Mag-log in“Apa?” Semua orang sangat terkejut mendengar ucapan dari Ivanna. Tentu saja ini adalah rencana yang berbahaya dan sangat beresiko. “Mama jangan aneh-aneh. Ini sangat berbahaya apalagi ini menyangkut Serina dan calon bayinya. Damar bisa murka jika tahu hal ini.” sambat Celia. Ivanna tersenyum. “Ini satu-satunya cara, Celia. Dengan Damar kehilangan calon anaknya, maka dia tidak berhak mendapatkan warisan itu. Kita bisa menggugatnya karena syarat untuk mendapatkan HE corp yang diberikan oleh mendiang suamiku sudah hilang. Jadi, Damar mau tak mau harus mengembalikan HE Corp kepada kita.” Maya tersenyum begitu juga dengan Abraham. Mereka seolah menemukan solusi jitu untuk melawan Damar. “Aku setuju. Ini solusi dari masalah kita. Jika kita bisa menghilangkan calon anak itu, maka kita akan menang.” sahut Abraham. “Tapi, bagaimana caranya? Damar pasti akan melindungi Serina.” tanya Aidan. “Damar tidak akan 24 jam berada di sisi Serina. Kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya untuk
Damar melangkah gontai keluar dari kamar Serina. Damar kemudian masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Damar terduduk lesu di sana dan memandangi foto milik mendiang istrinya. Jujur saja, Damar sangat terkejut mendengar Serina mengigau seperti itu. Meski, itu berasal dari alam bawah sadarnya, namun Damar yakin sekali jika itu berasal dari dalam hati Serina. Bahkan, Damar pun sercara tidak langsung menyadari perasaan Serina kepadanya. Sepertinya gadis itu memang benar menyukainya. “Tidak akan ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku, Hanna. Kamu adalah wanita yang aku cintai.” batin Damar. Damar akan tutup pintu hatinya rapat-rapat. Ia bersikap baik eslama ini karena Serina tengah mengandung calon anaknya. Hanya sebatas itu saja dan tidak lebih. Damar kemudian menyakinkan hatinya untuk keluar dari kamar kembali. Damar tak akan menghindar lagi karena hal ini bisa memberikan tekanan kepada Serina dan ia tak mau jika hal ini berdampak buruk kepada kesehatan mental
“Tolong proses dengan cepat. Aku sudah membawa buktinya, jadi ini cukup kuat untuk bisa menangkap dua orang itu.” pinta Damar setelah membuat laporan kepada pihak kepolisian. “Baik, Pak. Kami akan buat surat penangkapan dan akan langsung bergerak mencari pelaku.” Damar menyulam senyumnya. Meski, ia harus mengorbankan tubuhnya sendiri, tapi Damar tak masalah asalkan dua orang itu bisa di penjara. Dengan begitu, Damar bisa memanfaatkan waktu ini untuk menyadarkan sang mama dan juga neneknya. “Kalau begitu, kami permisi dulu. Tolong, laporkan perkembangannya kepadaku nanti.” “Siap, Pak.” Damar dan Felix kemudian bergegas pergi dari kantor polisi. “Apa Bapak perlu ke rumah sakit? Sepertinya, luka Bapak semakin parah.” “Tidak perlu. Ini hal normal dan mungkin akan semakin parah keesokan harinya. Aku bisa mengobatinya sendiri di rumah. Lebih baik, kita pulang karena istriku sudah menunggu di rumah.” Felix menoleh ketika Damar menyebut Serina seperti itu. Jujur saja, ini pertama
Serina gegas membantu Damar setelah Ivanna dan yang lainnya pergi. Dengan air mata yang mengalir deras, Serina membawa Damar ke sofa dan mendudukkan sang suami disana. “Aku ambil kotak P3K dulu.” Serina langsung berlari menuju ke dapur dimana kotak itu tersimpan di lemari atas. Serina benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Serina sangat takut sekali karena wajah Damar yang babak belur parah. Sedangkan, Damar melihat pantulan wajahnya dari layar ponselnya. Abraham dan Aidan menghajarnya dengan parah dan ketampanannya tertutupi oleh luka lebam ini. “Si*alan. Wajahku jadi seperti ini gara-gara mereka.” runtuk Damar kesal. “Mas...” Tak lama kemudian, Serina kembali dengan membawa kotak P3K. “Jangan lari.” ujar Damar memperingatkan. Serina seolah lupa jika kondisinya tengah berbadan dua karena Serina tengah panik saat ini. “Kenapa lari-larian? Itu bisa membahayakan kehamilanmu.” omel Damar. Serina masih terisak dan membuka kotak P3K dengan cepat. Serina mengambil ka
Air mata Serina menetes begitu saja setelah mendengar ucapan Damar. Sungguh, ini adalah kalimat menyakitkan yang pernah Serina dengar dari mulut Damar. Asal Damar tahu, Serina sudah melibatkan perasaannya dalam hubungan ini. Serina tak bisa membendung perasaannya untuk tidak jatuh cinta kepada Damar. Sikap perhatian Damar dan tentunya kebaikan-kebaikan Damar sudah menyentuh hati Serina dan akhirnya membuat Serina jatuh cinta. Apakah itu salah? Sedangkan, Damar adalah suaminya sendiri. Tapi, Serina ingin menarik dirinya dari perasaan semu yang tak akan pernah terbalas. Harusnya, Serina sadar jika sejak awal pernikahan ini terjadi bukan atas dasar cinta.“Bodoh kamu, Serina! Bodoh banget sih!”Serina mengumpati dirinya sendiri. Damar tak akan mungkin mencintai gadis kampungan seperti dirinya. Karena di hati Damar hanya ada satu nama yaitu Hanna. Dan selamanya, tak akan ada wanita yang bisa menggantikan tempat Hanna di hati Damar. “Damar! Keluar kamu!”Baru juga, Serina akan memejamk
Setelah mendapatkan keputusan dari dokter, akhirnya Serina langsung diperbolehkan untuk pulang mengingat kondisinya yang menunjukkan grafik postif. Sore harinya, Damar langsung membawa Serina pulang ke rumah agar sang istri bisa kembali istirahat.Meski, keduanya masih sama-sama canggung, tapi hubungan keduanya sedikit lebih cair. Damar mulai menunjukkan perhatiannya kembali kepada Serina setelah dalam dua hari ini, Damar mengacuhkan Serina. Sedangkan, Serina pun sudah mulai berani mengajak Damar untuk mengobrol. Meski hanya pembahasan yang tak terlalu penting, tapi setidaknya Damar mau menanggapi. Dan setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di kediaman Damar. Namun, ada yang mengejutkan bagi mereka yaitu keberadaan Ajeng dan Vero yang sudah menunggu di teras rumah Damar. Deg!Serina tentunya terkejut. Ajeng bilang memang akan datang dan Serina mengijinkan. Tapi, Serina tak tahu jika Ajeng akan mengajak Vero. Sedangkan, wajah Damar sudah berubah kecut k







