Beranda / Romansa / Terpikat Pesona Ayah Temanku / 141. Besok Dilanjut lagi

Share

141. Besok Dilanjut lagi

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 23:45:57

Dengan gerakan perlahan, Leonardo mendekat hingga jarak di antara mereka kian menipis dan hanya menyisakan hembusan napas yang saling menyentuh. Ia berhenti sejenak untuk menatap wajah Alessia, seolah meminta izin tanpa kata.

Dan ketika Alessia membuka matanya sedikit, dengan pandangan yang lembut dan penuh rasa pasrah, Leonardo tahu dia tidak perlu berkata apa pun lagi.

Dia menunduk dan mencium bibir Alessia dengan lembut, sebuah ciuman yang manis, hangat, dan dalam. Tidak terburu-buru, tidak bergelora, hanya penuh rasa. Waktu pun seolah berhenti di antara mereka.

Namun, ciuman itu kian mendalam hingga membuat Alessia mengeluarkan desahan yang membuat Leonardo semakin ingin masuk ke dalam.

Tangannya melingkar di ceruk leher Alessia dan menekan setiap sentuhan yang membuat Leonardo semakin menggila.

“Ready for tonight, my wife?” bisiknya sembari membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh wanita itu.

Alessia hanya mengangguk pelan, tanda bahwa dia sudah siap dengan semua y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   151. Memang itu Tujuanku

    Waktu seolah merambat lambat saat jarum jam menunjuk tepat pada pukul sebelas malam.Kesunyian di dalam ruang kerja itu hanya dipecah oleh suara ketukan terakhir pada papan tik komputer milik Leonardo.Pria itu mengembuskan napas panjang, menutup layar monitornya, dan mematikan lampu meja yang sejak tadi menjadi satu-satunya sumber cahaya di sudut ruangan.Kini, ruangan itu hanya diterangi oleh pendar lampu dinding yang temaram, menciptakan nuansa kuning keemasan yang hangat dan intim.Leonardo memutar tubuhnya, mendapati Alessia masih setia menunggunya di sofa kulit.Wanita itu tidak tertidur; dia justru duduk dengan anggun, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit diartikan namun sarat akan damba.Leonardo bangkit dan melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya di atas lantai kayu terdengar dominan.Saat dia berdiri tepat di hadapan Alessia, aura maskulin yang kuat terpancar dari tubuhnya yang tampak letih namun tetap perkasa.Tanpa sepatah kata pun, Alessia mengulurkan tangann

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   150. Aku Percaya Padamu

    “Anthony,” ucap Leonardo dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas saat panggilan itu terhubung.“Batalkan semua jadwal pertemuan serta agenda kunjungan lapangan untuk dua hari ke depan. Aku tidak akan masuk ke kantor.”Di seberang sana, Anthony tampaknya memberikan respons yang menunjukkan keterkejutan, namun Leonardo segera memotongnya.“Atur ulang semua janji temu secara virtual jika memang mendesak. Jika tidak, tunda hingga minggu depan. Aku tidak bisa meninggalkan rumah saat ini.“Alessia baru saja pulang dari rumah sakit, dan aku tidak akan membiarkan dia sendirian tanpa pengawasanku. Pastikan hal ini tidak bocor ke media ataupun kepada ayahku.”Tanpa Leonardo sadari, di balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka, Alessia berdiri mematung.Dia telah berdiri di sana selama beberapa saat, bermaksud membawakan camilan kecil untuk Leonardo, namun niat itu tertahan ketika ia mendengar percakapan tersebut.Hatinya berdesir; ada rasa hangat sekaligus rasa bersalah yang me

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   149. Jiwa Posesifnya Keluar

    Dua hari telah berlalu dan sesuai dengan instruksi dokter, Alessia akhirnya diperbolehkan pulang, meskipun kondisinya masih terpantau cukup rentan.Langkah kaki Leonardo terdengar berat dan tegas saat ia mengawal Alessia memasuki ruang tengah.Pria itu tidak membiarkan Alessia membawa apa pun, bahkan tas kecil sekalipun. Tangan kekarnya senantiasa berada di belakang punggung Alessia, siap menyangga jika wanita itu kehilangan keseimbangan walau hanya satu inci.“Duduklah di sini, Alessia. Aku akan mengambilkan bantal tambahan untuk menopang punggungmu,” ujar Leonardo dengan nada otoriter yang tidak menerima bantahan.Alessia menghela napas, namun dia tetap tersenyum tipis. “Leo, aku hanya hamil, bukan sedang menderita kelumpuhan. Aku bisa berjalan sendiri.”Leonardo tidak menghiraukan protes kecil itu. Ia menatap Alessia dengan sorot mata yang tajam namun penuh proteksi.“Kesehatanmu dan anak kita adalah prioritas absolut saat ini. Selama masa pemulihan ini, aku tidak mengizinkanmu mel

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   148. Hanya Menjebak Leonardo

    Alessia menatap Leonardo yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapan pria itu tertuju padanya, begitu dalam dan penuh emosi, seolah ada ribuan pikiran yang berputar di kepalanya.Keheningan itu perlahan terasa menyesakkan, membuat Alessia akhirnya berdeham pelan.“Leonardo,” panggilnya dengan suara lembut namun jelas. “Sejak tadi kau hanya menatapku. Ada apa?”Leonardo tersentak kecil, seakan baru menyadari bahwa ia terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri.Dia kemudian menarik napas dalam, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Tatapannya kini beralih ke tangan Alessia yang terbaring lemah di atas selimut putih.“Aku hanya … sedang berpikir,” jawabnya pelan.Alessia mengerutkan kening. “Tentang apa?” tanyanya lagi.Nada suaranya tetap tenang, tetapi terselip kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. “Atau … apakah kau tidak siap untuk memiliki anak?” tanyanya kemudian.Leonardo segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, hamp

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   147. Hamil?

    Leonardo tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah, langkahnya tergesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi aroma antiseptik.Jas kerjanya tampak kusut, dasi yang biasanya terpasang rapi kini longgar, menandakan betapa paniknya ketika dia menerima kabar yang mendadak itu.Sorot matanya langsung menangkap sosok Gabby yang berdiri di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, wajah gadis itu pucat dan dipenuhi kecemasan.Leonardo segera menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi pada Alessia?” tanyanya dengan suara berat, nyaris bergetar menahan kekhawatiran.Gabby menoleh, matanya yang berkaca-kaca menatap ayahnya. Ia menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, Pa. Tiba-tiba saja dia pingsan di restoran. Sebelumnya dia sempat mengeluh pusing.”Leonardo memejamkan mata sesaat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Tidak ada apa-apa sebelumnya?” desaknya sambil berusaha menemukan celah penjelasan.Gabby menarik napas panjang. “Ada,” katanya lirih. “Kakek datang ke restoran lagi saat aku tidak

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   146. Tiba-tiba Pingsan

    Beberapa jam kemudian, suasana restoran kembali dipenuhi aktivitas ringan.Beberapa karyawan tampak mondar-mandir menata bahan makanan, sementara alunan musik pelan mengisi ruang yang masih lengang menjelang jam ramai.Pintu restoran terbuka, dan Gabby masuk dengan kedua tangan penuh membawa kantong berisi bahan-bahan yang baru saja dia beli. Wajahnya tampak cerah seperti biasa, meski langkahnya sedikit terburu-buru.Pandangan Gabby segera tertuju pada meja kasir. Di sana, Alessia duduk diam, menatap satu titik kosong dengan sorot mata kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari tempat ia berada. Gabby mengerutkan kening, lalu melangkah mendekat.“Hey,” tegurnya sambil meletakkan kantong belanja di lantai. “Jangan melamun terus. Nanti pelanggan datang, kau malah tidak sadar.”Alessia tersentak ringan, lalu menoleh ke arah Gabby. Dia pun mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan. “Maaf,” ucapnya pelan.Gabby memperhatikannya lebih saksama. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi sah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status