rumah Pak Adrian.”
Andreas terdiam beberapa saat, lalu terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. “Kenapa kamu kembali ke rumah itu, Yura? Bukankah selama ini orang-orang di sana tidak pernah menghargaimu?”
Yura menunduk, ia tahu apa yang Adrian katakan memang benar, tapi Yura ingin mencobanya sekali lagi, berharap semua yang Adrian katakan padanya memang benar.
“Bagaimanapun juga, saya adalah istrinya, Pak Adrian. Rasanya tidak pantas kalau saya tinggal bersama pria lain, meskipun Bapak sudah sangat baik kepada saya.”
“Kau bisa tinggal di apartemenku yang lain, tidak perlu kembali ke sana.”
“Tidak, Pak. Saya ingin tetap tinggal bersama suami saya.”
Andreas kembali menghela napas panjang. “Bagaimana kau bisa hidup dengan orang yang dulu selalu bersikap semena-mena kepadamu?”
Kenyataan pahit itu membuat dada Yura terasa sesak, tapi ia tidak ingin Andreas tau sakitnya hati Yura. “Sekarang Pak Adrian sudah berubah, dia juga sudah membantu membebaskan saya dari penjara.”
“Yakin dia berubah?” Andreas mengerutkan kening.
“Saya tidak tahu,” jawab Yura jujur. “Tapi saya ingin memberinya kesempatan.”
Andreas terdiam. Ia tahu sesuatu yang tidak diketahui Yura. Adrian bukan sekedar orang yang pernah membenci Yura. Pria itu adalah dalang di balik penderitaan yang membuat Yura mendekam di penjara. Jika Yura mengetahui kebenaran itu, Andreas tidak yakin perempuan tersebut masih mau bertahan di sisi Adrian.
“Saya juga masih merasa bersalah pada Pak Adrian. Kecelakaan itu terjadi karena saya. Kalau hari itu saya tidak bertindak gegabah, mungkin hidupnya tidak akan berubah seperti sekarang.”
“Kamu tidak sengaja mencelakainya, Yura.”
“Tapi, saya merasa bersalah.”
“Kamu terlalu baik sampai selalu menyalahkan dirimu sendiri.”
Yura tersenyum getir. “Sudah untung Pak Adrian tidak menuntut saya, saya yakin suatu hari nanti dia benar-benar bisa memaafkan saya.”
Andreas menggenggam ponselnya erat. Andai Yura tahu siapa yang sebenarnya menyebabkan semua penderitaannya, mungkin ia tidak akan berkata seperti itu.
“Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.” ujar Andreas akhirnya. “
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Yura menghela napas panjang setelah panggilan telepon berakhir. Ia bersyukur masih memiliki seseorang yang peduli kepadanya tanpa memandang status sosialnya.
Beberapa saat kemudian, Yura mengirim pesan kepada Hadi untuk memberitahukan bahwa dirinya telah bebas dari penjara agar pamannya tidak terus khawatir. Namun, belum sempat meletakkan ponsel, sebuah panggilan telepon masuk kembali dari Hadi.
Yura segera mengangkatnya. “Hallo, Paman.”
Bukannya suara Hadi yang terdengar, melainkan suara Amira. “Dasar wanita sialan! Hidupmu cuma membawa petaka!”
“Apa maksudmu?” Yura mengernyit.
“Tadi penagih utang datang mencari kamu, karena ponselmu tidak aktif, Ayah yang mereka maki-maki sampai jadi tontonan banyak orang!”
Yura menelan ludah. “Aku tidak pernah punya utang sebanyak itu, aku ditipu.”
“Halah! Jangan banyak alasan, bayar utangmu sebelum mereka datang lagi dan mempermalukan keluargaku!”
Yura mengepalkan tangan, geram dengan semua masalah yang menimpanya.
“Besok mereka akan kembali kalau utangnya tidak dibayar. Jangan bikin malu Ayah yang sudah membesarkan anak pembawa sial seperti kamu!”
“Iya. Aku akan mencicilnya.” Yura langsung memutus sambungan telepon. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Masalah datang silih berganti. Pernikahannya gagal, keluarganya membencinya, ia terlilit utang yang bukan sepenuhnya kesalahannya dan sekarang ia bahkan harus hidup bersama orang yang membencinya.
“Aku harus bagaimana lagi?” Yura menutup wajahnya.
***
Beberapa saat kemudian, Adrian muncul di depan kamarnya.
“Sudah siap?”
Yura menatapnya bingung. “Siap untuk apa?”
“Pergi denganku.”
“Ke mana?”
"Nanti kamu juga akan tahu." Adrian hanya tersenyum tipis dengan jawaban ambigu.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, tibalah mereka di sebuah gedung. Yura mendorong kursi roda Adrian memasuki lift.
Gresyuan berdiri di belakang mereka. Lift berhenti di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, suara baling-baling helikopter langsung terdengar.
Yura membelalakkan mata. Di rooftop, sebuah helikopter pribadi sudah menunggu. Angin kencang membuat rambut Yura berterbangan.
“Helikopter?”
Adrian mengangguk.
Yura menatapnya tidak percaya. “Kita mau ke mana?”
“Aku ingin mengajakmu pergi sebentar.”
“Untuk apa?”
Adrian menatap wajah Yura. “Karena sejak kita menikah, kamu tidak pernah benar-benar bahagia.”
Yura tertegun, entah apa yang akan Adrian lakukan setelah ini. Adrian mengarahkan kursi rodanya menuju helikopter.
“Ayo.”
Yura akhirnya mengikuti. Beberapa waktu kemudian, helikopter terbang meninggalkan kota. Yura duduk di samping jendela. Pemandangan dari ketinggian membuatnya terpukau.
Untuk sesaat, ia lupa pada masalahnya. Namun, ketika pikirannya kembali pada utang yang menumpuk, senyum itu perlahan menghilang hal itu tidak luput dari perhatian Adrian.
“Kamu senang?”
Yura menoleh. “Iya.”
Namun, Adrian tahu Yura sedang berbohong. “Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
“Ada apa dengan wajahku?”
“Tidak apa-apa.”
"Aku punya sesuatu untukmu.” Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
“Apa?”
Adrian membuka kotak tersebut, sebuah cincin cantik terlihat di dalamnya. Adrian mengambilnya dan memasangkannya di jari manis Yura.
“Ini untukku?” Yura menyentuh cincin itu, lalu mengusapnya dengan lembut.
“Iya.”
“Terimakasih.” Yura segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terlalu larut dalam perhatian Adrian, tidak ingin berharap dan tidak ingin kembali patah hati lagi.
“Hm... kenapa kamu tiba-tiba baik kepadaku?”
“Karena kamu istriku.”
“Bukan itu maksudku.” Yura menatap Adrian. “Bukankah selama ini kamu tidak menyukaiku karena aku yang membuatmu seperti ini?”
“Jangan bahas itu lagi.” Tatapan teduh Adrian berubah datar.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”
"Baik." Yura kembali menatap jendela.
Adrian pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Tangan Yura perlahan menyentuh cincin di jemarinya. Ia berharap benda kecil itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang baru.
Beberapa saat kemudian, helikopter mulai menurunkan ketinggian. Yura melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai putih dan air laut yang jernih.
Helikopter mendarat di halaman luas sebuah bangunan megah. Yura turun dan terpaku melihat bangunan itu begitu besar hingga tampak seperti istana, di sekelilingnya terbentang lautan jernih yang luas.
“Itu rumah milikmu?” Yura menatap Adrian.
Adrian menatap bangunan tersebut, kemudian beralih kepada Yura.
“Bukan.”
Yura mengerutkan kening.
“Itu rumah milik kita.” Adrian tersenyum tipis.
Rumah milik kita?
Yura tertegun karena untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada bagian dari kehidupan Adrian yang sama sekali belum ia ketahui.
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit







