Share

Tertusuk Jarum Mas Dokter
Tertusuk Jarum Mas Dokter
Penulis: Alwee Chan

Bab 1

Penulis: Alwee Chan
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 16:36:44

"Ugh!" Suara lenguhan dan desahan yang hampir setiap hari terdengar. Namun pagi ini suara itu membuatnya ingin muntah rasanya.

"Mual banget, apa gak bosan tiap hari begituan." Dinding tanpa kedap suara membuatnya menghela napas dan jijik.

Satu tangannya bergerak mengoleskan selai coklat pada roti, tidak lupa segelas susu siap untuk diminum.

Calista Seraphina Allarick, gadis ceria yang mendadak ngekost untuk menghindari ceramah sang ibu yang memintanya untuk menikah.

"Kayaknya aku harus pindah dari sini."

Dalam sebulan terakhir, ia sudah tiga kali berpindah kost. Namun kali ini keputusannya benar-benar bulat, hari ini ia akan meninggalkan kost yang baru satu minggu ia tempati.

Sebelum pergi, Calista berpamitan kepada pemilik kost. Perempuan paruh baya itu mengiyakan dengan senang hati, terlebih karena uang sewa tidak diminta kembali meski Calista harus berhenti ngekost secara mendadak. Bagi Calista sendiri, hal itu sama sekali bukan masalah.

"Akhirnya telinga sama otak aku waras," gumamnya pelan sambil memasukkan koper ke bagasi mobil.

Menyetir melewati macetnya jalan ibu kota saat Senin pagi sudah biasa bagi gadis lesung pipi yang memiliki mata biru dengan bulu mata lentik dan alis bagai di sulam.

Banyak mobil berjejeran menunggu untuk lewat, satu telinganya memakai earphone mendengarkan lagu untuk mengurangi kebosanan kemacetan ibu kota. Sedangkan satu lagi dibiarkan untuk tetap bisa mendengar.

Tok!

Tok!

Tok!

Ia masih menangkap jelas suara ketukan di jendela mobil. Keningnya spontan berkerut, lalu tangannya bergerak membuka jendela, didorong oleh rasa heran yang tiba-tiba menyelinap.

"Buk, buk, tolongin aku. Buka pintunya, izinkan aku masuk."

"Kamu siapa?"

"Ntar aku bayar, sekarang tolongin aku dulu."

"Bayar? Kamu pikir aku apa? Buk buk, aku masih muda tau."

"Tolongin please. Beneran bakal aku bayar bantuan Tante."

"Tante lagi, hey, kita gak kenal. Lagian aku gak bisa dibohongin sama bocil dengan seragam sekolah kayak kamu, pergi sana," ucap Calista setengah melotot.

"Tante yang cantik, baik hati, suka menolong. Please tolongin." Seorang anak laki-laki memakai seragam SMP memohon padanya dengan mata memelas.

Calista merasa geli dan heran saat melihat mata memelas anak laki-laki itu.

"Kamu mau hipnotis aku, aku bisa teriak ya, banyak orang di sini."

"Tolonglah Tante, bukain pintunya cepet. Aku bakal bayar 10 juta kalau Tante mau buka pintunya." Matanya sesekali melihat ke belakang dengan perasaan panik.

"10 juta? Gak percaya, anak kecil tukang bohong. Mana pake seragam sekolah lagi," jawab Calista tidak percaya.

"Ribet banget sih, 1 miliar deh," jawab anak laki-laki itu.

Calista mengernyitkan alisnya dan kaget. Dengan kesadaran penuh di perhatikan anak itu. Terlihat panik, dengan keringat di dahi.

"Oke, awas kalau kamu bohong," jawab Calista akhirnya.

Pintu mobil terbuka. Anak laki-laki itu masuk, segera menutup pintu mobil dan menutup kepalanya dengan Hoodie.

"Iya iya, ntar pasti aku bayar. Kunci pintunya Tante."

Tidak lama seorang pria memakai jas hitam dengan kacamata mengetuk pintu mobil.

"Jangan dibuka. Aku bakal bayar Tante 1 miliar."

Diperhatikannya gelagat aneh dari anak itu. Dalam hati, Calista merasa ada yang aneh dengan anak laki-laki ini dan sepertinya bukan orang biasa juga. Calista bisa tau saat melihat penampilan anak laki-laki itu. Semua yang di pakai serba branded.

"Kamu lagi dikejar? Emang kamu habis ngapain? Nyopet ya?" Calista asal tanya tanpa pikir panjang.

"Kurang kerjaan. Untuk apa aku nyopet. Uangku banyak."

"Terus kamu habis ngapain. Kenapa ketakutan gitu. Kepala kamu kenapa ditutup gitu. Gak ada yang bakal liat kamu. Orang di luar gak bakal bisa liat kita."

"Oh, gitu, kenapa gak bilang dari tadi."

Calista kembali melihat pria di luar mobil yang terus mengetuk dan meminta di bukakan pintu.

"Jangan dibuka. Biarin aja dia."

Beruntung lampu lalu lintas berubah hijau. Semua mobil mulai bergerak. Begitu juga mobil Calista. Terpaksa pria tadi pergi karena tidak mungkin untuk tetap di sana.

"Jalan Tante, buruan, cepetan!"

"Kok ngatur sih."

"Ya sorry."

Mobil bergerak melewati mobil lainnya. Sesaat hening sampai akhirnya Calista bicara.

"Kamu belum jawab, kenapa kamu keliatan panik dan ketakutan gitu. Hayo, habis ngapain kamu."

"Bukan urusan Tante."

"Yeh, nyolot lagi. Gak sopan banget sama yang nolongin."

"Ck, cerewet."

"Aku turunin ya."

"Ngancam nih?"

"Idih, nih bocil, ngegas mulu bicaranya. Sama orang lebih tua, harus sopan bicaranya. Gak di ajarin di rumah."

"Bukan urusan Tante."

Mobil tiba-tiba berhenti di persimpangan jalan.

"Kenapa berhenti?"

"Turun."

"Antar dulu ke sekolah."

"Hey, aku bukan sopir kamu. Lagian siapa kamu. Aku gak kenal dan aku gak mau terlibat dengan urusan kamu. Cepetan turun. Aku mau ke kampus."

"Tolonginlah Tante, aku belum bayar Tante juga. Nanti sekalian di sana aku transfer 1 miliar loh."

"Idih, nih bocil. Mulutnya ya."

"1 miliar Tante. Gak mau?" Kedua alis anak laki-laki itu bergerak naik turun.

"Di mana sekolahnya?"

"SMP Antariksa."

Kepala Calista mengangguk angguk. Dirinya tahu betul dimana sekolah itu dan semakin yakin jika anak laki-laki ini dari kalangan berada.

Sekitar sepuluh menit mereka tiba di sana. Sekolah itu terlihat sangat elite dan sudah seharusnya begitu karena yang sekolah di sana hanya orang-orang kalangan atas dengan latar belakang yang cukup berpengaruh.

"Eh, bayar dulu, baru turun. Janji harus ditepati," ucap Calista mengingatkan.

"Oke, aku bayar kalau Tante bantu aku sekali lagi."

"Itu gak masuk di perjanjian awal."

"Sekarang termasuk."

"Kamu ngelunjak ya."

"Bayarannya sesuai kok Tante, 1 miliar. Jadi kita harus imbang dong. Tante cuma tolongin aku sekali, kurang sesuai dengan bayaran segitu. Jadi aku mau Tante bantuin aku sekali lagi. Biar sesuai bayarannya." Anak laki-laki itu tersenyum dengan alis naik turun.

"Gak mau, kamu pasti mau bohongin aku lagi. Udah cukup ya aku di bikin bodoh sama bocil kayak kamu."

"Tante gak kasian sama aku. Hari ini aku harus bawa wali aku ke sekolah. Sementara aku gak punya wali. Terus aku harus bawa siapa. Pak sopir yang tadi bukan wali aku. Tolonglah Tante, Tante akting aja jadi mamaku."

"Jadi mama sungguhan juga gak mau."

"Tante akting aja, please Tante, tolongin aku." Matanya memelas sambil terus menatap Calista.

"Cerita kamu emang sedih. Tapi maaf aku gak bakal tersentuh, pergi sana." Usir Calista sambil mendorongnya keluar dari dalam mobil.

"Please Tante, tolongin aku. Terakhir kali ini aja. Apa Tante gak kasian sama anak yatim ini," ucapnya dengan mata memelas kesekian kalinya.

Calista yang mendengar anak yatim menjadi tersentuh. Hatinya sedikit iba.

"Oke, satu kali lagi ya. Aku harus apa kesana? Kamu buat masalah ya?"

"Tante cukup bilangin kalau aku gak jadi pindah sekolah. Cuma itu."

Calista memicing matanya, masih menaruh curiga.

"Stop liatin aku gitu. Nanti Tante akting aja di dalam. Aku jamin gak bakal ketahuan."

"Awas kalau kamu bohongin aku lagi. Ini terakhir ya bantuan dari aku."

"Iya, iya, terakhir deh. Bayarannya juga gede kan. Sesuai tuh."

"Dasar anak jaman sekarang. Modal uang orang tua."

"Asal aja ngomong. Uangku sendiri ya."

"Wow, kaya juga kamu cil. Transfer dulu lah biar lancar aktingnya."

"Kerja belum juga."

"Hei, aku udah tolong kamu dari orang tadi, ngantar kamu ke sekolah. Jadi wajar aja kalau aku minta di bayar sekarang. Lagipula kamu yang menawarkan harga, dan satu lagi aku gak suka dimanfaatkan kecuali ada imbalannya."

"Iya deh aku kirim. Mana nomornya." Tanpa menunggu, segera mengirimnya dan satu notifikasi masuk ke ponsel Calista.

"Nah, gini enak aktingnya."

Kini mobil masuk ke pekarangan sekolah dan terparkir berjejer dengan mobil mewah lainnya. Begitu juga mobil Calista yang tidak kalah dengan mobil mewah lainnya di sana.

Keduanya turun dari mobil. Calista memakai kaca mata hitam dan tas di bahunya sebelum turun.

"Ayo, cil."

"Jangan panggil aku cil. Aku Kay Alexander Raymond." Perkenalan singkat.

"Tetap aja kamu bocil," ucap Calista tersenyum puas.

Keduanya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Dengan lancar Calista berakting di sana tanpa ada satupun yang curiga.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang," ucap kepala sekolah.

"Sama-sama Pak. Senang bisa bertatap wajah seperti ini. Saya permisi dulu."

Calista bersalaman dengan kepala sekolah dengan senyuman manis di bibirnya. Setelah itu keluar di ikuti oleh Kay yang berjalan mundur di depan Calista.

"Good job!" Kay memberi dua jempol untuk Calista.

Tiba-tiba.

"Bruk!"

"Papa!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 79

    Hari-hari setelah sidang pengadilan terasa berbeda.Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi sempurna. Tapi karena perlahan, satu per satu, semuanya mulai menemukan tempatnya.Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di sudut kota. Kay duduk berhadapan dengan Alex.Suasana di antara mereka masih canggung. Tidak ada kemarahan seperti sebelumnya. Namun juga belum ada kedekatan.Alex memegang cangkir kopinya, menatap Kay beberapa detik sebelum akhirnya berbicara."Aku gak terbiasa mulai dari awal."Kay mengangkat alis sedikit. "Aku juga."Alex menatap Kay sedikit lebih lama."Bisakah kamu memanggilku Papa. Permintaan ini mungkin mendadak." Hening sejenak. Lalu Kay menyandarkan tubuhnya ke kursi."Akan aku coba."Alex tersenyum tipis.Tidak memaksa ataupun menekan. Hanya mencoba hadir dan membangun kedekatan. Dan kali ini dengan cara yang lebih benar.***Di sekolah, suasana di lapangan basket kembali ramai.Leon melempar bola ke arah Kay."Pass!"Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlar

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 78

    Ruangan sidang begitu sunyi hingga suara langkah kecil Kay ketika berdiri terdengar jelas dan semua mata tertuju padanya.Kay berdiri tegak di tengah ruangan. Namun dari dekat, orang bisa melihat jemarinya sedikit gemetar.Hakim menatapnya dengan sabar. "Kami ingin mendengar keputusanmu," kata hakim dengan suara tenang.Kay menarik napas panjang. Matanya perlahan menyapu ruangan. Ia melihat Rita yang menatapnya dengan cemas. Calista yang duduk dengan tangan saling menggenggam.Dan akhirnya tatapannya berhenti pada Angga. Duduk tenang seperti biasa. Tidak ada tekanan ataupun permintaan di wajahnya.Hanya ketenangan yang selama ini selalu Kay lihat sejak kecil. Kay menelan ludah. Lalu ia mulai bicara.Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap jelas."Saya tau siapa ayah biologis saya."Ruangan terasa semakin tegang.Alex yang duduk di sisi lain ruangan sedikit menegakkan tubuhnya.Kay menoleh perlahan ke arah Angga. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itu sesuatu di dalam dada Kay terasa jauh

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 77

    Beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit, hari yang selama ini ditunggu dan sekaligus ditakuti akhirnya tiba.Gedung pengadilan negeri terlihat lebih ramai dari biasanya.Langkah kaki para pengacara, staf administrasi, dan keluarga yang menunggu sidang bergema di koridor panjang.Di salah satu ruang tunggu, Angga duduk dengan tenang. Di sampingnya ada Calista.Sementara di sisi lain duduk Rita. Wanita itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan siapa pun di ruangan itu.Tangannya saling menggenggam. "Gak nyangka sampai sejauh ini," gumam Rita pelan.Angga menatap lurus ke depan. "Dia memang akan melakukan ini," jawabnya tenang.Calista menoleh pada Angga. "Masih sempat mundur," katanya pelan.Angga menggeleng kecil. "Bukan aku yang memilih jalan ini."Beberapa meter dari mereka, Alex berdiri bersama pengacaranya. Wajahnya terlihat percaya diri.Tatapannya sesekali mengarah pada Kay yang duduk di antara Angga dan Calista.Kay tidak bicara sejak mereka tiba. Ia hanya duduk diam. Na

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 76

    Beberapa jam setelah kejadian di ruang kerja Angga, suasana rumah sakit kembali berjalan seperti biasa.Namun tidak sepenuhnya. Rumor bergerak lebih cepat dari langkah kaki manusia.Beberapa perawat berbisik di ruang administrasi. Dan dokter Dikta di ruangannya mondar mandir memikirkan Calista yang menjadi penengah di antara Angga dan putranya. Sementara di ruang istirahat residen, Yuli dan Viona sedang duduk di sofa kecil dekat jendela dengan pikirannya masing-masing.Meja di depan mereka dipenuhi gelas kopi kertas dan beberapa berkas pasien."Calista masih di ruangan dokter Angga?" tanya Viona."Kayaknya sih begitu."Viona menghela napas panjang. "Gak nyangka dengan kejadian tadi.""Iya, sama. Dari semuanya, satu yang bikin aku penasaran," ucap Yuli."Apa?""Kayaknya ada sesuatu di antara dokter Angga dan Calista.""Aku juga ngerasa gitu. Soalnya cara Calista tadi kayak natural banget. Kayak emang tau permasalahannya. Dan gongnya dia bisa tenangin anak dokter Angga. Kayak ngertiin

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 75

    Koridor rumah sakit masih dipenuhi orang.Meski sebagian mulai berpura-pura sibuk kembali, banyak yang tetap memperhatikan dari jauh. Bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut.Calista berdiri di depan Kay, tangannya menggenggam pergelangan tangan Kay."Ini urusan keluarga," ucap Calista lagi, suaranya tegas namun tetap tenang."Bukan bahan gosip."Beberapa perawat saling melirik lalu mulai berjalan pergi. Dua dokter, salah satunya dokter Dikta yang tadi berdiri di belakang Angga juga memilih menjauh. Dokter Dikta sangat penasaran ada hubungan apa diantara Angga dan Calista. Namun juga memilih pergi.Sementara Kay masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap Angga. Ia tidak bergerak."Papa belum jawab," katanya lirih, tapi penuh tekanan.Calista menoleh ke arah Angga. Di matanya ada kekhawatiran. Namun juga pengertian. Calista tahu tidak ada lagi jalan untuk menunda.Angga menarik napas panjang."Kay," katanya pelan. "Kita bicara di ruangan.""Gak." Kay menggeleng keras."Kalau

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 74

    Beberapa hari setelah surat dari pengadilan datang, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar membicarakan masalah itu di depan Kay.Angga dan Calista sepakat menunggu waktu yang tepat. Mereka tahu, cepat atau lambat Kay harus tahu. Tapi mereka ingin menyampaikannya dengan cara yang benar.Namun takdir sering kali tidak memberi kesempatan seperti yang diharapkan.Pagi itu di sekolah, suasana aula olahraga ramai seperti biasa. Suara sepatu basket berdecit di lantai. Bola memantul keras ke papan ring."Pass!"Leon melempar bola ke arah Kay.Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlari menuju ring. Ia melompat tinggi dan memasukkan bola.Leon bertepuk tangan. Namun di sudut lapangan, dua orang pria berdiri sambil memperhatikan Kay yang sedang bermain.Mereka bukan siswa, bukan guru. Mereka sengaja menunggu Kay. Memperhatikannya seharian."Pulang nanti, kita coffee shop bentar. Mau gak? Gue mau traktir lo." Ajak Leon tiba-tiba."Dalam rangka apa?" Alis Kay ter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 7

    Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya k

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 6

    "Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi." Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya. "Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga." Rita menepuk p

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 5

    "Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mb

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 4

    "Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status