LOGINYura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.
“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.
“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”
“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.
Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.
“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”
“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”
“Suamimu itu aku atau Andreas?”
Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.
“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.
Begitu tiba di ruang depan, Adrian mengangkat tangan. “Kau tunggu di sini, Gresyuan.”
“Baik, Pak.”
Adrian membiarkan Yura masuk ke kamar seorang diri. Namun, tatapannya justru terpaku pada pintu kamar yang baru saja tertutup.
Ada sesuatu yang terasa janggal. Mengapa Yura bisa masuk ke kamar Andreas dengan begitu leluasa?
Andreas adalah orang yang sangat menjaga privasinya, bahkan keluarganya sendiri jarang diizinkan menginap di apartemen ini.
Hanya ada satu kamar di dalamnya karena Andreas memang tidak pernah berniat menjadikan tempat ini sebagai rumah untuk banyak orang, lalu mengapa Yura bisa berada di dalamnya? Rasa tidak nyaman kembali memenuhi dada Adrian.
Yura mengambil ponselnya dari atas nakas. Puluhan panggilan dari nomor tidak dikenal memenuhi layar. Ia mengembuskan napas panjang.
Sudah berkali-kali ia mengganti nomor, tetapi para penagih pinjaman online selalu berhasil menemukan nomor barunya.
Beberapa bulan lalu, seorang penelepon mengaku salah mentransfer uang sebesar empat puluh juta rupiah ke rekeningnya. Karena panik dan tidak ingin mengambil uang yang bukan miliknya, Yura mengikuti instruksi orang itu dan mentransfer kembali uang tersebut.
Belakangan baru diketahui bahwa identitas Yura telah digunakan untuk mengajukan pinjaman online. Uang yang masuk ke rekeningnya hanyalah jebakan. Kini Yura yang harus menghadapi tagihannya.
“Huff... sudahlah. Toh, bukan aku yang meminjam uang itu.”
Bukannya Yura tidak mau bertanggung jawab. Ia hanya benar-benar tidak tahu harus membayarnya dengan apa. Tabungannya bahkan tidak cukup untuk menutupi seluruh hutang tersebut. Yura mematikan ponselnya. Untuk sementara, ia ingin melupakan semua masalah.
Ia mengenakan pakaian dan parfum yang diberikan Andreas. Setelah menyisir rambutnya yang berantakan, Yura sempat menoleh ke meja. Makanan yang disiapkan Andreas masih tersisa. Ia merasa sayang membuangnya.
Perlakuan lembut Andreas membuat hatinya hangat. Baru kali ini ada seorang pria yang memperlakukannya dengan begitu sopan dan istimewa tanpa merendahkannya.
“Yura!” Suara Adrian dari luar membuat Yura tersentak kaget. “Sudah enam menit! Kenapa kamu belum keluar?”
Yura buru-buru mengambil paper bag berisi pakaian yang diberikan Andreas, lalu keluar. Begitu melihatnya, Adrian terdiam. Yura terlihat jauh berbeda.
Pakaian sederhana yang biasa dikenakannya kini berganti dengan pakaian mahal yang membalut tubuhnya dengan anggun. Wajahnya terlihat lebih segar dan bersih setelah kemarin dibawa Andreas ke salon.
Adrian menatapnya terlalu lama, Yura justru merasa gugup dilihat seperti itu.
“Apa yang kau bawa?” tanya Adrian ketika melihat beberapa paper bag di tangannya.
"Baju. Pak Andreas yang membelinya untukku.”
“Tinggalkan semuanya di sini.”
“Tapi—”
“Aku masih mampu membelikannya untukmu.”
Yura menunduk. Ia sudah menduga Adrian akan mengatakan hal itu.
Yura mengangguk ragu. “Kamu bahkan tidak pernah memberiku uang belanja,” gumamnya.
Adrian terdiam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa banyak hal yang selama ini tidak pernah diberikan kepada Yura.
“Mulai sekarang, kamu akan mendapatkan hakmu.”
Yura mendongakkan wajah. “Hak saya?”
Adrian mengangguk.
Entah mengapa, bulu kuduk Yura justru meremang. Jangan-jangan yang dimaksud Adrian adalah hak sebagai seorang istri... termasuk kewajiban sebagai suami istri?
Membayangkan dirinya harus tidur satu ranjang dengan Adrian membuat wajah Yura memanas. Ia buru-buru mengusir pikiran itu.
***
“Kenapa kamu membawanya kemari, Nak?” Begitu sampai di rumah, Jeni langsung menyambut Yura dengan tatapan tajam. “Aku tidak ingin barang-barang di rumah ini hilang hanya karena dia.”
“Itu tidak akan terjadi, Ma. Aku yang menjamin.”
Jeni menyilangkan tangan di dada, tatapannya mengamati pakaian Yura dari atas hingga ke bawah. Ia tahu pakaian itu mahal.
“Darah pencuri mengalir dalam tubuhnya. Mana mungkin tabiat buruknya berubah?” Tatapan Jeni berhenti pada pakaian Yura. “Baju itu juga kau curi, bukan?”
Wajah Yura seketika memucat. “Tidak! Saya bukan pencuri. Saya tidak pernah mencuri. Baju ini pemberian Pak Andreas.”
“Orang miskin sepertimu memang hanya pandai memeras orang kaya.”
“Ma, cukup!” Suara Adrian membuat Jeni terdiam.
“Yura adalah istriku. Menghinanya berarti menghinaku.” Adrian berada di samping Yura dengan wajah serius.
Istriku.
Yura membeku mendengar pernyataan Adrian. Ia menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. Yura sama sekali tidak pernah mendengar Adrian menyebut dirinya seperti itu.
“Mulai sekarang, hormati dia. Aku tidak ingin siapa pun menghinanya.”
Jantung Yura berdegup lebih cepat. Selama ini Adrian selalu menyalahkannya. Ia bahkan yakin pria itu akan membencinya seumur hidup. Namun hari ini, Adrian justru berada di pihaknya dan melindunginya.
“Adrian, apa-apaan kamu ini?” Jeni tidak terima. “Bukankah selama ini kamu sangat membencinya? Jangan lupa! Dialah yang membuat hidupmu hancur!”
“Aku sudah sadar, Ma.” Adrian menatap Yura sekilas. “Semua yang terjadi dalam hidupku adalah takdir. Bukan salah Yura.”
Mata Yura berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Adrian.
“Aku mau makan dulu, Ma.” Adrian kemudian menoleh kepada Yura. “Kamu juga belum sarapan, kan?”
Yura menganggukan kepala.
“Ayo makan bersamaku.”
“Iya.”
Untuk pertama kalinya, senyum tulus muncul di wajah Yura. Ia mengikuti Adrian menuju ruang makan. Begitu sampai di meja makan, Gresyuan hendak mengambilkan nasi untuk Adrian. Namun Adrian langsung menahan tangannya.
“Tidak perlu.”
Gresyuan terkejut. Adrian kemudian menoleh kepada Yura yang sedang mengambil lauk.
“Yura.”
“Iya?”
“Ambilkan aku makanan.”
Yura menatapnya heran, tapi tetap menuruti keinginan Adrian. “Mau makan apa?”
“Apa saja.”
“Kau boleh pergi.” Adrian menoleh kepada Gresyuan.
Gresyuan mengangguk dan segera meninggalkan ruang makan. Yura memandang punggung Gresyuan yang semakin jauh.
Aneh.
Biasanya Adrian selalu ingin dilayani Gresyuan. Namun hari ini, ia justru memintanya sendiri agar Yura mau melayaninya. Tanpa banyak bertanya, Yura mengambilkan nasi dan berbagai lauk, lalu memasukkannya ke piring Adrian.
“Ini.”
“Terima kasih.”
Terima kasih? Perubahan Adrian benar-benar membuatnya bingung, tapi Yura pikir mungkin itu lebih baik. Mereka makan dalam keheningan, sesekali Yura merasa Adrian memandanginya.
Tatapan itu berbeda dari sebelumnya, tidak ada kebencian dan tidak ada kemarahan. Justru ada kelembutan yang membuat Yura semakin salah tingkah.
Namun karena perutnya sudah sangat lapar, ia berusaha mengabaikannya. Sampai tiba-tiba Adrian mengulurkan tangan. Yura tersentak ketika pria itu mengusap sudut bibirnya dengan tisu.
“Ada saus di bibirmu.”
Yura terpaku menatap Adrian. “I-iya... terima kasih.”
Yura buru-buru menunduk. “Hm... terima kasih juga karena kamu sudah membebaskanku dari penjara.”
Gerakan tangan Adrian di atas piring terhenti. Ia menatap Yura dengan kening berkerut, jadi Andreas mengatakan kepadanya bahwa dialah yang membebaskannya?
“Maaf.” Adrian tidak mengoreksi perkataan itu. Sebaliknya, ia menarik napas perlahan.
Yura membalas tatapan Adrian. “Maaf, kenapa?”
“Maaf karena selama ini aku bersikap kasar kepadamu.” Yura terdiam saat Adrian menatapnya lekat-lekat. “Aku tahu mungkin tidak mudah bagimu melupakan semua perlakuanku selama ini, tapi aku ingin kita berhenti saling menyakiti.”
Adrian menggenggam tangan Yura di atas meja. Sentuhan itu membuat Yura tersentak kaget hingga sendok di tangan kanannya terlepas dan jatuh ke atas piring, menimbulkan suara nyaring.
“Aku ingin kita membuka lembaran baru.”
“Lembaran baru?” Yura menatapnya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketulusan di mata pria itu.
Adrian mengangguk. “Ya.”
“Menjadi... sepasang suami istri sungguhan maksudmu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Namun setelah mengucapkannya, Yura langsung menyesal. Wajahnya memanas.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Yura dengan ekspresi serius, lalu perlahan menganggukkan kepala.
“Iya.”
Yura menelan ludah, Jantungnya langsung berdegup semakin cepat, tubuhnya seketika terasa lemas, tangannya menggenggam ujung bajunya sendiri dengan gemetar.
Selama ini ia menikah dengan Adrian hanya karena keadaan. Mereka tidur di kamar yang berbeda, hidup seperti dua orang asing, bahkan saling menyimpan kebencian.
Namun, sekarang pria itu justru meminta kesempatan untuk menjadi suaminya yang sesungguhnya. Yura tidak tahu harus bahagia atau takut.
Sebab satu pertanyaan mulai memenuhi pikirannya. Apakah hatinya sudah siap mencintai pria yang dahulu paling ia takuti itu?
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit







