Beranda / Romansa / Terpikat Pesona Ayah Temanku / 160. Tinggalkan Pria Gila itu!

Share

160. Tinggalkan Pria Gila itu!

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 00:31:25

Waktu seolah berlari begitu cepat di kediaman Deveroux. Kini, usia kandungan Alessia telah menginjak angka empat bulan.

Perutnya yang mulai membuncit dengan cantik menjadi pusat perhatian dan kasih sayang bagi Leonardo.

Pagi itu, suasana rumah sakit terasa lebih hangat dari biasanya karena Leonardo dan Gabby turut mendampingi Alessia untuk melakukan pemeriksaan rutin bulanan, sekaligus momen yang paling dinantikan: melihat jenis kelamin calon anggota keluarga baru mereka.

Di dalam ruang pemeriksaan yang tenang, dokter mulai mengoleskan gel dingin di perut Alessia, kemudian menggerakkan transduser USG dengan perlahan.

Layar monitor di samping ranjang menampilkan gambaran hitam-putih yang mulai membentuk siluet kehidupan.

“Nah, coba perhatikan di bagian ini,” ujar dokter dengan nada ramah, menunjuk pada sebuah titik di layar.

“Semuanya terlihat sangat jelas. Selamat, Tuan Leonardo, Nyonya Alessia ... jenis kelamin anak Anda adalah laki-laki.”

“Ya ampun! Aku sudah menduganya!” Gabby lang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   161. Ultimatum Keras dari Leonardo

    Malam itu, suasana di kediaman Deveroux terasa begitu mencekam. Ketegangan yang bermula di pusat perbelanjaan tadi siang seolah-olah terbawa hingga ke dalam rumah, meracuni udara yang biasanya hangat.Gabby duduk bersimpuh di kursi beludru di ruang tengah, menatap ponselnya yang terus bergetar di atas meja. Nama “Rafael” berkedip di layar, seolah-olah memohon untuk diberikan kesempatan bicara.Namun, sebelum jemari Gabby sempat menyentuh layar tersebut, sebuah tangan kekar dengan gerakan cepat menyambar ponsel itu. Leonardo, yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan di sudut ruangan seperti seekor singa yang sedang mengintai, kini mengambil alih kendali.Leonardo menekan tombol hijau dan langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia tidak memberikan ruang bagi suara di seberang sana untuk menyapa.“Berhenti menelepon putriku, Rafael,” ucap Leonardo dengan suara rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan.Di seberang sana, suara Rafael terdengar bergetar, dipenuhi dengan rasa ce

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   160. Tinggalkan Pria Gila itu!

    Waktu seolah berlari begitu cepat di kediaman Deveroux. Kini, usia kandungan Alessia telah menginjak angka empat bulan.Perutnya yang mulai membuncit dengan cantik menjadi pusat perhatian dan kasih sayang bagi Leonardo.Pagi itu, suasana rumah sakit terasa lebih hangat dari biasanya karena Leonardo dan Gabby turut mendampingi Alessia untuk melakukan pemeriksaan rutin bulanan, sekaligus momen yang paling dinantikan: melihat jenis kelamin calon anggota keluarga baru mereka.Di dalam ruang pemeriksaan yang tenang, dokter mulai mengoleskan gel dingin di perut Alessia, kemudian menggerakkan transduser USG dengan perlahan.Layar monitor di samping ranjang menampilkan gambaran hitam-putih yang mulai membentuk siluet kehidupan.“Nah, coba perhatikan di bagian ini,” ujar dokter dengan nada ramah, menunjuk pada sebuah titik di layar.“Semuanya terlihat sangat jelas. Selamat, Tuan Leonardo, Nyonya Alessia ... jenis kelamin anak Anda adalah laki-laki.”“Ya ampun! Aku sudah menduganya!” Gabby lang

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   159. Datang dengan Keangkuhannya

    Malam itu, Leonardo memilih sebuah restoran bernuansa klasik dengan pencahayaan temaram untuk membawa Alessia menikmati makan malam yang tenang.Dia ingin sejenak menjauhkan istrinya dari hiruk-pikuk masalah perusahaan dan bayang-bayang Amanda yang kemarin sempat mengusik ketenangan mereka.Namun, harapan akan malam yang damai itu seketika sirna saat sosok pria paruh baya dengan tongkat perak di tangannya melangkah mendekati meja mereka dengan langkah yang disengaja agar terdengar berwibawa.John Deveroux berdiri di samping meja mereka. Meskipun ia datang dengan maksud meminta bantuan, aura angkuh dan dominan masih terpancar kuat dari garis wajahnya yang keras.“Makan malam yang cukup mewah untuk seseorang yang katanya sedang mencoba hidup tenang, Leonardo,” sapa John dengan nada suara yang berat dan sarat akan sindiran.Leonardo meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan, lalu menyeka bibirnya dengan serbet kain putih.Dia tidak tampak terkejut; seolah-olah dia sudah menduga bahw

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   158. Akhirnya mau Berdamai?

    “Usia kandungannya sudah delapan minggu?!”Suara John Deveroux menggelegar, memecah kesunyian ruang kerja yang luas dan dingin itu.Dia berteriak dengan nada yang begitu melengking hingga pembuluh darah di lehernya tampak menegang.Di hadapannya, Betrand, asisten pribadinya yang telah setia mendampingi selama puluhan tahun, hanya bisa berdiri mematung dengan kepala tertunduk sembari meremas jemarinya yang dingin karena rasa cemas yang tak terbendung.John baru saja menerima laporan medis rahasia yang berhasil didapatkan Betrand mengenai kondisi Alessia.Informasi tersebut bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, menghancurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki.Betrand mengangguk perlahan dengan gestur yang tampak sangat hati-hati, seolah takut jika gerakannya akan semakin memicu amarah sang majikan.“Benar, Tuan Besar. Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, hubungan mereka ternyata sudah terjalin secara tertutup selama satu tahun sebelum mereka memutuskan untuk meresmikan

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   157. Punya hal yang Lebih Penting

    “Aku berangkat ke kantor dulu. Dan akan menjemputmu kembali setelah selesai,” ujar Leonardo dengan nada suara yang bariton dan penuh kewibawaan.Sebelum melangkah pergi, Leonardo menarik tubuh Alessia mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut namun lama di kening istrinya.Di sela-sela keheningan yang tercipta di antara mereka, Leonardo berbisik pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain.“Tolong tanyakan pada Gabby, apa saja yang dikatakan oleh Amanda barusan kepadanya. Aku merasa wanita itu belum sempat menyampaikan niat terselubungnya sebelum aku datang.”Alessia mengangguk kecil, memberikan tatapan meyakinkan yang menyatakan bahwa ia akan menangani situasi tersebut.Dia pun melambaikan tangannya dengan anggun saat sosok tegap Leonardo menghilang di balik pintu kaca restoran, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar namun membekas.Gabby, yang sejak tadi memperhatikan interaksi manis antara ayah dan sahabatnya itu dari kejauhan, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalany

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   156. Menunggu Waktu yang Tepat

    Pagi itu, suasana di restoran milik Gabby yang biasanya dipenuhi oleh aroma kopi segar dan roti panggang yang menggugah selera, mendadak berubah menjadi mencekam.Di ambang pintu masuk, berdiri seorang wanita dengan busana haute couture yang memancarkan kemewahan sekaligus keangkuhan. Amanda.Tanpa kabar, tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia melangkah masuk dengan dagu terangkat, seolah-olah ia masih memiliki hak istimewa atas tempat tersebut.Gabby yang tengah memeriksa daftar inventaris di balik meja kasir seketika mematung.Jemarinya yang memegang pena mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ia hanya menatap dingin wajah wanita yang melahirkannya itu.Tidak ada binar kerinduan, tidak ada sapaan hangat; bahkan untuk sekadar mengucapkan kata “Mama” pun, lidah Gabby terasa kelu dan enggan.Amanda melangkah mendekat, langkah sepatunya berdentang angkuh di atas lantai porselen.Dia berhenti tepat di depan meja kasir dan mengulas senyum miring yang sarat akan provokasi.“Bagaimana kab

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status