เข้าสู่ระบบ"Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."
Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat. "Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo." Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum. "Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita. Rita melihat ke sekeliling. "Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang. Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar. "Anak Tante Ririn," batin Angga. Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat. Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan. "Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati. "Iya, aku kenal." "Kalian ngobrol?" "Iya, kami ngobrol." Kembali Kay menjawab. "Kok bisa?" Rita masih memastikan dengan hati-hati. "Biasa aja Oma," jawab Kay terlihat santai. "Baiklah, sejak kapan kalian kenal?" "Come on Oma, apa Oma cosplay jadi polisi sekarang," ucap Kay. Rita tercengang, kali ini cucunya mau menjawabnya. Tidak seperti biasanya yang hanya bicara dua atau tiga patah kata selesai dan pergi. Tidak mau terlalu banyak bicara. "Bersikap sopan pada Oma," ucap Angga dengan tatapan dinginnya. "Kami berteman," jawab Kay. "Gak sengaja bertemu," ucap Calista. Calista dan Kay saling melihat setelah bersamaan bicara. "Teman, gak sengaja ketemu. Ini maksudnya?" "Dia pernah menolong Kay, tepatnya jadi wali bohongan," ucap Angga setelah itu meneguk minumannya sampai habis dan pergi. "Wali? Apa itu benar Kay?" Rita mendekati cucunya melihat ke dalam matanya. "Ya begitu, aku butuh pertolongan dan Tante itu menolongku tepat waktu." Rita semakin penasaran dengan semuanya. Kenapa cucunya mau bicara pada Calista, bahkan mengobrol dengan nada santai. "Sepertinya, kita perlu bicara bersama. Apa bisa?" Dengan hati-hati Rita bertanya dan Calista mengangguk. "Kamu juga Kay, Oma mau bicara sama kamu juga." "Aku sibuk," jawab Kay. "Gak akan lama. Sekarang ke atas. Tunggu di ruangan Oma." "Gak bisa, temanku nunggu di depan." "Ya sudah, jangan pulang terlalu malam." Terpaksa Rita membiarkan cucunya pergi. Melihat cucunya menanggapinya dengan baik dan memberi tahu apa yang dilakukannya, itu suatu kemajuan. Ririn dan Calista saling pandang. "Maaf, jika ini terlihat sedikit aneh atau mungkin membuat kalian terganggu bahkan takut." Rita sadar dengan tatapan yang berubah dari temannya. "Sama sekali tidak. Hanya sedikit bingung." Ririn tersenyum. "Terima kasih pengertiannya. Masalah keluarga sedikit rumit dan begitulah. Kamu pasti paham." "Selalu." Kini di ruangan itu sudah ada Calista dan ibunya duduk berdampingan. Angga yang hanya berdiri di depan pintu. "Mama, apa ini gak apa-apa. Kok vibenya kayak penting banget. Tegang tapi aku suka," ucap Calista. "Tante Rita itu baik, hanya sedikit lebih tegas dan to the point. Jika ada hal mengganjal di pikirannya, ia pasti akan bereskan secepatnya. Oh ya, mama juga penasaran kenapa kamu bisa jadi wali bohongan Kay cucunya. Setau mama kamu gak punya teman anak SMP. Tapi gak apa-apa, kamu pasti punya alasan sendiri tentang itu," ucap Ririn tersenyum pada putrinya. Rita sudah berkumpul di ruangan itu, begitu juga Angga yang ikut masuk. Rita langsung memeluk Calista dan berterima kasih. "Ini kenapa ya? Kok aneh," batin Calista. "Terima kasih, berkat kamu cucu Oma mau bicara." Calista bingung tapi tetap tersenyum. "Kay, gak pernah mau bicara sama perempuan kecuali Oma, itu pun tidak akan banyak. Paling iya atau tidak dan sudah, Kay akan pergi setelah itu. Semenjak kejadian itu." "Mama," tegur Angga dan menggelengkan kepalanya. "Maaf Tante tidak bisa cerita banyak. Sekarang Tante senang melihat perubahan pada Kay. Itu lebih baik sekarang." "Sorry sebelumnya, tapi kayaknya Kay bukan tipe pendiam. Dia lebih seperti aku, mungkin itu yang membuat kami nyambung dan berteman seperti kata Kay tadi." "Apapun itu Tante senang. Kalau bisa Tante mau Kamu lebih sering ketemu Kay. Main ke rumah Tante setiap hari atau tinggal di sini saja. Tante butuh bantuan kamu. Tante pingin Kay balik seperti dulu. Kay yang ceria dan penurut." "Kayaknya kalau kemari tiap hari atau tinggal di sini gak mungkin deh Tante. Aku orangnya berisik dan itu akan sangat mengganggu di sini. Lagipula aku juga punya kesibukan. Aku gak mau menyusahkan orang lain dengan diriku ini." Calista tersenyum manis dengan lesung pipinya. "Sesekali bisa kan? Tante senang dengan perubahan Kay dan berharap kemajuannya lebih lagi." "Gini aja, Kay tinggal sama aku aja. Jadi adik aku." Usul Calista asal. Tiba-tiba saja Kay membuka pintu. "Aku setuju, aku mau kok tinggal sama Tante cantik. Maaf, aku belum tau namanya. Jadi aku panggilan saja sesuai visualnya," ucap Kay tersenyum. "Hei bocil, kamu nguping dari tadi. Gak sopan. Perlu kamu tau namaku bukan Tante cantik tapi Calista, C A L I S T A, Calista. Panggilan Tante cantik bikin aku mual," ucap Calista yang mendapat teguran dari Ririn. "Kay tidak boleh tinggal di sana. Tante Ririn dan Calista tinggal berdua dan Kay gak seharusnya ada di sana. Gimana kalau Angga dan Calista menikah saja." Ide yang tiba-tiba keluar begitu saja dari bibir Rita. "Aku setuju, papa sama Tante Calista. Aku bisa pamer Tante Calista sama teman aku. Oma gak mungkin. Papa apa lagi." Kay menunjukkan kemajuannya, bahkan ia mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Rita semakin senang melihat perubahan itu. "Kamu mau Tante Calista jadi ibu kamu Kay?" "Tentu, Tante Calista cocok denganku." "Jangan bilang itu alasan kamu mau bicara sama perempuan selain Oma." Rita terlihat serius. Kay tidak menjawab dan pergi begitu saja setelah melihat tatapan Angga. Begitu juga Angga mengikuti Kay pergi. "Maaf untuk kelakuan cucu Tante. Tapi kalau kamu mau, Tante senang sekali kamu jadi menantu Tante. Angga itu sebenarnya baik, cuma kaku aja. Aslinya sangat lembut dan penyayang." "Sama sekali gak keliatan lembut dan penyayang," batin Calista. "Tapi Tante, aku..." "Gak usah di jawab sekarang. Dipikirkan aja dulu." Calista terlihat tidak nyaman dengan situasi dan keadaan saat ini. "Calista, Mama mau bicara sama Tante Rita. Bisa beri waktu kami berdua. Mungkin kamu mau minum dulu. Cari udara segar di luar," ucap Ririn. "Kayaknya lebih baik gitu. Aku emang butuh udara segar. Kalau gitu aku izin ke tamannya Tante ya. Boleh?" Calista memang wanita yang sopan. Meski sudah pasti diizinkan tapi dengan sopan Calista meminta izin terlebih dahulu. "Tentu, ada taman di samping rumah, dekat kolam renang. Kalau mau minum bisa minta sama bibi di dapur." "Makasih Tante." Calista keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya menyusuri lantai satu ke arah yang sudah diberitahu sebelumnya. Calista ke dapur terlebih dahulu kemudian ke taman. Namun di sana Calista tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang aneh menurutnya. "Apa emang begitu cara mereka komunikasi. Ya, tidak, anggukan dan geleng. Ya ampun gimana mau nyambung kalau gitu cara komunikasinya. Harus di ajarin tuh si bapak," gumam Calista. "Non, ini minumnya." Prang!Hari-hari setelah sidang pengadilan terasa berbeda.Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi sempurna. Tapi karena perlahan, satu per satu, semuanya mulai menemukan tempatnya.Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di sudut kota. Kay duduk berhadapan dengan Alex.Suasana di antara mereka masih canggung. Tidak ada kemarahan seperti sebelumnya. Namun juga belum ada kedekatan.Alex memegang cangkir kopinya, menatap Kay beberapa detik sebelum akhirnya berbicara."Aku gak terbiasa mulai dari awal."Kay mengangkat alis sedikit. "Aku juga."Alex menatap Kay sedikit lebih lama."Bisakah kamu memanggilku Papa. Permintaan ini mungkin mendadak." Hening sejenak. Lalu Kay menyandarkan tubuhnya ke kursi."Akan aku coba."Alex tersenyum tipis.Tidak memaksa ataupun menekan. Hanya mencoba hadir dan membangun kedekatan. Dan kali ini dengan cara yang lebih benar.***Di sekolah, suasana di lapangan basket kembali ramai.Leon melempar bola ke arah Kay."Pass!"Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlar
Ruangan sidang begitu sunyi hingga suara langkah kecil Kay ketika berdiri terdengar jelas dan semua mata tertuju padanya.Kay berdiri tegak di tengah ruangan. Namun dari dekat, orang bisa melihat jemarinya sedikit gemetar.Hakim menatapnya dengan sabar. "Kami ingin mendengar keputusanmu," kata hakim dengan suara tenang.Kay menarik napas panjang. Matanya perlahan menyapu ruangan. Ia melihat Rita yang menatapnya dengan cemas. Calista yang duduk dengan tangan saling menggenggam.Dan akhirnya tatapannya berhenti pada Angga. Duduk tenang seperti biasa. Tidak ada tekanan ataupun permintaan di wajahnya.Hanya ketenangan yang selama ini selalu Kay lihat sejak kecil. Kay menelan ludah. Lalu ia mulai bicara.Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap jelas."Saya tau siapa ayah biologis saya."Ruangan terasa semakin tegang.Alex yang duduk di sisi lain ruangan sedikit menegakkan tubuhnya.Kay menoleh perlahan ke arah Angga. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itu sesuatu di dalam dada Kay terasa jauh
Beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit, hari yang selama ini ditunggu dan sekaligus ditakuti akhirnya tiba.Gedung pengadilan negeri terlihat lebih ramai dari biasanya.Langkah kaki para pengacara, staf administrasi, dan keluarga yang menunggu sidang bergema di koridor panjang.Di salah satu ruang tunggu, Angga duduk dengan tenang. Di sampingnya ada Calista.Sementara di sisi lain duduk Rita. Wanita itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan siapa pun di ruangan itu.Tangannya saling menggenggam. "Gak nyangka sampai sejauh ini," gumam Rita pelan.Angga menatap lurus ke depan. "Dia memang akan melakukan ini," jawabnya tenang.Calista menoleh pada Angga. "Masih sempat mundur," katanya pelan.Angga menggeleng kecil. "Bukan aku yang memilih jalan ini."Beberapa meter dari mereka, Alex berdiri bersama pengacaranya. Wajahnya terlihat percaya diri.Tatapannya sesekali mengarah pada Kay yang duduk di antara Angga dan Calista.Kay tidak bicara sejak mereka tiba. Ia hanya duduk diam. Na
Beberapa jam setelah kejadian di ruang kerja Angga, suasana rumah sakit kembali berjalan seperti biasa.Namun tidak sepenuhnya. Rumor bergerak lebih cepat dari langkah kaki manusia.Beberapa perawat berbisik di ruang administrasi. Dan dokter Dikta di ruangannya mondar mandir memikirkan Calista yang menjadi penengah di antara Angga dan putranya. Sementara di ruang istirahat residen, Yuli dan Viona sedang duduk di sofa kecil dekat jendela dengan pikirannya masing-masing.Meja di depan mereka dipenuhi gelas kopi kertas dan beberapa berkas pasien."Calista masih di ruangan dokter Angga?" tanya Viona."Kayaknya sih begitu."Viona menghela napas panjang. "Gak nyangka dengan kejadian tadi.""Iya, sama. Dari semuanya, satu yang bikin aku penasaran," ucap Yuli."Apa?""Kayaknya ada sesuatu di antara dokter Angga dan Calista.""Aku juga ngerasa gitu. Soalnya cara Calista tadi kayak natural banget. Kayak emang tau permasalahannya. Dan gongnya dia bisa tenangin anak dokter Angga. Kayak ngertiin
Koridor rumah sakit masih dipenuhi orang.Meski sebagian mulai berpura-pura sibuk kembali, banyak yang tetap memperhatikan dari jauh. Bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut.Calista berdiri di depan Kay, tangannya menggenggam pergelangan tangan Kay."Ini urusan keluarga," ucap Calista lagi, suaranya tegas namun tetap tenang."Bukan bahan gosip."Beberapa perawat saling melirik lalu mulai berjalan pergi. Dua dokter, salah satunya dokter Dikta yang tadi berdiri di belakang Angga juga memilih menjauh. Dokter Dikta sangat penasaran ada hubungan apa diantara Angga dan Calista. Namun juga memilih pergi.Sementara Kay masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap Angga. Ia tidak bergerak."Papa belum jawab," katanya lirih, tapi penuh tekanan.Calista menoleh ke arah Angga. Di matanya ada kekhawatiran. Namun juga pengertian. Calista tahu tidak ada lagi jalan untuk menunda.Angga menarik napas panjang."Kay," katanya pelan. "Kita bicara di ruangan.""Gak." Kay menggeleng keras."Kalau
Beberapa hari setelah surat dari pengadilan datang, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar membicarakan masalah itu di depan Kay.Angga dan Calista sepakat menunggu waktu yang tepat. Mereka tahu, cepat atau lambat Kay harus tahu. Tapi mereka ingin menyampaikannya dengan cara yang benar.Namun takdir sering kali tidak memberi kesempatan seperti yang diharapkan.Pagi itu di sekolah, suasana aula olahraga ramai seperti biasa. Suara sepatu basket berdecit di lantai. Bola memantul keras ke papan ring."Pass!"Leon melempar bola ke arah Kay.Kay menangkapnya dengan mudah, lalu berlari menuju ring. Ia melompat tinggi dan memasukkan bola.Leon bertepuk tangan. Namun di sudut lapangan, dua orang pria berdiri sambil memperhatikan Kay yang sedang bermain.Mereka bukan siswa, bukan guru. Mereka sengaja menunggu Kay. Memperhatikannya seharian."Pulang nanti, kita coffee shop bentar. Mau gak? Gue mau traktir lo." Ajak Leon tiba-tiba."Dalam rangka apa?" Alis Kay ter
Keesokan paginya."Kay, mau bareng gak?" tanya Calista.Kay menimbang. "Aku mau bawa motor hari ini.""Oh, oke." Calista mengulas senyum. "Kalau perlu apa-apa kabari aja nanti."Alis Kay berkerut, terdengar sedikit aneh baginya. "Oh, oke.""Kay," panggil Calista, lagi."Apa?""Gak ada apa-apa. Cuma
"Gara-gara aku di sini. Mas Angga harus tidur di sofa."Calista memandangi Angga yang masih tertidur lelap dengan tangan bersilang di atas dada. Pagi datang terlalu cepat bagi Calista. Setelah sedikit drama tempat tidur.Semalam Calista dan Angga harus tidur di kamar yang sama. Karena tidak mungki
Sore Hari Kay pulang dengan wajah lebih cerah dari biasanya. Ia membuka pintu rumah dan langsung menjatuhkan tasnya ke sofa."Oma!" panggilnya lantang.Rita keluar dari dapur. "Kenapa teriak-teriak?""Aku punya teman baru, ada anak baru di sekolah aku.""Oh ya?" Rita tersenyum. "Terus?""Namanya Le
Perlahan Alex mulai menyusun rencananya. Ia telah memindahkan putranya untuk sekolah di tempat yang sama dengan Kay.Itu bukan kebetulan tapi telah di rencanakan senatural mungkin. Diam-diam Alex ingin mendekati Kay.Hari pertama Leon resmi pindah ke sekolah Kay terasa seperti hari biasa bagi sebag







