เข้าสู่ระบบReynold kembali ke kamarnya, lalu tanpa menunggu lama langsung melompat ke atas kasurnya yang dingin. "Ayah ... apakah dia benar-benar menyelidiki kasus diculiknya Tuan Jimmy? Kalau iya, bagaimana ...." Pemuda itu menghentikan perkataannya ketika dirinya teringat akan sesuatu, "Apakah dia sengaja mencari informasi pada orang-orang di kantor Tuan Jimmy? Apakah iya, Ayah seserius itu untuk mencaritahu padahal itu bukan kasus yang sedang ditanganinya?" Dia berpikir sangat keras mengenai pembicaraan singkatnya dengan sang ayah barusan. Dia mengela napas ringan, sebelum menggelengkan kepala. "Aku benar-benar tidak bisa memperkirakan apa yang dipikirkan Ayah," gumamnya. Menyadari dirinya tidak bisa berbuat banyak mengenai sang ayah, pemuda itu pun memutuskan untuk mengesampingkan pikiran itu. Dia mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa pesan masuk yang mungkin terlewat olehnya. Ia terus menggulirkan layar ponselnya, membaca cepat pesan-pesan yang masuk itu dan membalas beberapa. Namun, p
Setelah membereskan kedua orang yang hendak menculik Lisa dan merusak semua alat komunikasi mereka, Reynold membeli sebotol minuman di kedai sebelumnya, lalu kembali ke tempat duduk sang kekasih. Dia menyodorkan air mineral yang dibelinya pada gadis cantik itu sambil berkata, "Ini, minumlah." Lisa terlihat sedikit terperanjat ketika melihat Reynold yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Terima kasih," ucapnya sambil menerima minuman itu. "Rey, kau lama sekali. Dari mana?" "Seperti yang kukatakan, beli minuman," jawab pemuda itu sembari mendudukkan diri di samping Lisa. Lisa memerhatikan Reynold beberapa saat, lalu kembali tertuju pada botol air mineralnya. Gadis tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Dia kemudian menyodorkan botol mineral itu pada Reynold, sembari mengatakan, "Rey, tutupnya terlalu kuat. Tolong bukakan." Reynold mengambil botol minuman itu, dan langsung membukakan tutupnya, sebelum mengembalikannya. "Ini dia." Ketika wanita itu mulai
Pasangan itu kini sudah berada di jalanan dengan Reynold yang mengendarai motornya sangat hati-hati. Di belakangnya, Lisa melingkarkan tangannya pada pinggang pemuda itu memeluknya dengan sangat erat. Jantungnya berdebar, karena kedekatan tanpa jarak degannya.Kepalanya bertengger di bahu kanan Renold, membuat mereka berdua terlihat begitu mesra di sana. "Sudah kubilang kan. Kalau memelukmu seperti ini, tubuhku terasa hangat," komentar Lisa.Reynold tidak menimpalinya. Fokusnya terus tertuju pada jalanan di depannya."Rey," panggil Lisa tepat di samping telinga pemuda itu dengan lembut. Reynold sedikit menoleh pada wanita di belakangnya. "Apa?" "Em, kalau kau tidak keberatan ... kita jangan langsung pulang dulu, ya," pinta gadis manis itu dengan penuh harap.Mendengar permintaannya, Reynold mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kau mau pergi ke mana?" "Aku ... aku mau ke bukit bintang. Malam ini cerah, aku pikir melihat pemandangan langit di sana akan sangat bagus," jawab Lisa se
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan saat ini, kelas siang Reynold sudah selesai. Reynold yang memiliki rencana makan malam dengan Lisa itu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah untuk bersiap dan beristirahat sebentar. Ketika memasuki rumah, dia langsung disambut oleh kegelapan, dan keheningan. Terasa dingin, tak ada seorang pun di dalam rumah yang menghangatkannya, mengingat kedua penghuninya jarang sekali berada dalamnya. Pemuda itu menyalakan beberapa lampu ruangan sebelum langsung pergi ke kamarnya. Ketika memasuki kamar, dia langsung mengeluarkan ponselnya, dan merebahkan diri di atas kasur empuknya yang dingin. Dia memeriksa beberapa pesan masuk yang belum dibukannya untuk beberapa saat. "Tidak ada yang penting," gumamnya. TING! Satu pesan masuk baru saja muncul. Dia membukanya, dan ternyata itu dari sang kekasih, Lisa. 'Aku tidak sabar makan malam nanti'. Itulah isi pesan darinya. Pemuda itu menghela napas berat, lalu menoleh ke arah jam dinding di ka
Mendengar ucapan mahasiswanya itu, Martin terlihat mengerutkan kening. "Em, ba-iklah. Memang Tuan Michael melakukan hal aneh apa, sehingga membuatmu merasa sangat penasaran?"Sembari memainkan buku di tangannya, pemuda itu menjawab dengan tenang, "Hanya penasaran dengan detail kecil."Martin memiringkan kepala, terlihat semakin penasaran. "Detail kecil, kah ... hm, aku mengerti." Meski penasaran, tetapi dia memutuskan untuk tidak memaksanya menjelaskan lebih jauh."Tapi ... belakangan ini aku tidak membicarakan banyak hal mengenai kasus apa pun dengan Tuan Michael," lanjutnya."Sebenarnya ... ayah tadi pagi mengatakan bahwa dia mau liburan, dan ingin mengajakku liburan bersamanya beberapa hari. Menurut Bapak, ayah menawarkan itu karena dia ada kasus atau apa?" Reynold punengatakan apa yang membuatnya penasaran mengenai sikap Michael tadi pagi. "Aku hanya ingin memastikan itu saja."Martin tersenyum lebar mendengar pengakuannya. "Well, intinya kau hanya khawatir dia mengajakmu karena a
Pada pukul sepuluh tepat, dosen pun memasuki kelas. Namun, pada saat itu, Wendy tetap tidak menampakkan batang hidungnya. Hal itu sebenarnya membuat Reynold merasa semakin penasaran. Dia kembali melirik ke arah Viona untuk memastikan, tetapi dia tidak menyangka bahwa saat ini, gadis judes itu juga sedang memperhatikannya. Ketika mata mereka bertemu, dengan santainya Viona menampakkan senyum miring, mengandung sebuah arti di baliknya. Menyadarinya, secara alami, tanpa merasa gugup sedikit pun dia kembali mengalihkan pandangannya pada dosen yang sedang menyampaikan kuliahnya.Beberapa jam kemudian, perkualiahan mereka pun berakhir, dan setelah dosen yang mengajar meninggalkan kelas, para mahasiswa mulai pergi juga. Ketika orang-orang sudah pergi, Viona bangkit berdiri. Gadis itu menghampiri Reynold yang terlihat akan melangkah pergi keluar, lalu menghentikannya, "Reynold, apakah kau mau bicara sesuatu padaku? Well, kulihat selama perkuliahan sesekali kau melirik ke arahku."Reynold men
"Hallo Rob!" Aku menyapa Robert dengan ceria. "Sedang apa Kau di sini? Tidak biasanya," tanyaku, berbasa-basi sebagai permulaan dari interaksiku dengannya. Pemuda itu tersenyum lebar, lalu mengambil tempat duduk di sampingku, kemudian meletakkan 2 buku di tangannya ke atas meja. "Well, tentu saja
POV Wendy. Beberapa hari kemudian. "Hai Rey!" Aku langsung menyapa pemuda dingin yang tengah berjalan itu dari kejauhan. Tetapi Reynold tidak menggubrisnya. Ia tak berhenti hanya sekedar untuk memastikan aku yang memanggilnya. Tak mau menyerah, aku pun berlari kecil menghampirinya, lalu menepuk
Wendy yang baru saja berhasil melarikan diri dari properti Hilde yang dijaga dengan sangat ketat itu, dengan sigap langsung pergi menuju ke tempat yang jauh agar para penjaga itu tidak menemukannya. Bagaimana tidak? Informasi mengenai percobaan pembunuhan Hilde pasti sudah merebak di antara para pen
Wendy yang sudah berada dalam mode siaganya itu tak langsung menyerang. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati pria itu untuk mengetahui siapa dia dan mempelajari celahnya.Gadis itu menyipitkan matanya, dan hal yang diketahuinya dari sosoknya hanya pria itu adalah orang yang bersama Michael







