LOGINChiara has never been wanted. Everyone thought of her as a burden and waste of space all her life. When an opportunity presented itself to prove her worth, she eagerly grabbed it. Little did she know that her choice would strip her freedom away and chain her to be the wife and property of Adrian, Alpha of the Galway Pack. A loveless marriage and a cruel husband she can't escape away from, finding her fated mate is now a distant fantasy for her. That was until another alpha bulldozed his way into her life and forced her to take the reigns of her fate once more. Lance is a rogue alpha on the run for over a decade. Blamed for the death of his former pack, he tried to start a new life away from the city and other wolves. However, he's eventually caught by the Galway Pack and offered a second chance as a personal bodyguard for the Alpha's wife. It is a sin for him to set his eyes on Chiara, much more to fall in love with the pack alpha's mate, but his wolf and heart have other things to say. An omega in a gilded cage and a rogue alpha chained by his past sins... can Chiara and Lance find the courage to carve their own paths, or will they simply be swept away by the raging river of fate?
View MoreSurabaya, 2016
“Apa yang kamu inginkan sekarang?”
Gadis cantik yang tengah memandang ke luar jendela kafe itu menoleh ke samping. Dia menatap kekasih yang sudah menemaninya selama 10 bulan itu dengan sorot sedih. Dia mencengkeram ujung meja dengan erat sampai membuat jari-jarinya memutih. Rahangnya mengerat menahan sesak yang seakan-akan siap meledak kapan saja.
“Aku ingin hubungan kita selesai sampai di sini.”
Bian melebarkan matanya. Hanya sebentar saja sebelum kemudian dia kembali memasang wajah dingin dan tidak terbaca. Pemuda itu mengambil gelas es kopi susu di depannya dan memilih meminumnya dengan pelan dan terlihat begitu santai di mata Fio.
“Apa kamu mendengarku?” Fio menatap Bian dengan tajam.
“Ya,” Bian mengangguk. “Mau bagaimana lagi kalau itu yang kamu inginkan?” pemuda itu mengambil tasnya.
“Maksud kamu?” mata gadis itu berkedip tidak percaya.
Bian berdiri dari duduknya dan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana dengan panjang selutut itu. “Ayo kita akhiri semuanya sampai di sini,” Bian berkata dengan nada terlewat tenang.
Fio ikut berdiri dan menatap Bian tidak percaya. “Ka…kamu…” Fio tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Bian karena lidahnya terasa kelu.
Bian menatap jam tangannya dan menganggukkan kepalanya. “Aku harus pergi,” katanya dengan tanpa senyuman. “Jaga dirimu baik-baik,” tanpa berkata lebih panjang lagi Bian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Fio.
Fio mematung di tempatnya berdiri seolah-olah yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi buruk untuknya. Matanya menatap kepergian Bian dengan nanar. Lapisan bening sudah menghiasi matanya. Tubuhnya terasa lemas hingga membuat kakinya seperti sulit untuk di gerakkan. Sampai sosok Bian pergi mengendarai motornya meninggalkan parkiran kafe, Fio masih betah berdiri di tempatnya dengan hati yang terbelah.
***
Hari sudah berganti malam ketika Fio tiba di rumahnya. Tidak ada binar di matanya seperti biasa. Gadis itu sudah memasang wajah muram sejak turun dari sepeda kesayangannya. Dia memilih langsung menuju ke kamarnya. Fio tidak memiliki kekuatan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang baik-baik saja bahkan gadis itu rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok karena rasa frustasinya terhadap Bian yang jauh dari dugaannya.
Fio melemparkan tas ranselnya ke atas ranjang begitu dirinya masuk ke dalam kamar. Dia juga membanting pintu dengan sekuat tenaga. Matanya memerah dan dadanya sudah naik turun akibat tangis yang sejak tadi sudah dia coba tahan dengan sekuat tenaga. Punggungnya bersandar pada pintu. Tubuhnya merosot ke bawah tanpa aba-aba. Fio menangis dengan suara tertahan dengan tangan kanannya yang sudah meremas dada dengan kuat.
“Sakit sekali,” ucapnya sambil terisak lirih.
Fio memukul-mukul dadanya untuk mengusir semua rasa sakit yang menggelayuti dirinya sejak Bian pergi begitu saja dari kafe meninggalkan dirinya sendirian. Fio menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya dan terus menangis. Sesak yang dia rasakan tidak juga mau pergi. Fio kewalahan dengan luka yang Bian beri di hatinya.
“Kamu berkata kalau kamu sayang padaku tapi dengan mudahnya kamu pergi begitu saja, sebenarnya selama ini apa arti aku di hidup kamu, Bi? Apa?!” Fio bermonolog.
Sunyi yang terasa dan dinginnya lantai kamar membuat Fio semakin menggigil dalam tangisnya. Dia memeluk dirinya sendiri dengan erat. Kepalanya mendongak dan matanya menatap nyalang ke arah meja belajar yang terletak di samping jendela kamarnya. Fio mengepalkan tangannya dengan kuat dengan rahang yang mengetat.
Gadis itu berdiri dan berjalan dengan cepat. Lalu, dengan tangan kanannya dia meraih pigura kecil yang berisi foto sepasang anak SMA yang sedang tertawa menghadap kamera. Manis sekali. Fio tersenyum miring. Dengan cepat dia mengeluarkan selembar foto yang selalu menjadi favoritnya itu dari pigura. Tangannya bergetar hebat.
“Baiklah,” dia mengusap air matanya dengan kasar. “Ayo kita akhiri saja semuanya ini,” Fio kemudian merobek selembar foto di tangannya dengan perasaan marah dan hancur.
Dia kemudian membuang foto yang sudah tidak berbentuk itu ke dalam tempat sampah yang berada di samping meja belajarnya. “Mari kita berjalan sendiri-sendiri mulai sekarang,” Fio kembali mengusap air matanya yang kembali meluncur bebas ke pipinya.
Dengan langkah kesal, dia berjalan menuju ke kamar mandi. Dia butuh berendam air hangat untuk menghilangkan segala rasa lelah di tubuhnya. Fio tidak lagi menangisi sosok Bian. Gadis itu sudah terlihat seperti zombie sekarang. Dengan cekatan Fio mengambil bath bom dengan aroma lavender yang menenangkan. Dengan pelan dia masuk ke dalam bath up dan mencoba bersantai sejenak.
Suasana taman di dekat sekolah Bian sore itu tidak terlalu ramai seperti biasanya. Angin sepoi-sepoi kembali menerbangkan anak rambut Fio yang terlepas dari kuncirannya. Fio terlihat sangat cantik di bawah terpaan matahari yang bersinar hangat. Bian tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu sejak semalam. Inilah saatnya, dia tidak akan menahan diri lagi.
“Aku menyukaimu,” Bian berkata dengan wajah berbinar.
Fio melebarkan matanya. Dia hendak mengeluarkan sebuah kalimat tapi dengan cepat tangan Bian terangkat dan memberikan kode supaya Fio tidak memotong ucapannya. Bian tersenyum. Satu tangannya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Fio dengan pelan.
“Kamu tahu Fi? Aku sudah lama menyukaimu tapi aku tidak pernah berani mengatakannya,” Bian meraih tangan Fio dan menggenggamnya. “Aku selalu memikirkan bagaimana jadinya kalau kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, tapi…” Bian kembali tersenyum. “Setelah aku pikir-pikir lagi semalam, setidaknya kalau kamu menolakku, tidak akan ada penyesalan karena aku sudah bertindak benar dengan mengatakan cinta padamu,” Bian menelan salivanya dengan tenang.
Fio merasa jantungnya berlomba saat itu juga. Detakan yang berubah dua kali lipat membuat gadis itu merasa tegang menanti apa yang akan dikatakan oleh Bian selanjutnya. Fio memasang kedua telinganya dengan baik. Dia tidak ingin salah menangkap maksud Bian.
“Jadi kekasihku ya, Fi?” Bian menatap Fio dengan sorot mata serius.
Fio mengedipkan matanya sekali. Mulutnya sedikit terbuka. Dia merasa banyak sekali bunga-bunga yang akhirnya bermekaran di dadanya. Rasa menggelitik yang membuat hatinya membuncah membuat Fio menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman yang membuat Bian menghembuskan nafasnya lega.
“Terima kasih,” kata Bian tulus.
Fio mengangguk. “Aku juga harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu karena kamu mau memilihku,” Fio tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya.
“Tidak susah untuk mencintai dan memilihmu, Fi.”
Fio tertawa. “Kamu berbohong, kamu bahkan memerlukan waktu beberapa bulan sampai berani mengatakan ini semua kepadaku,” Fio memukul pelan bahu Bian.
Bian menggelengkan kepalanya. “Bukannya tidak berani, hanya memastikan rasa yang aku miliki memang untuk kamu, aku tidak mau hanya karena rasa euphoria semata aku jadi mudah mengatakan cinta dan meminta anak gadis orang untuk menjadi kekasihku,” Bian menyanggah dengan mata yang menatap Fio lekat.
“Ckh!” Fio melemparkan tatapannya ke arah lain sejenak sebelum kemudian kembali menatap Bian yang duduk di sampingnya dengan seragam basket sekolah yang masih melekat. “Apapun itu aku tidak akan peduli lagi, mari kita mulai semuanya dari awal, Bi?” Fio tersenyum lebar.
Bian mengangguk. “Hmm, mari menyambut banyak hari baik mulai saat ini, Fi, berjanjilah apapun yang terjadi kita harus saling mempertahankan,” ucap Bian.
I smiled at Connor as he approached us, but deep inside, my heart was pounding. Lance looked unaffected, though. Perhaps slightly angry, with a slight furrow between his brows and lips quirked down. Other than those reactions, he seemed wholly calm.I wished I could be as composed as him. My hands were already starting to shake again, and I had to repeatedly pinch my skin to ground myself. There was a prickling feeling on my neck, as if someone was watching me. It's as if Adrian was staring at me with disappointment.'Who do you belong to?' His voice inside my head asked.'You belong with me. Too broken for anyone else other than her Alpha. I own you, Chiara. You're mine. Mine, mine, mine—'"Madam?"I jolted out of my trance and found Connor staring at me worriedly. The mismatched colors of gray and blue in his eyes were more prominent in the early morning sun. He wasn't looking at me like I was a traitor set for the gallows. He wasn't readily dragging me towards the compound and tell
Between the murderous thoughts running through my head, thinking how dare these mutts threaten my mate, and the nauseating indignation as to how she could think I couldn't protect her myself, deep down, I knew what Chiara was doing.Still, when the shifters moved closer to our position, I couldn't stop the snarl that ripped from my throat. My wolf pushed against the confines of my body, begging to be let out and lay havoc. Elongated canines dug deep into my lips, and claws slipped from my fingertips.Depending on the Alpha, the effect of his dominance could vary. Adrian's dominance was a toe-curling chill that sunk deep into a person's bones. It was designed to instill fear, immobilize, and bend others to his will. Fitting for someone of his designation.As for mine?I didn't need the theatrics. Out in the woods, where I had no one to rule, and everyone else was my enemy, it was better to keep things straight to the point.The shifters gasped and fell to the ground like puppets with t
"You left too early last night."Adrian's voice was measured, and his face looked calm and composed. I tried to get a read of him as we continued eating in the dining room, a spread of breakfast and pastries separating us. Despite my efforts, I couldn't determine whether he was simply curious or hiding his anger.After seeing the Rogue... or Lance, I returned to my room last night. I couldn't bear to stay in the same space with Adrian, and my brief talk with Lance left me unbalanced. I hoped Adrian would be calm enough when morning came, and we could return to our previous routine.Routine meant predictable actions. Routine meant I could plan ahead.But this, Adrian Galway, hiding his emotions? It meant bad things.I swallowed another bite of food before answering him. "I needed something from my room, and I figured you wouldn't want to be disturbed in your sleep. So, I decided to stay back."Adrian hummed while meticulously slicing a slab of bacon. I watched his deft fingers move, im
The scent of roses still lingered, cloaking my body like a comforting blanket. It's the only buffer I had against the murderous thoughts running in my head because fuck me... those damned wounds...I kept repeating my meeting with my mate as I lay on my bed. I purposely snuck out in the middle of the night, hoping to find where she was staying. When my wolf felt her presence near the garden balcony, I stayed until the bond led her to me.It took all my control to stop my wolf from ravaging her right then and there. We were feeling equally betrayed and desperate, a yearning so painful it rivalled the one I've always harboured in my heart. Even in her bed-rumpled state, my mate looked oh-so-fucking delectable.And then I saw the welts, and all lustful thoughts went out the window.I swear when I saw that bastard Adrian again, I would strangle him with my bare hands. I would take great pleasure in seeing his black and blue face under me, the light in his eyes dimming as I exact his judgm
Smack!My shoulder throbbed as the bloody bastard brought down his baton against it. I snarled and tried to shrug the mutt off, but my cuffed hands didn't help. Instead, I fell on my knees, my teeth knocking painfully from the impact.Hands gripped the scruff of my shirt, dragging me forward."If y
"Let's all welcome, Galway's Pack Alpha, Adrian!"The host's voice boomed throughout the ballroom, and the guests turned their heads to us as we entered. My hand was in the crook of Adrian's elbow. He expertly maneuvered us through the crowd, greeting each of them as he walked toward the center. I
Three Years AfterWincing, I dabbed the make-up brush harder against my skin. The foundation gradually concealed the finger-shaped marks around my neck. After I put on the choker again, it would look like nothing had ever happened.Just the way I liked it.Every day, it got harder to cling to my qu
Run.Run as fast as you can.Don't look back. Don't falter. Just keep running. Just keep -"Ahhh!!"My internal mantra got interrupted when my feet tripped over an exposed root. It sent me tumbling down a small hill, scrapes and cuts marring my fair skin. I couldn't stop myself from yelping, and no






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.