Mag-log inBlurb “Tidur denganku malam ini, Tuan. Aku jamin kau akan puas dan ketagihan.” Tak ingin perawannya didapatkan sang tunangan, terlebih setelah Melody tahu bahwa sang tunangan diam-diam menjual “privasi” Melody pada teman-teman satu gengnya. Hal itu membuat Melody kecewa dan kehilangan arah sehingga dia nekat pergi ke club malam dan berniat menyerahkan tubuhnya kepada Dave, sepupu sekaligus rival berat sang tunangan. Namun, yang terjadi justru Melody salah masuk dan berujung menghabiskan malam panas dengan sepupu nya sendiri yang terkenal kejam dan dingin! Dan ... sang sepupu justru ketagihan dengan tubuh Melody, dan ingin menahan Melody di sisinya? Untuk apa!?
view more"Ahh! Sssh..."
Melody dengan sengaja membiarkan tunangannya, Arthur, membubuhkan beberapa kecup di bahu dan lehernya sebelum kemudian naik ke bibir.
"Ah! Sayang bibirmu lembut sekali ... kapan aku bisa menikmati milikmu?"
Mendengar itu, tiba-tiba Melody menarik diri, membuat pria yang tadinya masih menciumi leher jenjangnya berhenti.
Di saat yang sama, tangan Melody yang sejak tadi mencengkeram kemeja Arthur kini beralih ke samping, menghentikan jemari tunangannya yang sudah akan menyentuh pantatnya.
"Tidak sekarang, Arthur," bisik Melody lembut.
Gadis itu melihat bagaimana tunangannya itu menelan ludah. Ekspresi Arthur tampak keras.
“Kamu selalu mengatakan itu,” ucap Arthur. “Sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak, Mel?”
Melody menghela napas. Tangannya bergerak menangkup pipi Arthur dan mengusapnya lembut.
“Kenapa bertanya begitu?” tanya Melody. “Kalau tidak cinta, mana mungkin aku mau menikahimu minggu depan?”
Melody mengamati Arthur yang masih diam. Untungnya, hal itu tidak berlangsung lama. Pria itu mengulas senyum tipis yang tampak agak dipaksakan.
"Baiklah. Apa pun yang membuatmu bahagia, Sayang," kata Arthur.
Pria itu menepuk paha Melody dua kali sebuah gestur formal nan dingin. Tanpa sepatah kata lagi dia bangkit membelakangi Melody dan mulai merapikan pakaiannya.
"Siang ini aku ada rapat darurat dengan tim direksi," kata Arthur sambil merapikan kancing kemejanya di depan cermin. “Aku harus pergi.”
Melody mengernyit. "Ini tanggal merah, Arthur. Kamu janji hari ini milik kita," ucapnya pelan.
“Gwen yang menjadwalkannya, Mel,” ucap Arthur. Pria itu kemudian terkekeh pendek. “Dia sudah kerja keras untuk proyek ini. Jelas aku harus mendukungnya.”
“Tidak bisa diundur?”
“Jangan egois, Melody.” Arthur berkata dengan dingin. “Kamu tahu ini adalah proyek pertama Gwen setelah ia kembali dari luar negeri. Apa kamu tidak mau mendukung kakakmu sendiri?”
Melody diam, tanpa sadar menggigit bibirnya.
“Apa kamu mau habiskan hari ini dengan Gwen?” tanyanya kemudian. “Di hari jadian kita?”
Arthur berbalik, mengulas senyum tampannya. "Tentu saja tidak. Aku akan sampai tepat waktu. Jam delapan malam, kan?" balasnya. “Aku masih punya waktu sekitar tiga jam.”
"Terima kasih, Sayang," jawab Melody, berusaha mengukir senyum manis.
Beberapa menit setelah Arthur pergi, Melody beranjak menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melewati ruang tengah.
Layar laptop milik Arthur yang tertinggal di atas meja mendadak menyala, menampilkan jendela notifikasi grup obrolan bertajuk The Elite VVIP.
Melody mengernyit. Arthur kelupaan laptop, pikinya. Ia menghampiri benda itu dan berniat menyimpannya. Siapa tahu tunangannya itu akan kembali untuk mengambilnya nanti.
Namun, ketika Melody tanpa sengaja membaca pesan demi pesan yang masuk, tubuhnya mendadak dingin.
“Jangan lupa bawa video panas terbaru kalian, Sayang. Teman-teman sudah berkumpul di sini, mereka tidak sabar melihat pertunjukan 'si polos' lagi,” tulis Gwen.
“Ayo cepat, Arthur! Kami tunggu filenya!” timpal anggota grup lainnya.
“Sudah berhasil dapatkan keperawanannya belum?”
“Ah, iya! Bagaimana dengan taruhannya, kawan?”
“Batas waktumu hanya sampai akhir minggu ini, tahu. Kalau kamu belum mampu buat ambil kali pertama tunanganmu itu sebelum kalian menikah, aku tidak akan kasih kamu uangnya.”
“Aku sedang di jalan. Sebentar lagi sampai ke markas,” sahut Arthur pada akhirnya. “Yang jelas, buat taruhan itu, aku punya rencana.”
“Yang jelas, kamu juga harus merekam yang satu itu ya! Itu puncaknya.”
Darah Melody seketika membeku.
Apa … apa yang baru saja dia baca?
Tunangannya punya video panas? Video panas apa? Dan apa maksudnya soal taruhan?
Arthur bertaruh akan merekam adegan percintaan mereka?
Dan … sebelum menikah?
Karena itukah pria itu selalu meminta untuk tidur dengannya?
Kepala Melody terasa pening. Meski begitu, tangannya yang gemetar tetap bergerak ke bagian penyimpanan grup chat tersebut.
Seketika puluhan file video berdurasi panjang berderet rapi di hadapannya.
Ketika di klik, terpampang jelas rekaman dirinya yang direkam secara sembunyi-sembunyi, entah itu saat ia berciuman dengan Arthur atau saat ia tidur.
Bahkan ada video yang direkam saat dia mandi!
"Nggak... nggak mungkin..." Suara Melody lolos sebagai bisikan tertahan. Merasa mual.
Tubuhnya merosot ke lantai dingin. Pria yang dicintainya, pria yang membuatnya mampu memikirkan pernikahan meskipun awalnya tidak ia percaya … telah tega menjual harga dirinya sebagai tontonan gairah kawan-kawannya.
"Jahat kamu, Arthur... Gwen... kalian iblis!" rintihnya.
Cukup lama Melody diam di sana, menangis tanpa suara.
Ia berpikir, di bagian mana hubungan mereka mulai salah? Saat bertemu di masa sekolah dulu, Arthur adalah penyelamatnya, menolong Melody setiap kali dirinya ditindas dan berada dalam kesulitan. Melody menyukai pria itu, beserta sikap manis dan kepedulian sosok itu.
Karenanya, Melody memberanikan diri menyatakan perasaannya waktu itu dan Arthur menerimanya.
Hubungan percintaan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Namun … ternyata selama ini pria itu hanya menginginkan tubuhnya …?
Melody tiba-tiba terkesiap, teringat pada pesan Arthur tadi.
“Dia punya rencana untuk membuatku menyerahkan diri padanya?” pikir Melody. “Rencana seperti apa?”
Bujuk rayu? Atau … sesuatu yang lebih ekstrem?
Bagaimana kalau pria itu memberinya obat dan–
“Ugh!” Melody menutup mulutnya dan lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Cukup lama, sampai akhirnya Melody tenang dan bisa berpikir kembali.
Dirinya sudah sampai pada satu keputusan.
Jika memang tubuh ini yang diinginkan pria berengsek itu, maka sebelum Arthur bisa mengambilnya, Melody harus berikan ini pada pria lain.
Gadis itu menghampiri ponselnya dan menelepon sebuah nomor kontak.
“Datanglah ke Casnight Party nanti malam,” kata Melody. “Apakah kamu tidak penasaran bagaimana rasanya tidur dengan tunangan musuhmu?”
"Siapa berani menyentuh Melody!!"Gema suara dingin itu menggelegar di seluruh aula. Tangan ayah Melody yang tadinya sudah melayang di udara seketika membeku. Seluruh keluarga Whitney mendadak merinding dan langsung menoleh ke arah pintu yang terkulai rusak.Di sana, Casey berdiri tegap dengan jas hitamnya yang rapi. Tatapannya sangat tajam dan dingin. Di belakangnya, empat pengawal berbadan tegap berseragam hitam masuk dengan cepat dan mengepung area aula.Melihat Casey berdiri nyata di depan matanya, otak Melody langsung berputar keras. "Kenapa Casey ada di sini? Bukannya dia sedang bermesraan dengan wanitanya di luar negeri biar gak aku ganggu? Ngapain dia sok baik datang membelaku?" bisik Melody dalam hati penuh curiga.Melody memperhatikan setiap langkah Casey yang makin mendekat. Tanpa ragu, Casey langsung merangkul pinggang Melody dengan cepat dan erat."Maaf aku terlambat..." bisik Casey pelan di dekat telinga Melody.Melody yang masih kesal berusaha sekuat tenaga melepaskan c
"Kenapa setiap berkumpul selalu saja keluarga ini ribut-ribut?"Suara berat sang ayah Melody menggelegar memenuhi seluruh sudut aula utama. Pria paruh baya itu berjalan tegap mendekati meja utama, mengedarkan pandangan dingin ke seluruh ruangan. Kedatangannya seketika membungkam perdebatan, membuat Paman Robert yang tadinya vokal perlahan mundur dan memilih diam. Tante Syeila pun menghela napas panjang, menundukkan kepala karena paham betul betapa dominan dan tidak adilnya abang tertuanya itu dalam urusan keluarga."Bagus kamu datang!" Kakek Whitney mengetukkan ujung tongkatnya keras. "Lihat putri bungsumu ini! Setelah membatalkan pertunangan secara sepihak dengan Arthur, sekarang namanya ramai di media bersama aktor luar! Keluarga kita sedang dipertaruhkan!""Bukan cuma itu,!" potong ibu tiri Melody cepat seraya merangkul suaminya dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih. "Melody datang ke sini bukannya sadar diri, tapi justru menghina saya dan menyerang Gwen! Dia bahkan menyindir
"Kalian semua memanggilku ke sini seolah aku ini seorang terdakwa?"Suara Melody memecah keheningan aula, mengalun tenang namun cukup tajam untuk membuat beberapa paman dan kakak tirinya menggeser duduk. Ia berdiri tegak tepat di tengah ruangan, memamerkan gaun merah marunnya tanpa ada sedikit pun gestur ragu.Melihat adik tirinya berdiri sendirian di tengah ruangan yang tegang itu, Tante Syeila, satu-satunya kerabat yang selalu bersikap hangat pada Melody, segera berdiri dari kursinya dengan raut wajah cemas sekaligus lega."Sudah, Mel... yuk duduk dulu di sini," panggil Tante Syeila lembut seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyambut kedatangan Melody dengan senyum tulus. "Kamu pasti capek baru sampai."Melody melembutkan sorot matanya sejenak ke arah Tante Syeila dan tersenyum tipis. "Makasih ya, Tante Syeila. Sebenarnya Melody juga gak suka keributan kok, Tante. Cuma mereka aja yang selalu nantangin Melody seolah mereka itu manusia suci.""Kamu ini bicara apa, Mel? Berdiri
"Sebenarnya..." Melody menggantungkan kalimatnya, suaranya menciut dan sarat akan rasa bersalah. Ia menunduk, tak berani menatap langsung mata jernih milik pria di sampingnya. Ada rasa penyesalan yang mendalam membakar dadanya karena selama ini telah menyembunyikan identitas aslinya dan berpura-pura menjadi sekadar penjahit biasa. "Ehm... kenapa, Vey?" tanya Melody ragu-ragu, mencoba membaca respons pria di sebelahnya. Harvey tersenyum tipis, mengibaskan tangannya dengan santai seolah hal itu bukanlah masalah besar. "Ya enggak masalah, Mel. Dari awal kita ketemu, aku nggak peduli kamu anak konglomerat atau bukan. Mau kamu cuma penjahit biasa atau cucu klan ternama, buat aku sama saja. Lagi pula... kekayaanku juga sudah lebih dari cukup kok cuma buat sekadar menghidupi kamu nantinya." Mendengar kata-kata yang mengalir begitu santai namun sarat makna itu, Melody secara refleks menoleh ke arah Harvey. Namun, ia lupa betapa dekatnya posisi duduk mereka sejak sibuk memandangi layar pons












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore