LOGINWhen Aria Spencer wakes up in a room with an attractive stranger-Robert Lincoln-the morning after her college graduation, with a wedding band and a marriage certificate, her life takes a new turn. And worst, she cannot remember the details of what led to the one-night-stand, and then she decides to pretend like it never happened. After a series of hassles, she meets Robert again, and then he offers her a contract: a job in exchange for keeping their accidental marriage a secret. How hard could it be? Will it be nothing more than an agreement? What if a secret baby comes into the mix? Throw love and heartbreaks into the mix, will it break them or mend them?
View More“Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”
Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.
Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.
“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?
Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.
Saat keluarga kerajaan datang melamar Paramitha, Seno dan Utari sangat senang dan berbangga hati. Anak kesayangan mereka akan mengangkat derajat keluarga. Menikah dengan keluarga kerajaan adalah kebanggaan semua orang.
“Paramitha pergi bersama Caraka. Ia tidak mau menikah dengan pangeran ketiga,” ucap Seno dengan suara rendah dan berat. Terdengar helaan napas beberapa kali, berpikir jalan keluar untuk menghadapi keluarga kerajaan,
Pangeran ketiga bukanlah pewaris kerajaan, lelaki itu lahir dari selir yang dihukum mati. Ia dianggap pangeran yang terbuang dan terkenal kejam. Itu juga yang menjadi alasan Paramitha kabur.
Seno mengurut keningnya perlahan, kalau sampai pangeran ketiga tahu Paramitha kabur, habis sudah keluarga Wiratama. Pasti akan dihukum, entah diusir atau dipenjara. Keduanya tidak ada yang lebih baik.
Netranya tiba-tiba melihat Nirmala, anak bungsu yang memiliki perangai berlawanan dengan Paramitha. Tidak ada jalan lain. Seno berseru, “Nirmala, kamu harus menggantikan Paramitha menikah dengan pangeran!”
Nirmala berdiri. “Tidak Ayah! Aku tidak mau me–”
“Ini perintah! Kamu tidak bisa membantah. Demi nama baik keluarga kita dan untuk menghindari hukuman dari kerajaan.” Seno berdiri menatap tajam Nirmala, suara lantangnya membuat keluarga yang hadir terdiam. “Utari, dandani Nirmala agar bisa segera berangkat menuju kerajaan!”
“Ayah! Aku tidak mau!” teriak Nirmala. Ia berlari mengejar Seno yang keluar dari ruang keluarga. “Ayah!”
Gadis itu menghadang jalan Seno. “Aku tidak mau pergi ke istana, Ayah. Tolong jangan paksa aku.”
“Kalau kamu tidak mau menikah dengan pangeran, maka kamu bukan anak keluarga Wiratama lagi!” ancam Seno.
Nirmala terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ini lebih menakutkan dari sekadar mimpi buruk.
Setelah langkah Seno menjauh, Utari mendekati Nirmala dan menariknya ke ruangan untuk didandani. Tidak ada kelembutan dari sang ibu. Wanita itu mendandani Nirmala seperti mendandani boneka.
“Ibu …,” lirih Nirmala. Berharap ibunya membuka suara untuk menghibur atau sekadar basa-basi.
“Jangan merengek! Setidaknya masa depanmu terjamin di istana. Dibandingkan dengan Paramitha yang entah di mana ia berada,” ujar Utari mengusap air mata.
Bukan kesedihan karena Nirmala akan pergi meninggalkannya, tetapi sedih karena kehilangan Paramitha.
***
Kereta kuda melaju meninggalkan halaman rumah Wiratama. Roda kayunya berderak pelan, terdengar menyayat hati. Seolah ikut meratapi nasib penumpang di dalamnya. Nirmala duduk kaku, pandangannya kosong. Setiap getaran kereta seperti membawanya menjauh dari rumah, menuju dunia yang belum pernah ia jamah.
Nirmala menahan tangis. Karena ia tahu menangis tidak akan mengubah apa pun. Sejak kecil, ia selalu berada di balik bayang-bayang Paramitha, anak yang disayangi semua keluarga. Sedangkan dirinya? Anak bungsu yang dianggap keras kepala dan sering membantah. Namun kini, justru ia yang harus menanggung akibat dari kepergian sang kakak.
“Putri Wiratama, kita sudah sampai istana.” Seorang penjaga membuka tirai kereta dan membantu Nirmala turun.
Setelah turun dari kereta, Seno berdiri di samping Nirmala. Di belakang mereka, semua keluarga Wiratama mengiringi menuju aula.
Pintu aula terbuka lebar, sudah dipenuhi oleh para tamu dan keluarga kerajaan. Duduk di paling depan, sang raja didampingi ratu. Tepat di tengah aula, pangeran ketiga sudah menanti calon pengantinnya.
Langkah Nirmala terasa berat, banyak ketakutan hinggap di benaknya. Akankah sang pangeran menerima pengantinnya diganti?
“Berhenti!” seru sang pangeran. Matanya menatap nyalang Nirmala. Ia mendekat dan tiba-tiba menghunuskan pedang pada Nirmala. “Kamu bukan pengantinku. Siapa kamu? Di mana Paramitha?”
Ujung pedang itu berkilat, hanya berjarak sejengkal dari leher Nirmala. Gadis itu membeku. Wajahnya pucat pasi. Kakinya terasa lemas.
Seluruh aula mendadak sunyi. Terkejut dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pangeran Arya, sang pangeran ketiga itu tak pernah bermurah hati pada siapa pun.
“Jawab!” bentak Arya, “aku bertanya, siapa kamu?”
Nirmala menelan ludah. Tangannya gemetar, namun ia memaksa diri berdiri tegak. Jika hari ini memang akhir hidupnya, ia tidak ingin mati sambil berlutut.
“Hamba … Nirmala Wiratama,” jawabnya dengan nada bergetar, “adik dari Paramitha.”
Para tamu semakin kaget. Beberapa bangsawan saling berbisik, baru kali ini ada kejadian mengejutkan seperti ini. Sementara itu, Ratu menegakkan punggungnya, menatap tajam ke depan. Raja sendiri mengernyitkan dahi, sorot matanya penuh pertanyaan.
“Adik? Berani sekali keluarga Wiratama mempermainkan kerajaan. Apakah kamu tidak tahu hukuman atas perbuatan kalian ini?” Mata Arya tajam menatap Nirmala, kemudian menatap satu per satu keluarga Wiratama. Wajah mereka pucat pasi.
Ujung pedang itu sedikit terangkat. Nirmala menelan ludah. Selangkah saja Arya maju, maka pedang itu akan menembus leher Nirmala.
Abhitama maju ke depan, kemudian berlutut di hadapan Arya. “Mohon ampun, Pangeran. Maaf atas kelancangan kami. Adik hamba, Paramitha Wiratama telah kabur dari rumah. Sehingga kami membawa Nirmala Wiratama sebagai pengantin pengganti. Semoga Pangeran bermurah hati dan mengampuni kelancangan kami.”
Seno ikut berlutut, diikuti seluruh keluarga Wiratama, kecuali Nirmala. Gadis itu tak berani bergerak sedikit pun.
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati ….” Suara berat itu menggelegar di aula yang seketika hening. Pangeran Arya menatap tajam pada Nirmala.
Hari pernikahan yang seharusnya dirayakan sukacita, akankah berubah menjadi acara kematian?
-
Bersambung
Aria tried to memorize all she had learnt for her final exams while she texted Robert who was keen on distracting her. She had herself to blame though, she was the one who kept on texting him like she wouldn't see him later when he came home.A: Can you let me study?R: Can you let yourself study? You keep responding to my text when you know you shouldn't.A: that's because I can't help it and I always want to talk to you.R: That sounds cute but I'm going to have to stop responding to you. Meaning I'm not going to reply to your texts if you send another one after this.Robert kept his word. The next messages she said afterwards to him were left unanswered as she brought her mind back to her books so she could study. When she finished studying, she texted him back that she was done and she was heading to the shelter where she now volunteered. The shelter was a safe place for people who suffered abusive relationships and grief who needed other people who could understand them. It also
Aria had been looking forward to this dinner just like her husband. She noticed how happier her husband seemed after his meeting with Harry. Robert didn't give her the details, he just told her they got to discuss at length and they were now on good terms. Aria asked Anna if she wanted to come alone with them but she refused, saying she wanted to watch cartoons at home. Aria sighed and nodded.Now she and Robert were prepared for the dinner. Robert was dressed casually but since hadn't gone out in a while, she took this as an opportunity to scan through her outfits and combine them aesthetically. She finally settled for a short chiffon, a piece of jewelry and silver heels."Now look at how I look like your bodyguard standing beside you," Robert joked while he held her waist from the side and kissed her hair. "You look beautiful my queen." He complimented."So do you so, my love." She blushed. His muscular arm was evident under the shirt he wore and his biceps rippled. Aria imagined ta
Harry couldn't bear the guilt of what he did and he kept thinking about whether to tell Robert about it or not. They've been getting along just fine and they've recently been texting online and it's been amazing. They mostly spoke about their father's health, work and just random stuff. It felt like they were in a talking stage, they were starting to know each other very well, something they would have done years ago, but it took this long to achieve which wasn't really bad. Lauren and her husband loved this new change and they supported it more by inviting Aria and Robert for dinner. They conveyed the information through Harry and Robert loved the idea and agreed to show up with his wife.Harry's mind kept bugging him, he couldn't act all friendly with Robert when in the past he had previously tried to sabotage his career. Now they were getting along, he didn't want anything to come between this new found friendship. He was going to tell Robert about all of it, he'd soon go back to s
Anna was getting better and she no longer cried about the death. She was starting to carry on without her life. She now ate, watched cartoons and giggled about funny things like she used to do before she heard about the news. Aria loved the change, it brought a smile to her lips that her sister had successfully escaped the confinement of grief.Aria felt like her life was worth more and she hadn't explored as she should have. She was too carried away with external factors and had forgotten to be the main character of her life. This was what her mother would have wanted for her, now that she was gone, she had the strong urge to pick up her life. Not that she hadn't been living before but he was ready to live as her capacity would allow. She wanted to go to therapy and then go back to school. Therapy first, because she wanted to unpack all that happened to her in the past month, heal and understand better in what direction her life should take. Aria realized she wasn't really okay and s
The world in front of Aria came to a halt. Her ears couldn't register any sound, except the frantic beating of her heart. Aria's legs felt void of bones and incapable of holding her upright as the pack of fruits slipped through her sweaty palms. Powered by the rush of adrenaline, she scurried tow
"Are you good through?" Robert's question was cut short by the bolting ot the door and their eyes flew eagerly to see who was coming in. It was a doctor and a nurse. The doctor has grey eyes that were barely hiden under his see through ash glasees and she had seen the smiley nurse before she had giv
Robert did what he knew how to do best to Aria—show up unexpectedly at her house. She had not been taking his calls and she barely responded to his text messages. Her excuse was that she either busy, tired or she just wasn't in the mood to talk to anyone. At one point he jokingly asked her if she ha
"Aria please I need to talk to you." He begged."No," she said sternly and shut the door in his face."It's urgent." She heard him say before she banged in his face. But as she proceeded to the couch, shs kept on hearing him ring the door bell. He was relentless and hellbent on conveying an informatio






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore