LOGIN
"Ugh!" Suara lenguhan dan desahan yang hampir setiap hari terdengar. Namun pagi ini suara itu membuatnya ingin muntah rasanya.
"Mual banget, apa gak bosan tiap hari begituan." Dinding tanpa kedap suara membuatnya menghela napas dan jijik. Satu tangannya bergerak mengoleskan selai coklat pada roti, tidak lupa segelas susu siap untuk diminum. Calista Seraphina Allarick, gadis ceria yang mendadak ngekost untuk menghindari ceramah sang ibu yang memintanya untuk menikah. "Kayaknya aku harus pindah dari sini." Dalam sebulan terakhir, ia sudah tiga kali berpindah kost. Namun kali ini keputusannya benar-benar bulat, hari ini ia akan meninggalkan kost yang baru satu minggu ia tempati. Sebelum pergi, Calista berpamitan kepada pemilik kost. Perempuan paruh baya itu mengiyakan dengan senang hati, terlebih karena uang sewa tidak diminta kembali meski Calista harus berhenti ngekost secara mendadak. Bagi Calista sendiri, hal itu sama sekali bukan masalah. "Akhirnya telinga sama otak aku waras," gumamnya pelan sambil memasukkan koper ke bagasi mobil. Menyetir melewati macetnya jalan ibu kota saat Senin pagi sudah biasa bagi gadis lesung pipi yang memiliki mata biru dengan bulu mata lentik dan alis bagai di sulam. Banyak mobil berjejeran menunggu untuk lewat, satu telinganya memakai earphone mendengarkan lagu untuk mengurangi kebosanan kemacetan ibu kota. Sedangkan satu lagi dibiarkan untuk tetap bisa mendengar. Tok! Tok! Tok! Ia masih menangkap jelas suara ketukan di jendela mobil. Keningnya spontan berkerut, lalu tangannya bergerak membuka jendela, didorong oleh rasa heran yang tiba-tiba menyelinap. "Buk, buk, tolongin aku. Buka pintunya, izinkan aku masuk." "Kamu siapa?" "Ntar aku bayar, sekarang tolongin aku dulu." "Bayar? Kamu pikir aku apa? Buk buk, aku masih muda tau." "Tolongin please. Beneran bakal aku bayar bantuan Tante." "Tante lagi, hey, kita gak kenal. Lagian aku gak bisa dibohongin sama bocil dengan seragam sekolah kayak kamu, pergi sana," ucap Calista setengah melotot. "Tante yang cantik, baik hati, suka menolong. Please tolongin." Seorang anak laki-laki memakai seragam SMP memohon padanya dengan mata memelas. Calista merasa geli dan heran saat melihat mata memelas anak laki-laki itu. "Kamu mau hipnotis aku, aku bisa teriak ya, banyak orang di sini." "Tolonglah Tante, bukain pintunya cepet. Aku bakal bayar 10 juta kalau Tante mau buka pintunya." Matanya sesekali melihat ke belakang dengan perasaan panik. "10 juta? Gak percaya, anak kecil tukang bohong. Mana pake seragam sekolah lagi," jawab Calista tidak percaya. "Ribet banget sih, 1 miliar deh," jawab anak laki-laki itu. Calista mengernyitkan alisnya dan kaget. Dengan kesadaran penuh di perhatikan anak itu. Terlihat panik, dengan keringat di dahi. "Oke, awas kalau kamu bohong," jawab Calista akhirnya. Pintu mobil terbuka. Anak laki-laki itu masuk, segera menutup pintu mobil dan menutup kepalanya dengan Hoodie. "Iya iya, ntar pasti aku bayar. Kunci pintunya Tante." Tidak lama seorang pria memakai jas hitam dengan kacamata mengetuk pintu mobil. "Jangan dibuka. Aku bakal bayar Tante 1 miliar." Diperhatikannya gelagat aneh dari anak itu. Dalam hati, Calista merasa ada yang aneh dengan anak laki-laki ini dan sepertinya bukan orang biasa juga. Calista bisa tau saat melihat penampilan anak laki-laki itu. Semua yang di pakai serba branded. "Kamu lagi dikejar? Emang kamu habis ngapain? Nyopet ya?" Calista asal tanya tanpa pikir panjang. "Kurang kerjaan. Untuk apa aku nyopet. Uangku banyak." "Terus kamu habis ngapain. Kenapa ketakutan gitu. Kepala kamu kenapa ditutup gitu. Gak ada yang bakal liat kamu. Orang di luar gak bakal bisa liat kita." "Oh, gitu, kenapa gak bilang dari tadi." Calista kembali melihat pria di luar mobil yang terus mengetuk dan meminta di bukakan pintu. "Jangan dibuka. Biarin aja dia." Beruntung lampu lalu lintas berubah hijau. Semua mobil mulai bergerak. Begitu juga mobil Calista. Terpaksa pria tadi pergi karena tidak mungkin untuk tetap di sana. "Jalan Tante, buruan, cepetan!" "Kok ngatur sih." "Ya sorry." Mobil bergerak melewati mobil lainnya. Sesaat hening sampai akhirnya Calista bicara. "Kamu belum jawab, kenapa kamu keliatan panik dan ketakutan gitu. Hayo, habis ngapain kamu." "Bukan urusan Tante." "Yeh, nyolot lagi. Gak sopan banget sama yang nolongin." "Ck, cerewet." "Aku turunin ya." "Ngancam nih?" "Idih, nih bocil, ngegas mulu bicaranya. Sama orang lebih tua, harus sopan bicaranya. Gak di ajarin di rumah." "Bukan urusan Tante." Mobil tiba-tiba berhenti di persimpangan jalan. "Kenapa berhenti?" "Turun." "Antar dulu ke sekolah." "Hey, aku bukan sopir kamu. Lagian siapa kamu. Aku gak kenal dan aku gak mau terlibat dengan urusan kamu. Cepetan turun. Aku mau ke kampus." "Tolonginlah Tante, aku belum bayar Tante juga. Nanti sekalian di sana aku transfer 1 miliar loh." "Idih, nih bocil. Mulutnya ya." "1 miliar Tante. Gak mau?" Kedua alis anak laki-laki itu bergerak naik turun. "Di mana sekolahnya?" "SMP Antariksa." Kepala Calista mengangguk angguk. Dirinya tahu betul dimana sekolah itu dan semakin yakin jika anak laki-laki ini dari kalangan berada. Sekitar sepuluh menit mereka tiba di sana. Sekolah itu terlihat sangat elite dan sudah seharusnya begitu karena yang sekolah di sana hanya orang-orang kalangan atas dengan latar belakang yang cukup berpengaruh. "Eh, bayar dulu, baru turun. Janji harus ditepati," ucap Calista mengingatkan. "Oke, aku bayar kalau Tante bantu aku sekali lagi." "Itu gak masuk di perjanjian awal." "Sekarang termasuk." "Kamu ngelunjak ya." "Bayarannya sesuai kok Tante, 1 miliar. Jadi kita harus imbang dong. Tante cuma tolongin aku sekali, kurang sesuai dengan bayaran segitu. Jadi aku mau Tante bantuin aku sekali lagi. Biar sesuai bayarannya." Anak laki-laki itu tersenyum dengan alis naik turun. "Gak mau, kamu pasti mau bohongin aku lagi. Udah cukup ya aku di bikin bodoh sama bocil kayak kamu." "Tante gak kasian sama aku. Hari ini aku harus bawa wali aku ke sekolah. Sementara aku gak punya wali. Terus aku harus bawa siapa. Pak sopir yang tadi bukan wali aku. Tolonglah Tante, Tante akting aja jadi mamaku." "Jadi mama sungguhan juga gak mau." "Tante akting aja, please Tante, tolongin aku." Matanya memelas sambil terus menatap Calista. "Cerita kamu emang sedih. Tapi maaf aku gak bakal tersentuh, pergi sana." Usir Calista sambil mendorongnya keluar dari dalam mobil. "Please Tante, tolongin aku. Terakhir kali ini aja. Apa Tante gak kasian sama anak yatim ini," ucapnya dengan mata memelas kesekian kalinya. Calista yang mendengar anak yatim menjadi tersentuh. Hatinya sedikit iba. "Oke, satu kali lagi ya. Aku harus apa kesana? Kamu buat masalah ya?" "Tante cukup bilangin kalau aku gak jadi pindah sekolah. Cuma itu." Calista memicing matanya, masih menaruh curiga. "Stop liatin aku gitu. Nanti Tante akting aja di dalam. Aku jamin gak bakal ketahuan." "Awas kalau kamu bohongin aku lagi. Ini terakhir ya bantuan dari aku." "Iya, iya, terakhir deh. Bayarannya juga gede kan. Sesuai tuh." "Dasar anak jaman sekarang. Modal uang orang tua." "Asal aja ngomong. Uangku sendiri ya." "Wow, kaya juga kamu cil. Transfer dulu lah biar lancar aktingnya." "Kerja belum juga." "Hei, aku udah tolong kamu dari orang tadi, ngantar kamu ke sekolah. Jadi wajar aja kalau aku minta di bayar sekarang. Lagipula kamu yang menawarkan harga, dan satu lagi aku gak suka dimanfaatkan kecuali ada imbalannya." "Iya deh aku kirim. Mana nomornya." Tanpa menunggu, segera mengirimnya dan satu notifikasi masuk ke ponsel Calista. "Nah, gini enak aktingnya." Kini mobil masuk ke pekarangan sekolah dan terparkir berjejer dengan mobil mewah lainnya. Begitu juga mobil Calista yang tidak kalah dengan mobil mewah lainnya di sana. Keduanya turun dari mobil. Calista memakai kaca mata hitam dan tas di bahunya sebelum turun. "Ayo, cil." "Jangan panggil aku cil. Aku Kay Alexander Raymond." Perkenalan singkat. "Tetap aja kamu bocil," ucap Calista tersenyum puas. Keduanya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Dengan lancar Calista berakting di sana tanpa ada satupun yang curiga. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang," ucap kepala sekolah. "Sama-sama Pak. Senang bisa bertatap wajah seperti ini. Saya permisi dulu." Calista bersalaman dengan kepala sekolah dengan senyuman manis di bibirnya. Setelah itu keluar di ikuti oleh Kay yang berjalan mundur di depan Calista. "Good job!" Kay memberi dua jempol untuk Calista. Tiba-tiba. "Bruk!" "Papa!"Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu
"Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir
Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan
"Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri
"Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit
"Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob







