LOGINSatu jam yang lalu.
"Hari ini kamu akan di antar ke asrama untuk mendisiplinkan prilaku kamu. Papa sibuk, kamu akan diantar sopir kesana." Pria dengan tuxedo dan jas berwarna navy duduk di depan Kay. Dia adalah Angga Raymond—ayahnya Kay. Di kenal tegas, dingin dan hanya bertemu putranya jika di butuhkan. "Kay, gak akan kesana!" "Sekolah itu, gak sanggup menghadapi siswa dengan sikap seperti kamu. Di asrama kamu akan di ajarin lebih baik lagi. Papa udah urus semuanya. Kamu hanya perlu patuh untuk bisa kembali ke rumah ini." Mata mereka bertemu untuk beberapa detik. Setelah itu Angga pergi, dia akan berangkat kerja. Namun sebelum tiba di tempat tujuan, dalam perjalanan Angga mendapat laporan putranya kabur dan masuk ke mobil seseorang. "Tuan muda kabur dan baru saja menggunakan uang sebesar satu milyar." Lapor seorang pria yang ditugaskan menjaga Kay. "Lacak dimana keberadaanya sekarang." Dan disinilah Angga sekarang, berdiri di depan Kay dan Calista. Sungguh di luar dugaan, putranya tadi tertawa pada wanita itu dan itu fenomena langka. "Papa. Kenapa papa di sini. Bukannya Papa..," ucap Kay kaget. "Ada kepentingan mendesak." "Aku tetap sekolah di sini. Semuanya sudah aku urus." Dari jarak satu meter, Calista menjadi pendengar di antara mereka. Awalnya Calista biasa saja, tapi beberapa menit kemudian merasa risih. Bukan tanpa alasan, tatapan Angga cukup mengintimidasi keberadaan Calista. "Siapa dia?" "Temanku," ucap Kay dengan gerakan menggandeng Calista. Calista merespon dengan senyuman. Sementara Angga masih memperhatikan Calista yang di gandeng putranya. "Sepertinya aku harus pergi," ucap Calista tersenyum. "Katakan siapa namamu?" Angga bertanya sambil menunjuk Calista. "Em, namaku gak penting. Hanya menolong teman. Gak perlu di kenal," jawab Calista masih dengan senyum sambil membuka sedikit kacamatanya. "Cil, pergi dulu ya." Dengan langkah santai, Calista berlalu meninggalkan keduanya menuju parkiran sekolah. Di sana dirinya bertemu pria yang tadi mengetuk jendela mobilnya. Calista mengangguk dan tersenyum ramah sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Menyetir mobilnya dengan kecepatan cepat keluar dari pekarangan sekolah. Dari kejauhan Angga masih penasaran dengan wanita yang bisa akrab dengan putranya. "Kita perlu bicara, Kay." Tiba-tiba bel masuk berbunyi. "Maaf Pa, bel masuk. Aku harus ke kelas. Aku harus patuh bukan." Kata-kata setengah menyindir keluar dari bibir Kay dengan senyuman penuh arti. "Kita bicara di rumah. Setelah kamu pulang sekolah. Pulang ke rumah, jangan berkeliaran," jawab Angga dengan nada tegas. "Siap," ucap Kay dengan hormat dua jari. Terpaksa Angga harus pergi dari sana. Melepaskan Kay yang tersenyum penuh kemenangan. "Cari tau siapa wanita tadi. Apa hubungannya dengan Kay." Perintah Angga tegas. *** Mobil Calista menuju arah lain, tujuan ke kampus di urungkan berhubung sudah telat. "Energiku habis, ke kampus juga gak akan sempat. Semua gara-gara bocil tadi. Rundown aku jadi berantakan. Mending aku ngopi cantik sambil nyari tempat tinggal baru," gumam Calista. Mobil itu belum sepenuhnya berhenti, Calista pun belum sempat turun ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Di layar, satu nama tertera jelas lengkap dengan emoticon berbentuk hati membuat langkahnya tertahan sejenak. "Mama nelpon, mood aku lagi gak bagus. Energi aku juga belum dicas. Aku gak bakal sanggup di omelin mama. Ya Tuhan, ampuni dosaku karena mengabaikan telpon mama." Calista melangkah masuk ke dalam kafe dan memesan minuman terlebih dahulu. Setelah itu, ia memilih duduk di sudut ruangan, berharap suasana yang tenang mampu meredakan kegelisahan di hatinya sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab panggilan dari sang ibu. Rasanya terlalu lelah untuk menghadapi pagi ini dengan drama Kay yang tidak ia sangka. Di tambah saat ini ponselnya terus berdering. "Please Ma, jangan telpon terus. Aku gak siap di omelin mama. Aku terlalu capek pagi ini," gumam Calista lesu menatap ponselnya. Tak berselang lama, pelayan datang membawa pesanannya—segelas kopi espresso. Calista meneguknya hingga setengah gelas, lalu menghela napas panjang, seakan mengumpulkan keberanian. Setelah itu, ia mengangkat telepon dari ibunya. "Dimana? Udah ada calonnya? Mama mau menantu. Mama mau punya cucu. Apa kamu gak bisa mewujudkan satu saja permintaan mama. Kalau belum, malam ini kamu harus pulang dan tidur di rumah. Stop kabur begitu. Udah cukup deklarasi perang yang kamu bilang itu. Mama mau Kamu pulang." "Mama sayang, tarik napas, buang dulu. Nanti tensi mama bisa naik loh." "Itu juga karena kamu. Pokoknya kamu harus pulang. Stop ngambekan gak jelas. Di suruh nikah malah kabur dari rumah." "Mama sayang, di rundown hidup aku belum ada yang namanya nikah. Aku belum mau nikah. Aku masih pengen ngejalanin kehidupan aku yang penuh warna. Mama jangan egois maksa aku." "Oke, mungkin kalau mama mati kamu baru akan menikah. Kalau kamu gak mau pulang ya sudah. Biar jasad mama saja yang nungguin kamu di rumah." "Bisa gak, mama ngomongnya jangan sembarangan gitu. Mama bikin aku takut. Ma, mama, mama." Calista memanggil, memastikan sambungan telepon itu masih terhubung. Namun beberapa detik berlalu tanpa jawaban, hingga tiba-tiba terdengar teriakan singkat dari seberang sana, sebelum panggilan itu terputus begitu saja. "Mama becanda. Gak mungkin kan, itu beneran," gumam Calista sambil menggelengkan kepalanya menepis pikiran buruk yang mulai merasukinya. Tangannya gemetar saat menelepon kembali, dan kali ini yang mengangkat adalah mbok yang bekerja di rumah. Mendengar kabar bahwa ibunya pingsan di kamar. Kepanikan menjalar cepat di hati Calista, membuat wajahnya seketika pucat. "Aku harus pulang," gumam Calista bergetar. Dengan langkah buru-buru Calista bangun dari tempat duduknya. Tanpa sengaja Calista malah menabrak seseorang. Saat Calista mengangkat kepalanya. Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di hadapannya memberikan kaca mata yang jatuh dari kepala calista. Pertemuan yang tidak terduga kembali terjadi setelah tadi di sekolah. Calista sempat mundur beberapa langkah. "Ini kaca matamu," ucap Angga. "Maaf, aku gak sengaja," ucap Calista dengan air mata yang hampir jatuh. "Apa kamu baik-baik saja?" Angga sedikit menunduk. "Aku gak tau. Mungkin tidak." Kening Angga mengerut, ada rasa penasaran yang semakin tumbuh di hatinya tentang wanita itu. "Aku antar." Kali ini kening Calista yang berkerut, merasa aneh dengan tawaran Angga yang terdengar sok akrab. "No, aku rasa gak perlu. I am oke. Aku bisa menyetir sendiri," jawab Calista. "Bahaya menyetir dalam keadaan sedih." "Who are you to take responsibility for me? Dasar orang aneh." "Ayah seorang teman yang ingin membantu." "No need," jawab Calista cepat dan buru-buru keluar dari cafe. "Orang aneh. Kenapa bisa ketemu dia lagi. Tatapannya gitu lagi." Calista bergidik ngeri. Di dalam cafe, Angga melihat Calista yang berlari keluar kafe, Angga sampai memutar tubuhnya mengikuti kemana arah Calista pergi. "Maybe something urgent," gumam Angga. Calista menuju mobilnya. Di dalam mobil rasa khawatir menghantuinya kembali. "Oke, jangan panik, tenang dulu. Tarik napas buang. Mama pasti baik-baik aja. Aku hanya perlu tenang dan pulang," gumam Calista berusaha untuk rilek sebelum mobilnya meninggalkan kafe.Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu
"Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir
Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan
"Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri
"Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit
"Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob







