LOGINDia mendorong lebih dalam, seolah ingin menyatu sampai ke tulang. Tubuhku melengkung, kuku-kukuku mencakar punggungnya yang licin oleh keringat. Sayap hitamnya menutupi kami berdua, menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami—gelap, panas, dan penuh desahan. "Arion... ah—" Namanya keluar seperti doa dan kutukan sekaligus. Dia bergerak lambat dulu, menyiksa. Setiap tarikan keluar hampir sepenuhnya, lalu mendorong masuk lagi dengan pelan tapi kuat, hingga aku merasakannya di perut. Matanya—mata lahar itu—tidak pernah lepas dari wajahku. Menikmati setiap getaran bibirku, setiap air mata yang jatuh ke samping. "Kau milikku," bisiknya parau di telingaku. Gigi-giginya menggigit cuping telinga, lalu turun ke leher. "Sudah sejak pertama kali kau menangis di meja itu." Aku ingin membantah, tapi hanya desahan yang keluar saat dia mempercepat irama. Pinggulnya menghantamku dengan ritme yang brutal namun tepat—seolah dia sudah hafal setiap titik sensitif di tubuhku. Tangannya meremas payu
**Lylia...** Aku masih terduduk di sana, lutut tertekuk di kerikil yang menusuk kulit, sementara angin sore membawa bau tanah basah dan darah. Tiga pangeran di belakangku mengerang pelan—luka mereka dalam, tapi bukan itu yang membuat dadaku sesak. Bukan. Yang membuatku sesak adalah **bau dia** yang masih menempel di udara. Bau asap kayu manis, belerang, dan sesuatu yang gelap, manis, dan memabukkan. Bau Arion. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha berdiri. Kaki gemetar. Celana dalamku basah—bukan air mata kali ini. Tubuhku mengkhianati lagi. Seperti dulu. Seperti selalu. "Dasar... bajingan," bisikku parau, tapi suaraku pecah di tengah kata. Salah satu pangeran—mungkin yang berambut perak, aku lupa namanya—berusaha merangkak mendekat. "Lylia... jangan dengarkan dia. Dia iblis. Dia—" "Aku tahu," potongku dingin. Tapi mataku masih menatap ke langit di mana awan hitam tadi menelan Arion. Aku tahu dia iblis. Aku tahu dia menghancurkanku. Tapi aku juga tahu... aku tida
"KAU BOHONG!" Dia mendorongku. Bukan dengan tangan—tapi dengan suaranya. Suara itu menghantam dadaku seperti palu. Aku jatuh terduduk di tanah kerikil yang kasar. Telapak tanganku lecet. "KAU BOHONG PADA DIRIMU SENDIRI, LYLIA!" Arion melayang di atasku. Sayap hitamnya mengembang penuh. Sekarang aku bisa melihat mata-mata di ujung sayap itu—bukan sekadar hiasan. Mereka berkedip. Mereka melihatku. Dan di setiap pantulan mata merah kecil itu, aku melihat diriku sendiri. Takut. Gemetar. Dan... basah. "Setahun lalu di istanaku, kau bilang 'tolong jangan'." Arion mengepalkan tangannya. Suaranya turun satu oktaf—menjadi bisikan yang justru lebih menakutkan. "Tapi tubuhmu bilang 'lagi'. Setiap kali aku menyentuhmu, kau merinding—bukan karena dingin. Setiap kali aku menjilat lehermu, kau mendesah—bukan karena sakit. Setiap kali—" "STOP!" "Setiap kali aku masuk ke dalammu—" "STOP STOP STOP!" Aku menutup telingaku. Tapi suaranya tetap masuk. Merayap. Menghantui. "—kau menangi
Tanganku menyentuh jemarinya. Dan dunia terbalik. BUKAN Arion yang kuraih—tapi ilusi. Tangan itu hancur menjadi kabut hitam di antara jemariku. Matanya yang merah menyala melebar—bukan karena terkejut, tapi karena gembira. "Kau pikir semudah itu?" Suaranya bergema dari segala arah. Dari langit. Dari tanah. Dari dalam dadaku. "Kau pikir aku akan membiarkanmu memilih?" Langit sore yang sedetik lalu masih kelabu, sekarang berubah hitam pekat. Bukan mendung. Tapi sayap. Ribuan sayap hitam menutupi cakrawala, mengepak perlahan, menciptakan angin yang meraung seperti nyanyian kematian. "Lylia, LEPASKAN!" Lark meluncurkan mantra dari balkon. Lingkaran biru membentang ke arah Arion—tapi malaikat jatuh itu hanya menepuknya. Sekali. Mantranya pecah menjadi jutaan serpihan biru yang berkilauan seperti kembang api. Kembang api yang mematikan. Serpihan-serpihan itu berubah arah. Kembali ke balkon. Kembali ke Lark. "TIDAK—" Arthur melompat. Tubuhnya yang kekar melesat ke depan ped
"Aku tidak akan lari lagi, Lark." Aku menggenggam tangannya yang memegang tongkat. "Aku lelah lari." Lapis kedua pecah. Bayangan abu-abu itu melayang masuk ke halaman kompleks. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas—bukan manusia. Wajahnya pucat seperti lilin, matanya kosong hitam tanpa putih. Seperti boneka. Seperti seseorang yang jiwanya sudah dimakan habis. "Lylia." Suaranya serak, seperti dua pita suara berbicara bersamaan. "Tuanku mengirim salam." "Sampaikan salam balik. Aku tidak tertarik." Boneka itu tertawa. Suaranya bikin bulu kuduk merinding. "Dia bilang kau akan bersikap seperti itu. Jadi dia mengirim pesan." Boneka itu melangkah maju. Lapis ketiga—lapis terakhir—mulai bergetar. "Dia ingin kau tahu... bahwa mimpimu tadi malam bukan mimpi." Darahku membeku. "Apa maksudmu?" "Itu kunjungan, Lylia." Boneka itu tersenyum. Bibirnya pecah-pecah, berdarah. "Tuanku bisa memasuki mimpimu kapan pun dia mau. Dan tadi malam... dia bilang kau sangat responsif. Jauh lebih
Aku tersentak bangun. Bukan di meja pemurnian. Bukan di istana kristal hitam. Aku di kamar kos-kosan Lark—sofa lipatnya yang sempit, selimut tipis yang masih mengering dari jemuran kemarin, dan cahaya matahari pagi yang menyusup lewat tirai putih. Mimpi. Hanya mimpi. Tapi jantungku berdebar seperti mau copot. Leherku terasa basah—keringat, atau bayangan jilatan lidah Arion? Aku mengusapnya kasar. Dingin. Hanya keringat. "Lylia?" Lark duduk di kursi rodanya di dekat jendela. Bahunya diperban. Bekas luka tembakan cahaya putih gelap—luka yang dia dapat dua minggu lalu saat menyelamatkanku dari Arion. Luka itu nyata. Pertarungan itu nyata. Tapi aku selamat. Kami selamat. "Mimpi buruk lagi?" suaranya lembut. Aku mengangguk. Tidak bisa bicara. Mulutku terasa sepat seperti habis diminumi sesuatu—atau seseorang. Lark menarik kursi rodanya mendekat, tangannya yang hangat menggenggam tanganku yang dingin. "Dia tidak akan menemukan kita di sini. Batas wilayahnya sudah kujaga dengan tiga







