Home / Romansa / Terpaksa Menikahi Tuan Muda / MAKAN MALAM ROMANTIS

Share

MAKAN MALAM ROMANTIS

Author: Pendosa
last update publish date: 2026-09-21 16:57:53

“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.

“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”

Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.

“Ayo, kita masuk.”

“Iya.”

Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.

Yura langsung berhenti melangkah.

Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tubuh Yura.

“Kamu mau berenang?” tanya Adrian.

“Aku tidak bisa berenang, kolam ini membuatku merinding.”

Yura berbohong. Ia justru senang berenang, tetapi tidak mungkin mengakuinya. Berenang di kolam setinggi ini sama saja dengan menantang maut. Ia terus membayangkan kaca di bawah kakinya retak, lalu tubuhnya jatuh menembus kolam dan langsung menghantam tebing.

Adrian tersenyum tipis. “Kaca ini dibuat dari bahan khusus. Peluru pun tidak akan mampu menembusnya, keamanan dan kekuatannya sudah diuji.”

“Bagaimanapun juga, tetap mengerikan.” Yura bergidik sambil menjauh dari tepi kolam.

"Dulu aku sering berenang di sini,"

Yura membeku melihat Adrian memandangi kolam renang dengan tatapan kosong. Dadanya terasa sesak karena rasa bersalahnya pada Adrian.

"Maaf, karena aku, kamu jadi tidak bisa berenang lagi."

"Jangan terlalu dipikirkan. Ini sudah takdirku, aku sudah bisa menerimanya."

"Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?”

“Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk menebusnya. Cukup jadilah istri yang baik.” Adrian mengembuskan napas pelan. “Aku sangat lelah, sebaiknya kita beristirahat dulu. Itu kamarmu.”

Adrian menunjuk ke lantai atas. Di sana terdapat sebuah kamar dengan jendela kaca transparan yang menghadap ke balkon berpagar.

“Kita tidak sekamar ?” tanya Yura dengan kening berkerut.

“Aku tahu kamu belum siap dengan pernikahan kita, aku tidak akan memaksakan hubungan kita, kita jalani pelan-pelan saja.”

“Terimakasih.” Yura senang Adrian bisa memahami perasaannya. Yura masih belum bisa membuka hati untuk pria lain, terlebih ia belum sepenuhnya percaya pada Adrian.

“Kamu bisa ‘kan pergi ke kamarmu sendiri? Sudah tersedia baju-baju untukmu di sana. Kamu bisa menggunakan pakaian mana pun yang kamu suka.”

“Bisa.” Yura mengangguk. “Kamarmu di sebelah mana, biar kuantar kamu dulu.”

“Tepat di bawah kamarmu.” Adrian menunjuk kamar yang berada tepat di sebelah kolam renang. “

***

“Nyona Yura.” Seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar setelah malam tiba.

Yura membuka pintu, seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya dengan sikap sopan. “Pak Adrian meminta Anda makan malam. Beliau sudah menunggu di tepi kolam renang.”

“Baik. Terima kasih.”

“Sama-sama, Nona.”

Yura berjalan menuju kolam renang. Dari kejauhan, ia melihat sebuah meja makan yang ditata rapi di bawah cahaya lampu temaram. Dua lilin menyala di tengah meja, sementara kelopak bunga menghiasi permukaannya.

Langkah Yura melambat. Ia tidak menyangka Adrian akan menyiapkan makan malam seperti ini—terlebih setelah sikap pria itu yang selama ini dingin kepadanya.

Adrian menoleh ketika Yura mendekat. Tatapannya berhenti sejenak pada pakaian yang dikenakan Yura. Gaun mahal itu membuatnya terlihat jauh lebih anggun daripada biasanya, tetapi ekspresi gugup di wajahnya tetap sama.

“Malam ini kamu terlihat berbeda,” ujar Adrian setelah Yura duduk di hadapannya.

Yura menunduk dan merapikan ujung gaunnya. “Apa ada yang salah dengan penampilanku?”

“Tidak ada.” Adrian menatapnya tenang. “Kamu terlihat cantik.”

Pujian sederhana itu justru membuat Yura semakin salah tingkah. Ia belum terbiasa menerima perhatian seperti ini, apalagi dari pria yang pernah terluka karena dirinya.

“Ehem… aku sebenarnya sangat lapar.” Yura mengangkat wajahnya, lalu menunjuk hidangan di atas meja. “Boleh kita makan sekarang?”

“Tentu. Silakan.” Adrian tersenyum tipis. 

“Terima kasih.”

Yura mulai menyantap hidangan di hadapannya. Makanan itu lezat, tetapi ia tetap makan dengan hati-hati karena merasa canggung. Sesekali ia melirik Adrian, yang tidak banyak bicara. Pria itu hanya memperhatikannya dalam diam.

“Kenapa kamu terus melihatku?” tanya Yura akhirnya.

“Aku hanya ingin memastikan makanan itu sesuai dengan seleramu.”

“Rasanya enak.” Yura mengangguk cepat. “Tapi kamu tidak perlu menatapku seperti itu. Aku jadi sulit makan.”

Adrian terkekeh pelan. “Baiklah. Aku akan berusaha tidak melihatmu.”

Namun, baru beberapa detik ia mengalihkan pandangan, Yura justru merasa suasana menjadi lebih canggung. Ia tidak tahu harus membicarakan apa dengan suaminya sendiri.

“Nomormu jarang aktif,” kata Adrian kemudian. “Aku beberapa kali kesulitan menghubungimu.”

Tangan Yura yang memegang sendok mendadak berhenti. “Aku sedang tidak ingin diganggu.”

“Siapa yang mengganggumu?”

“Tidak ada.” Yura memaksakan senyum. “Hanya telepon-telepon tidak penting.”

Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ponselnya sering menerima teror dari penagih pinjaman daring. Yura terlalu malu untuk mengakui bahwa hidupnya sedang terlilit utang.

Adrian mengamati perubahan wajahnya. “Jangan mengabaikan semua panggilan, bagaimana kalau ada telepon penting dari keluargamu?”

“Aku tidak benar-benar punya keluarga.” Yura menundukkan kepala. 

Jawaban itu membuat Adrian terdiam. Ia menyadari pertanyaannya mungkin telah menyentuh luka lama yang bersemayam di hati Yura.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.” ucap Adrian akhirnya.

“Tidak apa-apa.” Yura mengaduk makanannya yang mulai dingin. “Aku sudah terbiasa.”

Untuk beberapa saat, hanya suara alat makan yang terdengar di antara mereka. Adrian tidak lagi mengajukan pertanyaan, sementara Yura berusaha mengusir kesedihan yang tiba-tiba muncul.

Setelah makan malam selesai, pandangan Yura kembali tertuju pada sebuah teleskop refraktor yang berdiri di dekat tepi tebing. Alat itu tampak kokoh, dengan lensa besar yang mengarah ke langit malam.

“Di sini juga ada teleskop?” Mata Yura berbinar.

Adrian mengikuti arah pandangnya. “Kamu ingin melihatnya?”

“Memangnya boleh?”

“Habiskan dulu minumanmu.”

Yura segera meneguk jus yang tersisa di gelasnya. “Sudah.”

“Kalau begitu, kita ke sana.” Adrian tersenyum melihat tingkah Yura.

Ia mengarahkan kursi rodanya menuju teleskop. Yura berjalan di sampingnya, lalu berhenti tepat di belakang teleskop. Yura menyimak seperti murid teladan ketika Adrian menunjuk bagian-bagian alat tersebut dan menjelaskan cara menggunakannya.

“Putar perlahan bagian ini,” ujar Adrian. “Jangan terlalu cepat, nanti gambar yang kamu lihat akan bergeser.”

Yura menempelkan matanya pada lensa. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah penuh kekaguman.

“Indah sekali.” Suaranya terdengar tulus. “Aku bisa melihat bintang-bintang dengan jelas.”

“Coba arahkan sedikit ke kiri.”

Yura mengikuti petunjuk Adrian. Tak lama kemudian, sebuah lingkaran besar dengan cincin yang mengelilinginya muncul di hadapan matanya.

“Saturnus,” kata Adrian. “Planet yang memiliki cincin.”

“Aku tahu.” Yura menjauh dari lensa dengan senyum lebar. “Yang kemerahan itu Mars, sedangkan pecahan batu yang bergerak di angkasa disebut asteroid. Dulu aku hanya melihatnya di buku pelajaran, ternyata melihatnya langsung jauh lebih indah.”

Adrian menatap wajah Yura yang berseri-seri. “Dulu kamu pasti murid teladan.”

“Tidak juga.” Yura terkekeh pelan. “Aku hanya suka membaca hal-hal yang membuatku penasaran.”

“Baru kali ini aku melihatmu tersenyum seperti itu.”

Senyum Yura perlahan memudar. Ia menundukkan wajah, lalu kembali memandangi langit melalui teleskop.

“Berada di sini membuatku merasa tenang,” katanya pelan. “Untuk sementara, aku bisa melupakan semua masalahku.”

“Masalah apa?”

Yura tidak langsung menjawab. Ia tidak mungkin menceritakan tentang utang, telepon dari penagih pinjaman daring, dan hidupnya yang terasa semakin sempit dan membuat dadanya sesak.

“Tidak ada. Aku hanya sedang lelah." ” jawab Yura pada akhirnya.

Adrian tidak memaksanya bercerita. Ia hanya mengangguk dan kembali mengarahkan teleskop ke langit. Tiba-tiba, seberkas cahaya melintas di antara bintang-bintang.

“Bintang jatuh!” seru Yura. Ia segera memejamkan mata dan merapatkan kedua tangannya di depan dada.

Dalam hati, Yura berdoa, "Semoga Pak Adrian bisa berjalan lagi dan tidak membenciku. Aku tidak ingin terus hidup dengan rasa bersalah ini." 

 “Apa yang sedang kamu lakukan?” Adrian memperhatikannya dengan heran.

Yura membuka mata dan tersenyum kecil. “Berdoa. Kata orang, doa saat melihat bintang jatuh akan lebih cepat terkabul.” 

“Memangnya apa yang kamu minta?”

“Rahasia. Cukup aku dan Tuhan yang tahu.”

“Semoga doamu terkabul,” ujar Adrian.

“Amin.” 

“Aku mengantuk. Kamu tidak ingin tidur?” Adrian menguap, lalu menutup mulutnya dengan tangan. 

“Aku masih ingin berada di sini. Kamu tidur saja lebih dulu, aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Adrian menekan tombol pada sandaran kursi rodanya. Motor listriknya berdengung pelan, lalu kursi itu bergerak menuju vila.

Yura tetap berdiri di dekat tebing. Ia memeluk tubuhnya sendiri ketika angin malam bertiup semakin kencang. Di hadapannya, laut tampak hitam dan dalam, hanya diterangi pantulan cahaya bulan yang terpecah di permukaan ombak.

Tempat ini membuatnya merasa aman. Tidak ada suara telepon yang menagih utang. Tidak ada tuntutan dari siapa pun. Hanya suara ombak dan langit luas yang membuat dadanya terasa lebih lapang.

Namun, rasa aman itu tidak berlangsung lama. Tanpa disadari Yura, sebuah bayangan muncul dari belakang. Langkah orang itu nyaris tak terdengar di atas lantai batu. Yura menatap langit, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mendekat.

“Pemandangannya indah sekali,” gumamnya.

Sesaat kemudian, sepasang tangan menghantam punggungnya dengan sekuat tenaga. Tubuh Yura terhuyung melewati pagar pembatas. Matanya membelalak ketika kakinya kehilangan pijakan.

“Aaaah!”

Teriakannya menggema di tengah malam. Tubuhnya jatuh menembus kegelapan, semakin jauh dari tebing dan cahaya vila, sampai akhirnya terhempas ke laut gelap di bawah sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   MAKAN MALAM ROMANTIS

    “Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   INI RUMAH KITA

    Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ADRIAN SADAR

    Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   PULANG

    “Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ANDREAS TURUN TANGAN, CERAIKAN DIA

    “Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KEMARAHAN ANDREAS

    “Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status