Share

Bab 6

Author: Alwee Chan
last update Last Updated: 2026-01-22 21:26:15

"Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."

Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya.

"Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."

Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku.

Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.

Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat.

"Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga.

"Ada urusan penting."

"Sepagi ini?" Alis Rita terangkat.

"Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.

Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi.

"Sampai kapan kamu menutup diri," batin Rita.

Meja makan yang besar yang hanya diisi oleh dua orang, Rita dan Kay, cucunya. Suara sendok dan gelas terdengar di sana. Percakapan singkat yang mengawali pagi mereka.

"Kay, boleh Oma tanya sesuatu?" tanya Rita hati-hati.

"Boleh," jawab Kay tanpa menoleh.

"Apa kamu suka Tante Calista?"

"Suka dan gak."

Sesaat Kay berhenti dan kembali melanjutkan sarapannya.

"Jawaban kamu bikin Oma bingung."

"Sama." Sedikit pun Kay tidak menoleh pada Rita.

"Bukannya kamu setuju kalau Tante Calista jadi mama kamu?" Dengan hati-hati Rita bicara pada Kay.

"Papa perlu penawar," ucap Kay santai.

Kening Rita berkerut, ucapan Kay terdengar seakan tahu apa yang tengah terjadi selama ini.

"Aku berangkat."

Di tempat yang berbeda, Angga berdiri seorang diri di depan gedung pencakar langit bertuliskan Allarick Corp. Kedatangannya bukan tanpa tujuan, ia hendak bertemu langsung dengan pemimpin perusahaan itu. Semalam, Angga telah menerima berkas tentang Calista yang dikirim oleh orang kepercayaannya.

Kedatangan Angga bertepatan dengan kedatangan Rita pemilik perusahaan. Sudah pasti Rita mengenal Angga.

"Angga kan?" Sapa Rita dari sisi kanan.

Angga menoleh dan menyambut sapaan Ririn dengan sopan.

"Boleh minta waktu Tante sebentar? Maaf, saya gak buat janji sebelumnya."

"Tentu boleh, kita bicara di dalam saja."

Ririn senang melihat kedatangan Angga. Berharap akan mendengar kabar baik.

Angga mengikuti Ririn sampai ke ruangan kerjanya.

"Silahkan duduk."

"Terimakasih."

Ruangan itu bersih dan rapi, semuanya tertata rapi dan didominasi warna putih dan sedikit sentuhan warna peach.

Ririn duduk berhadapan dengan Angga. Dua cangkir kopi sudah disajikan seperti permintaan Ririn sesaat sebelum masuk ke ruangannya.

"Sepertinya ada hal penting yang membawa kamu kemari. Tante tebak pasti tentang perjodohan yang kami rencana semalam," ucap Rita tersenyum.

"Tante cepat tangkap orangnya." Tanpa basa-basi Angga juga langsung ke intinya.

"Tentu, gak mungkin sepagi ini udah kemari, sementara kamu juga punya kesibukan yang padat."

"Saya ingin bicara hal penting." Angga duduk di sofa dengan punggung tegak.

"Sejujurnya Tante sangat senang dengan rencana ini. Tante juga percaya kamu bisa menjaga Calista. Setidaknya Tante bisa tenang jika sesuatu terjadi nantinya. Biasakan umur gak ada yang tau kapan. Tante sangat berharap untuk itu."

"Sebelumnya saya minta maaf Tante. Saya gak bisa melakukan perjodohan ini," ucap Angga langsung pada inti tujuan kedatangannya.

Ririn terdiam sejenak, tidak langsung menanggapinya. Senyuman di wajahnya memudar seketika serta raut wajahnya berubah. Satu tangannya memegang dada berusaha bernafas dengan baik.

Ririn berdiri begitu juga Angga yang melihat kejadian itu ikut berdiri mengikuti Ririn.

"Tante.."

Tiba-tiba pintu ruangan Ririn dibuka, bersamaan dengan itu Ririn yang hampir terjatuh. Dimas yang berdiri di ambang pintu segera berlari memegangi Ririn berbarengan dengan Angga yang ikut menangkap tubuh Ririn.

Bruk!

"Mbak Ririn. Biar saya aja pak," ucap Dimas sambil menggendong tubuh Ririn ke sofa panjang.

"Maaf, saya gak bermaksud..." Angga ingin menjelaskan, takutnya ada kesalahpahaman.

"Gak apa-apa pak. Saya tau kondisi beliau, saya dokter pribadi beliau. Saya akan menanganinya."

Dengan cekatan Dimas mengecek kondisi Ririn. Dari jarak dekat Angga memperhatikan tindakan apa yang tengah dilakukan dan terlihat profesional.

"Apa kondisinya parah?" Angga memastikan, mungkin ia bisa ikut membantu.

"Saya sudah pernah menangani ini sebelumnya. Mungkin anda bisa menunggu di luar atau berkunjung lain waktu." Suaranya terdengar sopan namun terselip kepanikan.

Angga bisa menangkap intonasi Dimas. Angga paham kondisinya tidak sedang baik-baik saja. ingin membantu tapi harus tahu batas, terlebih lagi dokter pribadinya ada di sini.

Angga mengangguk, memilih pergi dari ruangan itu. Langkahnya berat memasuki lift. Ada rasa bersalah, namun ia tetap melanjutkan meninggalkan gedung pencakar langit itu.

"Semoga gak ada hal buruk yang terjadi," gumamnya. "Aku akan datang lagi di lain hari," lanjutnya.

Angga tahu ini belum selesai, bisa jadi ini baru permulaan.

Angga meninggalkan gedung, mengendarai mobil menuju ke tempat tujuannya pada pekerjaannya yang sudah menunggunya sejak tadi.

Sekilas dalam ingatan Angga, wajah pria tadi terasa familiar tapi Angga lupa pernah bertemu pria itu di mana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 9

    Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 8

    "Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 7

    Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 6

    "Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 5

    "Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 4

    "Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status