LOGINThe day I caught my fiancé in bed with another woman, my world shattered. "You actually thought I'd reject my fated mate for a human?" Kieran sneered. "Dont be stupid Four years of love ended with a slammed door and a broken heart. With nothing left to hold onto, I called my father and made the one decision I'd spent years running from. "I'll marry him." I thought I was marrying Lucien Drakon—a billionaire so powerful that governments respected him, rivals feared him, and his name alone commanded obedience. I was wrong. Lucien Drakon isn't just a billionaire. He's the Serpent King. Feared by every supernatural race. Worshipped by his own kind. A man as cold as the emerald eyes that never seem to leave me. Our marriage was supposed to be nothing more than an arrangement. So why does he look at me like I've always belonged to him? Why does he protect me as though losing me would destroy him? And why does the man who threw me away suddenly want me back? As an ancient rivalry between wolves and serpents threatens to erupt into war, I find myself caught between two enemies. One wants to use me. The other would burn the world before letting anyone take me. They say serpents are the deadliest predators alive. They're wrong. The deadliest thing about Lucien Drakon isn't his venom. It's the way he loves me.
View More“Tidurlah di kamar Lilia nanti malam, biar bagaimanapun dia adalah istrimu juga. Sama sepertiku, dia juga berhak mendapatkan nafkah batin darimu, William.”
Suara manis yang terdengar menembus pintu kamar membuat Lilia menghentikan langkahnya. Ia berdiri di luar dengan kedua tangan yang mencengkeram erat keranjang berisi pakaian yang harusnya ia bawa masuk, sebelum ia menyadari bahwa tuan dan nonanya tengah berada di dalam sana. “Tidak mau, Sayang,” jawab suara bariton seorang pria menyambut permintaan itu. “Aku tidak bisa melakukan itu dengan wanita lain selain kamu.” “Kamu tidak boleh begitu, William. Karena nanti setelah aku mati, kamu akan hidup dengan Lilia.” “Tapi kamu tidak akan meninggalkan aku secepat itu, Ivana.” Lilia termangu dengan tubuh yang terasa kebas. Tuan dan nonanya itu sedang membicarakan dirinya, babysitter anak mereka, yang sekaligus telah menjadi istri kedua William. Hal itu mereka lakukan untuk memenuhi permintaan Ivana yang kondisinya memburuk akibat leukimia. Demi memastikan bahwa anak lelakinya dirawat oleh orang yang tepat, Ivana memilih madu dan istri untuk suaminya sendiri, dirinya, Lilia Zamora—babysitter yang telah merawat anak mereka sejak lahir. Kini, pernikahan itu sudah berjalan selama dua bulan. Lilia sebenarnya juga tak ingin melakukan itu. Tapi mempertimbangkan Ivana akan memberinya bantuan untuk pengobatan ibunya yang tengah sakit, akhirnya ia terpaksa menerima. Meski Ivana tidak keberatan seandainya hubungan mereka diketahui oleh keluarga, tapi William tak bersedia. Pria itu memilih untuk merahasiakannya. Sebagai suami—yang di mata Lilia—sangat mencintai istrinya, Lilia tahu pria itu merasa bertanggung jawab agar keluarganya tidak akan memandang rendah Ivana. William juga tidak ingin memperumit keadaan apalagi jika sampai hal ini terendus pihak luar. Sehingga hanya mereka bertiga saja yang tahu tentang pernikahan itu. “Ahh—” Suara lenguhan Ivana membuat Lilia terjaga dari lamunannya. “Ahh ... jangan menggodaku di sini, Liam. Kita masih di kamar Keano.” “Sebentar saja, Ivana.” Tak ingin mendengar lebih jauh akan sesuatu yang mungkin berlanjut di balik pintu kamar itu, Lilia memutuskan untuk pergi dari sana. Urung membawa pakaian Keano—anak lelaki William dan Ivana—ke dalam kamar. Baru saja berbalik, ia dibuat terkejut saat melihat kemunculan Keano yang tiba-tiba dan berlari menghampirinya. “Sus Lili, Keano sudah selesai main legonya,” ucapnya. “Sekarang mau masuk.” Jari telunjuknya mengarah pada pintu kamarnya yang tertutup. “Jangan!” cegah Lilia dengan cepat, mengantisipasi agar Keano tidak masuk dan melihat apa yang ayah dan ibunya lakukan di dalam sana. Tapi karena melakukan hal itu, tak sengaja keranjang pakaian yang dibawanya jatuh sewaktu ia berlutut dan meraih kedua bahu kecil Keano. “Kenapa tidak boleh?” tanya Keano, kedua pipinya menggembung kesal. “Nanti saja masuknya. Bagaimana kalau kita main dulu di luar?” ajaknya. “Mungkin … main tangkap bola?” “Hm … padahal mau tidur di dalam dan dengar Sus Lili nyanyi untuk Keano.” Sebelum sempat Lilia berhasil membujuknya, pintu kamar mendadak terbuka. Lilia menoleh, menjumpai William berdiri di ambang pintu dengan beberapa kancing kemeja teratas yang terbuka sehingga dada bidangnya tampak. Menyadari alis berkerut William yang tak suka saat keluar dari kamar membuat Lilia dengan cepat menunduk. Menghindari tajam iris kelam pria itu yang melihat kekacauan di lantai. “Masuk sini, Keano!” ucap pria itu pada anak lelakinya. “Mama ada di dalam.” “Okay, Papa.” Setelah Keano menghilang di balik pintu kamar, William menghampiri Lilia yang memilih untuk memasukkan kembali pakaian itu ke dalam keranjang. “Kenapa pakaian bersih itu bisa berantakan?” tanyanya dingin. “M-maaf, Tuan,” jawab Lilia tak berani mengangkat wajahnya. “S-saya tidak sengaja menjatuhkannya.” “Kamu menguping apa yang aku dan Ivana lakukan?” “Ti-tidak,” tepis Lilia, memilih berbohong untuk melindungi diri. William terdengar mendengus, Lilia sempat mencuri pandang padanya yang membuang wajah sebelum pergi dari hadapannya yang masih berlutut di lantai. Lilia tak ingin ambil pusing dan memilih untuk merapikan semua pakaian yang berantakan itu, terpaksa harus mencucinya sekali lagi. Sembari menunggu laundry selesai, ia menyempatkan diri menyiapkan bahan makanan untuk tuan kecilnya besok. Sudah cukup larut saat akhirnya Lilia mengeluarkan pakaian-pakaian milik Keano dari mesin pengering dan menempatkannya ke dalam keranjang lain. ‘Akan aku lanjutkan besok lagi,’ putusnya. Lilia masuk ke dalam kamarnya yang ada di sisi belakang rumah itu. Merebahkan dirinya ke atas tempat tidur yang ukurannya tak begitu besar, angannya seakan tak bisa diam. Terombang-ambing ke sana ke mari memikirkan keadaan ibunya yang koma di atas ranjang pesakitan, atau sekilas terisi wajah benci William yang belum lama ini ia lihat. Semua itu seperti sedang menyiksa benaknya hingga lelah dan tanpa sadar ia jatuh dalam lelap. Saat nihil suara harusnya mengisi tidurnya, ia dibuat terjaga sewaktu mendengar suara pintu yang diketuk. Lilia duduk menegakkan punggungnya. Napasnya terengah saat melihat pintu kamarnya terbuka dari luar. ‘William?!’ batin Lilia terkejut. Pria yang berdiri di ambang pintu itu adalah William Quist. Ia bergegas bangun dan menundukkan kepalanya pada William, “Maaf, saya ketiduran,” katanya. “Saya akan melihat keadaan Keano, Tuan.” “Aku datang ke sini bukan untuk memintamu melihat Keano,” jawab pria itu. “M-maksud Anda?” tanya Lilia gugup. Tubuhnya gemetar di bawah tatapan tajam William. “Bukankah kamu tahu apa yang harusnya dilakukan oleh dua orang yang sudah menikah?”Lucien's POVThe putter struck the ball.It was a perfect stroke, calculated and cold.The ball rolled smoothly across the manicured green, tracing a line of absolute certainty before dropping cleanly into the hole."Excellent shot, Mr. Drakon."I handed the club back to my caddie without taking my eyes off the course, without breaking my stride.My expression didn't change.It never did.Then, my phone vibrated.A single, sharp buzz against my thigh.Very few people had this number.Fewer still dared to use it.The world knew better than to interrupt me.I slipped the device from my pocket and glanced at the screen.Edward Ashford.The name hit me like a physical blow, stopping my heart for a fraction of a second.The last time we'd spoken...Was four years ago.Four years of silence.Four years of waiting.Four years of watching from the shadows while she lived a life that didn't include me.I answered immediately."Edward."A quiet breath came from the other end, heavy with emotion
Selene's POVThe call ended.The screen went black, reflecting my own distorted, tear-stained face back at me.That was it.There was no turning back now.No second chances.No path where I stayed and tried to salvage the ashes of a life that had already burned to the ground.I drew a slow, shaky breath, the air ragged in my throat. I wiped the tears from my face with the back of my hand, smearing the mascara, not caring anymore.Then, with trembling fingers, I opened the car door.The morning air was cool against my skin, a stark contrast to the feverish heat of my grief. It smelled of dew and pine, a world continuing its cycle as if mine hadn't just ended.I looked toward the Alpha House.Just yesterday...Yesterday, I had walked through those doors believing I was going to marry the man I loved.I had carried food, hope, and a future in my hands.Today, I was walking back inside to collect the pieces of a life that no longer belonged to me.To pack up the remnants of a dream that h
Selene's POV "...She's my fated mate." The words didn't just hang in the air. They crashed down like a guillotine blade, severing the last thread of hope I had been clinging to. Heavy. Merciless. Final. I stared at Kieran, my vision blurring as I waited for the mask to slip. I waited for him to laugh, to throw his head back and tell me this was some cruel, twisted joke. I waited for him to pull me into his arms and swear that none of this was real, that the woman in our bed meant nothing, that I was the only one who mattered. He didn't. Instead, he held my gaze with that same quiet, stoic expression that had once made me feel safe, protected, loved. Now, it made me feel sick. It made my stomach churn with a nausea so deep I thought I might vomit. "And she's the one who's going to be my Luna." My fingers curled into fists so tight my nails dug into my palms, drawing blood I couldn't feel. "No." The word escaped before I could stop it, a pathetic, broken whispe
Selene's POV The security guard's smile was warm, familiar, a stark contrast to the cold dread that would soon coil in my stomach. He opened the gates without hesitation. "Good evening, Miss Ashford." "Evening, Ben." My voice was light, airy. I drove slowly up the winding road, the gravel crunching softly under my tires, but my eyes were locked on the silhouette of the Alpha House. Specifically, on the black Range Rover parked in the driveway. Kieran's car. He was home. A genuine smile tugged at my lips, softening the fatigue of the day. Good. I parked beside his vehicle, the engine ticking as it cooled, but I didn't move immediately. Instead, I lifted my hand, the dim streetlight catching the brilliance of the diamond on my finger. I traced the band with my thumb, the metal cool against my skin, yet it burned with the weight of a promise. Two months. In exactly two months, the name on that ring would match my heart. In two months, I would become Selene B












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.