Share

40. Rindu Arthur

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-05-21 20:10:38

Setelah pasukan dari Utara di tarik, hari ketiga, keempat, bahkan kelima.

Arthur tidak pernah datang.

Awalnya aku pikir dia hanya sibuk, tapi kemudian aku menyadari pola yang lebih menyakitkan, dia sengaja menghindariku.

Setiap kali aku mendengar suara langkah berat di koridor, jantungku berdegup kencang, berharap itu adalah dia, tapi yang lewat selalu prajurit lain, atau pelayan dengan nampan makanan, atau kadang-kadang Kael dengan langkah tegapnya yang khas.

Kael.

Aku melihatnya beberapa kal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   122. TAMAT

    Malam harinya, Arthur mengajakku berjalan-jalan di taman yang baru selesai ditanami. "Bau tanah masih menyengat," kataku. "Bau kehidupan." Dia menggenggam tanganku. Tangannya besar dan hangat. "Kau tahu, Lylia... aku tidak pernah membayangkan bisa begini." "Begini apa?" "Berjalan di taman dengan seorang wanita. Bukan karena aku memaksanya. Tapi karena dia... ingin bersamaku." Dia berhenti, menatap bintang-bintang di langit. "Selama ribuan tahun aku memerintah kerajaan ini sendirian. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi kemudian kau datang..." "Aku datang karena kau menculikku." "Kadang... takdir perlu sedikit dorongan." Dia tersenyum miring. "Atau dorongan yang agak kasar." Aku memukul lengannya pelan. "Kau tidak tahu malu." "Raja iblis tidak punya malu, Lylia. Harga diri, ya. Tapi malu? Tidak." Kami duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Arthur..." "Hm?" "Apa kau takut?" "Takut apa?" "Takut menjadi ayah." Dia terdi

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   121.

    "Aku... aku tidak bisa mengucapkan selamat, Lylia. Maaf." Dia menunduk. "Tapi aku tidak akan mengganggumu. Aku akan kembali ke kuil. Menjalankan tugasku sebagai kesatria suci. Tanpa..." Dia menelan ludah. "...tanpa mimpi tentangmu." "Kael..." "Jangan. Jangan bilang apa-apa. Biarkan aku pergi dengan cara ini." Dia berbalik, armor peraknya berkilat redup di bawah sinar bulan. Langkahnya berat, tapi tidak pernah mundur. Arthur memelukku lebih erat. "Dia akan baik-baik saja. Dia kuat." "Aku tahu. Tapi aku tetap merasa bersalah." "Kau tidak perlu merasa bersalah karena memilih. Itu hakmu." Aku menatap wajah Arthur yang penuh luka, mata merahnya yang masih basah, tangannya yang besar dan kasar tapi kini memelukku dengan lembut. "Arthur..." "Hm?" "Bawa aku pulang." Dia tersenyum. Lalu membungkuk, menggendongku seperti malam pertama di istana—tapi kali ini berbeda. Kali ini aku tidak takut. Kali ini aku memeluk lehernya erat-erat dan mencium keningnya. "Ke istana?" "

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   120.

    Bukit timur terasa semakin dingin setelah teriakkanku usai. Arthur, Kael, dan Lark masih berlutut di sekelilingku, tangan mereka masih menggenggam tanganku—masing-masing enggan melepaskan. "Lylia..." Arthur memecah keheningan. Suaranya serak, matanya merah sembab. "Aku tahu aku yang paling tidak pantas meminta ini. Tapi... ijinkan aku menjagamu. Bukan karena anak ini. Karena kau." "Kau bilang begitu terus, Arthur, tapi kau tetap kasar," sahut Kael dingin. "Aku bisa berubah." "Kata-kata manis tanpa bukti." "Cukup, Kael!" Arthur melepaskan tanganku dan berdiri. Tubuhnya yang besar membayangi kami semua. "Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu. Aku datang karena Lylia." "Kami semua datang karena Lylia, iblis. Jangan merasa paling berjasa." Lark menghela napas panjang. "Kau lihat sendiri, Lylia? Mereka tidak akan pernah bisa akur. Mungkin sebaiknya kau memilih sekarang dan membiarkan yang lain pergi." Aku menatap ketiganya bergantian. Arthur dengan mata merahnya yang

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   119.

    Malam itu, Lark menjemputku tepat saat bulan berada di puncak langit. "Kau siap?" tanyanya, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam. "Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan." "Jawaban yang jujur. Aku suka." Dia mengulurkan tangannya. Aku menerimanya. Telapak tangannya dingin—tapi dinginnya berbeda dengan Arion. Dinginnya Lark adalah dinginnya embun pagi, bukan dinginnya es yang membakar. Pusaran ungu menyelimuti kami. Dunia berputar—dan saat berhenti, kami berada di sebuah gubuk kecil di tengah rawa. "Di mana ini?" "Rawa Berbisik. Tempat para dukun berlindung dari kejaran kerajaan." Lark mengetuk pintu tiga kali. "Dia temanku. Tapi jangan bilang siapa pun." Pintu terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan mata buta menyambut kami. "Lark, anak nakal. Sudah lama tidak mampir." "Halo, Morwen. Aku butuh bantuanmu." "Aku lihat." Mata buta Morwen menatap ke arahku—tepat ke arahku, meski dia seharusnya tidak bisa melihat. "Kau membawa wanita hamil. Dengan aura y

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   118.

    Tiga hari setelah Arion pergi, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. "Kau pucat, Lylia," kata Martha sambil menuang sup ke mangkukku. "Kurang makan?" "Aku makan seperti biasa." "Tapi kau muntah setiap pagi." Aku terdiam. Itu benar. Tiga pagi berturut-turut, aku berlari ke belakang rumah dan memuntahkan isi perutku. Awalnya kukira karena demam. Tapi demamku sudah sembuh. "Mungkin... mungkin hanya sakit perut biasa." Martha menatapku lama. Matanya yang keriput menyipit, lalu melebar. "Lylia..." suaranya berbisik. "Kapan terakhir kau mendapat bulananmu?" Darahku membeku. Aku tidak ingat. Sudah berapa minggu? Sejak di istana Arthur? Sejak di gubuk Lark? Sejak di istana awan bersama Arion? "Aku... aku tidak tahu..." "Anak bodoh!" Martha menggenggam tanganku. Tangannya hangat, tapi aku sedingin es. "Kau harus periksa ke dukun desa." "TIDAK!" Aku menarik tangan. "Tidak bisa. Kalau mereka tahu—Arthur, Kael, Lark—atau Arion—" "KALAU MEREKA TAHU APA? KALAU KAU HAM

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   117.

    Arion berjalan di sampingku dalam diam. Langkahnya pelan, menyesuaikan dengan langkahku yang lemas karena demam."Kau menggigil," katanya tanpa menatapku."Tidak.""Jangan berbohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu."Aku menatap tangan kami yang bergandengan. Tangannya dingin—tapi dinginnya aneh. Seperti es yang membakar."Kenapa kau melakukan ini, Arion?""Apa?""Mengantarkanku. Menjagaku. Bukannya kau ingin... memaksaku?"Dia berhenti. Matanya menatapku untuk pertama kalinya sejak kita meninggalkan sungai. Di bawah sinar bulan, luka-luka di wajahnya terlihat jelas. Tapi matanya... matanya tidak menyala seperti biasa. Redup. Lelah."Aku lelah memaksa, Lylia.""Kau... serius?""Selama setahun aku memaksakan kehendakku padamu. Dan kau lari. Setiap kali." Dia menarik napas panjang. "Mungkin ada yang salah dengan caraku. Mungkin... mungkin aku harus mencoba cara lain.""Kau tidak sedang terkena kutukan, kan?"Arion tertawa kecil. "Tidak. Hanya... sadar."Kami berjalan lagi. Rumah Mar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status