author-banner
Atdriani12
Atdriani12
Author

Novels by Atdriani12

Terperangkap Dalam Gairah Dosen Muda

Terperangkap Dalam Gairah Dosen Muda

Callista hanya ingin fokus kuliah dan lulus tepat waktu demi bisa bekerja dan membiayai pengobatan ibunya. Tapi semua berubah saat ia menerima tawaran menjadi asisten penelitian dosennya, Adrian. Yang tak pernah ia duga, langkah itu justru menyeretnya ke dalam hubungan terlarang dengan pria yang sudah beristri.
Read
Chapter: BAB 129
“Aku mau dia bicara sesuatu yang dia pikir aman. Sesuatu yang dia nggak sadar bisa kita pakai,” kata Adrian sambil membolak-balik salah satu lembar transkrip.Callista duduk menyamping di kursinya, kakinya terlipat, jemari memutar sebuah pena tanpa sadar. “Kalau mau bikin dia bicara, kita harus kasih dia alasan. Orang kayak Amelia nggak akan ngomong kalau nggak merasa di atas angin.”Adrian mengangguk. “Berarti kita kasih dia panggung.”“Panggungnya harus dia pikir aman,” sambung Callista cepat. “Kalau dia tahu kita yang nyiapin, dia nggak akan jatuh.”Adrian menatapnya, senyum tipis muncul. “Kamu mulai ngerti cara mainku.”Gadis itu mengangkat alis. “Aku kan udah cukup lama jadi muridnya.”Adrian mendekat, tangannya meraih dagu Callista, menahan pandangannya. “Sekarang bukan murid. Kita partner. Dan partner berarti sama-sama bawa risiko.”“Kalau gitu, kita mulai dari mana?”Adrian menatap meja penuh dokumen di
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: BAB 128
Adrian berdiri di depan lemari, pandangannya menyapu deretan jas dan kemeja. Tangannya memilih salah satu, bukan karena ingin tampil rapi untuk Amelia, tapi karena ia tahu—setiap detail yang ia tunjukkan bisa jadi senjata.Callista duduk di tepi sofa, mengikuti setiap gerakan Adrian dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kamu yakin nggak mau aku ikut?”Adrian meliriknya sekilas. “Kalau kamu ikut, dia nggak akan buka kartu. Dia akan main aman. Aku butuh dia merasa percaya diri, cukup untuk bilang hal-hal yang bisa kita pakai.”Callista menggigit bibir, lalu menunduk. “Aku benci cuma duduk nunggu.”Adrian mendekat, meraih tangannya. “Kamu nggak cuma duduk nunggu. Kamu yang jaga benteng ini. Kalau dia nekat main kotor saat aku nggak ada, kamu yang pertama kali bisa cegah.”Gadis itu mengangkat wajah, tatapannya bertemu dengan milik Adrian. “Aku nggak akan biarin apa pun nyentuh kita.”Adrian tersenyum tipis. “Itu sebabnya aku bisa tenan
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: BAB 127
Ponsel Adrian kembali bergetar. Kali ini bukan satu pesan, melainkan deretan notifikasi dari berbagai grup dan kontak yang mereka percayai. Callista mencondongkan tubuh, matanya menyipit saat membaca potongan informasi yang masuk.“Dia mulai balas,” ucapnya pelan.Adrian mengambil ponselnya, membuka salah satu tautan yang baru dikirim. Sebuah video berdurasi singkat memutar—Amelia, dengan senyum tipis, duduk di sebuah ruang wawancara. Suaranya terdengar dingin. “Saya hanya ingin kebenaran. Kalau memang mereka tidak bersalah, silakan buktikan. Tapi saya rasa publik berhak tahu siapa yang sebenarnya memanfaatkan siapa.”Callista menghela napas panjang. “Dia sengaja lempar pancingan di depan kamera.”“Dan dia pikir kita akan terburu-buru menyambar,” balas Adrian datar. Ia mematikan suara video itu, lalu memandang Callista. “Kita tidak akan main di jalurnya.”Callista mengangguk. “Tapi kalau kita diam total, dia bisa putar cerita sesuka hati.
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: BAB 126
Suara notifikasi yang bertubi-tubi dari ponsel Adrian memenuhi ruangan, seperti dentang alarm yang menandakan babak baru sudah dimulai. Callista duduk tegak, matanya menatap layar laptop yang terbuka di depannya, menampilkan deretan berita yang terus diperbarui.Nama Amelia terpampang di hampir setiap judul—beberapa menyoroti kebiasaannya, beberapa lagi menyelipkan sindiran yang jelas bukan datang dari pihak mereka. Tapi di sela-sela berita itu, mulai bermunculan artikel yang membawa nama Callista secara lebih terang.“Dia nggak cuma nyerang kamu,” gumam Callista, jemarinya mengetik cepat di keyboard. “Dia mau nyeret aku langsung ke depan.”Adrian berdiri di belakangnya, satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, satu lagi di bahunya. “Itu memang tujuan dia. Dia pikir kalau kamu kena, aku akan keluar dari permainan.”Callista menoleh, menatap mata pria itu. “Dia nggak tahu siapa yang dia hadapi.”Adrian menunduk, memberi kecupan singkat d
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: BAB 125
Ponsel Adrian bergetar di meja. Sekilas, getaran itu seperti bunyi biasa, tapi di dada Callista, ada detak tambahan yang tidak bisa ia abaikan. Adrian meraihnya tanpa melepaskan genggaman di tangan Callista.Pesan singkat dari kontak yang sama tadi malam muncul di layar: Sudah siap. Semua akan tayang sesuai rencana.Callista menarik napas. “Jadi… ini benar-benar jalan.”Adrian mengangguk, matanya tidak lepas dari layar sebelum ia mematikannya. “Tidak ada cara untuk mundur sekarang.”Mereka duduk di meja yang sama tempat map itu dibuka semalam. Di antara mereka ada secangkir kopi yang mulai kehilangan panasnya. Callista memainkan gagang cangkir, pikirannya melayang pada apa yang akan terjadi ketika berita itu menyebar.“Aku tahu kita sudah siap,” ucapnya pelan, “tapi bagian dari diriku tetap takut. Bukan takut kalah… lebih ke takut melihat semua orang berubah jadi wajah yang aku nggak kenal.”Adrian menyentuh tangannya. “Kamu ngga
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: BAB 124
Begitu pintu tertutup, Callista bersandar di daun pintu, menarik napas panjang yang terasa berat. Adrian meletakkan tas di meja, lalu berdiri di hadapannya. Tatapan mereka bertemu, tidak ada kata-kata, hanya getaran yang masih tertinggal dari pertemuan tadi.“Dia akan gerak cepat,” ujar Adrian akhirnya.Callista mengangguk. “Kita harus lebih cepat.”Adrian berjalan ke meja, membuka map yang tadi belum sempat ia buka di hadapan Amelia. Berlembar-lembar dokumen dan foto tersebar di permukaan meja. Callista mendekat, matanya menelusuri satu per satu, meski ada sebagian yang membuatnya ingin berpaling.“Aku nggak mau ini cuma jadi balasan,” ucapnya pelan. “Aku mau ini jadi bukti kalau kita nggak main kotor… tapi juga nggak akan diam.”Adrian mengangkat wajahnya. “Itu yang akan kita lakukan. Sekali kita lepaskan ini, kita biarkan orang lihat dan nilai sendiri. Kita nggak usah teriak-teriak.”Callista menatapnya beberapa detik, lalu du
Last Updated: 2025-08-27
Terjebak dalam Tubuh Istri CEO yang Tak Diinginkan

Terjebak dalam Tubuh Istri CEO yang Tak Diinginkan

Meninggal akibat kecelakan mobil, Gisella tidak menyangka akan hidup kembali sebagai istri angkuh dan jahat bernama sama di sebuah novel yang pernah dibacanya. Bahkan, berakhir tragis di tangan William, sang suami. Lantas, bagaimana Gisella yang sekarang, bertahan? Belum lagi, kepribadian tokoh "Istri William" ini sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya!
Read
Chapter: 53 TAMAT
Di sebuah tempat yang bahkan tidak tercatat dalam peta Swiss, seorang pria duduk di atas ranjang, mengenakan hoodie gelap dan syal tipis untuk menutupi sebagian wajahnya. Wajah itu sudah tidak asing, meskipun kini lebih kurus dan ada bekas luka samar di pipi kirinya.Wiliam.Ia tidak mati. Ia hanya disembunyikan, dijauhkan, agar para musuh yang masih tersisa percaya bahwa semuanya telah selesai. Tapi bagi Wiliam, semuanya belum berakhir. Masih ada satu hal yang belum ia lakukan: mengembalikan kebahagiaan Gisella dan membimbing Arxavie.Pintu kamar diketuk.“Masuk,” ucap Wiliam, tanpa menoleh.Suara langkah pelan terdengar. Dan detik kemudian, suara yang sudah lama ia rindukan akhirnya memecah udara.“Kalau kau ingin tetap menyamar, setidaknya jangan memakai parfum khasmu.”Wiliam membeku.Perlahan ia menoleh.Gisella berdiri di sana. Mengenakan mantel putih, rambutnya kini lebih panjang, dan matanya—mes
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: 52
Kuil Valerium, 06:33 AMMatahari belum sepenuhnya terbit. Kabut dingin masih menggantung di antara pilar-pilar batu kuno Valerium.Namun di tengah aula utama, tiga sosok sudah berdiri: Wiliam, Gisella, dan Arxavie. Ketiganya menatap ke depan, pada dinding batu besar yang menjulang tinggi dengan ukiran aneh yang memancarkan cahaya keemasan samar.Itulah Pintu Eden.Bukan sembarang pintu. Tapi sebuah gerbang kuno yang hanya akan terbuka oleh “yang membawa darah dua dunia”—mereka yang lahir dari garis manusia dan keturunan purba.Arxavie berdiri di tengah, antara kedua orang tuanya. Ia menatap pintu besar itu, lalu menengadah pada ayah dan ibunya.“Apa... aku bisa?” bisiknya.Wiliam mengangguk pelan. “Kau anak kami, Arxavie. Kau lebih dari cukup.”Gisella menggenggam tangannya. “Apa pun yang terjadi nanti, kami bersamamu.”Arxavie menelan ludah. Kemudian, ia berjalan perlahan ke depan, mengikuti pola cahay
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: 51
Wiliam duduk memandangi langit dari jendela kaca. Napasnya berat, dadanya sesak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—ia benar-benar merasa seperti ayah... dan gagal.Langkah kaki lembut terdengar dari belakang. Gisella masuk perlahan, tubuhnya dibalut jubah Valerium yang hangat, tapi matanya masih menyimpan banyak luka.Ia berdiri diam di dekat Wiliam.“Apa kau... masih akan tetap diam?” tanyanya pelan. Suaranya nyaris patah.Wiliam tidak langsung menjawab. Hanya memejamkan mata. Hanya suara detak jantungnya sendiri yang menggema dalam kepala.“Kalau aku mulai bicara... aku takut semuanya akan runtuh,” katanya akhirnya. “Kau. Aku. Arxavie. Dan semua yang sudah kita pertahankan selama ini.”Gisella tertawa kecil. Pahit.“Semuanya sudah runtuh sejak hari kau memilih menghilang dan membiarkanku menangis di depan makam kosong.”Ia duduk di kursi sebelahnya.“Kenapa, Wiliam? Kenapa kau lakukan itu? Kenapa k
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: 50
Lokasi: Valerium, kota tersembunyi di bawah lapisan es abadi di Pegunungan Ural.Waktu: Hari ke-5 sejak Arxavie menghilang.❄️ Scene: Pintu Gerbang ValeriumUdara di sini membeku seperti kematian. Arxavie berjalan perlahan menuruni tangga batu yang dipahat dari dinding-dinding es ribuan tahun lalu. Gema langkah kakinya beradu dengan keheningan yang ganjil—sunyi, namun seolah banyak mata tak kasat mata yang memperhatikan.Di hadapannya, sebuah pintu raksasa dengan simbol bercahaya: sebuah mata dengan dua lingkaran dan satu panah menembus dari bawah."Yang membawa darah Cahaya Terakhir, hanya dia yang boleh masuk."Tangan Arxavie menyentuh permukaan pintu. Dan saat itu juga, pintu batu itu bergetar, lalu terbuka sendiri. Cahaya biru menyelimuti tubuh Arxavie sejenak, dan dunia berubah. Ia masuk ke dimensi lain—sebuah ruang antara waktu dan kenyataan.🌀 Scene: Kota Tanpa WaktuDi dalamnya, Arxavie melihat bangunan-bangunan transparan
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: 49
Lokasi: Pegunungan Alpen, Swiss. 5 Tahun Setelah Insiden Prilly.Waktu: 06:00 PagiEmbun masih menggantung di dedaunan saat cahaya fajar menyusup dari balik kabut tebal. Di sebuah rumah kayu yang berdiri di ketinggian hampir 3.000 meter dari permukaan laut, suasana damai terasa mengisi udara. Di sinilah keluarga kecil itu tinggal—Gisella, Wiliam, dan Arxavie.Arxavie kini telah berusia 9 tahun. Tak lagi bocah lemah dan rapuh, kini ia tumbuh sebagai anak yang tenang, cerdas, dan... anehnya terlalu bijak untuk anak seusianya. Kadang, bahkan Wiliam merasa ia sedang berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua.Pagi itu, Wiliam tengah menyeduh kopi. Gisella berdiri di dekat jendela, melihat Arxavie yang duduk di tepi danau, bermeditasi. Mata anak itu tertutup, tangannya terbuka, dan udara di sekitarnya perlahan membentuk kristal es, meski matahari mulai naik.“Dia melakukannya lagi,” gumam Gisella, lirih.Wiliam ikut menatap. Lalu menar
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: 48
Lokasi: Markas Cadangan Seraphim (bunker bawah tanah milik Wiliam) Waktu: Pukul 03:12 dini hari Gisella duduk di sisi tempat tidur Arxavie yang kini tertidur pulas setelah sempat mengalami kejang aneh. Di dalam tidur itu, tubuh anak itu tampak tenang… tetapi di balik kelopak matanya yang terpejam, matanya bergerak cepat—tanda mimpi yang terlalu dalam, terlalu jauh… terlalu nyata. Gisella meremas selimutnya kuat-kuat. Perasaannya gelisah sejak ledakan gudang tadi malam. Wiliam selamat. Tapi belum juga menghubungi langsung. Padahal... dia berjanji akan langsung datang. Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip. Suara gemuruh lembut terdengar seperti getaran tanah jauh di bawah. Gisella menoleh ke monitor keamanan. Semua kamera di sektor D... padam. "Frey! Apa yang terjadi?" Gisella berteriak ke arah bodyguard wanita yang berjaga. Wanita itu segera meraih headset. "Ada gangguan sinyal. Seperti…
Last Updated: 2025-06-11
Terjebak Cinta Kakak Tiri

Terjebak Cinta Kakak Tiri

Jasmine tak pernah menyangka bahwa kepindahan ibunya ke rumah seorang duda kaya akan mengubah hidupnya. Ia mendapatkan keluarga baru—termasuk Reyan, pria dingin dan dewasa yang kini sah menjadi kakak tirinya. Tapi bagaimana jika perasaan yang tumbuh bukan kasih saudara, melainkan cinta yang terlarang? Saat cinta tak mengenal batas darah—akankah mereka memilih rasa, atau logika?
Read
Chapter: BAB 116
Langkah Jasmin terdengar pelan di lantai marmer, seakan setiap sentuhannya membawa gema ke seluruh ruangan. Tangannya masih menggenggam ujung selendang tipis yang menjuntai dari bahunya. Ruang keluarga itu terasa berbeda; udara di dalamnya padat, seolah menyimpan kata-kata yang belum sempat diucapkan. Sofa abu-abu di tengah ruangan menjadi pusat yang tak tersentuh, seperti garis batas tak kasatmata di antara mereka.Reyan berdiri di dekat rak buku, matanya mengikuti setiap gerakan Jasmin. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya mengamati, seolah mencoba membaca pikiran yang tersembunyi di balik tatapan kosong gadis itu. Suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di antara keheningan mereka.“Kau bahkan nggak berusaha memanggilku,” ucap Jasmin akhirnya, suaranya tenang tapi terasa seperti ujung pisau yang menembus lapisan udara. “Aku yang harus datang sendiri.”Reyan menarik napas pelan. “Aku takut kalau aku yang datang, kamu nggak mau melihat aku.”“
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: BAB 115
Jasmin masih menunduk, merasakan detak jantungnya seperti mencoba menerobos keluar. Ucapan Reyan tadi belum hilang dari kepalanya—permintaan sederhana yang terasa seperti beban berat di dadanya.“Kamu masih nggak mau lihat aku?” suara Reyan memecah sunyi, nada suaranya tenang tapi membawa dorongan yang sulit diabaikan.Jasmin menarik napas perlahan, mencoba mengatur dirinya. “Aku cuma… butuh waktu.”Reyan tidak membantah. Ia bersandar sedikit, menyilangkan tangan di depan dada, tapi tatapannya tetap fokus pada wajah Jasmin. “Waktu itu ada, Jas. Tapi jangan pakai waktu itu buat kabur.”Jasmin mengangkat kepalanya, menatapnya sejenak. “Aku nggak kabur.”“Kalau bukan kabur, kenapa tiap kali aku deket, kamu selalu bikin jarak?”Ia terdiam, menimbang kata-kata. “Karena kalau aku terlalu dekat, aku takut nggak bisa pergi lagi.”Reyan tersenyum tipis, nyaris seperti senyum kemenangan, tapi tidak sombong. “Itu artinya aku nggak
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: BAB 114
Tatapan Reyan masih terkunci padanya, seolah seluruh dunia berhenti bergerak. Jasmin mencoba memalingkan wajah, tapi genggaman itu menahan. Jari-jari Reyan membungkus tangannya erat, tidak menyakitkan, tapi cukup untuk mengirimkan pesan yang jelas: jangan pergi.“Kamu sadar nggak,” suara Reyan rendah dan berat, “setiap kali kamu berusaha menjauh, aku malah makin pengen deket?”Jasmin menelan ludah, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. “Kamu nggak ngerti… kalau terus kayak gini, kita—”“Kita apa?” potong Reyan, nada suaranya tajam tapi tak meninggalkan kelembutan. “Takut? Aku tahu. Tapi aku lebih takut kalau harus pura-pura nggak ngerasain apa-apa.”Jasmin menggigit bibirnya. Ucapan itu seperti memukul sisi hatinya yang paling rapuh. Ia menghela napas, berusaha menyusun kalimat. “Ini bukan cuma tentang kita. Ada orang lain yang bakal tersakiti.”Reyan mengendurkan genggamannya, tapi matanya tetap menatap. “Kalau mereka harus sakit buat k
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: BAB 113
“Kalau gitu, jangan lakuin apa-apa. Biarkan aku yang ngatur.” Reyan mengangkat tangan mereka yang masih tergenggam, lalu menyentuh punggung jemari Jasmin dengan bibirnya. Ciuman ringan itu membuatnya meremang.Jasmin menarik napas panjang, berharap itu bisa menenangkan hatinya. Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya—jantungnya berdetak makin cepat. “Rey…”“Ya?”“Kamu… bikin semua batas jadi nggak jelas.”Reyan tersenyum tipis, tapi sorot matanya tak mengendur. “Batas cuma ada kalau kita mau ngakuin. Kalau kita nggak mau, batas itu hilang.”Ucapannya menusuk. Jasmin tahu ada kebenaran di sana, tapi juga bahaya yang mengintai. Namun, justru itu yang membuatnya sulit berpaling.Reyan menggeser kursinya lebih dekat lagi, sampai lutut mereka benar-benar bersentuhan. “Aku mau deket sama kamu. Bukan cuma jarak, tapi semua yang kamu simpan di sini.” Ia menepuk lembut dada Jasmin.Ucapan itu membuatnya terdiam. Selama ini, ada be
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: BAB 112
Jasmin tersenyum tipis, tapi senyum itu segera memudar ketika Reyan menggeser kursinya lebih dekat lagi, kali ini nyaris membuat lutut mereka saling bersentuhan di bawah meja. “Aku nggak mau cuma duduk di seberang kamu,” ujarnya. “Aku mau ngerasain kamu di sini.” Ucapan itu membuat jantung Jasmin berdetak lebih cepat. Ia bisa saja berdiri dan mengakhiri momen ini, tapi bagian dari dirinya—bagian yang sudah terlalu lama ia abaikan—ingin tahu apa yang akan terjadi jika ia membiarkan Reyan melangkah lebih jauh. Jasmin mencoba mengalihkan pandangan, menatap ke arah meja. “Kamu nggak takut kalau kita terlalu jauh?” “Takut,” jawab Reyan tanpa ragu. “Tapi aku lebih takut kehilangan kamu.” Kata-kata itu membuat napas Jasmin tercekat. Ia menatapnya lagi, mencoba membaca apakah ini hanya permainan atau sungguh-sungguh. Tapi tidak ada keraguan di mata Reyan—hanya keinginan yang nyaris terasa menyakitkan.
Last Updated: 2025-08-26
Chapter: BAB 111
Jasmin terdiam, merasakan getaran dalam suaranya. Ia tahu Reyan serius, tapi bagian dari dirinya masih mencoba mempertahankan benteng yang sudah retak. Tangannya secara refleks mengusap permukaan meja, menghindari tatapan pria itu.Namun Reyan menangkap pergerakan itu. Ia mengulurkan tangan, menutup jemari Jasmin di atas meja, menghentikan gerakan gelisahnya. “Jas, lihat aku.”Jasmin mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan Reyan menusuk, tapi bukan dengan kemarahan—lebih seperti ingin meyakinkan bahwa ia akan tetap di sana, apa pun yang terjadi.“Aku nggak butuh kamu sempurna,” kata Reyan pelan. “Aku cuma mau kamu nggak pergi.”Satu kalimat itu cukup untuk membuat dada Jasmin terasa penuh. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dalam diam. “Aku nggak janji apa-apa, Rey. Tapi aku di sini sekarang.”Reyan tersenyum tipis, seakan jawaban itu sudah cukup untuknya. “Itu yang aku butuhin.”Ia mengangkat tangan Jasmin, menciumnya
Last Updated: 2025-08-26
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status