แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Alwee Chan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-08 16:37:51

Satu jam yang lalu.

"Hari ini kamu akan di antar ke asrama untuk mendisiplinkan prilaku kamu. Papa sibuk, kamu akan diantar sopir kesana."

Pria dengan tuxedo dan jas berwarna navy duduk di depan Kay. Dia adalah Angga Raymond—ayahnya Kay. Di kenal tegas, dingin dan hanya bertemu putranya jika di butuhkan.

"Kay, gak akan kesana!"

"Sekolah itu, gak sanggup menghadapi siswa dengan sikap seperti kamu. Di asrama kamu akan di ajarin lebih baik lagi. Papa udah urus semuanya. Kamu hanya perlu patuh untuk bisa kembali ke rumah ini."

Mata mereka bertemu untuk beberapa detik. Setelah itu Angga pergi, dia akan berangkat kerja. Namun sebelum tiba di tempat tujuan, dalam perjalanan Angga mendapat laporan putranya kabur dan masuk ke mobil seseorang.

"Tuan muda kabur dan baru saja menggunakan uang sebesar satu milyar." Lapor seorang pria yang ditugaskan menjaga Kay.

"Lacak dimana keberadaanya sekarang."

Dan disinilah Angga sekarang, berdiri di depan Kay dan Calista. Sungguh di luar dugaan, putranya tadi tertawa pada wanita itu dan itu fenomena langka.

"Papa. Kenapa papa di sini. Bukannya Papa..," ucap Kay kaget.

"Ada kepentingan mendesak."

"Aku tetap sekolah di sini. Semuanya sudah aku urus."

Dari jarak satu meter, Calista menjadi pendengar di antara mereka. Awalnya Calista biasa saja, tapi beberapa menit kemudian merasa risih. Bukan tanpa alasan, tatapan Angga cukup mengintimidasi keberadaan Calista.

"Siapa dia?"

"Temanku," ucap Kay dengan gerakan menggandeng Calista.

Calista merespon dengan senyuman. Sementara Angga masih memperhatikan Calista yang di gandeng putranya.

"Sepertinya aku harus pergi," ucap Calista tersenyum.

"Katakan siapa namamu?" Angga bertanya sambil menunjuk Calista.

"Em, namaku gak penting. Hanya menolong teman. Gak perlu di kenal," jawab Calista masih dengan senyum sambil membuka sedikit kacamatanya.

"Cil, pergi dulu ya."

Dengan langkah santai, Calista berlalu meninggalkan keduanya menuju parkiran sekolah. Di sana dirinya bertemu pria yang tadi mengetuk jendela mobilnya.

Calista mengangguk dan tersenyum ramah sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Menyetir mobilnya dengan kecepatan cepat keluar dari pekarangan sekolah.

Dari kejauhan Angga masih penasaran dengan wanita yang bisa akrab dengan putranya.

"Kita perlu bicara, Kay."

Tiba-tiba bel masuk berbunyi.

"Maaf Pa, bel masuk. Aku harus ke kelas. Aku harus patuh bukan." Kata-kata setengah menyindir keluar dari bibir Kay dengan senyuman penuh arti.

"Kita bicara di rumah. Setelah kamu pulang sekolah. Pulang ke rumah, jangan berkeliaran," jawab Angga dengan nada tegas.

"Siap," ucap Kay dengan hormat dua jari.

Terpaksa Angga harus pergi dari sana. Melepaskan Kay yang tersenyum penuh kemenangan.

"Cari tau siapa wanita tadi. Apa hubungannya dengan Kay." Perintah Angga tegas.

***

Mobil Calista menuju arah lain, tujuan ke kampus di urungkan berhubung sudah telat.

"Energiku habis, ke kampus juga gak akan sempat. Semua gara-gara bocil tadi. Rundown aku jadi berantakan. Mending aku ngopi cantik sambil nyari tempat tinggal baru," gumam Calista.

Mobil itu belum sepenuhnya berhenti, Calista pun belum sempat turun ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Di layar, satu nama tertera jelas lengkap dengan emoticon berbentuk hati membuat langkahnya tertahan sejenak.

"Mama nelpon, mood aku lagi gak bagus. Energi aku juga belum dicas. Aku gak bakal sanggup di omelin mama. Ya Tuhan, ampuni dosaku karena mengabaikan telpon mama."

Calista melangkah masuk ke dalam kafe dan memesan minuman terlebih dahulu. Setelah itu, ia memilih duduk di sudut ruangan, berharap suasana yang tenang mampu meredakan kegelisahan di hatinya sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab panggilan dari sang ibu.

Rasanya terlalu lelah untuk menghadapi pagi ini dengan drama Kay yang tidak ia sangka. Di tambah saat ini ponselnya terus berdering.

"Please Ma, jangan telpon terus. Aku gak siap di omelin mama. Aku terlalu capek pagi ini," gumam Calista lesu menatap ponselnya.

Tak berselang lama, pelayan datang membawa pesanannya—segelas kopi espresso. Calista meneguknya hingga setengah gelas, lalu menghela napas panjang, seakan mengumpulkan keberanian. Setelah itu, ia mengangkat telepon dari ibunya.

"Dimana? Udah ada calonnya? Mama mau menantu. Mama mau punya cucu. Apa kamu gak bisa mewujudkan satu saja permintaan mama. Kalau belum, malam ini kamu harus pulang dan tidur di rumah. Stop kabur begitu. Udah cukup deklarasi perang yang kamu bilang itu. Mama mau Kamu pulang."

"Mama sayang, tarik napas, buang dulu. Nanti tensi mama bisa naik loh."

"Itu juga karena kamu. Pokoknya kamu harus pulang. Stop ngambekan gak jelas. Di suruh nikah malah kabur dari rumah."

"Mama sayang, di rundown hidup aku belum ada yang namanya nikah. Aku belum mau nikah. Aku masih pengen ngejalanin kehidupan aku yang penuh warna. Mama jangan egois maksa aku."

"Oke, mungkin kalau mama mati kamu baru akan menikah. Kalau kamu gak mau pulang ya sudah. Biar jasad mama saja yang nungguin kamu di rumah."

"Bisa gak, mama ngomongnya jangan sembarangan gitu. Mama bikin aku takut. Ma, mama, mama."

Calista memanggil, memastikan sambungan telepon itu masih terhubung. Namun beberapa detik berlalu tanpa jawaban, hingga tiba-tiba terdengar teriakan singkat dari seberang sana, sebelum panggilan itu terputus begitu saja.

"Mama becanda. Gak mungkin kan, itu beneran," gumam Calista sambil menggelengkan kepalanya menepis pikiran buruk yang mulai merasukinya.

Tangannya gemetar saat menelepon kembali, dan kali ini yang mengangkat adalah mbok yang bekerja di rumah. Mendengar kabar bahwa ibunya pingsan di kamar. Kepanikan menjalar cepat di hati Calista, membuat wajahnya seketika pucat.

"Aku harus pulang," gumam Calista bergetar.

Dengan langkah buru-buru Calista bangun dari tempat duduknya.

Tanpa sengaja Calista malah menabrak seseorang. Saat Calista mengangkat kepalanya. Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di hadapannya memberikan kaca mata yang jatuh dari kepala calista.

Pertemuan yang tidak terduga kembali terjadi setelah tadi di sekolah. Calista sempat mundur beberapa langkah.

"Ini kaca matamu," ucap Angga.

"Maaf, aku gak sengaja," ucap Calista dengan air mata yang hampir jatuh.

"Apa kamu baik-baik saja?" Angga sedikit menunduk.

"Aku gak tau. Mungkin tidak."

Kening Angga mengerut, ada rasa penasaran yang semakin tumbuh di hatinya tentang wanita itu.

"Aku antar."

Kali ini kening Calista yang berkerut, merasa aneh dengan tawaran Angga yang terdengar sok akrab.

"No, aku rasa gak perlu. I am oke. Aku bisa menyetir sendiri," jawab Calista.

"Bahaya menyetir dalam keadaan sedih."

"Who are you to take responsibility for me? Dasar orang aneh."

"Ayah seorang teman yang ingin membantu."

"No need," jawab Calista cepat dan buru-buru keluar dari cafe.

"Orang aneh. Kenapa bisa ketemu dia lagi. Tatapannya gitu lagi." Calista bergidik ngeri.

Di dalam cafe, Angga melihat Calista yang berlari keluar kafe, Angga sampai memutar tubuhnya mengikuti kemana arah Calista pergi.

"Maybe something urgent," gumam Angga.

Calista menuju mobilnya. Di dalam mobil rasa khawatir menghantuinya kembali.

"Oke, jangan panik, tenang dulu. Tarik napas buang. Mama pasti baik-baik aja. Aku hanya perlu tenang dan pulang," gumam Calista berusaha untuk rilek sebelum mobilnya meninggalkan kafe.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 79

    Hari-hari setelah sidang pengadilan terasa berbeda.Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi sempurna. Tapi karena perlahan, satu per satu, semuanya mulai menemukan tempatnya.Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di sudut kota. Kay duduk berhadapan dengan Alex.Suasana di antara mereka masih canggung. Tidak ada kemarahan seperti sebelumnya. Namun juga belum ada kedekatan.Alex memegang cangkir kopinya, menatap Kay beberapa detik sebelum akhirnya berbicara."Aku gak terbiasa mulai dari awal."Kay mengangkat alis sedikit. "Aku juga."Alex menatap Kay sedikit lebih lama."Bisakah kamu memanggilku Papa. Permintaan ini mungkin mendadak." Hening sejenak. Lalu Kay menyandarkan tubuhnya ke kursi."Akan aku coba."Alex tersenyum tipis.Tidak memaksa ataupun menekan. Hanya mencoba hadir dan membangun kedekatan. Dan kali ini dengan cara yang lebih benar.***Di sekolah, suasana di lapangan basket kembali ramai.Leon melempar bola ke arah Kay."Pass!"Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlar

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 78

    Ruangan sidang begitu sunyi hingga suara langkah kecil Kay ketika berdiri terdengar jelas dan semua mata tertuju padanya.Kay berdiri tegak di tengah ruangan. Namun dari dekat, orang bisa melihat jemarinya sedikit gemetar.Hakim menatapnya dengan sabar. "Kami ingin mendengar keputusanmu," kata hakim dengan suara tenang.Kay menarik napas panjang. Matanya perlahan menyapu ruangan. Ia melihat Rita yang menatapnya dengan cemas. Calista yang duduk dengan tangan saling menggenggam.Dan akhirnya tatapannya berhenti pada Angga. Duduk tenang seperti biasa. Tidak ada tekanan ataupun permintaan di wajahnya.Hanya ketenangan yang selama ini selalu Kay lihat sejak kecil. Kay menelan ludah. Lalu ia mulai bicara.Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap jelas."Saya tau siapa ayah biologis saya."Ruangan terasa semakin tegang.Alex yang duduk di sisi lain ruangan sedikit menegakkan tubuhnya.Kay menoleh perlahan ke arah Angga. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itu sesuatu di dalam dada Kay terasa jauh

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 77

    Beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit, hari yang selama ini ditunggu dan sekaligus ditakuti akhirnya tiba.Gedung pengadilan negeri terlihat lebih ramai dari biasanya.Langkah kaki para pengacara, staf administrasi, dan keluarga yang menunggu sidang bergema di koridor panjang.Di salah satu ruang tunggu, Angga duduk dengan tenang. Di sampingnya ada Calista.Sementara di sisi lain duduk Rita. Wanita itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan siapa pun di ruangan itu.Tangannya saling menggenggam. "Gak nyangka sampai sejauh ini," gumam Rita pelan.Angga menatap lurus ke depan. "Dia memang akan melakukan ini," jawabnya tenang.Calista menoleh pada Angga. "Masih sempat mundur," katanya pelan.Angga menggeleng kecil. "Bukan aku yang memilih jalan ini."Beberapa meter dari mereka, Alex berdiri bersama pengacaranya. Wajahnya terlihat percaya diri.Tatapannya sesekali mengarah pada Kay yang duduk di antara Angga dan Calista.Kay tidak bicara sejak mereka tiba. Ia hanya duduk diam. Na

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 76

    Beberapa jam setelah kejadian di ruang kerja Angga, suasana rumah sakit kembali berjalan seperti biasa.Namun tidak sepenuhnya. Rumor bergerak lebih cepat dari langkah kaki manusia.Beberapa perawat berbisik di ruang administrasi. Dan dokter Dikta di ruangannya mondar mandir memikirkan Calista yang menjadi penengah di antara Angga dan putranya. Sementara di ruang istirahat residen, Yuli dan Viona sedang duduk di sofa kecil dekat jendela dengan pikirannya masing-masing.Meja di depan mereka dipenuhi gelas kopi kertas dan beberapa berkas pasien."Calista masih di ruangan dokter Angga?" tanya Viona."Kayaknya sih begitu."Viona menghela napas panjang. "Gak nyangka dengan kejadian tadi.""Iya, sama. Dari semuanya, satu yang bikin aku penasaran," ucap Yuli."Apa?""Kayaknya ada sesuatu di antara dokter Angga dan Calista.""Aku juga ngerasa gitu. Soalnya cara Calista tadi kayak natural banget. Kayak emang tau permasalahannya. Dan gongnya dia bisa tenangin anak dokter Angga. Kayak ngertiin

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 75

    Koridor rumah sakit masih dipenuhi orang.Meski sebagian mulai berpura-pura sibuk kembali, banyak yang tetap memperhatikan dari jauh. Bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut.Calista berdiri di depan Kay, tangannya menggenggam pergelangan tangan Kay."Ini urusan keluarga," ucap Calista lagi, suaranya tegas namun tetap tenang."Bukan bahan gosip."Beberapa perawat saling melirik lalu mulai berjalan pergi. Dua dokter, salah satunya dokter Dikta yang tadi berdiri di belakang Angga juga memilih menjauh. Dokter Dikta sangat penasaran ada hubungan apa diantara Angga dan Calista. Namun juga memilih pergi.Sementara Kay masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap Angga. Ia tidak bergerak."Papa belum jawab," katanya lirih, tapi penuh tekanan.Calista menoleh ke arah Angga. Di matanya ada kekhawatiran. Namun juga pengertian. Calista tahu tidak ada lagi jalan untuk menunda.Angga menarik napas panjang."Kay," katanya pelan. "Kita bicara di ruangan.""Gak." Kay menggeleng keras."Kalau

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 74

    Beberapa hari setelah surat dari pengadilan datang, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar membicarakan masalah itu di depan Kay.Angga dan Calista sepakat menunggu waktu yang tepat. Mereka tahu, cepat atau lambat Kay harus tahu. Tapi mereka ingin menyampaikannya dengan cara yang benar.Namun takdir sering kali tidak memberi kesempatan seperti yang diharapkan.Pagi itu di sekolah, suasana aula olahraga ramai seperti biasa. Suara sepatu basket berdecit di lantai. Bola memantul keras ke papan ring."Pass!"Leon melempar bola ke arah Kay.Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlari menuju ring. Ia melompat tinggi dan memasukkan bola.Leon bertepuk tangan. Namun di sudut lapangan, dua orang pria berdiri sambil memperhatikan Kay yang sedang bermain.Mereka bukan siswa, bukan guru. Mereka sengaja menunggu Kay. Memperhatikannya seharian."Pulang nanti, kita coffee shop bentar. Mau gak? Gue mau traktir lo." Ajak Leon tiba-tiba."Dalam rangka apa?" Alis Kay ter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 8

    "Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang du

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 7

    Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya k

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 6

    "Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi." Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya. "Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga." Rita menepuk p

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 5

    "Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status