Ponsel Adrian kembali bergetar. Kali ini bukan satu pesan, melainkan deretan notifikasi dari berbagai grup dan kontak yang mereka percayai. Callista mencondongkan tubuh, matanya menyipit saat membaca potongan informasi yang masuk.
“Dia mulai balas,” ucapnya pelan.Adrian mengambil ponselnya, membuka salah satu tautan yang baru dikirim. Sebuah video berdurasi singkat memutar—Amelia, dengan senyum tipis, duduk di sebuah ruang wawancara. Suaranya terdengar dingin. “Saya hanya ingin kebenaran. Kalau memang mereka tidak bersalah, silakan buktikan. Tapi saya rasa publik berhak tahu siapa yang sebenarnya memanfaatkan siapa.”Callista menghela napas panjang. “Dia sengaja lempar pancingan di depan kamera.”“Dan dia pikir kita akan terburu-buru menyambar,” balas Adrian datar. Ia mematikan suara video itu, lalu memandang Callista. “Kita tidak akan main di jalurnya.”Callista mengangguk. “Tapi kalau kita diam total, dia bisa putar cerita sesuka hati.“Aku mau dia bicara sesuatu yang dia pikir aman. Sesuatu yang dia nggak sadar bisa kita pakai,” kata Adrian sambil membolak-balik salah satu lembar transkrip.Callista duduk menyamping di kursinya, kakinya terlipat, jemari memutar sebuah pena tanpa sadar. “Kalau mau bikin dia bicara, kita harus kasih dia alasan. Orang kayak Amelia nggak akan ngomong kalau nggak merasa di atas angin.”Adrian mengangguk. “Berarti kita kasih dia panggung.”“Panggungnya harus dia pikir aman,” sambung Callista cepat. “Kalau dia tahu kita yang nyiapin, dia nggak akan jatuh.”Adrian menatapnya, senyum tipis muncul. “Kamu mulai ngerti cara mainku.”Gadis itu mengangkat alis. “Aku kan udah cukup lama jadi muridnya.”Adrian mendekat, tangannya meraih dagu Callista, menahan pandangannya. “Sekarang bukan murid. Kita partner. Dan partner berarti sama-sama bawa risiko.”“Kalau gitu, kita mulai dari mana?”Adrian menatap meja penuh dokumen di
Adrian berdiri di depan lemari, pandangannya menyapu deretan jas dan kemeja. Tangannya memilih salah satu, bukan karena ingin tampil rapi untuk Amelia, tapi karena ia tahu—setiap detail yang ia tunjukkan bisa jadi senjata.Callista duduk di tepi sofa, mengikuti setiap gerakan Adrian dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kamu yakin nggak mau aku ikut?”Adrian meliriknya sekilas. “Kalau kamu ikut, dia nggak akan buka kartu. Dia akan main aman. Aku butuh dia merasa percaya diri, cukup untuk bilang hal-hal yang bisa kita pakai.”Callista menggigit bibir, lalu menunduk. “Aku benci cuma duduk nunggu.”Adrian mendekat, meraih tangannya. “Kamu nggak cuma duduk nunggu. Kamu yang jaga benteng ini. Kalau dia nekat main kotor saat aku nggak ada, kamu yang pertama kali bisa cegah.”Gadis itu mengangkat wajah, tatapannya bertemu dengan milik Adrian. “Aku nggak akan biarin apa pun nyentuh kita.”Adrian tersenyum tipis. “Itu sebabnya aku bisa tenan
Ponsel Adrian kembali bergetar. Kali ini bukan satu pesan, melainkan deretan notifikasi dari berbagai grup dan kontak yang mereka percayai. Callista mencondongkan tubuh, matanya menyipit saat membaca potongan informasi yang masuk.“Dia mulai balas,” ucapnya pelan.Adrian mengambil ponselnya, membuka salah satu tautan yang baru dikirim. Sebuah video berdurasi singkat memutar—Amelia, dengan senyum tipis, duduk di sebuah ruang wawancara. Suaranya terdengar dingin. “Saya hanya ingin kebenaran. Kalau memang mereka tidak bersalah, silakan buktikan. Tapi saya rasa publik berhak tahu siapa yang sebenarnya memanfaatkan siapa.”Callista menghela napas panjang. “Dia sengaja lempar pancingan di depan kamera.”“Dan dia pikir kita akan terburu-buru menyambar,” balas Adrian datar. Ia mematikan suara video itu, lalu memandang Callista. “Kita tidak akan main di jalurnya.”Callista mengangguk. “Tapi kalau kita diam total, dia bisa putar cerita sesuka hati.
Suara notifikasi yang bertubi-tubi dari ponsel Adrian memenuhi ruangan, seperti dentang alarm yang menandakan babak baru sudah dimulai. Callista duduk tegak, matanya menatap layar laptop yang terbuka di depannya, menampilkan deretan berita yang terus diperbarui.Nama Amelia terpampang di hampir setiap judul—beberapa menyoroti kebiasaannya, beberapa lagi menyelipkan sindiran yang jelas bukan datang dari pihak mereka. Tapi di sela-sela berita itu, mulai bermunculan artikel yang membawa nama Callista secara lebih terang.“Dia nggak cuma nyerang kamu,” gumam Callista, jemarinya mengetik cepat di keyboard. “Dia mau nyeret aku langsung ke depan.”Adrian berdiri di belakangnya, satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, satu lagi di bahunya. “Itu memang tujuan dia. Dia pikir kalau kamu kena, aku akan keluar dari permainan.”Callista menoleh, menatap mata pria itu. “Dia nggak tahu siapa yang dia hadapi.”Adrian menunduk, memberi kecupan singkat d
Ponsel Adrian bergetar di meja. Sekilas, getaran itu seperti bunyi biasa, tapi di dada Callista, ada detak tambahan yang tidak bisa ia abaikan. Adrian meraihnya tanpa melepaskan genggaman di tangan Callista.Pesan singkat dari kontak yang sama tadi malam muncul di layar: Sudah siap. Semua akan tayang sesuai rencana.Callista menarik napas. “Jadi… ini benar-benar jalan.”Adrian mengangguk, matanya tidak lepas dari layar sebelum ia mematikannya. “Tidak ada cara untuk mundur sekarang.”Mereka duduk di meja yang sama tempat map itu dibuka semalam. Di antara mereka ada secangkir kopi yang mulai kehilangan panasnya. Callista memainkan gagang cangkir, pikirannya melayang pada apa yang akan terjadi ketika berita itu menyebar.“Aku tahu kita sudah siap,” ucapnya pelan, “tapi bagian dari diriku tetap takut. Bukan takut kalah… lebih ke takut melihat semua orang berubah jadi wajah yang aku nggak kenal.”Adrian menyentuh tangannya. “Kamu ngga
Begitu pintu tertutup, Callista bersandar di daun pintu, menarik napas panjang yang terasa berat. Adrian meletakkan tas di meja, lalu berdiri di hadapannya. Tatapan mereka bertemu, tidak ada kata-kata, hanya getaran yang masih tertinggal dari pertemuan tadi.“Dia akan gerak cepat,” ujar Adrian akhirnya.Callista mengangguk. “Kita harus lebih cepat.”Adrian berjalan ke meja, membuka map yang tadi belum sempat ia buka di hadapan Amelia. Berlembar-lembar dokumen dan foto tersebar di permukaan meja. Callista mendekat, matanya menelusuri satu per satu, meski ada sebagian yang membuatnya ingin berpaling.“Aku nggak mau ini cuma jadi balasan,” ucapnya pelan. “Aku mau ini jadi bukti kalau kita nggak main kotor… tapi juga nggak akan diam.”Adrian mengangkat wajahnya. “Itu yang akan kita lakukan. Sekali kita lepaskan ini, kita biarkan orang lihat dan nilai sendiri. Kita nggak usah teriak-teriak.”Callista menatapnya beberapa detik, lalu du