เข้าสู่ระบบ"Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."
Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya. "Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga." Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat. "Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga. "Ada urusan penting." "Sepagi ini?" Alis Rita terangkat. "Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita. Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi. "Sampai kapan kamu menutup diri," batin Rita. Meja makan yang besar yang hanya diisi oleh dua orang, Rita dan Kay, cucunya. Suara sendok dan gelas terdengar di sana. Percakapan singkat yang mengawali pagi mereka. "Kay, boleh Oma tanya sesuatu?" tanya Rita hati-hati. "Boleh," jawab Kay tanpa menoleh. "Apa kamu suka Tante Calista?" "Suka dan gak." Sesaat Kay berhenti dan kembali melanjutkan sarapannya. "Jawaban kamu bikin Oma bingung." "Sama." Sedikit pun Kay tidak menoleh pada Rita. "Bukannya kamu setuju kalau Tante Calista jadi mama kamu?" Dengan hati-hati Rita bicara pada Kay. "Papa perlu penawar," ucap Kay santai. Kening Rita berkerut, ucapan Kay terdengar seakan tahu apa yang tengah terjadi selama ini. "Aku berangkat." Di tempat yang berbeda, Angga berdiri seorang diri di depan gedung pencakar langit bertuliskan Allarick Corp. Kedatangannya bukan tanpa tujuan, ia hendak bertemu langsung dengan pemimpin perusahaan itu. Semalam, Angga telah menerima berkas tentang Calista yang dikirim oleh orang kepercayaannya. Kedatangan Angga bertepatan dengan kedatangan Ririn pemilik perusahaan. Sudah pasti Ririn mengenal Angga. "Angga kan?" Sapa Ririn dari sisi kanan. Angga menoleh dan menyambut sapaan Ririn dengan sopan. "Boleh minta waktu Tante sebentar? Maaf, saya gak buat janji sebelumnya." "Tentu boleh, kita bicara di dalam saja." Ririn senang melihat kedatangan Angga. Berharap akan mendengar kabar baik. Angga mengikuti Ririn sampai ke ruangan kerjanya. "Silahkan duduk." "Terimakasih." Ruangan itu bersih dan rapi, semuanya tertata rapi dan didominasi warna putih dan sedikit sentuhan warna peach. Ririn duduk berhadapan dengan Angga. Dua cangkir kopi sudah disajikan seperti permintaan Ririn sesaat sebelum masuk ke ruangannya. "Sepertinya ada hal penting yang membawa kamu kemari. Tante tebak pasti tentang perjodohan yang kami rencana semalam," ucap Rita tersenyum. "Tante cepat tangkap orangnya." Tanpa basa-basi Angga juga langsung ke intinya. "Tentu, gak mungkin sepagi ini udah kemari, sementara kamu juga punya kesibukan yang padat." "Saya ingin bicara hal penting." Angga duduk di sofa dengan punggung tegak. "Sejujurnya Tante sangat senang dengan rencana ini. Tante juga percaya kamu bisa menjaga Calista. Setidaknya Tante bisa tenang jika sesuatu terjadi nantinya. Biasakan umur gak ada yang tau kapan. Tante sangat berharap untuk itu." "Sebelumnya saya minta maaf Tante. Saya gak bisa melakukan perjodohan ini," ucap Angga langsung pada inti tujuan kedatangannya. Ririn terdiam sejenak, tidak langsung menanggapinya. Senyuman di wajahnya memudar seketika serta raut wajahnya berubah. Satu tangannya memegang dada berusaha bernafas dengan baik. Ririn berdiri begitu juga Angga yang melihat kejadian itu ikut berdiri mengikuti Ririn. "Tante.." Tiba-tiba pintu ruangan Ririn dibuka, bersamaan dengan itu Ririn yang hampir terjatuh. Dimas yang berdiri di ambang pintu segera berlari memegangi Ririn berbarengan dengan Angga yang ikut menangkap tubuh Ririn. Bruk! "Mbak Ririn. Biar saya aja pak," ucap Dimas sambil menggendong tubuh Ririn ke sofa panjang. "Maaf, saya gak bermaksud..." Angga ingin menjelaskan, takutnya ada kesalahpahaman. "Gak apa-apa pak. Saya tau kondisi beliau, saya dokter pribadi beliau. Saya akan menanganinya." Dengan cekatan Dimas mengecek kondisi Ririn. Dari jarak dekat Angga memperhatikan tindakan apa yang tengah dilakukan dan terlihat profesional. "Apa kondisinya parah?" Angga memastikan, mungkin ia bisa ikut membantu. "Saya sudah pernah menangani ini sebelumnya. Mungkin anda bisa menunggu di luar atau berkunjung lain waktu." Suaranya terdengar sopan namun terselip kepanikan. Angga bisa menangkap intonasi Dimas. Angga paham kondisinya tidak sedang baik-baik saja. ingin membantu tapi harus tahu batas, terlebih lagi dokter pribadinya ada di sini. Angga mengangguk, memilih pergi dari ruangan itu. Langkahnya berat memasuki lift. Ada rasa bersalah, namun ia tetap melanjutkan meninggalkan gedung pencakar langit itu. "Semoga gak ada hal buruk yang terjadi," gumamnya. "Aku akan datang lagi di lain hari," lanjutnya. Angga tahu ini belum selesai, bisa jadi ini baru permulaan. Angga meninggalkan gedung, mengendarai mobil menuju ke tempat tujuannya pada pekerjaannya yang sudah menunggunya sejak tadi. Sekilas dalam ingatan Angga, wajah pria tadi terasa familiar tapi Angga lupa pernah bertemu pria itu di mana.Hari-hari setelah sidang pengadilan terasa berbeda.Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi sempurna. Tapi karena perlahan, satu per satu, semuanya mulai menemukan tempatnya.Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di sudut kota. Kay duduk berhadapan dengan Alex.Suasana di antara mereka masih canggung. Tidak ada kemarahan seperti sebelumnya. Namun juga belum ada kedekatan.Alex memegang cangkir kopinya, menatap Kay beberapa detik sebelum akhirnya berbicara."Aku gak terbiasa mulai dari awal."Kay mengangkat alis sedikit. "Aku juga."Alex menatap Kay sedikit lebih lama."Bisakah kamu memanggilku Papa. Permintaan ini mungkin mendadak." Hening sejenak. Lalu Kay menyandarkan tubuhnya ke kursi."Akan aku coba."Alex tersenyum tipis.Tidak memaksa ataupun menekan. Hanya mencoba hadir dan membangun kedekatan. Dan kali ini dengan cara yang lebih benar.***Di sekolah, suasana di lapangan basket kembali ramai.Leon melempar bola ke arah Kay."Pass!"Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlar
Ruangan sidang begitu sunyi hingga suara langkah kecil Kay ketika berdiri terdengar jelas dan semua mata tertuju padanya.Kay berdiri tegak di tengah ruangan. Namun dari dekat, orang bisa melihat jemarinya sedikit gemetar.Hakim menatapnya dengan sabar. "Kami ingin mendengar keputusanmu," kata hakim dengan suara tenang.Kay menarik napas panjang. Matanya perlahan menyapu ruangan. Ia melihat Rita yang menatapnya dengan cemas. Calista yang duduk dengan tangan saling menggenggam.Dan akhirnya tatapannya berhenti pada Angga. Duduk tenang seperti biasa. Tidak ada tekanan ataupun permintaan di wajahnya.Hanya ketenangan yang selama ini selalu Kay lihat sejak kecil. Kay menelan ludah. Lalu ia mulai bicara.Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap jelas."Saya tau siapa ayah biologis saya."Ruangan terasa semakin tegang.Alex yang duduk di sisi lain ruangan sedikit menegakkan tubuhnya.Kay menoleh perlahan ke arah Angga. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itu sesuatu di dalam dada Kay terasa jauh
Beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit, hari yang selama ini ditunggu dan sekaligus ditakuti akhirnya tiba.Gedung pengadilan negeri terlihat lebih ramai dari biasanya.Langkah kaki para pengacara, staf administrasi, dan keluarga yang menunggu sidang bergema di koridor panjang.Di salah satu ruang tunggu, Angga duduk dengan tenang. Di sampingnya ada Calista.Sementara di sisi lain duduk Rita. Wanita itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan siapa pun di ruangan itu.Tangannya saling menggenggam. "Gak nyangka sampai sejauh ini," gumam Rita pelan.Angga menatap lurus ke depan. "Dia memang akan melakukan ini," jawabnya tenang.Calista menoleh pada Angga. "Masih sempat mundur," katanya pelan.Angga menggeleng kecil. "Bukan aku yang memilih jalan ini."Beberapa meter dari mereka, Alex berdiri bersama pengacaranya. Wajahnya terlihat percaya diri.Tatapannya sesekali mengarah pada Kay yang duduk di antara Angga dan Calista.Kay tidak bicara sejak mereka tiba. Ia hanya duduk diam. Na
Beberapa jam setelah kejadian di ruang kerja Angga, suasana rumah sakit kembali berjalan seperti biasa.Namun tidak sepenuhnya. Rumor bergerak lebih cepat dari langkah kaki manusia.Beberapa perawat berbisik di ruang administrasi. Dan dokter Dikta di ruangannya mondar mandir memikirkan Calista yang menjadi penengah di antara Angga dan putranya. Sementara di ruang istirahat residen, Yuli dan Viona sedang duduk di sofa kecil dekat jendela dengan pikirannya masing-masing.Meja di depan mereka dipenuhi gelas kopi kertas dan beberapa berkas pasien."Calista masih di ruangan dokter Angga?" tanya Viona."Kayaknya sih begitu."Viona menghela napas panjang. "Gak nyangka dengan kejadian tadi.""Iya, sama. Dari semuanya, satu yang bikin aku penasaran," ucap Yuli."Apa?""Kayaknya ada sesuatu di antara dokter Angga dan Calista.""Aku juga ngerasa gitu. Soalnya cara Calista tadi kayak natural banget. Kayak emang tau permasalahannya. Dan gongnya dia bisa tenangin anak dokter Angga. Kayak ngertiin
Koridor rumah sakit masih dipenuhi orang.Meski sebagian mulai berpura-pura sibuk kembali, banyak yang tetap memperhatikan dari jauh. Bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut.Calista berdiri di depan Kay, tangannya menggenggam pergelangan tangan Kay."Ini urusan keluarga," ucap Calista lagi, suaranya tegas namun tetap tenang."Bukan bahan gosip."Beberapa perawat saling melirik lalu mulai berjalan pergi. Dua dokter, salah satunya dokter Dikta yang tadi berdiri di belakang Angga juga memilih menjauh. Dokter Dikta sangat penasaran ada hubungan apa diantara Angga dan Calista. Namun juga memilih pergi.Sementara Kay masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap Angga. Ia tidak bergerak."Papa belum jawab," katanya lirih, tapi penuh tekanan.Calista menoleh ke arah Angga. Di matanya ada kekhawatiran. Namun juga pengertian. Calista tahu tidak ada lagi jalan untuk menunda.Angga menarik napas panjang."Kay," katanya pelan. "Kita bicara di ruangan.""Gak." Kay menggeleng keras."Kalau
Beberapa hari setelah surat dari pengadilan datang, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar membicarakan masalah itu di depan Kay.Angga dan Calista sepakat menunggu waktu yang tepat. Mereka tahu, cepat atau lambat Kay harus tahu. Tapi mereka ingin menyampaikannya dengan cara yang benar.Namun takdir sering kali tidak memberi kesempatan seperti yang diharapkan.Pagi itu di sekolah, suasana aula olahraga ramai seperti biasa. Suara sepatu basket berdecit di lantai. Bola memantul keras ke papan ring."Pass!"Leon melempar bola ke arah Kay.Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlari menuju ring. Ia melompat tinggi dan memasukkan bola.Leon bertepuk tangan. Namun di sudut lapangan, dua orang pria berdiri sambil memperhatikan Kay yang sedang bermain.Mereka bukan siswa, bukan guru. Mereka sengaja menunggu Kay. Memperhatikannya seharian."Pulang nanti, kita coffee shop bentar. Mau gak? Gue mau traktir lo." Ajak Leon tiba-tiba."Dalam rangka apa?" Alis Kay ter
Calista berusaha menenangkan dirinya. Berjalan beriringan dengan jarak yang sengaja ia ciptakan."Jika butuh bantuan," Dikta menatapnya. "Jangan sungkan."Calista tidak menoleh, namun mengangguk."Ngomong-ngomong apa aku bisa lebih dekat denganmu.""Hah? Maaf Dok maksudnya gimana, ya?"Dikta tersen
Setelah jam istirahat, Calista melangkah keluar dari kantin dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang. Ucapan Viona dan Yuli masih bergema samar di kepalanya, meski mereka sudah kembali bercanda seperti biasa."Aku berharap banget gak ada pasien baru lagi setelah ini," celetuk Yuli."Capek?" tan
Angga terdiam, tidak langsung menjawab.Lampu taman berkedip pelan. Bayangan wajahnya terlihat, namun ekspresinya sulit dibaca.Angga tidak langsung menoleh. "Aku pikir dulu," katanya akhirnya. "Aku gak bisa jawab sekarang."Kalimat itu jujur dan justru karena itu, Calista merasa semakin takut.Cal
Malam itu, Calista duduk sendirian di balkon kamarnya. Ia memandangi langit malam yang penuh bintang dan bulan yang bersinar terang.Namun pikirannya terlalu berisik. Banyak hal yang ia pikirkan dan kemungkinan yang akan terjadi jika semua terbongkar.Saat menutup mata kata-kata ibunya di klinik ta







