LOGINBrandon Wolfram is the poster boy for heartbreaks and disaster. The boy everyone fears and lusts after. The kind of boy who will leave you broken and sprawled out on the bathroom floor, wishing you never met him and the boy, after whom your life will never be the same. An enigma. An addiction. An obsession. Faith Millar knew exactly what she was getting into when she fell in love with Brandon…and yet, it was too late to give up. Because if there was one thing he was good at, it was driving a woman wild with desire and leaving them wanting more. And Faith wanted a lot more than just his body. She wanted his heart. But will Faith, a shy, introverted virgin of all people, be able to tame the quintessential bad boy? Or will she become just another notch on his bedpost? Or this time…will Brandon become the one obsessed with the innocent little mouse?
View MoreMarshella keluar dari toko berhiaskan krans khas Natal. Salju turun semakin lebat. Bulir-bulirnya menempel di mantel tebal berwarna merah tua yang dikenakannya. Seraya merapatkan mantel dan berjalan ke jalan utama Shaftesbury Avenue dan menunggu bus di halte.
Smartphone gadis itu bergetar.
“Ya, Angel?” sapanya setelah menggeser ikon gagang telepon berwana hijau.
“Jangan pulang, Ella!” Suara adiknya terdengar penuh penekanan dan pelan.
“Kenapa suaramu berbisik?” Bus merah bertingkat berhenti. Marshella memeluk goodie bag berisi pernak-pernik Natal dan bergegas masuk begitu pintu bus dibuka.
“Dia datang! Dia mencarimu!”
“Dia? Dia siapa?” Marshella menjatuhkan diri ke kursi. Tidak banyak penumpang di malam bersalju ini. Hanya ada dirinya dan tiga orang pria dengan mantel hitam dan top hat yang sering muncul di film berlatar abad pertengahan.
“Manajer penerbitan. Dia ada di sini.”
Marshella memutar jenuh kedua bola matanya. “Edgar? Besok Natal. Apa dia tidak punya waktu untuk istirahat?”
“Entahlah. Jadi, kau mau pulang menghadapinya sendiri atau aku sedikit memberi alasan padanya? Dia bilang, pengusaha itu memberikan bayaran yang lumayan kalau kau menerima tawaran.” Angelica terdengar bersemangat meskipun suaranya masih tetap berbisik.
“Aku tidak punya waktu untuk itu,” jawab Marshella kesal.
“Tapi aku punya. Katakan saja kalau kau sudah menunjukku sebagai perwakilan. Aku akan memasang harga yang mahal untuk bukumu itu, Sister. Dan lagi, pengusaha itu masih muda dan tampan. Kau benar-benar tidak tertarik?”
Aku mengernyitkan dahi. “Siapa maksudmu?”
“Marvel Dawson, calon pewaris Dawson Group. Oh, aku yakin kalau kau melihatnya langsung, kau tidak mungkin mau melewatkannya.”
“Dia di sana?” Marshella cukup terkejut jika itu benar.
“Yes.”
“Di flat kita?” tanyanya memastikan.
“Di flat-ku.”
Marshella menggerutu mengingat apartemen sekaligus kantornya mengalami kebakaran beberapa hari yang lalu. Akhirnya, ia menginap di rumah Angelica dan kekasihnya. Agak canggung, tetapi apa boleh buat. Pihak asuransi baru akan mengeluarkan ganti rugi akhir bulan ini. Sementara semua barang di dalam apartemennya ludes terbakar. Masih belum diketahui penyebab kebakaran itu.
“Aku akan keluar begitu uang asuransi cair.” Marshella mencoba berkilah.
“Sambil menunggu, kenapa kau tidak menerima tawaran itu? Dia bilang bersedia langsung membayarmu begitu kau setuju. Lagi pula, setelah uang asuransi itu cair, kau harus membayar biaya sewa di sini, tagihan kartu kreditku yang kau pakai, menyewa tempat tinggal baru dan masih banyak lagi. Aku yakin, tawaran dari pewaris itu akan lebih dari cukup untuk menyelamatkan hidupmu, Sister.”
“Apa saja yang sudah kau katakan?”
“Hei, aku hanya bertindak sebagai adikmu! Aku tidak ingin cerita fantasi yang sudah kau tulis bertahun-tahun itu tidak dihargai.” Suara Angelica terdengar menyindir.
“Mungkin kau lupa kalau cerita fantasi itu sudah masuk rak best seller di berbagai toko buku di Inggris Raya.” Ada nada sombong yang sengaja disuarakan Marshella.
“Dan kau masih menumpang di apartemenku,” timpal Angelica.
“Wow, kau benar-benar berhati malaikat!” sindir Marshella.
Marshella melempar pandangan ke luar jendela. Apartemen Angelica sudah dekat. “Aku sudah hampir sampai, kita bicarakan setelah mereka pergi.”
“Yah, aku harap mereka pergi bersamamu … dari apartemenku.”
Marshella menghela napas. Ia tahu kesalahan ada pada dirinya. Begitu menutup sambungan telepon, seraya berdiri tepat saat bus berhenti di halte. Tiga orang pria top hat tadi mengikutinya.
Marshella tidak terlalu memperhatikan saat salah satu dari mereka berjalan mendahului. Ia masih sibuk membalas pesan dari manajer penerbitan. Namun, bukannya mendahului, pria tadi justru berhenti tepat di depannya. Marshella nyaris menubruknya.
“Sorry!”
“Nona Marshella Wood?”
Marshella mendongakan kepala. Belum sempat menjawab, dua orang pria lainnya sudah berdiri di kiri dan kanan. Marshella kebingungan. Ia masih bergeming. Intuisinya mengatakan untuk waspada.
“Siapa kalian?”
Ketiganya saling lirik lalu tersenyum. “Kami penggemar novel Anda. Boleh minta tanda tangannya?”
Marshella bernapas lega. Intuisinya di dunia nyata tidak pernah setepat di dunia fiksi. “Oh, tentu saja.”
Mereka mengeluarkan buku yang ditulis Marshella satu per satu.
“Tapi maaf, aku tidak membawa bolpoin.” Marshella memasang wajah menyesal.
“Ini.” Salah satu dari mereka mengulurkan bolpoin.
Marshella merasa pernah melihat bolpoin itu. Bentuknya seperti bolpoin biasa, hanya saja memiliki ukiran dengan lambang bunga mawar putih di ujungnya.
“Oh, terima kasih. Siapa namamu?” tanya Marshella dengan ramah.
“Gale.”
Gadis itu membubuhkan tanda tangannya. Ia sedikit terkejut karena tintanya emas. “Wow, ini bolpoin yang mewah,” kelakarnya.
“Tentu saja,” jawab lelaki itu lagi. “Aku menyiapkannya khusus.”
Marshella membubuhkan tanda tangannya di dua buku milik dua pria lainnya. “Kalian terlihat dewasa dan aku cukup terkejut karena biasanya yang membaca bukuku adalah anak-anak remaja.” Ia mengatakannya tanpa terdengar menyindir meskipun kebetulan ini terlalu aneh.
Bagaimana mungkin ketiganya secara ajaib membawa novelnya dan meminta tanda tangan bersamaan sementara di luar sedingin ini? Ia sendiri keluar karena terpaksa membeli pernak-pernik hiasan pohon Natal, permintaan Angelica.
“Kami selalu menjadi penggemarmu, Nona Wood.”
Marshella mengenyahkan pikiran buruk dari kepalanya. “Terima kasih.”
Wanita muda itu melempar senyum lalu bergegas menjauh. Dia harus segera tiba di apartemen adiknya. Dia tidak ingin Angelica membuat kesepakatan yang tidak diketahuinya dengan pihak penerbit dan juga pewaris Dawson Group.
Marshella tidak menyadari bahwa ketiga pasang mata pria yang meminta tanda tangannya itu masih mengikuti.
“Jadi, dia orangnya?” tanya pria yang mengaku bernama Gale.
“Ya. Dia … putri Tuan Eddark.”
“Tuan Frederick pasti senang. Dendamnya akan segera terbalaskan.”
***
“Aku sangat berterima kasih karena ada pihak yang mau mengadaptasi novelku ke dalam film. Tapi aku belum punya waktu untuk membuat skenarionya. Buku ini masih berlanjut. Aku tidak ingin pembaca membandingkan versi buku dengan film sebelum ketiga serinya selesai.”
Marshella duduk di seberang Edgar Muller dan lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Marvel Dawson. Benar kata Angelica, lelaki itu tampan dan terlihat berkharisma. Namun, jelas bukan tipenya karena disaat yang sama, Marvel terlihat seperti orang yang suka tebar pesona.
“Kami akan memberimu waktu untuk menyelesaikannya. Tidak perlu terburu-buru.” Marvel membuka suara setelah sedari tadi diam saja.
Marshella mengangkat kedua alisnya. “Aku tahu siapa yang terburu-buru di sini sampai datang ke apartemenku,” jawabnya kaku.
“Bukannya ini apartemen adikmu,” potong Marvel.
Marshella melotot ke arah Angelica lalu kembali menatap Marvel dan Edgar. “Besok Natal dan aku bermaksud merayakannya dengan adikku,” sergahnya memberi alasan.
“Yah, kudengar juga begitu … selain karena apartemenmu kebakaran dan kau kehilangan semuanya.” Marvel memamerkan senyuman yang menurut Marshella mulai menyebalkan.
“Ada lagi yang ingin kau ketahui tentang kabarku akhir-akhir ini, Sir?” tanya Marshella dengan senyum masam.
“Hei, hei, kalian cepat sekali akrab.” Edgar menengahi.
Lelaki tiga puluhan itu pun menoleh pada calon pewaris grup perusahaan No.1 di Britania Raya.
“Pak Dawson, apa tidak bisa ditunggu sampai seri ketiganya keluar dan novel ini tamat? Aku rasa itu akan memudahkan pekerjaan Marshella sebagai penulis dan tim produksi nantinya.” Seraya memasang wajah meyakinkan. Alis tebalnya sedikit terangkat.
Marvel mengusap dagunya beberapa kali. Seraya tampak mencari jalan penyelesaian yang sama-sama menguntungkan. Dia dapat kontrak kerja sama dan penulis manja itu tidak banyak permintaan.
“Kau tentu paham, adaptasi novel yang belum selesai ke dalam film sering jadi polemik karena ceritanya kerap tidak sama. Kau menonton Game of Throne? George Martin belum menyelesaikan bukunya saat TV serinya selesai dan … tidak semua penggemar mendapatkan kepuasan dengan akhir ceritanya,” imbuh Edgar.
Marvel masih terdiam beberapa saat. Seraya tampak berpikir sebelum menghela napas dan berdiri. “Baiklah. Kuberikan waktu tiga hari untuk memikirkannya, Nona Wood. Kami akan menawarimu untuk tiga film sekaligus sesuai dengan seri novelmu dengan konsekuensi film pertama rilis akhir tahun depan. Berapa pun yang kau butuhkan, aku akan kabulkan. Bahkan kalau kau meminta apartemen sebagai bonus.”
Mata Marshella sedikit membesar mendengarnya.
Seraya menoleh pada Edgar. “Tidak pernah ada ending yang memuaskan semua penggemar, Pak Edgar. Itulah kenyataannya.”
Sepeninggalan Marvel Dawson, Marshella menegur Edgar. “Kenapa kau membawanya ke sini, Pak?” Ia tidak menyembunyikan kekesalan.
“Dia terlihat butuh.”
“Lalu?”
“Kau harus memanfaatkan orang yang terburu-buru dengan sebaik mungkin.” Wajah licik Edgar jelas terlihat.
Marshella memejamkan mata dengan frustasi. “Kau lupa kalau laptopku ikut terbakar dan tidak bisa digunakan lagi? Semua file cerita itu hilang. Aku tidak akan bisa menyelesaikannya tepat waktu kecuali ada sihir yang bisa membantuku memulihkan semuanya.”
“Itu masalahmu, bukan masalahku. Menurutmu, kenapa aku sampai merelakan libur Natal hanya untuk mengantarnya ke sini? Pikirkan uang yang akan kita dapatkan, Marshella. Dan tentu saja …,” Edgar menoleh pada Angelica, “supaya tidak merepotkan adikmu lagi. Selamat Natal, Sayang.”
Edgar pun berjalan keluar.
“Manajer penerbitanmu kejam juga, tapi yang dikatakannya benar. Lebih baik pikirkan lagi keputusanmu,” celetuk Angelica.
***
Chapter 101: Happy Ever AfterFaith’s P.O.V7 Years Later…“And the award for the best male in a leading role goes to…”I waited as the camera flashed to all the actors in the lineup that were nominated in the award ceremony, my anticipation at a fever pitch as I was literally at the edge of my seat, waiting for the results.But just as the host was about to announce the name of the actor…the TV screen went blank.“What the…?”I turned around to search for the remote, but even when I tried to turn it on, it didn’t work.It was only when someone cleared their throat, quite loudly, in the room, that my attention finally snapped towards the door and I found Aunt Kathy standing there with the cable in her hands and her other hand on her hip as she gave me a narrow eyes glare.“Faith…” Her voice was dead serious as she fixed me with her ‘look’.“Yes?” I grinned sheepishly.“What day is it today?” She tapped her heeled foot on the tiled floor, her light pink gown reaching her knees, the ski
Chapter 100: To the FutureFaith’s P.O.VInstead of answering me right away, he took the pendant from the trey and went behind me to place it around my neck, securing the clasp behind my back. The cool metal fell around my neck easily, and a sense of nostalgia overwhelmed me as I remembered my mother wearing it all the time.But I wasn’t allowed to dwell on the nostalgia for long since I felt his warm breath fanning my skin before I felt him lean down and place a tender kiss on my shoulder.“I didn’t want to give back the pendant…because when you weren’t with me, when we weren’t together, this was the only thing that connected me to you.” He whispered against my ear, his arms coming around me to wrap around my middle. “I threw it away once…when I thought you were too good to be with me, that I didn’t want to taint you with my darkness…and it was right here, at this very beach. But the waves gave it back to me; almost like it was fate…they didn’t want me to lose the only good thing in
Chapter 99: The PendantFaith’s P.O.VI felt my breath leave my lungs temporarily as I descended down the stairs and there he was…dressed in a black shirt with its sleeves rolled up to his elbow and black dress pants that fit him like a glove.In his hands was a humongous bouquet of red roses that looked bright and luscious, their fragrance filling the air with sweetness that felt almost like a scene out of a movie.I watched his eyes widen slightly as they landed on me, his lips parting in a small gasp, and his eyes, when they met mine, held promises that made my insides quiver with excitement and my heart almost skip a beat.In all honesty…we hadn't been intimate for a long time now, considering how we had both been through so much…but now, looking at him today, I found myself anticipating the end of the night more than the date itself.Maybe we can just forget about the date and just head to his apartment already?Brandon’s lips tilted up in a small smile and it felt like he knew e
Chapter 98: The First DateFaith’s P.O.V“Finally! Exams are over!” Nik threw her hands up in the air as she did a little ‘happy dance’ before turning to Debby and me. “Let’s go out this evening!”“Go out? Where?” I asked, raising my eyebrows skeptically.Usually, Nik’s idea of going out wasn’t the best of plans. The last time we went out together, not only did she get the wrong address, but we were thrown out of the club since none of us had fake IDs and we weren’t allowed in unless we were twenty one.Now, I watched as Debby nodded enthusiastically to Nik’s proposal, ever the supportive girlfriend…even though I was starting to worry about what trouble they were going to get into this time.“Leave me out.” I sighed, walking down the stairs to join them at the courtyard. “I’ll be heading home first.”“Why? Do you have plans already?” Debby smirked with a knowing look in her eyes.“I do.” I nodded, laughing at her expression. “Brandon asked me out on a date.”“Oh! Really!” Nik looked a
Chapter 96: ForgivenessFaith’s P.O.VBrandon and I faced Julia alone, Scott deciding to wait outside for the time being.Even though I wanted Brandon beside me, I didn’t show it. Neither did I tell him. Instead, I watched him take a seat on one of the couches on the opposite side of the room, far from
Chapter 97: A New BeginningFaith’s P.O.V“Good morning!”Startled, I looked towards the door to see Ethan poking his head in with a wide grin on his face. “How have you been?”“Ethan!” I smiled at his presence, glad to see him. “It’s good to see you. I’m getting discharged today.”“Yup. Just heard the r
Chapter 94: Calling a TruceBrandon’s P.O.VThe weight of every revelation that Scott had just reveled to me came crashing down on me.How had I not noticed any of this?Julia’s parent’s getting a divorce? Julia’s m
Chapter 93: Unexpected Confrontations Brandon’s P.O.V The plain white walls of the six storied apartment building brought on a bittersweet avalanche of memories as I got out of the elevator on the second floor and walked down the almost familiar hallways before coming to a stop in front of the same












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.