Share

Bab 5

Author: Alwee Chan
last update Last Updated: 2026-01-08 16:40:22

"Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih."

"Non, ini minumannya."

Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.

Prang!

"Aww!"

"Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.

Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana.

"Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay.

"It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah.

"Gak usah non, biar mbok aja."

"Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah.

"Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay.

"Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.

Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya.

"Apa ini sakit?" Mata Kay masih menatap tangan Calista.

"Hei bocil, ini tuh luka kecil. Gak usah panik gitu kali."

"Harus diobati, sebelum infeksi," ucap Angga yang sudah berada di sana.

"Ada apa dengan kalian, ini sama sekali gak sakit. Sebelumnya terima kasih sudah perhatian. Lain kali aku akan lebih hati-hati." Calista menarik tangannya dari Kay.

"Maaf tuan, tadi mbok gak sengaja jatuhin gelas," ucapnya hati-hati.

"Bukan salah mbok, aku juga gak liat pas bangun." Calista menatap wanita paruh baya itu dengan lembut mbok Ati.

"Lain kali lebih hati-hati," ucap Angga.

Sementara Kay sudah mengambil kotak obat, mengambil plester menutupi luka Calista.

"Bersihkan dulu lukanya, jangan langsung tempel plaster," ucap Angga.

Angga setengah berjongkok di hadapan Calista. Mengambil kapas membersihkan luka. Sementara Kay mendadak menjadi asisten untuk Angga.

Dada Calista mendadak menghangat dengan perhatian itu. Senyum kecil terbit di bibirnya. Memperlihatkan jelas lesung pipinya.

"Jangan liatin saya terus," ucap Angga membuat Calista tersadar.

"Jangan gr. Aku tuh liatin tangan aku. Untuk apa juga liatin kamu."

"Ceroboh."

"Berani ya ngatain aku."

"Fakta."

Calista menarik paksa tangannya karena kesal.

"Belum selesai, jangan keras kepala." Kembali Angga mengucapkan kata yang terdengar panas di telinga Calista.

Kini tangan Calista berada di atas telapak tangan Angga, tampak begitu kecil di sana. Jari-jarinya yang lentik kontras dengan genggaman Angga yang besar dan hangat.

"Aku bisa obatin sendiri."

"Biarin papa aja yang bantuin, Tan. Papa ahli kok." Kay ikut bicara.

"Diam kamu, cil," ucap Calista.

"Stop panggil aku cil, aku punya nama."

"Aku suka manggilnya cil, terserah aku dong."

Kay menggelengkan kepalanya.

"Emang benar wanita itu ribet," gumam Kay.

"Baru tau." Angga ikut menimpali.

Calista semakin kesal oleh mereka berdua.

"Sudah selesai, lain kali perhatikan sekitar jika sedang menguping."

"Siapa yang nguping. A-aku gak nguping. Cuma kebetulan lewat." Sudah ketangkap basah, mending jujur daripada berdebat.

Tiba-tiba Kay tertawa.

"Ada yang lucu?" Calista mengernyitkan alisnya.

"Iya, Tante sama Papa kayak pasangan yang lagi berantem, seru."

"No, bukan pasangan." Calista melotot ke arah Kay.

"Tapi cocok, kalian bersama aja. Biar papa punya pawangnya."

"Kay!" Suara Angga meninggi.

"Ampun, bisa gak sih bicaranya pelan, lembut gitu sama anak. Emosi aja dari tadi," gumam Calista sambil menutup telinganya.

"Kamu gak tau apa-apa." Suara Angga turun satu oktaf dari sebelumnya. Tapi tidak dengan tatapannya.

"Oke si paling tau," ngedumel Calista.

Dari arah tangga, dua wanita tampak menuruni anak tangga dari lantai dua, perhatian mereka tertuju pada kegaduhan yang terjadi di bawah.

"Ada apa ini?" Rita buru-buru mendekat.

"Calista, tangan kamu kenapa, nak?" Tanya Ririn panik saat sudah di samping Calista.

"Luka kecil Ma, aman kok," ucap Calista tersenyum.

"Tangan Tante kena pecahan gelas tadi. Tapi udah di obatin papa. Jadi aman," jelas Kay.

Rita ikut mendekat pada Calista. Memeriksa tangannya, telunjuk Calista sudah di plester.

"Cuma luka kecil, Ma."

Raut wajah panik Ririn terlihat jelas, Rita merasa tidak enak dengan situasi itu.

"Ada darahnya tadi." Kembali Kay ikut bicara.

"Iya Kay, kamu udah ulang itu berkali-kali. Lagian Tante juga fine aja, cuma tergores."

"Lain kali hati-hati," ucap Ririn.

"Pasti Ma."

"Kita pulang ya."

Mereka berpamitan, Rita memeluk Calista sesaat sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil sudah meninggalkan rumah itu, tapi Ririn ibunya Calista masih membahas luka di jari Calista.

"Kita ke rumah sakit."

"Buat apa?"

"Kita periksa, untuk memastikan."

"Mama sayang, aku calon dokter. Aku tau mana luka serius dan luka yang perlu penanganan lebih lanjut."

"Mama tetap mau bawa kamu ke rumah sakit. Kita periksa, takutnya masih ada pecahan kaca di jari kamu."

"Come on Ma."

Tidak bisa di bantah, jika Ririn sudah bicara terpaksa Calista menurut meski harus menahan malu di rumah sakit nantinya.

"Aku bisa diketawain satu rumah sakit," gumam Calista.

Sementara di rumah Rita. Keadaan sangat berbeda, ruangan yang tadinya rame sekarang berubah sepi.

"Angga, Mama mau bicara. Berdua."

Rita terlihat serius menatap Angga.

"Ada hal penting?"

"Iya, sangat penting. Kita bicara di ruang kerja kamu saja."

Angga masuk lebih dulu ke ruangan itu, disusul Rita di belakangan.

"Mama sama Tante Ririn membahas hal penting tentang kamu dan Calista."

Satu alis Angga terangkat dengan tangan yang masih setia di saku celananya.

"Tante Ririn minta tolong. Dia mau mencarikan jodoh untuk putrinya. Lalu mama menyarankan kamu saja dan Tante Ririn setuju."

"Seharusnya mama tanya pendapatku, sebelum memutuskan." Suara Angga terdengar sedikit emosi.

"Calista itu anak yang baik, dari keluarga baik-baik juga. Mama gak bisa membiarkan anak sebaik itu bertemu dengan orang yang gak sayang sama dia."

"Aku juga gak sayang."

"Setidaknya kamu gak kasar. Mama bisa liat tadi waktu kamu ngobatin dia."

"Hanya bantuan kecil."

"Tapi kamu memperlakukannya dengan lembut. Mama bisa liat."

"Stop Ma!"

"Angga, berhenti bersembunyi. Berhenti membuat alasan karena Kay. Kay udah besar. Dia akan tau semuanya."

"Dan aku gak akan biarkan Kay tau."

"Kamu tidak mungkin selamanya sendiri Angga. Kamu perlu pasangan. Kay juga butuh sosok ibu. Mama liat Calista cocok dengan Kay. Liat aja Kay, dia anti wanita. Hanya bicara sama Oma saja. Bahkan gurunya di sekolah mengeluh karena Kay gak mau interaksi dengan guru wanita dan teman wanita sekelasnya. Tapi sama Calista, mereka langsung akrab. Mereka nyambung."

"Hanya kebetulan."

"Kebetulan yang bisa merubah Kay menjadi lebih baik. Anak itu menyimpan sesuatu di dirinya. Dia butuh sosok ibu. Sementara kamu terlalu keras mendidiknya. Di usianya kamu membuat peraturan yang begitu banyak."

"Peraturan akan membuat Kay menjadi lebih terarah. Demi masa depannya."

"Demi masa depannya? Kamu minta dia memimpin perusahaan di usianya yang sekarang. Itu terlalu cepat, Angga."

"Kay harus berdiri di atas kakinya sendiri. Aku tidak bisa selalu menjaganya."

"Jangan keras kepala Angga. Pikirkan perkataan mama. Perjodohan kamu dan Calista sudah mama putuskan. Mama tidak menerima penolakan."

Brak!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 9

    Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 8

    "Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 7

    Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 6

    "Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 5

    "Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 4

    "Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status