Share

Bab 4

Penulis: Alwee Chan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 16:39:32

"Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."

Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat.

"Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."

Angga menatap dingin ibunya

"Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum.

"Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.

Rita melihat ke sekeliling.

"Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.

Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar.

"Anak Tante Ririn," batin Angga.

Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.

Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan.

"Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati.

"Iya, aku kenal."

"Kalian ngobrol?"

"Iya, kami ngobrol." Kembali Kay menjawab.

"Kok bisa?" Rita masih memastikan dengan hati-hati.

"Biasa aja Oma," jawab Kay terlihat santai.

"Baiklah, sejak kapan kalian kenal?"

"Come on Oma, apa Oma cosplay jadi polisi sekarang," ucap Kay.

Rita tercengang, kali ini cucunya mau menjawabnya. Tidak seperti biasanya yang hanya bicara dua atau tiga patah kata selesai dan pergi. Tidak mau terlalu banyak bicara.

"Bersikap sopan pada Oma," ucap Angga dengan tatapan dinginnya.

"Kami berteman," jawab Kay.

"Gak sengaja bertemu," ucap Calista.

Calista dan Kay saling melihat setelah bersamaan bicara.

"Teman, gak sengaja ketemu. Ini maksudnya?"

"Dia pernah menolong Kay, tepatnya jadi wali bohongan," ucap Angga setelah itu meneguk minumannya sampai habis dan pergi.

"Wali? Apa itu benar Kay?" Rita mendekati cucunya melihat ke dalam matanya.

"Ya begitu, aku butuh pertolongan dan Tante itu menolongku tepat waktu."

Rita semakin penasaran dengan semuanya. Kenapa cucunya mau bicara pada Calista, bahkan mengobrol dengan nada santai.

"Sepertinya, kita perlu bicara bersama. Apa bisa?" Dengan hati-hati Rita bertanya dan Calista mengangguk.

"Kamu juga Kay, Oma mau bicara sama kamu juga."

"Aku sibuk," jawab Kay.

"Gak akan lama. Sekarang ke atas. Tunggu di ruangan Oma."

"Gak bisa, temanku nunggu di depan."

"Ya sudah, jangan pulang terlalu malam." Terpaksa Rita membiarkan cucunya pergi. Melihat cucunya menanggapinya dengan baik dan memberi tahu apa yang dilakukannya, itu suatu kemajuan.

Ririn dan Calista saling pandang.

"Maaf, jika ini terlihat sedikit aneh atau mungkin membuat kalian terganggu bahkan takut." Rita sadar dengan tatapan yang berubah dari temannya.

"Sama sekali tidak. Hanya sedikit bingung." Ririn tersenyum.

"Terima kasih pengertiannya. Masalah keluarga sedikit rumit dan begitulah. Kamu pasti paham."

"Selalu."

Kini di ruangan itu sudah ada Calista dan ibunya duduk berdampingan. Angga yang hanya berdiri di depan pintu.

"Mama, apa ini gak apa-apa. Kok vibenya kayak penting banget. Tegang tapi aku suka," ucap Calista.

"Tante Rita itu baik, hanya sedikit lebih tegas dan to the point. Jika ada hal mengganjal di pikirannya, ia pasti akan bereskan secepatnya. Oh ya, mama juga penasaran kenapa kamu bisa jadi wali bohongan Kay cucunya. Setau mama kamu gak punya teman anak SMP. Tapi gak apa-apa, kamu pasti punya alasan sendiri tentang itu," ucap Ririn tersenyum pada putrinya.

Rita sudah berkumpul di ruangan itu, begitu juga Angga yang ikut masuk. Rita langsung memeluk Calista dan berterima kasih.

"Ini kenapa ya? Kok aneh," batin Calista.

"Terima kasih, berkat kamu cucu Oma mau bicara."

Calista bingung tapi tetap tersenyum.

"Kay, gak pernah mau bicara sama perempuan kecuali Oma, itu pun tidak akan banyak. Paling iya atau tidak dan sudah, Kay akan pergi setelah itu. Semenjak kejadian itu."

"Mama," tegur Angga dan menggelengkan kepalanya.

"Maaf Tante tidak bisa cerita banyak. Sekarang Tante senang melihat perubahan pada Kay. Itu lebih baik sekarang."

"Sorry sebelumnya, tapi kayaknya Kay bukan tipe pendiam. Dia lebih seperti aku, mungkin itu yang membuat kami nyambung dan berteman seperti kata Kay tadi."

"Apapun itu Tante senang. Kalau bisa Tante mau Kamu lebih sering ketemu Kay. Main ke rumah Tante setiap hari atau tinggal di sini saja. Tante butuh bantuan kamu. Tante pingin Kay balik seperti dulu. Kay yang ceria dan penurut."

"Kayaknya kalau kemari tiap hari atau tinggal di sini gak mungkin deh Tante. Aku orangnya berisik dan itu akan sangat mengganggu di sini. Lagipula aku juga punya kesibukan. Aku gak mau menyusahkan orang lain dengan diriku ini." Calista tersenyum manis dengan lesung pipinya.

"Sesekali bisa kan? Tante senang dengan perubahan Kay dan berharap kemajuannya lebih lagi."

"Gini aja, Kay tinggal sama aku aja. Jadi adik aku." Usul Calista asal.

Tiba-tiba saja Kay membuka pintu.

"Aku setuju, aku mau kok tinggal sama Tante cantik. Maaf, aku belum tau namanya. Jadi aku panggilan saja sesuai visualnya," ucap Kay tersenyum.

"Hei bocil, kamu nguping dari tadi. Gak sopan. Perlu kamu tau namaku bukan Tante cantik tapi Calista, C A L I S T A, Calista. Panggilan Tante cantik bikin aku mual," ucap Calista yang mendapat teguran dari Ririn.

"Kay tidak boleh tinggal di sana. Tante Ririn dan Calista tinggal berdua dan Kay gak seharusnya ada di sana. Gimana kalau Angga dan Calista menikah saja." Ide yang tiba-tiba keluar begitu saja dari bibir Rita.

"Aku setuju, papa sama Tante Calista. Aku bisa pamer Tante Calista sama teman aku. Oma gak mungkin. Papa apa lagi." Kay menunjukkan kemajuannya, bahkan ia mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Rita semakin senang melihat perubahan itu.

"Kamu mau Tante Calista jadi ibu kamu Kay?"

"Tentu, Tante Calista cocok denganku."

"Jangan bilang itu alasan kamu mau bicara sama perempuan selain Oma." Rita terlihat serius.

Kay tidak menjawab dan pergi begitu saja setelah melihat tatapan Angga. Begitu juga Angga mengikuti Kay pergi.

"Maaf untuk kelakuan cucu Tante. Tapi kalau kamu mau, Tante senang sekali kamu jadi menantu Tante. Angga itu sebenarnya baik, cuma kaku aja. Aslinya sangat lembut dan penyayang."

"Sama sekali gak keliatan lembut dan penyayang," batin Calista.

"Tapi Tante, aku..."

"Gak usah di jawab sekarang. Dipikirkan aja dulu."

Calista terlihat tidak nyaman dengan situasi dan keadaan saat ini.

"Calista, Mama mau bicara sama Tante Rita. Bisa beri waktu kami berdua. Mungkin kamu mau minum dulu. Cari udara segar di luar," ucap Ririn.

"Kayaknya lebih baik gitu. Aku emang butuh udara segar. Kalau gitu aku izin ke tamannya Tante ya. Boleh?"

Calista memang wanita yang sopan. Meski sudah pasti diizinkan tapi dengan sopan Calista meminta izin terlebih dahulu.

"Tentu, ada taman di samping rumah, dekat kolam renang. Kalau mau minum bisa minta sama bibi di dapur."

"Makasih Tante."

Calista keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya menyusuri lantai satu ke arah yang sudah diberitahu sebelumnya. Calista ke dapur terlebih dahulu kemudian ke taman.

Namun di sana Calista tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang aneh menurutnya.

"Apa emang begitu cara mereka komunikasi. Ya, tidak, anggukan dan geleng. Ya ampun gimana mau nyambung kalau gitu cara komunikasinya. Harus di ajarin tuh si bapak," gumam Calista.

"Non, ini minumnya."

Prang!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 71

    Calista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 70

    Calista berdiri di dekat pintu, bersiap pergi. Mira menemaninya sampai ke depan untuk memastikan semuanya aman.Tinggallah Angga dan Pak Arman di dalam ruangan."Bisa minta waktunya sebentar, Pak Arman?"Pak Arman menutup map dokumen di depannya, lalu menatap Angga dengan serius."Tentu, ada apa Pak Angga?""Saya ingin tau detailnya mengenai perusahaan.""Pak Angga, saya akan terbuka, lagipula hubungan antara Pak Angga dan Bu Calista, suami dan istri. Sejujurnya situasi perusahaan sekarang memang tidak sederhana."Angga berdiri dengan kedua tangan di saku celana."Berapa besar tekanan yang Alex lakukan?"Pak Arman menarik napas pelan."Jika dia berhasil menguasai lebih dari empat puluh persen saham, dia bisa memaksa rapat pemegang saham. Dari situ dia bisa menekan keputusan manajemen."Angga mengangguk pelan. "Berapa yang dibutuhkan untuk menutup celah itu?"Pak Arman sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Maksud Pak Angga?""Dana." Suara Angga tenang. "Berapa yang dibutuhk

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 69

    Mobil Angga melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ia sukai.Calista bukan tipe orang yang pergi malam-malam tanpa memberi tahu siapa pun. Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia terlihat sangat lelah.Angga mencoba menelepon lagi. Masih tidak diangkat.Rahangnya menegang. "Calista, kamu lagi apa sebenarnya?"Angga menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Instingnya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan Alex.***Sementara itu, di ruang rapat kantor perusahaan milik mendiang Ririn.Pak Arman menutup map dokumen di depannya. "Kalau kita bicara secara teknis, menjual lima puluh satu persen saham berarti Ibu kehilangan kendali penuh terhadap perusahaan."Calista mengangguk. "Saya paham."Mira masih berdiri dengan wajah tegang. "Bu, kita masih punya opsi lain. Kita bisa cari investor lain. Kita bisa restrukturisasi saham.""Gak cukup cepat," potong Calista pelan. "Pak Alex bergerak terlalu cepat." Pak Arman menatapnya dengan serius."Apa

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 68

    Kay sudah masuk kamar lebih awal karena besok harus bangun pagi untuk sekolah dan latihan basket. Rita juga kembali ke kamarnya setelah cukup lama berbicara dengan Angga mengenai langkah hukum jika Alex benar-benar mulai bergerak.Calista duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, berpura-pura membaca laporan. Padahal pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Pesan terakhir yang ia kirim masih terngiang di kepalanya. 'temui aku jam delapan malam ini.'Belum ada balasan dari Alex. Namun Calista tahu satu hal, Alex pasti datang.Calista menarik napas pelan. Langkah kaki Angga terdengar dari arah dapur. Pria itu membawa dua gelas air hangat."Kamu masih kerja?" tanyanya.Calista mengangguk kecil. "Sedikit lagi."Angga menaruh gelas di meja. "Jangan terlalu dipaksakan.""Iya, Mas."Tatapan Angga berhenti beberapa detik di wajah Calista."Aku temenin?""Gak usah, Mas."Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Tapi Angga tidak menanyakannya."Kalau udah selesai, langsung istirahat."Ca

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 67

    Keesokan paginya."Kay, mau bareng gak?" tanya Calista.Kay menimbang. "Aku mau bawa motor hari ini.""Oh, oke." Calista mengulas senyum. "Kalau perlu apa-apa kabari aja nanti."Alis Kay berkerut, terdengar sedikit aneh baginya. "Oh, oke.""Kay," panggil Calista, lagi."Apa?""Gak ada apa-apa. Cuma mau bilang hati-hati di jalan."Dari kejauhan Angga melihat keduanya mengobrol dan sedikit penasaran. Langkah Angga cepat mendekati mereka.Kay menangkap pergerakan Angga. "Pa, aku berangkat dulu!" ucap Kay sambil menyambar tas.Angga yang baru saja akan bergabung kemudian berkata. "Sopir yang akan antar kamu sampai depan gerbang sekolah. Jangan jalan sendiri."Kay mendengus pelan. "Pa, aku bisa sendiri.""Di antar, lebih aman juga.""Gak hari ini Pa.""Kay, tolong. Papa cuma khawatir, kamu ingat, kamu pernah masuk ke rumah sakit gara-gara jatuh dari motor. Ujian sebentar lagi. Kamu gak boleh kenapa-kenapa."Ingatan Kay berputar pada kejadian waktu itu. Calista di samping Kay menyadari sesu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 66

    "Gara-gara aku di sini. Mas Angga harus tidur di sofa."Calista memandangi Angga yang masih tertidur lelap dengan tangan bersilang di atas dada. Pagi datang terlalu cepat bagi Calista. Setelah sedikit drama tempat tidur.Semalam Calista dan Angga harus tidur di kamar yang sama. Karena tidak mungkin tidur terpisah, Rita pasti akan mempertanyakan itu.Meski satu kamar, namun mereka tidur terpisah. Calista di ranjang dan Angga di sofa. Angga memberi ruang untuk Calista merasa nyaman.Pernikahan mereka dadakan dan bukan atas dasar cinta. Pernikahan karena sebuah sandiwara yang berakhir dengan pernikahan yang di terima keduanya.Calista memijat pelan kepalanya. Ia terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena cukup istirahat justru karena pikirannya tidak pernah benar-benar tidur.Di satu sisi, ia adalah dokter magang yang harus datang tepat waktu, belajar, mengikuti instruksi, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.Di sisi lain, ia adalah pimpinan perusahaan peninggalan ibunya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status