
Jerat Cinta Pembantu Jandaku
Kanaya seorang wanita berusia 25 tahun harus menelan pil pahit dalam pernikahannya bersama Hendra. Kanaya harus rela pernikahan mereka hancur karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Hendra.
Dengan sangat tega, Hendra berselingkuh dengan Susi yang merupakan sahabat dekat Kanaya. Mereka berdua tak punya hati dengan mempermainkan perasaan Kanaya.
Bahkan, Hendra langsung menjatuhkan talak kepada Kanaya, meski Kanaya mencoba bertahan demi putri mereka yang masih berusia dua tahun.
Namun, keputusan Hendra sudah bulat. Pernikahan mereka tak lagi bisa dipertahankan sebab Hendra sudah terpikat dengan Susi.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi, Hendra menggadaikan sertifikat rumah Kanaya dan Kanaya harus menanggung hutang-hutang Hendra.
Alhasil, Kanaya harus memutar otaknya agar tetap bisa menghidupi putrinya dan membayar hutang-hutangnya.
Tawaran dari budenya Lastri, akhirnya membuat Kanaya ikut ke Jakarta menjadi seorang pembantu.
Dan siapa sangka, niat hati ingin mengadu nasib. Kanaya malah di pertemukan dengan takdirnya.
Tanpa Kanaya duga, ia terlibat hubungan yang rumit dengan majikannya sendiri bernama Bramantyo. Bram yang merupakan CEO kaya raya, jatuh cinta kepada Kanaya. Namun, status sosial mereka dan kasta jelas berbeda.
Apakah cinta Kanaya dan Bram akan berlabuh?
Read
Chapter: Bab 120Semua orang terlihat sangat bahagia menyambut kelahiran baby Archio yang sangat tampan. Mereka bahkan tak berhenti memuji kelucuan dan ketampanan dari baby Archio. Bahkan, wajah baby Archio mirip sekali dengan Bram sewaktu kecil. Dan untuk pertama kalinya, Linda bisa merasakan menggendong cucu kandungnya. Linda sampai tak bisa membendung air matanya. Edward yang ada disana pun terus memandangi wajah cucunya itu. Dan ini kali pertama Edward merasakan kebahagiaan yang luar biasa. "Mirip dengan Bram waktu kecil kan, Pa?" ujar Linda mencari validasi. "Mirip sekali. Hidung, bibir, dagu mirip sekali dengan Bram." "Mbak Kanaya dapat hikmahnya saja. Kasihan sekali." ledek Bella. Kanaya yang terbaring di bed hanya bisa tersenyum saja. Meskipun, putranya tak ada mirip-mirip nya dengan dirinya, Kanaya sama sekali tak mempermasalahkannya. Yang terpenting baby Archio lahir dengan selamat. "Aku mau lihat adek, Pa. Aku mau cium adek chio." rengek Zahra yang ada di pangkuan Bram.
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: Bab 119 Sesampainya di rumah sakit, Kanaya lagsung dibawa ke ruang bersalin. Bram pun ikut ke dalam karena ia tak mau meninggalkan sang istri yang tengah berjuang demi melahirkan buah hati mereka. Berjam-jam mereka menunggu pembukaan Kanaya lengkap. Dan selama itu, Bram tak sedikitpun beranjak dari samping sang istri. Bahkan, Kanaya mencoba tak bereaksi berlebihan ketika merasakan betapa sakitnya kontraksi karena ia tak mau membuat Bram khawatir. “Sayang, kamu masih kuat? Kalau tidak, bagaimana kalau kamu bersalin secara caesar saja.” Kepanikan jelas terpancara di wajah Bram. Namun, Kanaya tetap menunjukkan senyumnya di tengah kesakitan yang ia rasakan. “Enggak perlu, Mas. Aku coba normal dulu ya. Soalnya, dulu saat melahirkan Zahra pun aku bersalin secara normal.” Bram mencium punggung tangan Kanaya. Bram bahkan sampai menangis karena tak sanggup melihat istrinya kesakitan seperti ini. “Kamu menangis, Mas?” Kanaya menangkup wajah Bram untuk memastikannya. “Aku enggak tega sama kamu
Last Updated: 2025-12-10
Chapter: Bab 118 Sepulangnya dari pertunjukkan seni Zahra, semua orang pergi ke restoran untuk makan siang. Zahra pun sudah berganti pakaian namun riasannya masih menempel pada wajah gadis cantik itu karena Zahra tidak mau jika makeup nya itu sampai di hapus. Dan alhasil, Kanaya membiarkan Zahra bermakeup peri seperti itu. “Makan yang banyak. Kamu pasti capek sekali tadi.” ujar Linda sembari menambahkan nasi ke piring Zahra. “Penampilanku tadi bagaimana Oma? Bagus tidak? Aku tadi nervous banget sampai-sampai aku pengen pipis di atas panggung.” Celetukan dari Zahra mengundang tawa semua orang. Zahra memang tidak pernah bisa bohong. “Bagus banget. Kamu enggak dengar tadi Oma dan Opa teriaknya paling kencang?” “Dengar kok. Aku sampai geleng-geleng kepala.” Kanaya menahan senyumnya karena Zahra sudah pintar untuk menanggapi orang-orang. Dan Kanaya hanya akan menegur jika Zahra sudah melewati batas. “Onty ambil fotoku banyak tidak? Aku mau ibu upload di media sosialku nanti.” “Tenang saja. Onty
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: Bab 117Waktu berlalu sangat cepat. Kini, usia kandungan Kanaya sudah memasuki bulan ke sembilan. Kehidupan rumah tangga Kanaya semakin harmonis, terlebih lagi dengan mertua Kanaya yang sudah bisa menerima Kanaya sepenuhnya. Di sisi lain, kehidupan mereka semakin tenang sebab Yasmine dan juga Aron sudah mendapatkan hukuman yang pantas atas kejahatan mereka. Dan semoga saja, ini bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk dua orang itu. Dan kini, Bram mulai membatasi aktivitas Kanaya. Bram tak mau Kanaya terlalu lelah karena ini sudah mulai memasuki HPL nya. Bahkan, yang aktif mengatar jemput zahra sekolah adalah Bram dan bergantian dengan Linda. Zahra sudah berusia tiga tahun lebih sekarang dan sudah masuk pra sekolah. Bram memasukkan Zahra ke sekolah yang elit dan itu membuat Kanaya senang karena Bram tak pernah memperlakukan Zahra dengan buruk. “Kamu harus banyak makan sayur dan protein, Kanaya. Tambah lauknya lagi.” Linda langsung meletakkan paha ayam di piring Kanaya yang sudah ham
Last Updated: 2025-12-06
Chapter: Bab 116Du hari kemudian,Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Kanaya yang sebenarnya sedikit mual mencoba menahan diri agar tidak mengganggu keluarganya yang lain. Sedangkan, Zahra begitu anteng menikmati makanannya di sampingnya. “Nanti, kamu akan ke menemani Kanaya untuk memberikan keterangan kepada polisi?” ucap Linda melempar tanya. Bram yang fokus mengunyah pun menganggukkan kepala. “Iya, Ma. Hari ini, jadwal Kanaya untuk memberikan keterangan sebagai korban sekaligus saksi.” Kanaya melirik Bram sekilas lalu kembali fokus menghabiskan sarapannya. “Sepertinya, mereka akan di tuntut dengan hukuman berat. Kejahatan mereka sangat tidak termaafkan dengan memalsukan kematian seseorang,” sambar Setya. Bella menggangguk lalu berkata, “Benar sekali. Semoga saja, mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. “ “Kamu baik-baik saja kan Kanaya? Jangan takut dan katakan yang sejujurnya di hadapan petugas,” pinta Linda. Kanaya menelan paksa nasi
Last Updated: 2025-12-04
Chapter: Bab 115 Setelah dua hari menginap di rumah Kanaya, akhirnya Bram dan Kanaya kembali ke Jakarta. Mereka sudah cukup puas menghabiskan waktu di kampung halaman Kanaya. Bram bahkan sangat senang karena ia bisa melepaskan penatnya dari rutinitas padatnya. Begitupun dengan Kanaya, yang akhirnya bisa menikmati keasrian desa yang begitu ia rindukan itu. “Oh cucu Oma...” Kedatangan mereka langsung disambut dengan bahagia oleh Linda yang memang sudah menunggu kedatangan anak, menantunya dan cucu nya itu. Bahkan, Linda langsung mengambil Zahra dari gendongan Bram. “Oma rindu sekali dengan kamu.” “Aku juga,” jawab Zahra dengan lucunya. Edward pun ada disana. Ia mengelus lembut rambut panjang Zahra lalu menciumnya. Melihat itu, hati Kanaya tesentuh. Kanaya tak peduli jika Edward tidak bsia menerimanya, namun Kanaya sangat bahagia karena putrinya bisa di terima oleh sang papa mertua. “Bagaimana keadaan kalian? Sehat?” tanya Linda. “Alhamdulillah, sehat,”jawab Kanaya. Kanaya mencium punggung
Last Updated: 2025-12-03

Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!
Hidup Serina Veronika seorang mahasiswi yang semula tenang, mulai terganggu dengan kedatangan tetangga baru tepat disamping rumahnya.
Tetanggga barunya yang merupakan seorang pria bernama Damar itu langsung terlibat insiden tidak mengenakkan dengannya sewaktu di bus. Serina menuduh Damar sebagai pria mesum yang melecehkannya di transportasi umum.
“Dasar pria mesum! Beraninya kamu melecehkan saya di tempat umum seperti ini?”
Dengan suara lantang, Serina meneriaki Damar sebagai pria mesum di depan semua orang. Meskipun, Damar mencoba mengelak tuduhan itu, namun Serina masih bersikukuh jika Damar lah yang melecehkannya.
"Bukan saya pelakunya."
Tanpa Serina tahu, ternyata tetangga mesumnya itu adalah dosen baru di kampusnya. Serina tak percaya dengan semua ini, hingga membuatnya mati kutu di hadapan Damar.
Mulai hari itu, mereka terlibat banyak hal bersama. Damar sosok misterius yang menyimpan banyak rahasia nyatanya mampu menarik perhatian dari Serina.
Damar banyak sekali membantu masalah keluarga Serina hingga membuat Serina merasa berhutang budi kepada Damar.
Namun, tanpa Serina tahu, kebaikan yang Damar tunjukkan selama ini nyatanya menyimpan sejuta tujuan yang membuat Serina terperangkap ke dalamnya.
“Kamu harus menanggung dosa yang telah dia lakukan. Aku datang kesini untuk membalas semuanya, Serina.”
Rahasia besar apa yang sebenarnya Damar sembunyikan dari Serina?
Read
Chapter: Bab 152 TAMATSuasana di dalam aula besar itu mendadak hening, hanya suara musik instrumen yang mengalun lirih, memberikan ruang bagi emosi yang meluap-luap. Bapak Surya kemudian meraih tangan kanan Serina, sementara Beni berdiri di sisi kiri adiknya. Mereka berdua bersiap mengapit Serina untuk berjalan melewati aisle yang bertabur kelopak bunga. Damar memberikan ruang. Ia berjalan beberapa langkah lebih dulu menuju altar pelaminan, lalu berbalik badan untuk menyambut pengantinnya. Langkah kaki Surya terdengar mantap di atas lantai marmer, meskipun sedikit lambat. Setiap langkah yang diambil Surya adalah bukti perjuangannya melawan rasa sakit di Jerman, demi satu momen ini. Serina berjalan dengan kepala tegak, air matanya kini telah kering, digantikan oleh binar kebahagiaan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Begitu mereka sampai di depan Damar, Surya menghentikan langkahnya. Ia mengambil tangan Serina, lalu menatap Damar dengan tatapan seorang ayah yang menyerahkan harta paling berharganya
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 151Alunan musik orchestra yang lembut mulai menggema di seluruh penjuru aula besar yang didekorasi dengan ribuan bunga lili putih. Pintu kayu jati yang kokoh itu masih tertutup rapat, namun di baliknya, Serina bisa merasakan ribuan pasang mata tamu undangan sudah menanti. Serina menggandeng lengan Damar dengan sangat erat, jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat tampak sedikit bergetar. Napasnya pendek-pendek, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dadanya. "Mas... aku sangat gugup," bisik Serina lirih. "Rasanya kakiku lemas sekali. Aku tidak tahu apakah aku sanggup berjalan sampai ke pelaminan tanpa terlihat gemetar." Damar berhenti sejenak, ia menoleh dan menatap Serina dengan tatapan yang begitu menenangkan. Ia meletakkan telapak tangannya di atas jemari Serina yang melingkar di lengannya, memberikan kehangatan yang seketika meredakan sedikit badai di hati istrinya. "Tatap aku, Serina," ucap Damar dengan suara baritonnya yang tenang. "Jangan lihat ke kiri atau ke kanan. Cuk
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 150Keesokan paginya, saat Serina masih terlelap karena kelelahan setelah malam yang panjang, Damar sudah berdiri di balkon apartemen dengan ponsel di telinganya. Udara pagi yang dingin tidak menyurutkan ketegasannya dalam memberikan instruksi terakhir. "Felix, bagaimana?" tanya Damar dengan suara rendah. "Semua sudah di pesawat, Tuan. Bapak Surya, Ibu Farah, dan tim medis pendamping sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Estimasi mendarat sore ini. Saya sudah menyiapkan ambulans pribadi dan kursi roda tercanggih agar Bapak Surya tidak kelelahan," lapor Felix dari seberang sana. "Bagus. Pastikan mereka langsung dibawa ke hotel rahasia di dekat gedung resepsi. Jangan biarkan satu pun kerabat atau media tahu keberadaan mereka. Aku ingin Serina melihat mereka pertama kali tepat saat pintu gedung dibuka," perintah Damar. Setelah menutup telepon dari Felix, Damar langsung menghubungi Bram. "Bram, urusan Beni sudah sampai mana?" "Beres, Tuan Damar. Berkat jaminan dan pengaruh Anda, Beni
Last Updated: 2026-01-26
Chapter: Bab 149Malam itu, apartemen terasa begitu sunyi. Hanya suara detak jam dinding dan desis kompor yang menemani Serina di dapur. Ia sedang memotong sayuran untuk makan malam, namun gerakannya lambat, seolah pikirannya melayang jauh melintasi samudra hingga ke Jerman, lalu terjebak di balik jeruji besi penjara. Serina meletakkan pisaunya. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke meja dapur. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, seorang calon pengantin yang tampak begitu kesepian. "Bapak... Ibu..." bisiknya lirih. Bayangan wajah Bapaknya, Surya, yang terakhir kali ia lihat dalam keadaan lemah, terus menghantuinya. Meski Damar selalu bilang Bapak baik-baik saja di bawah perawatan Felix dan Ibu Farah di Jerman, rasa rindu itu tetap terasa seperti lubang besar di hatinya. Ia membayangkan betapa indahnya jika Bapak bisa menggandeng tangannya menuju pelaminan, bukan hanya hadir melalui panggilan video yang dingin. Belum lagi soal Beni. S
Last Updated: 2026-01-26
Chapter: Bab 148Setelah momen pagi yang penuh canda, Serina beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Damar. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas sejak tadi. Melihat nama "Felix” di layar, Damar segera melangkah menuju balkon kamar dan menutup pintu kaca rapat-rapat."Halo, Felix? Bagaimana kabarnya?" bisik Damar sambil sesekali melirik ke arah pintu dapur, memastikan Serina tidak mendengarnya.Suara Felix terdengar sangat antusias dari seberang sana. "Kabar luar biasa, Tuan Damar! Operasi berjalan sangat sukses. Bapak Surya memiliki tekad yang sangat kuat untuk pulih. Dia sudah mulai latihan berjalan dengan kaki palsu barunya pagi ini. Dokter di sini sangat takjub dengan kemajuannya."Damar mengembuskan napas lega, senyum lebar terukir di wajahnya. "Syukurlah. Apakah dia sudah bisa melakukan perjalanan jauh dalam waktu dekat?""Sesuai rencana kita," jawab Felix mantap. "Minggu depan dia sudah bisa terbang kembali ke Indonesia. Dia terus bilang kal
Last Updated: 2026-01-25
Chapter: Bab 147Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat karena hati mereka telah menyatu. Sepanjang jalan, tangan mereka tidak pernah terlepas, saling bertautan di atas tuas transmisi seolah ada magnet yang enggan memisahkan.Begitu pintu apartemen terbuka dan lampu otomatis menyala remang-remang, suasana mendadak berubah menjadi sangat elektrik. Damar tidak langsung melepaskan jasnya. Ia justru menutup pintu, menguncinya, dan langsung menyandarkan Serina ke daun pintu yang kokoh.Serina tersentak kecil, napasnya tertahan saat melihat tatapan Damar yang begitu intens dan dalam, tatapan yang sama seperti di restoran tadi, namun kali ini jauh lebih menuntut."Mas..." bisik Serina, suaranya sedikit bergetar.Damar meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Serina, mengurung wanita itu dalam dunianya. "Tadi di restoran, kamu bilang tidak akan meragukan tempatmu lagi di hatiku, kan?"Serina mengangguk pelan, jari-jarinya meremas ujung kemeja Damar. "Iya, Mas.""Dan kamu juga bilang, kamu tidak akan men
Last Updated: 2026-01-25

Gadis Kesayangan Kapten Posesif
Bagi Rea Niskala, langit adalah satu-satunya tempat ia merasa bebas. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan pemandangan paling menjijikkan di rumahnya sendiri. Bianca, ibu tirinya yang manipulatif, sedang memuja dan bergelayut mesra pada Kapten Arlo Ganendra pilot legendaris yang bekerja di maskapai milik ayahnya.
Rea melihat segalanya, Bianca yang begitu liar menggoda Arlo dan bagaimana Arlo yang diam saja dan menerima semua perlakuan Bianca. Bagi Rea, Arlo bukan lagi pahlawan di kokpit, melainkan pengkhianat yang menodai kesetiaan sang Ayah.
Benih-benih kebencian mulai tumbuh di hati Rea. Rea bertekad ingin menghancurkan Arlo dan Bianca dengan membongkar permainan jahat yang mereka berdua lakukan. Tanpa Rea tahu jika apa yang ia lihat tidaklah seperti yang ia pikirkan.
Namun, takdir berkehendak lain saat ayah Rea, Hendra Niskala, mengalami sebuah kecelakaan besar. Di ambang kematian, Hendra hanya memercayai satu orang untuk menjaga putri tunggalnya yaitu Arlo Ganendra. Melalui wasiat rahasia di balik pintu ICU, sebuah perintah mutlak dijatuhkan.
“Nikahi putriku hari ini juga. Lindungi dia dari semua orang di rumah itu. Aku menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tanganmu sekarang.”
Wasiat itu menjadi bumerang bagi Rea. Rea terjebak dalam sangkar yang dibuat oleh pria yang paling ia benci. Terikat dalam pernikahan yang dipaksakan, Rea harus terbang di bawah otoritas Arlo baik di angkasa maupun di dalam kehidupan pribadinya.
Di antara dendam yang membara dan rahasia yang belum terungkap, Rea harus memilih, terus melawan arus otoritas Arlo, atau menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai penghancur hidupnya adalah satu-satunya pelindung yang rela dicaci demi keselamatannya.
Read
Chapter: Bab 43 MenjelaskanArlo tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia justru mempererat remasan jemarinya pada tangan Rea, seolah ingin menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki. Dengan langkah mantap, ia menuntun Rea berdiri tepat di depan Marc dan Kyle.Suasana ruang tamu yang megah itu mendadak hening, hanya detak jam dinding yang terdengar."Daddy, Mommy," suara Arlo menggelegar tenang namun penuh penekanan. "Perkenalkan, ini Rea Niskala. Wanita yang sudah aku pilih, dan dia adalah istriku."Kalimat itu bak petir di siang bolong. Marc yang tadi tampak sangat kaku langsung meletakkan kacamata bacanya ke atas meja dengan gerakan perlahan namun tegas. Kyle, sang ibu yang sangat elegan, perlahan berdiri dari sofa beludrunya. Matanya yang tajam namun teduh menatap Rea dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba mencerna sosok wanita yang selama ini hanya ia dengar namanya lewat kabar selentingan.Memang benar, mereka tahu Arlo sudah menikah, tapi putra sulung mereka itu sangat tertutup. Arlo bahkan tidak
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 42 Akhirnya BertemuArlo menarik napas panjang, memberikan tatapan dingin terakhir pada Bianca yang masih terlihat histeris di tengah kekacauan ruang kerjanya. Tanpa sepatah kata pun lagi, Arlo mengulurkan tangannya, merangkul bahu Rea dengan posesif dan mantap."Ayo, Rea. Pertunjukan sirkusnya sudah selesai. Biar para Komisaris yang urus sisanya," bisik Arlo, suaranya terdengar sangat tenang di tengah kebisingan teriakan Belinda.Arlo membuka pintu kayu besar itu lebar-lebar. Di luar, puluhan karyawan sudah berkumpul dengan wajah penuh tanya dan bisik-bisik yang menjalar cepat. Begitu Arlo dan Rea melangkah keluar, keheningan mendadak tercipta. Semua mata tertuju pada mereka pasangan yang baru saja mengguncang tahta sang ratu palsu.Mereka berjalan menyusuri koridor dengan kepala tegak. Rea tidak lagi menunduk atau merasa terintimidasi. Dengan rangkulan Arlo yang kokoh di bahunya, ia merasa seperti pemilik sah yang baru saja kembali ke rumahnya sendiri."Kamu beneran mau serahin semuanya ke Pak Baskoro
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 41 Melawan Bianca"Diam kamu, Bianca!" bentak Pak Baskoro sambil membanting map dari Arlo ke atas meja Bianca hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. "Jelaskan pada kami, sejak kapan uang bahan bakar pesawat berubah menjadi uang belanja tas mewah ibumu di Paris?!"Rea berdiri di ambang pintu, bersedekap sambil menatap pemandangan itu dengan kepuasan yang sulit dilukiskan. Arlo yang berdiri di sampingnya menyentuh bahu Rea pelan, memberikan isyarat bahwa ini baru permulaan dari kejatuhan sang ratu palsu.Bianca sempat tersentak, namun dengan kecepatan luar biasa, ia berhasil mengubah ekspresi terkejutnya menjadi senyum tipis yang tampak dipaksakan. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, merapikan blazer mahalnya, lalu melangkah tenang mendekati meja seolah tidak ada badai yang sedang menerjang."Bapak-bapak, Ibu-ibu... tenang dulu. Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah emosi begini?" suara Bianca terdengar halus, mencoba mencairkan suasana. Ia melirik map yang dibanting Pak Baskoro dengan tatapan sek
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 40 Menjalankan RencanaSesampainya di depan pintu kamar masing-masing, langkah Arlo terhenti tepat saat tangannya baru saja menyentuh gagang pintu. Ia menoleh sebentar ke arah Rea yang masih berdiri kaku di lorong apartemen, tampak gelisah dengan jemari yang saling bertautan.Rea sebenarnya sedang bertarung dengan egonya sendiri. Rasa hangat dan aman yang ia rasakan semalam di pelukan Arlo mendadak menjadi sesuatu yang ia rindukan, apalagi setelah hari yang melelahkan dan penuh emosi ini. Ia ingin sekali lagi tidur di samping suaminya itu, tapi bibirnya terasa kelu. Ia gengsi. Bayangan Arlo yang bakal besar kepala dan menggodanya habis-habisan kalau ia minta tidur bareng benar-benar membuatnya ragu."Kenapa? Masih ada yang mau diomongin soal rencana besok?" tanya Arlo, memecah keheningan dengan suara rendahnya yang khas.Rea tersentak, lalu buru-buru menggeleng kecil. "Eh, nggak. Maksudku... itu, besok kan bakal jadi hari yang panjang. Kamu... kamu beneran yakin semuanya aman?"Arlo melepaskan gagang pintu,
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 39 Menyusun RencanaMarco menghela napas panjang, ia melepas kacamatanya sejenak dan memijat pangkal hidungnya. "Agak pelik, Kapten. Saya sudah coba temui dokter yang ngeluarin surat keterangan kesehatan Pak Hendra waktu itu. Tapi dokter itu tidak mau mengaku soal pemalsuan surat kesehatan Pak Hendra.” "Lalu gimana soal saksi mata yang ada di ruangan waktu itu, Marco?" tanya Arlo kemudian. "Pria itu sudah saya temukan dan sekarang berada dalam markas, Kapten. Dia saksi kunci saat kejadian itu. Tapi masalahnya, dia masih diam seribu bahasa. Sepertinya Bianca sudah kasih dia uang tutup mulut yang jumlahnya nggak main-main, atau mungkin dia diancam," jawab Marco dengan nada kecewa."Terus notarisnya gimana? Dia kan yang paling bertanggung jawab legalitasnya," kejar Arlo lagi.Marco menggeleng pasrah. "Nah, ini juga nggak kalah rumit. Notaris yangbuat surat wasiat itu sudah kabur ke luar negeri setelah Pak Hendra meninggal. Jejaknya hilang, seolah-olah dia ditelan bumi."Rea mendengus kasar, tangannya
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 38 Pertemuan di KafeBegitu pintu mobil tertutup rapat, pertahanan Rea runtuh seketika. Bukan dalam bentuk tangisan, melainkan amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang mungil mengepal keras, memukul-mukul dashboard mobil Arlo berkali-kali tanpa mempedulikan rasa sakitnya.BUK! BUK! BUK!"Sialan! Wanita ular itu bener-bener nggak tahu malu!" teriak Rea, suaranya parau karena emosi yang meluap. "Dia pikir dia siapa, hah?! Datang ke hidup Papa cuma jadi benalu, sekarang malah ngerasa punya segalanya? Dia pecat aku di depan orang banyak seolah aku ini sampah!"Arlo tetap fokus menyetir, meski rahangnya mengeras setiap kali mendengar hantaman tangan Rea pada mobilnya. Ia tidak menghentikan Rea. Ia tahu istrinya butuh mengeluarkan racun itu dari dadanya sekarang juga."Terus liat Belinda tadi... astaga, Arlo! Perhiasan yang dia pakai itu punya Mamaku! Tas-tas mahal yang dia pamerin itu dibeli pakai uang Papa! Mereka tuh maling, Arlo! Maling yang ngerampok hidup aku!" Rea terus merutuk, air matanya jatuh bukan
Last Updated: 2026-03-25