LOGINCalista Seraphina Allarick, mahasiswi kedokteran yang cantik dan penuh ambisi, menolak tunduk pada desakan ibunya untuk menikah muda. Namun hidup mempermainkannya saat ia bertemu Angga Raymond, seorang duda dingin dengan masa lalu kelam yang terkunci rapat. Tanpa mereka sadari, orang tua justru menjalin perjodohan yang mengikat takdir keduanya. Di antara sentuhan yang tertahan, Calista dan Angga terjebak dalam hubungan yang tak seharusnya terasa sedalam ini.
View MoreCalista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun
Calista berdiri di dekat pintu, bersiap pergi. Mira menemaninya sampai ke depan untuk memastikan semuanya aman.Tinggallah Angga dan Pak Arman di dalam ruangan."Bisa minta waktunya sebentar, Pak Arman?"Pak Arman menutup map dokumen di depannya, lalu menatap Angga dengan serius."Tentu, ada apa Pak Angga?""Saya ingin tau detailnya mengenai perusahaan.""Pak Angga, saya akan terbuka, lagipula hubungan antara Pak Angga dan Bu Calista, suami dan istri. Sejujurnya situasi perusahaan sekarang memang tidak sederhana."Angga berdiri dengan kedua tangan di saku celana."Berapa besar tekanan yang Alex lakukan?"Pak Arman menarik napas pelan."Jika dia berhasil menguasai lebih dari empat puluh persen saham, dia bisa memaksa rapat pemegang saham. Dari situ dia bisa menekan keputusan manajemen."Angga mengangguk pelan. "Berapa yang dibutuhkan untuk menutup celah itu?"Pak Arman sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Maksud Pak Angga?""Dana." Suara Angga tenang. "Berapa yang dibutuhk
Mobil Angga melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ia sukai.Calista bukan tipe orang yang pergi malam-malam tanpa memberi tahu siapa pun. Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia terlihat sangat lelah.Angga mencoba menelepon lagi. Masih tidak diangkat.Rahangnya menegang. "Calista, kamu lagi apa sebenarnya?"Angga menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Instingnya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan Alex.***Sementara itu, di ruang rapat kantor perusahaan milik mendiang Ririn.Pak Arman menutup map dokumen di depannya. "Kalau kita bicara secara teknis, menjual lima puluh satu persen saham berarti Ibu kehilangan kendali penuh terhadap perusahaan."Calista mengangguk. "Saya paham."Mira masih berdiri dengan wajah tegang. "Bu, kita masih punya opsi lain. Kita bisa cari investor lain. Kita bisa restrukturisasi saham.""Gak cukup cepat," potong Calista pelan. "Pak Alex bergerak terlalu cepat." Pak Arman menatapnya dengan serius."Apa
Kay sudah masuk kamar lebih awal karena besok harus bangun pagi untuk sekolah dan latihan basket. Rita juga kembali ke kamarnya setelah cukup lama berbicara dengan Angga mengenai langkah hukum jika Alex benar-benar mulai bergerak.Calista duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, berpura-pura membaca laporan. Padahal pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Pesan terakhir yang ia kirim masih terngiang di kepalanya. 'temui aku jam delapan malam ini.'Belum ada balasan dari Alex. Namun Calista tahu satu hal, Alex pasti datang.Calista menarik napas pelan. Langkah kaki Angga terdengar dari arah dapur. Pria itu membawa dua gelas air hangat."Kamu masih kerja?" tanyanya.Calista mengangguk kecil. "Sedikit lagi."Angga menaruh gelas di meja. "Jangan terlalu dipaksakan.""Iya, Mas."Tatapan Angga berhenti beberapa detik di wajah Calista."Aku temenin?""Gak usah, Mas."Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Tapi Angga tidak menanyakannya."Kalau udah selesai, langsung istirahat."Ca






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.