Share

Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan
Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan
Author: Lil Seven

Bab 1. Rencana Pertama

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-04-28 12:16:46

Bagaimana rasanya digilai oleh empat pria tampan dan menggoda? Padahal kamu sudah berusaha setengah mati untuk membuat mereka membencimu?

Ya, itulah yang terjadi padaku.

Masuk ke dalam tubuh karakter utama sebuah game kerajaan iblis, aku mendapatkan misi untuk mengumpulkan poin kebencian dari keempat pemeran utama pria di sana. Jadi aku melakukan hal-hal buruk, termasuk menghina, menghukum, bahkan mengkhianati mereka.

Tapi yang terjadi mereka justru makin terobsesi untuk memilikiku.

***

"Lylia, aku sudah lama menunggu ini. Sekarang giliran aku yang ada di atasmu."

Dengan kekuatannya yang luar biasa, dia membalikkan tubuhku, membuatku berada di bawahnya dan menyerangku dengan ciuman yang lebih bergairah.

“T-tidak, tunggu! Kamu harus membenciku! Arthur… lepaskan aku!”

Aku mencoba mendorong sosok itu menjauh. Namun, tubuh Arthur sekuat baja, mengungkungku dalam kuasanya.

"Bukankah kamu yang terus memprovokasiku dari tadi?" Suara Arthur yang berat bergetar di ceruk leherku, sementara bibirnya menyapu kulitku, membuatku gemetar. “Sekarang, kamu mau mundur?”

“A-aku–”

Mataku menangkap tatap lapar dari tiga sosok di belakang Arthur, menunggu tanpa mengatakan apa pun.

“Fokus padaku, Lylia,” ucap Arthur lagi. “Giliran mereka setelah ini.”

Gila, habislah aku. Bagaimana aku bisa melarikan diri dari situasi ini!?

***

Beberapa hari sebelumnya…

“Anda harus menjaga diri Anda, Nona. Seperti yang Anda ketahui, Anda berbeda dengan semua makhluk yang ada di sini.”

Aku diam saja mendengar penuturan pelayan sebelum ia keluar ruangan. Saat ini, aku sedang berada di salah satu kamar di kastil Kerajaan Pandemonium, sebuah kerajaan iblis dalam game berbasis cerita yang populer di dunia nyata.

Ya, aku jatuh masuk ke dalam permainan itu di momen yang paling buruk; tepat setelah aku memenangkan lotre sebesar 10 miliar.

Sebagai pegawai kantoran yang kerja dari pagi sampai malam tapi tidak kunjung kaya raya, aku mencoba peruntungan dengan membeli tiket lotre. Hebatnya, aku bisa menang hadiah utama dalam sekali coba!

Malam itu aku sudah mulai berkhayal hidup lebih nyaman. Tidak perlu desak-desakan naik kereta setiap hari, tidak perlu menghadapi kemacetan, bahkan tidak perlu memikirkan cicilan dan biaya hidup.

Mungkin saja aku bisa santai bermain game penuh pria-pria tampan yang baru mulai kumainkan ini meski aku beberapa kali merutuki karakter utamanya yang sok suci. Menikmati penampilan mereka yang seksi dan menggoda, meski tidak nyata itu.

Sama sekali tidak kusangka kalau aku akan terbangun di dalam game itu sendiri. Bahkan masuk ke dalam tubuh si karakter utamanya.

Dalam situasi normal, mungkin ini adalah impianku. Terbangun di tubuh karakter utama, Lylia, seorang putri yang suci dan polos yang memiliki 4 pria iblis tampan sebagai pemujaku.

Tapi, karena aku baru saja menang lotre sepuluh miliar di dunia nyata, bahkan ketampanan pria-pria itu tidak cukup untuk menghibur hatiku!

[Selamat datang di dunia 'Takhta Naga dan Mawar'. Untuk kembali ke dunia asli, Anda harus membuat seluruh tokoh utama membenci Anda. Level kebencian saat ini: 0%.]

Pemberitahuan sistem tiba-tiba muncul lagi di depan wajahku.

Ah, ya. Ini adalah misi yang harus kulakukan jika aku mau kembali ke duniaku. Aku harus membuat pria-pria tampan yang ada di dalam game ini untuk membenciku–membenci Lylia yang mereka puja-puja karena energi kebaikannya

Kupandangi pantulan cermin berbingkai emas di kamar mewah ini.

Wajah Lylia cantik. Mata gadis ini biru polos, rambut pirang panjang, bibir merah alami. Tubuhnya mungil, lembut, seperti porselen yang tidak boleh disentuh kasar, dan aura kemurnian yang begitu kental.

Dia benar-benar... tampak seperti Dewi.

“Baiklah,” desahku sambil menyingsingkan lengan gaunku. “Kalau begini caranya, aku akan buat mereka semua muak padaku. Memangnya apa susahnya jadi jahat?”

Mereka menyukai Lylia karena energi kebaikannya yang unik di dunia iblis ini, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau aku merusak itu untuk mereka?

Sistem menampilkan daftar target.

Peringkat pertama: Arthur, Raja Iblis. Sosok dingin, kejam, dan anti sosial dalam game asli.

Dalam alur asli game ini, hubungan Lylia dan Arthur—sang Raja Iblis yang sedang dalam masa 'pertobatan'—sangatlah membosankan.

Mereka saling mencintai, tapi terjebak dalam protokol kesucian. Arthur memuja Lylia bak dewi, dia tidak pernah menyentuh Lylia karena takut mengotori kemurnian Lylia meskipun pria iblis itu menahan Lylia di kastilnya.

“Sempurna,” bisikku.

Jika dia sangat mengidolakan kesucian dan kesopanan Lylia, maka aku akan menjadi wanita paling agresif, kasar, dan 'gila' yang pernah ia temui. Aku akan menghancurkan citra dewi yang ia puja-puja itu sampai dia merasa jijik padaku.

Aku menghabiskan semalaman membaca ulang profil Arthur. Lahir dari api neraka. Tidak pernah tersenyum. Membunuh selirnya sendiri karena berani menyentuhnya tanpa izin. Level toleransi terhadap kebodohan manusia: nol.

“Dia tipe yang paling benci direndahkan,” simpulku sambil tersenyum predator. “Maka aku akan merendahkannya. Sepenuhnya.”

Namun kemudian ide jahat muncul. Dalam game, Arthur tidak tergoda oleh kecantikan, dan sebagai raja iblis murni, dia paling tidak bisa direndahkan, bisa dipastikan dia aka akan membunuh wanita yang menggoda dan merendahkannya.

Maka... kenapa tidak sekalian?

“Sistem, kalau aku menyiksa Arthur dan menggodanya, lalu menolaknya di detik terakhir, apa dia akan benci?”

[Kemungkinan 89%.]

Jawaban sistem membuat aku berteriak kegirangan.

"Itu dia! Baiklah, Arthur adalah target pertama yang akan kuganggu!" seruku dengan senyum licik.

Aku yakin tak perlu tiga bulan, dalam seminggu, aku pasti akan keluar dari dunia tak masuk akal ini.

10 miliar, tunggu aku!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   122. TAMAT

    Malam harinya, Arthur mengajakku berjalan-jalan di taman yang baru selesai ditanami. "Bau tanah masih menyengat," kataku. "Bau kehidupan." Dia menggenggam tanganku. Tangannya besar dan hangat. "Kau tahu, Lylia... aku tidak pernah membayangkan bisa begini." "Begini apa?" "Berjalan di taman dengan seorang wanita. Bukan karena aku memaksanya. Tapi karena dia... ingin bersamaku." Dia berhenti, menatap bintang-bintang di langit. "Selama ribuan tahun aku memerintah kerajaan ini sendirian. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi kemudian kau datang..." "Aku datang karena kau menculikku." "Kadang... takdir perlu sedikit dorongan." Dia tersenyum miring. "Atau dorongan yang agak kasar." Aku memukul lengannya pelan. "Kau tidak tahu malu." "Raja iblis tidak punya malu, Lylia. Harga diri, ya. Tapi malu? Tidak." Kami duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Arthur..." "Hm?" "Apa kau takut?" "Takut apa?" "Takut menjadi ayah." Dia terdi

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   121.

    "Aku... aku tidak bisa mengucapkan selamat, Lylia. Maaf." Dia menunduk. "Tapi aku tidak akan mengganggumu. Aku akan kembali ke kuil. Menjalankan tugasku sebagai kesatria suci. Tanpa..." Dia menelan ludah. "...tanpa mimpi tentangmu." "Kael..." "Jangan. Jangan bilang apa-apa. Biarkan aku pergi dengan cara ini." Dia berbalik, armor peraknya berkilat redup di bawah sinar bulan. Langkahnya berat, tapi tidak pernah mundur. Arthur memelukku lebih erat. "Dia akan baik-baik saja. Dia kuat." "Aku tahu. Tapi aku tetap merasa bersalah." "Kau tidak perlu merasa bersalah karena memilih. Itu hakmu." Aku menatap wajah Arthur yang penuh luka, mata merahnya yang masih basah, tangannya yang besar dan kasar tapi kini memelukku dengan lembut. "Arthur..." "Hm?" "Bawa aku pulang." Dia tersenyum. Lalu membungkuk, menggendongku seperti malam pertama di istana—tapi kali ini berbeda. Kali ini aku tidak takut. Kali ini aku memeluk lehernya erat-erat dan mencium keningnya. "Ke istana?" "

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   120.

    Bukit timur terasa semakin dingin setelah teriakkanku usai. Arthur, Kael, dan Lark masih berlutut di sekelilingku, tangan mereka masih menggenggam tanganku—masing-masing enggan melepaskan. "Lylia..." Arthur memecah keheningan. Suaranya serak, matanya merah sembab. "Aku tahu aku yang paling tidak pantas meminta ini. Tapi... ijinkan aku menjagamu. Bukan karena anak ini. Karena kau." "Kau bilang begitu terus, Arthur, tapi kau tetap kasar," sahut Kael dingin. "Aku bisa berubah." "Kata-kata manis tanpa bukti." "Cukup, Kael!" Arthur melepaskan tanganku dan berdiri. Tubuhnya yang besar membayangi kami semua. "Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu. Aku datang karena Lylia." "Kami semua datang karena Lylia, iblis. Jangan merasa paling berjasa." Lark menghela napas panjang. "Kau lihat sendiri, Lylia? Mereka tidak akan pernah bisa akur. Mungkin sebaiknya kau memilih sekarang dan membiarkan yang lain pergi." Aku menatap ketiganya bergantian. Arthur dengan mata merahnya yang

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   119.

    Malam itu, Lark menjemputku tepat saat bulan berada di puncak langit. "Kau siap?" tanyanya, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam. "Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan." "Jawaban yang jujur. Aku suka." Dia mengulurkan tangannya. Aku menerimanya. Telapak tangannya dingin—tapi dinginnya berbeda dengan Arion. Dinginnya Lark adalah dinginnya embun pagi, bukan dinginnya es yang membakar. Pusaran ungu menyelimuti kami. Dunia berputar—dan saat berhenti, kami berada di sebuah gubuk kecil di tengah rawa. "Di mana ini?" "Rawa Berbisik. Tempat para dukun berlindung dari kejaran kerajaan." Lark mengetuk pintu tiga kali. "Dia temanku. Tapi jangan bilang siapa pun." Pintu terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan mata buta menyambut kami. "Lark, anak nakal. Sudah lama tidak mampir." "Halo, Morwen. Aku butuh bantuanmu." "Aku lihat." Mata buta Morwen menatap ke arahku—tepat ke arahku, meski dia seharusnya tidak bisa melihat. "Kau membawa wanita hamil. Dengan aura y

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   118.

    Tiga hari setelah Arion pergi, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. "Kau pucat, Lylia," kata Martha sambil menuang sup ke mangkukku. "Kurang makan?" "Aku makan seperti biasa." "Tapi kau muntah setiap pagi." Aku terdiam. Itu benar. Tiga pagi berturut-turut, aku berlari ke belakang rumah dan memuntahkan isi perutku. Awalnya kukira karena demam. Tapi demamku sudah sembuh. "Mungkin... mungkin hanya sakit perut biasa." Martha menatapku lama. Matanya yang keriput menyipit, lalu melebar. "Lylia..." suaranya berbisik. "Kapan terakhir kau mendapat bulananmu?" Darahku membeku. Aku tidak ingat. Sudah berapa minggu? Sejak di istana Arthur? Sejak di gubuk Lark? Sejak di istana awan bersama Arion? "Aku... aku tidak tahu..." "Anak bodoh!" Martha menggenggam tanganku. Tangannya hangat, tapi aku sedingin es. "Kau harus periksa ke dukun desa." "TIDAK!" Aku menarik tangan. "Tidak bisa. Kalau mereka tahu—Arthur, Kael, Lark—atau Arion—" "KALAU MEREKA TAHU APA? KALAU KAU HAM

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   117.

    Arion berjalan di sampingku dalam diam. Langkahnya pelan, menyesuaikan dengan langkahku yang lemas karena demam."Kau menggigil," katanya tanpa menatapku."Tidak.""Jangan berbohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu."Aku menatap tangan kami yang bergandengan. Tangannya dingin—tapi dinginnya aneh. Seperti es yang membakar."Kenapa kau melakukan ini, Arion?""Apa?""Mengantarkanku. Menjagaku. Bukannya kau ingin... memaksaku?"Dia berhenti. Matanya menatapku untuk pertama kalinya sejak kita meninggalkan sungai. Di bawah sinar bulan, luka-luka di wajahnya terlihat jelas. Tapi matanya... matanya tidak menyala seperti biasa. Redup. Lelah."Aku lelah memaksa, Lylia.""Kau... serius?""Selama setahun aku memaksakan kehendakku padamu. Dan kau lari. Setiap kali." Dia menarik napas panjang. "Mungkin ada yang salah dengan caraku. Mungkin... mungkin aku harus mencoba cara lain.""Kau tidak sedang terkena kutukan, kan?"Arion tertawa kecil. "Tidak. Hanya... sadar."Kami berjalan lagi. Rumah Mar

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   Bab 37. Yang Kuinginkan Itu Kamu.

    "Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menghindariku, Lylia?" lanjutnya, matanya menatap mataku dengan intensitas yang membakar. "Kamu pikir aku tidak merasakannya? Setiap kali kamu melihatku, kamu buru-buru berbalik. Setiap kali aku mendekat, kamu menjauh. Aku tidak tahu apa yang terjadi empat

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   Bab 29.

    "U-uhukkk!" Peristiwanya terjadi begitu tiba-tiba, di pagi yang tenang seperti biasa, aku menyantap sarapan yang diberikan pelayan, meski tak pernah melihat pelayan itu sebelumnya, tapi aku tidak curiga. Makanan yang dihidangkan juga menu sarapan seperti biasa, jadi tanpa curiga, aku mulai memas

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   Bab 26

    Aku ingin bertanya apa yang menyebabkan dia bereskpresi sesedih itu, tapi memutuskan untuk diam dan mengikuti langkah Arthur,Telaganya tidak besar, hanya selebar ruang tengah kastil. Airnya bening keperakan, mengeluarkan uap hangat yang membawa aroma wangi. Batu-batu di sekelilingnya ditumbuhi lum

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   Bab 5

    Sentuhan Arthur semakin dalam dan berani, membuat aku seperti kehabisan napas karena panik dan ketakutan."Tidak, tunggu sebentar. Ini salah....""Salahnya di mana, Sayang? Bukankah ini yang kamu inginkan?"Arthur menyentuh leherku dengan ujung jarinya, membuat aku gemetar seperti burung habis kehu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status