LOGINSerena Harp thought she was escaping heartbeat when she took a last-minute trip to Paris. It was supposed to be nothing more than a distraction; a borrowed vacation meant to heal a broken heart, but she never expected to be met at the airport by a man who knew her name… or to follow him straight into a nightmare. Galatia Berk is powerful, cold, and hiding something dangerous beneath his calm exterior. When Serena realizes she hasn’t been taken to a hotel but tricked to his isolated estate, fear is the least of her problems. Because the pull between them is undeniable, and entirely unwanted. That night, Galatia realizes something strange, something that wasn't possible; Serena was his mate, except alphas don't get human mate, but was she truly human, or was her ability and scent concealed because of something bigger than even her? As secrets begin to surface and the truth of Galatia’s world comes into light, Serena is forced to confront a reality she never believed in, and a bond neither of them wants, but neither can escape. He took the wrong woman from the airport, but fate… or the moon goddess, never makes mistakes.
View More"Lebih baik kau menjadi janda, dari pada terus ditinggal seperti ini Mona."
Mona, wanita cantik bertubuh seksi itu hanya bisa tersenyum. Sudah menjadi makanan sehari-hari, ketika para tetangga itu menggunjingnya. Dengan penuh kesabaran, Mona selalu menahan amarahnya."Suamiku itu bukan pergi tanpa alasan yang jelas. Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami setiap harinya," ucap wanita cantik itu, dengan senyum indahnya."Ah itu cuma alasan, bagaimana jika dia menemukan wanita idaman lain di luar sana?"Mona sudah sangat lelah mendengar semua ocehan tetangganya itu. Dia berpikir, lebih baik pergi daripada bertengkar dengan mereka."Maaf ya Ibu, saya masih ada urusan di rumah. Permisi.."Sebuah alasan yang membuat Mona bisa pergi dari kerumunan ibu-ibu tukang gosip itu. Walaupun mungkin nantinya dia akan digosipkan lebih parah dari pada ini. Itu tidak masalah, asalkan semua gunjingan itu tidak dia dengar lagi.Mona, dia hidup sendiri di sebuah rumah mewah. Wanita cantik itu memiliki seorang suami yang baik dan juga kaya raya bernama Raka. Namun lelaki itu bekerja di luar negeri, sehingga tidak bisa selalu melihat sang istri setiap saat. Situasi ini membuat Mona merasa begitu kesepian, dia tidak bisa merasakan kehangatan seorang suami yang begitu dirindukannya. Hanya sebuah telpon dan pesan singkat yang Mona terima setiap saatnya, tidak ada kemesraan atau pun hubungan ranjang yang panas.Sebagai seorang yang sangat sibuk, Raka hanya bisa memanjakan sang istri dengan uang yang berlimpah. Satu bulan sekali dia mungkin pulang, namun setelahnya pergi untuk waktu yang lebih lama lagi. Semua itu membuat Mona tidak merasa bahagia. Namun demi sebuah perasaan yang ada di dalam hatinya, dia tetap bertahan.Uang dan keduniaan memanglah penting, namun jika waktu yang di miliki kurang, apa gunanya semua itu? Mona hanya ingin perhatian, dia hanya ingin sebuah kasih sayang dari sang suami. Semua itu masih belum dia dapatkan, bahkan sebuah kabar saja rasanya sulit sekali.Terkadang Mona sempat berfikir, apakah hubungan rumah tangganya akan berakhir seperti ini?"Kakak? Kak Mona?"Suara seorang lelaki membuat wanita cantik itu menatap ke belakang. Dia melihat sang adik ipar dengan sebuah kantong kresek yang ada di tangan kanannya. Andri, itulah namanya.Seperti biasa, Andri selalu mengantarkan makanan yang dibuatkan oleh mertuanya dari rumah. Sebuah perhatian kecil agar Mona tidak terlalu merasa kesepian di rumah, terlebih karena wanita itu masih belum memiliki seorang keturunan. Sebagai seorang adik ipar yang baik, Andri hanya berusaha untuk menuruti apa yang di perintahkan oleh Raka sang kakak. Setidaknya untuk sering mengunjungi Mona di rumah."Andri, sejak kapan kau di sana?"Mona tersenyum sembari menghampiri sang adik ipar yang berdiri di ambang pintu, dia menepuk bahunya pelan untuk bergurau."Kenapa diam di sana? Apa kau seorang pengantar paket? Masuklah Andri, ini bukan rumah orang lain. Ini adalah rumah kakakmu," ucap Mona kepada lelaki itu.Andri tersenyum kecil, "Bukan begitu. Kakak kan tinggal di sini sendirian, jadi tidak enak juga jika langsung masuk seperti yang Kakak pinta.""Kau ini bicara apa? Cepat masuklah! Aku akan membuatkan kau kopi atau teh."Mona menarik lengan adik iparnya itu, mau tidak mau Andri pun duduk di sana. Lelaki itu sempat malu karena merasa tidak enak jika harus seperti ini, iya mungkin karena sebuah hal."Ibu memasakkan Kakak sup iga, dan aku juga membeli Boba tadi ketika di perjalanan."Andri menyodorkan apa yang dia bawa dalam kantong kresek itu, Mona pun langsung tersenyum ketika melihat apa yang ada dihadapannya. Sebuah minuman yang sangat dia suka."Baik sekali, kalau begitu aku tidak jadi membuat minum. Lebih baik duduk manis di sini saja bersamamu."Mona duduk tepat di hadapan Andri, namun lelaki itu malah memalingkan pandangannya. Bukan tanpa sebab, tapi karena Mona duduk dengan kaki terbuka sehingga dalaman wanita itu sampai terlihat oleh Andri. Entah sadar atau tidak, yang jelas hal itu membuat Andri malu sendiri.Apa dia sengaja? Astaga miliknya terlihat jelas seperti itu. Kak Mona, apa kau sedang menguji kesabaran ku lagi? Batin Andri resah.Lelaki tampan itu berpura-pura untuk menatap ponselnya, sedangkan Mona masih santai menyantap makanan dan juga minuman yang dibawa oleh Andri."Kau tidak makan? Hey Andri?" Tanya Mona kepada lelaki di hadapannya."Tidak, aku sudah makan di rumah tadi. Oh iya Kak, ngomong-ngomong kak Raka kapan pulang? Rasanya bulan ini dia jarang sekali membalas pesan dariku," ucap Andri kepada sang Kakak ipar."Entahlah Andri, Kakakmu itu selalu mengatakan sibuk dan sibuk. Entah apalagi yang ingin dia kejar, padahal sebagai seorang istri aku tidak terlalu meminta apapun. Aku hanya ingin jika Raka berada di Indonesia lebih lama."Wajah Mona terlihat sangat sedih sekarang, apalagi ketika Andri membicarakan tentang suaminya. Raka, dia selalu fokus dengan pekerjaannya. Mungkin hanya uang dan juga posisi yang dia cari saat ini, padahal Mona juga membutuhkan kasih sayang dari suaminya itu. Dia sudah cukup menderita dengan rasa kesepian ini, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menelannya sendiri.Andri, mungkin hanya dia yang sering mengunjungi Mona di sini. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal, belum lagi dengan sang mertua yang selalu sibuk. Jadi spa yang bisa Mona lakukan? Tidak ada.Mona hidup sendiri di rumah mewah ini, tanpa ada anak ataupun orang yang bisa mengerti dirinya. Jika boleh memilih, kenapa dia harus mau menikah dengan Raka? Jika pada akhirnya hanya kesepian yang dia dapatkan."Kak? Apa Kakak baik-baik saja? Maaf jika pertanyaan ku membuat Kakak merasa sedih."Lelaki tampan itu pindah ke tempat sang kakak ipar duduk, dia mengusap lengannya agar Mona tidak merasa sedih lagi. Namun apa yang dirasakan oleh wanita itu? Dia malah merasakan sensasi yang berbeda. Sebuah sentuhan itu membuat si wanita kesepian terangsang dibuatnya. Andri, kau sudah salah langkah sekarang!Mona sadarlah! Dia bukan siapa-siapa kecuali adik ipar mu sendiri. Jangan berpikir macam-macam! Sadarlah Mona! Batin wanita itu.Mona bangun dari tempatnya duduk, "Tidak ada Ndri, oh iya maaf Kakak ingin ke belakang dulu. Kau ingin dibuatkan sesuatu?""Tidak, oh iya Kak kalau begitu aku pamit pulang saja. Maaf untuk yang tadi, jika Kakak mau besok kita pergi keluar. Iya setidaknya agar Kakak tidak merasa terus kesepian di rumah."Andri tersenyum manis, dia juga langsung mengambil kunci motor yang ada di atas meja itu lalu pulang. Mona hanya bisa menatapnya dari jauh, bahkan ajakan dari adik iparnya itu masih belum dia jawab. Namun dia yakin jika Andri akan kembali datang besoknya."Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia benar-benar ingin mengajakku keluar? Astaga, kenapa akhir-akhir ini aku dekat sekali dengan Andri?"Mona mungkin sadar, jika akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan adik iparnya itu. Mungkin karena sang suami sendiri yang meminta Andri untuk sering mengunjungi istrinya di rumah. Padahal itu bukan ide yang bagus, terlebih karena di masa lalu, Andri sempat menyukai kakak iparnya itu.Serena’s POVBy the time I was done showering, and had put on my nightwear, I wondered what Galatia would think. It was really late because I had stayed in the bathroom for a long while. I looked at the door of my room, pondering on whether or not I should just lock it and pretend I had gone to bed, or just honor my word and go meet him. Sighing, I shook my head and decided to just go and hear him out, whatever it was. I walked out of my room, and padded silently towards his. The hallway was quiet, too quiet that it crossed my mind that he might have gone to bed. Every step I took felt like my heart was going to shatter out of my chest. It was beating faster than normal, and I told myself it was just because of everything that had happened these past few days… not because I was walking toward his room.I stopped in front of his door, staring at it for a moment.That was funny anyway, the fact that he has asked me to his room when he had not wanted me there and warned me agai
Galatia’s POVAfter dinner, I knew Serena was going to try her best to avoid coming to my room, so I decided I would go to hers instead. I was determined to see and talk to her.Audrey’s meeting had ran more than she thought at the hospital so she had been unable to come back home, so I was kind of alone with her, aside from Dahlia who had had dinner with us on Serena’s request. She had also not wanted to be alone with me, but if I wanted her to understand what it took to be my mate, I needed to start getting close to her, whether or not she liked it. I lingered in the dining area a little longer than necessary after we finished eating, watching her from across the table as she spoke to Dahlia, already knowing she was planning her escape. The way she avoided my gaze, the way she stood up just a little too quickly when she was done… yeah, she wasn’t coming.I almost smiled to myself.She said nothing to me at all, and she just nodded her head to Dahlia, probably preparing to d
Serena’s POVBriefly, Dahlia had stepped out of the house to go for grocery shopping, and Audrey had left earlier this morning for a meeting. Galatia was in his office, busy, so I had the house to myself in a way, at least, for a little while, so I decided to make lunch. The last thing I wanted to do was sit around without doing anything. Back home, I would be at my bakery at this moment, or doing one thing or the other, but here, I didn’t really have much to do. Walking to the fridge to, I stood in front of it to scan the inside to see what was there. I was planning to make creamy pasta, so I wanted to see my options. After bringing out all I needed, I walked to the cabinet to pull out the pasta, but my hand wouldn’t reach it. Pushing up on tiptoes, I closed my eyes and started to reach for it, pushing more and more and stretching so I could reach. My fingers had barely grazed it when I felt a heat behind my back, and a hand swiftly wrapped around my waist. Galatia! He st
Serena’s POVShaking my head, I stared into nothing, thinking about everything after Galatia and the man left. If they were lying, I didn’t think they would be that convincing. Besides, the expression on their faces were genuine, it was either the truth or they were really good actors. Either way, I was thinking about it. Turning to look at Audrey, I asked. “So tell me, what do you think I need to do?” Audrey clapped her hands dramatically, giving me a small smile. “First, you need to accept that all of this is nothing but the truth, then you’re going to find a way to get your sister to take a break and come over here. We can then start to work on you both.” She said. For a moment, I stared at her as if I was trying to determine if she was being serious, then when I realized that she was, I threw my head back and laughed. “That’s crazy. You’re crazy, aren’t you?” I asked. Audrey gave me a look like she was confused. Well, she shouldn’t be, because just how was she thinking I
Serena’s POVA knock sounded against my door that evening and I sighed, pushing back the blanket against my leg before standing up.“One minute,” I called, walking to the mirror to straighten my hair and make sure I didn’t look miserable before opening the door, because for all I knew, it was Galat
Galatia’s POVAs soon as I stepped into my room, the scent that assaulted my nostrils was hers, and I knew instantly, that she was in here.I turned to look at Dahlia, wanting to ask her why she had let this happen, but I also knew the poor woman couldn’t win against Sidney Harp.“Where is Ms. Harp?
Serena’s POVDrenched in sweat, I woke up with a scrambled mind, and for a moment, I couldn’t even tell where I was. My mind was blank as I looked around the room, the fine fabric on the bed, the rich fibre curtains, and everything else in this room.A moment later, I remembered where I was, kidnapp
Galatia’s POVLater that evening, the yelling reached me all the way from my office, and it was loud enough that I immediately knew who was responsible. I didn’t need confirmation, didn’t need to ask. Of course it was her. Sidney… or whatever her name was, had already made herself impossible to igno
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews