Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang
Huling Na-update : 2026-08-23 Magbasa pa