Share

Bab 2. Iblis Tampan

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-04-28 12:19:40

Keesokan paginya, aku mengubah total penampilan Lylia. Rambut pirang yang biasa dikepang rapi kubiarkan tergerai liar. 

Gaun sutra putih yang sopan kuganti dengan korset hitam ketat yang memperlihatkan bahu dan sedikit belahan dada sehingga dadaku yang besar seakan-akan mau tumpah.

Untuk ukuran kerajaan yang konservatif, ini sudah seperti pakaian wanita seorang pelacur.

Para pelayan menatapku ngeri.

“Pu-putri Lylia? Apa yang terjadi dengan pakaian Anda?”

“Aku ingin mencoba gaya baru hari ini,” sahutku acuh sambil melenggang ke koridor.

"T-tapi, Putri...."

"Jangan banyak bicara, ikuti saja aku!" potongku dengan nada ketus.

Di dalam game, Lylia asli adalah lambang kesucian. Dia selalu tersenyum ramah, bicara lembut, menolong semua orang. 

Namun aku dengan sengaja mengubah citra sempurna itu dengan melenggang di koridor sambil memasang tatapan tajam, tidak menyapa siapa pun, bahkan mendorong seorang ksatria yang menghalangi jalanku.

“Minggir.”

“P-Putri?!”

Mereka semua kaget. Biasa. Semakin aneh aku, semakin cepat mereka membenciku.

Namun, target utamanya bukan mereka, melainkan para male lead. Dan yang pertama, Arthur.

Untuk membuat raja iblis itu membenciku, aku sudah menyiapkan sebuah rencana brilian.

Aku mendatangi sebuah tempat, yang akan ku gunakan untuk mengeksekusinya besok. Penjara bawah tanah.

Penjara bawah tanah istana gelap dan lembap. Bau darah, logam, dan sesuatu yang terbakar menyambutku saat menuruni tangga batu. 

Dua penjaga di pintu langsung membungkuk hormat.

“Putri Lylia! Apa yang ingin Anda lakukan di sini? Tempat ini tidak layak untuk—”

“Buka pintu,” potongku.

“Tapi Putri, tempat di sini sangat berbahaya! Banyak tahanan berbahaya! Bahkan dengan rantai anti-sihir sekalipun—”

“Apa kamu tuli?”

Mereka terdiam, lalu membuka pintu dengan gemetar.

Aku melihat-lihat isi dalam penjara bawah tanah dan tersenyum puas.

"Siapkan satu ruangan penjara untukku, yang benar-benar tertutup dan penuh alat penyiksaan," titahku pada penjaga penjara.

Ekspresi mereka seperti hendak pingsan saat mendengar hal itu.

"Putri, Anda... siapa yang akan Anda siksa dengan tangan lembut Anda? Biarkan kami yang melakukan hal kotor itu, Putri!"

Kedua penjaga penjara berkata dengan nada putus asa, tapi aku hanya mengibaskan tangan dan berkata dengan nada angkuh.

"Apakah bawahan seperti kalian memiliki hak berbicara denganku?"

Kedua penjaga saling pandang, lalu menutup mulutnya rapat-rapat.

"Pokoknya, besok sel itu sudah harus siap," pungkasku, lalu berjalan pergi meninggalkan ruang bawah tanah yang lembab.

Dunia game Abyssal pureness ini benar-benar tidak main-main dalam membangun atmosfer. Kerajaan Iblis, Pandemonium, bukanlah sekadar tempat gelap yang penuh api. 

Sebaliknya, ini adalah kota megah yang dibangun di atas tebing-tebing curam dengan arsitektur gotik yang mengintimidasi. Langitnya selalu berwarna ungu gelap, dan udara di sini beraroma seperti campuran hujan dan dupa kuno.

Sebagai Raja Iblis tertinggi, Arthur de Valerius memerintah dengan tangan besi yang dibungkus sarung tangan sutra. Dia adalah puncak dari segala kekuatan di sini. Namun, bagi Lylia yang asli, Arthur hanyalah seorang pria "tersesat" yang perlu bimbingan cahaya.

Lylia yang asli akan berjalan dengan langkah kecil yang anggun, kepala sedikit menunduk, dan berbicara dengan nada yang begitu lembut hingga nyaris tidak terdengar. 

Dia tidak akan menyentuh apa pun yang dianggap "najis" dan selalu menjaga jarak setidaknya dua meter dari Arthur untuk menjaga kesuciannya.

"Maaf, Lylia yang asli, tapi keanggunanmu tidak akan memberiku sepuluh miliar," gumamku sambil menendang pintu kayu ek raksasa di depanku.

Tempat tujuan utamaku, ruang kerja Arthur.

BRAKK!

Suara dentuman pintu yang menghantam dinding bergema di sepanjang lorong koridor ruang kerja sang Raja Iblis. 

Dua penjaga iblis yang berdiri di depan pintu tersentak, tombak mereka hampir jatu, mereka menatapku dengan mata terbelalak.

"P-putri? Ada apa dengan tendangan itu?" tanya salah satu penjaga, gemetar.

Aku tidak menjawab, justru mengangkat rok gaun putih mahalku setinggi lutut, sebuah tindakan yang seharusnya membuat Lylia yang asli pingsan karena malu, dan melangkah masuk dengan gaya seperti bos mafia yang hendak menagih utang.

Ruang kerja Arthur sangat luas, dipenuhi dengan rak buku setinggi langit dan jendela-jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Pandemonium yang menyala di bawah kegelapan. Di ujung ruangan, di balik meja kayu hitam yang besar, duduklah pria itu.

Arthur de Valerius.

Dia tidak memakai mahkota, tapi aura otoritas terpancar dari setiap inci tubuhnya. Kemeja hitamnya kancingnya terbuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit kulit pucatnya yang kontras dengan rambut hitam legamnya. Begitu aku masuk dengan cara yang barbar, ia meletakkan pena bulunya.

Mata merahnya yang tajam menatapku, penuh keheranan yang tertahan.

"Lylia?" 

Suaranya rendah, terdengar seperti petikan bas yang dalam. Sangat seksi.

"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu masuk tanpa pelayan dan... dengan cara yang tidak biasa?"

Aku menyeringai, sebuah senyum miring yang tidak pernah terukir di wajah suci Lylia sebelumnya. Aku berjalan mendekat, tidak berhenti di jarak dua meter yang aman, tapi terus melangkah sampai pinggangku menabrak pinggiran mejanya.

Aku membungkuk, menatap langsung ke matanya, dan dengan sengaja menjatuhkan tumpukan dokumen penting miliknya ke lantai dengan satu sapuan tangan.

"Aku bosan menunggu di kamarku, Arthur," ucapku dengan nada angkuh yang dibuat-buat. "Dan aku benci caramu menatapku seolah-olah aku ini pajangan kaca yang mudah pecah."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka, aku bisa melihat ketenangan di wajah Arthur retak. Bukan oleh amarah, tapi oleh kebingungan yang murni.

"Kamu... baru saja membuang laporan militerku ke lantai," bisiknya, matanya beralih dari kertas-kertas itu kembali ke wajahku.

"Lalu? Kamu mau apa?" tantangku, sambil menduduki sudut mejanya dengan santai.

"Apa yang terjadi padamu, Lylia?"

Arthur bertanya dengan ekspresi khawatir, tatapan bingung di wajah yang sangat tampan dan penuh dominansi kekuasaan itu hampir membuat tubuhku mundur secara refleks karena terkejut.

Namun, aku segera mengubah ekspresi kagetku dan berkata dengan nada malas yang kubuat-buat.

"Aku sedang bosan, temani aku, Arthur.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   122. TAMAT

    Malam harinya, Arthur mengajakku berjalan-jalan di taman yang baru selesai ditanami. "Bau tanah masih menyengat," kataku. "Bau kehidupan." Dia menggenggam tanganku. Tangannya besar dan hangat. "Kau tahu, Lylia... aku tidak pernah membayangkan bisa begini." "Begini apa?" "Berjalan di taman dengan seorang wanita. Bukan karena aku memaksanya. Tapi karena dia... ingin bersamaku." Dia berhenti, menatap bintang-bintang di langit. "Selama ribuan tahun aku memerintah kerajaan ini sendirian. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi kemudian kau datang..." "Aku datang karena kau menculikku." "Kadang... takdir perlu sedikit dorongan." Dia tersenyum miring. "Atau dorongan yang agak kasar." Aku memukul lengannya pelan. "Kau tidak tahu malu." "Raja iblis tidak punya malu, Lylia. Harga diri, ya. Tapi malu? Tidak." Kami duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Arthur..." "Hm?" "Apa kau takut?" "Takut apa?" "Takut menjadi ayah." Dia terdi

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   121.

    "Aku... aku tidak bisa mengucapkan selamat, Lylia. Maaf." Dia menunduk. "Tapi aku tidak akan mengganggumu. Aku akan kembali ke kuil. Menjalankan tugasku sebagai kesatria suci. Tanpa..." Dia menelan ludah. "...tanpa mimpi tentangmu." "Kael..." "Jangan. Jangan bilang apa-apa. Biarkan aku pergi dengan cara ini." Dia berbalik, armor peraknya berkilat redup di bawah sinar bulan. Langkahnya berat, tapi tidak pernah mundur. Arthur memelukku lebih erat. "Dia akan baik-baik saja. Dia kuat." "Aku tahu. Tapi aku tetap merasa bersalah." "Kau tidak perlu merasa bersalah karena memilih. Itu hakmu." Aku menatap wajah Arthur yang penuh luka, mata merahnya yang masih basah, tangannya yang besar dan kasar tapi kini memelukku dengan lembut. "Arthur..." "Hm?" "Bawa aku pulang." Dia tersenyum. Lalu membungkuk, menggendongku seperti malam pertama di istana—tapi kali ini berbeda. Kali ini aku tidak takut. Kali ini aku memeluk lehernya erat-erat dan mencium keningnya. "Ke istana?" "

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   120.

    Bukit timur terasa semakin dingin setelah teriakkanku usai. Arthur, Kael, dan Lark masih berlutut di sekelilingku, tangan mereka masih menggenggam tanganku—masing-masing enggan melepaskan. "Lylia..." Arthur memecah keheningan. Suaranya serak, matanya merah sembab. "Aku tahu aku yang paling tidak pantas meminta ini. Tapi... ijinkan aku menjagamu. Bukan karena anak ini. Karena kau." "Kau bilang begitu terus, Arthur, tapi kau tetap kasar," sahut Kael dingin. "Aku bisa berubah." "Kata-kata manis tanpa bukti." "Cukup, Kael!" Arthur melepaskan tanganku dan berdiri. Tubuhnya yang besar membayangi kami semua. "Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu. Aku datang karena Lylia." "Kami semua datang karena Lylia, iblis. Jangan merasa paling berjasa." Lark menghela napas panjang. "Kau lihat sendiri, Lylia? Mereka tidak akan pernah bisa akur. Mungkin sebaiknya kau memilih sekarang dan membiarkan yang lain pergi." Aku menatap ketiganya bergantian. Arthur dengan mata merahnya yang

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   119.

    Malam itu, Lark menjemputku tepat saat bulan berada di puncak langit. "Kau siap?" tanyanya, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam. "Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan." "Jawaban yang jujur. Aku suka." Dia mengulurkan tangannya. Aku menerimanya. Telapak tangannya dingin—tapi dinginnya berbeda dengan Arion. Dinginnya Lark adalah dinginnya embun pagi, bukan dinginnya es yang membakar. Pusaran ungu menyelimuti kami. Dunia berputar—dan saat berhenti, kami berada di sebuah gubuk kecil di tengah rawa. "Di mana ini?" "Rawa Berbisik. Tempat para dukun berlindung dari kejaran kerajaan." Lark mengetuk pintu tiga kali. "Dia temanku. Tapi jangan bilang siapa pun." Pintu terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan mata buta menyambut kami. "Lark, anak nakal. Sudah lama tidak mampir." "Halo, Morwen. Aku butuh bantuanmu." "Aku lihat." Mata buta Morwen menatap ke arahku—tepat ke arahku, meski dia seharusnya tidak bisa melihat. "Kau membawa wanita hamil. Dengan aura y

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   118.

    Tiga hari setelah Arion pergi, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. "Kau pucat, Lylia," kata Martha sambil menuang sup ke mangkukku. "Kurang makan?" "Aku makan seperti biasa." "Tapi kau muntah setiap pagi." Aku terdiam. Itu benar. Tiga pagi berturut-turut, aku berlari ke belakang rumah dan memuntahkan isi perutku. Awalnya kukira karena demam. Tapi demamku sudah sembuh. "Mungkin... mungkin hanya sakit perut biasa." Martha menatapku lama. Matanya yang keriput menyipit, lalu melebar. "Lylia..." suaranya berbisik. "Kapan terakhir kau mendapat bulananmu?" Darahku membeku. Aku tidak ingat. Sudah berapa minggu? Sejak di istana Arthur? Sejak di gubuk Lark? Sejak di istana awan bersama Arion? "Aku... aku tidak tahu..." "Anak bodoh!" Martha menggenggam tanganku. Tangannya hangat, tapi aku sedingin es. "Kau harus periksa ke dukun desa." "TIDAK!" Aku menarik tangan. "Tidak bisa. Kalau mereka tahu—Arthur, Kael, Lark—atau Arion—" "KALAU MEREKA TAHU APA? KALAU KAU HAM

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   117.

    Arion berjalan di sampingku dalam diam. Langkahnya pelan, menyesuaikan dengan langkahku yang lemas karena demam."Kau menggigil," katanya tanpa menatapku."Tidak.""Jangan berbohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu."Aku menatap tangan kami yang bergandengan. Tangannya dingin—tapi dinginnya aneh. Seperti es yang membakar."Kenapa kau melakukan ini, Arion?""Apa?""Mengantarkanku. Menjagaku. Bukannya kau ingin... memaksaku?"Dia berhenti. Matanya menatapku untuk pertama kalinya sejak kita meninggalkan sungai. Di bawah sinar bulan, luka-luka di wajahnya terlihat jelas. Tapi matanya... matanya tidak menyala seperti biasa. Redup. Lelah."Aku lelah memaksa, Lylia.""Kau... serius?""Selama setahun aku memaksakan kehendakku padamu. Dan kau lari. Setiap kali." Dia menarik napas panjang. "Mungkin ada yang salah dengan caraku. Mungkin... mungkin aku harus mencoba cara lain.""Kau tidak sedang terkena kutukan, kan?"Arion tertawa kecil. "Tidak. Hanya... sadar."Kami berjalan lagi. Rumah Mar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status