Share

103. Overprotektif

last update Last Updated: 2026-01-01 20:47:54

**

Berita kehamilan Bella itu tentu saja bukanlah hal yang harus disembunyikan. Bagaimana mungkin sang Don bisa merahasiakan hal sebesar ini? Ia akan memiliki penerus yang sah. Bukankah itu luar biasa dan harus dirayakan?

Maka, dalam waktu sekejap saja seluruh penghuni mansion Casa Nero sudah mendengar kabar bahagia tersebut. Semua staff, para maid, bodyguard, dan semua anggota keluarga kelompok mafia itu mendengarnya. Dan seperti yang sudah seharusnya, mereka semua berbahagia atas berita ini.

Giovanni sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu kerja di mansion saja. Pertemuan dengan klien yang biasanya dilakukan di luar, sekarang lebih diarahkan di mansion pula. Meski dengan demikian pengamanan harus menjadi lebih ketat. Jikalau tidak memungkinkan dan tetap harus dilakukan di luar, Giovanni meminta bertemu di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah dan tidak memakan banyak waktu.

Bella tentu saja senang, sebab waktu bersama suaminya menjadi lebih intens. Kata-kata Damian tentang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   116. Tidak Akan Kehilanganmu

    **Sedan hitam milik Giovanni merapat ke kawasan dermaga yang sepi di pantai selatan batas kota San Diego. Lampu-lampu pelabuhan berpendar redup, memantul di permukaan air yang beriak pelan. Hanya desir angin laut dan debur ombak yang terdengar, seolah kota itu menahan napas. Di belakang sedan tersebut, beberapa mobil lain berhenti dengan jarak terukur, mengawal dalam diam tanpa terlihat mencolok sama sekali.Giovanni turun lebih dulu. Bahunya sedikit tertarik ke belakang sebab menahan nyeri yang belum sempat sembuh sejak kekacauan di kastil tadi. kemejanya kusut dan ada bercak noda darah di beberapa bagian. Ia mengedarkan pandangannya, tajam dan waspada, menyusuri jalanan sepanjang dermaga yang dipagari pembatas besi. Felix berjalan di sampingnya, rahangnya mengeras, telapak tangannya siap menggenggam pistol di balik jaket. Keduanya melangkah dalam sepi.“Tidak ada gerakan mencurigakan,” gumam Felix pelan. “Tapi Damian memang bukan tipe yang ceroboh. Dia tidak akan meninggalkan jejak

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   115. Menemukan Bella

    **Tentu saja Giovanni tidak mengizinkan Felix menyetir. Pria itu duduk di samping sang Don, di kursi belakang sedan hitam yang saat ini sedang berlari kencang ke arah pantai selatan San Diego. Suasana di dalam mobil begitu tegang, terutama karena Giovanni yang tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk perihal sang istri. Bagaimana keadaannya di sana? Apakah Damian menyakitinya? Apakah ia sedang ketakutan di tengah harapannya menunggu Giovanni datang menyelamatkan?Untuk pertama kali dalam sejarah hidup dan kariernya, baru kali ini Giovanni merasa benar-benar kalah dan putus asa. Jadi memang benar kata mendiang kakeknya dulu. Sebagai pemimpin keluarga mafia, cinta adalah hal yang terlarang. Sebab ketika mencintai seseorang atau sesuatu, maka di situlah titik lemah seseorang terlihat. Musuh akan leluasa menyerang melalui titik ini. Dan Giovanni dulu hanya berdecak mendengar statement itu. Dulu ia merasa aman."Saya minta maaf, Tuan." Setelah sekian lama, akhi

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   114. Petunjuk

    **Keputusasaan membuat Giovanni jatuh terduduk di lantai ruang kendali yang berpenerangan remang-remang. Dadanya naik turun, napasnya berat. Dunia seakan menyempit pada satu pertanyaan yang terus bergaung di kepalanya: ke mana lagi ia harus mencari Bella? Sampai sejauh ini, belum ada petunjuk ke mana ia harus pergi. Sementara itu anak-anak buahnya yangsedang berpencar di seluruh penjuru kota, juga masih nihil tanpa kabar. Kendati demikian, ia masih yakin bahwa dalang di balik semua kejadian ini adalah Damian.Para bawahannya yang berada di sana pun demikian, semuanya menunduk dalam, tidak ada yang berani membuka percakapan. Hingga kemudian ketika beberapa saat sudah berlalu dalam hening, barulah ada yang berkata-kata.“Tuan,” suara salah satu bawahannya memecah keheningan. Pria itu berdiri ragu di dekat pintu, matanya menatap deretan monitor yang padam. “Mungkin … kita bisa menyalakan komputer-komputer ini dan mencari petunjuk keberadaan Nyonya dari dalamnya.”Giovanni menoleh lambat

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   113. Kejahatan Damian

    **Bella terkesiap. Barangkali ia sudah salah bicara dengan pria di hadapannya ini. Sekarang Damian sedang memandangnya seakan Bella adalah objek langka yang menarik. Pria itu kemudian mengeluarkan pistol dari saku pinggangnya dan membelainya dengan sayang."Mau aku bantu mempercepat prosesnya, Bella? Aku janji, ini tidak akan terlalu terasa sakit.""Damian, kau benar-benar bajingan bangsat!"Damian tertawa tergelak selama beberapa saat sebelum kembali menyimpan pistol itu dan kembali memandang Bella penuh pemujaan. "Bella, aku sudah bilang aku menyukaimu, kan? Aku sangat menyukaimu. Aku ingin memilikimu, tapi tidak dengan makhluk dalam perutmu itu."Bella tersentak. Reflek ia memeluk dirinya sendiri, seakan melindungi perutnya yang menonjol dan kehidupan kecil yang sedang berdenyut di sana. Wajah perempuan itu memucat, menyiratkan ketakutan yang sangat, meski ia berusaha tidak menangis."Ja-jangan pernah sakiti bayiku, Damian!""Aku juga tidak mau menyakiti bayimu." Damian mencebik c

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   112. Terperangkap

    **Damian Estes duduk santai di kursi kulitnya. Dinding batu kastil pribadinya di perbukitan utara San Diego memantulkan cahaya kebiruan dari puluhan layar yang menampilkan sudut-sudut Paradise Hotel. Rekaman CCTV yang telah diretas itu memperlihatkan kekacauan yang baru saja terjadi—Giovanni berlari keluar masuk bangunan, wajahnya tegang, matanya liar, amarah dan kepanikan bercampur tanpa bisa disembunyikan.Senyum lebar perlahan terbit di wajah Damian.“Lihatlah dirimu, Giovanni,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Selalu kau kira dirimu kebal. Selalu kau anggap dirimu adalah pemenang. Tapi lihat, lihat sekarang ini. Kau adalah pecundang!”Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai seakan yang sedang ia saksikan itu adalah sebuah drama ringan. Di layar utama, Giovanni terlihat berlutut di samping tubuh Felix yang tergeletak tak sadarkan diri. Adegan itu membuat Damian tertawa kecil, puas. Meski Felix tidak mati, tapi peluru bius dosis tingg

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   111. Permulaan

    **Sementara itu, di gudang senjata tepi dermaga San Diego, keadaan berangsur kembali terkendali. Pintu-pintu baja ruang penyimpanan memang rusak—beberapa engsel tercabut, beberapa panel besi penyok akibat benturan keras—namun setelah pemeriksaan menyeluruh, satu fakta tak terbantahkan muncul ke permukaan: tidak ada satu pun senjata yang hilang.“Jumlahnya lengkap,” lapor salah satu orang kepercayaan Giovanni sembari menutup buku inventaris. “Tidak ada selisih sama sekali, Tuan. Mereka tidak mengambil apapun.”Giovanni berdiri dengan tangan di pinggang, menatap lorong panjang gudang yang kini berantakan. Bau asin laut bercampur dengan debu logam memenuhi udara. Ia mengembuskan napas panjang—setengah lega, setengah bingung.“Kalau begitu, ini bukan perampokan,” gumamnya. "Jadi apa tujuannya mereka melakukan ini?"“Lebih seperti … gangguan,” sahut bawahannya. “Mereka datang, membuat kekacauan, lalu pergi.”Giovanni mengangguk pelan. Nalurinya yang terasah selama bertahun-tahun segera me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status