로그인Blurb Bk. 5 Maxine Roberts was seventeen years old ng magpakasal muli ang mommy niya kay Clark Monteverde. Masaya naman sana dahil mabait sa kanila ang pamilyang ito maliban lang sa panganay na anak ng Tito Clark niya, si Xavier Monteverde Hindi niya maintindihan kung bakit palagi itong galit sa kanya to the point na nasasakal na siya sa pagiging mahigpit nito sa twing nasa abroad ang parents nila. Not until one day she realized na hindi na normal ang paghihigpit sa kanya ni Xavier. He doesn’t look at her as his stepsister but there is more to that. May gusto ba sa kanya ang stepbrother niya?
더 보기“Ada masalah apa?” Jovie, manajer operasional Luxio Hotel yang sudah bersiap untuk pulang bertanya pada resepsionis yang baru saja meminta waktunya untuk melaporkan sebuah masalah.
“Baru saja housekeeping melaporkan tentang salah satu tamu hotel di Deluxe Room yang sudah beberapa hari ini tidak menyahuti panggilan dari luar. Bahkan piring kotor dari pesanan service room juga tidak dikeluarkan. Sementara waktu check-in, dia sudah berpesan untuk tidak ada satu orang pun yang masuk ke kamar termasuk housekeeping,” jawab resepsionis dengan wajah khawatir.
Jovie melihat jam tangan di pergelangan kirinya—sudah masuk jam tidur, bisa saja akan menjadi tidak sopan jika dia mengetuk pintu kamarnya sekarang, tapi dia juga khawatir jika sampai terjadi apa-apa dengan tamu hotel.
“Kapan waktu tamu itu check-out?” tanya Jovie lagi.
“Besok siang,” jawab resepsionis sopan.
“Berapa kali housekeeping mencoba untuk memanggil tamu?”
“Setiap waktu housekeeping harus mengangkut piring kotor dari setiap kamar, terhitung dari satu hari yang lalu.”
Jovie menggigit bibir bawahnya. Jelas ada hal yang tidak beres jika sampai berkali-kali tamu tidak menyahuti panggilan housekeeping. “Nomor berapa kamarnya?”
Resepsionis tadi menunjukkan detail pemesanan kamar di layar monitornya. Jovie melihatnya sekilas, kemudian segera membuka tempat master key dan menyambar salah satu sebelum bergegas menuju ke lantai tempat kamar itu berada.
Jovie berdiri di depan kamar yang dimaksud. Beberapa kali ketukan tidak mendapat sahutan. Sebab dia sudah melakukan SOP hotel untuk mengetuk lima kali dan tidak ada sahutan dari dalam, Jovie langsung membuka pintu kamar dengan master key yang dia bawa.
“Selamat malam, layanan manajemen hotel.”
Tidak ada jawaban. Anehnya, Jovie mendengar suara desahan dari arah dalam. Ranjang yang berada di balik sekat membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Kening Jovie mengerut bingung dan tak mengerti.
“Maaf, saya mendengar keluhan dari staff kami, saya terpaksa untuk melakukan pemeriksaan. Apakah Anda baik-baik saja?” Jovie kembali bersuara.
Desahan kembali terdengar. Kali ini bersamaan dengan suara hentakan yang membuat jantung Jovie berdetak kencang. Kakinya bergerak pelan ke arah ranjang, sementara kedua tangannya mendekap erat master key yang dari tadi terus dia pegang.
“Ah! Faster, baby!”
Desahan itu kembali terdengar, bersamaan dengan kedua mata Jovie yang menangkap pemandangan tabu. Seorang pria yang sedang bersetubuh dengan wanita muda terlihat membara di hadapannya.
“Come on, baby! Ah!”
Wanita itu tidak memperhatikan kedatangan Jovie. Dia terlalu menikmati hunjaman dari pria tampan itu dari dalam selimut tebal. Otot tubuh yang terbentuk sempurna, terlihat mengilat dibasahi keringat.
Jovie terkejut. Tubuhnya tiba-tiba mematung, tidak menyangka dia akan melihat hal seperti ini. Sialnya, pria itu terlanjur melihatnya. Masih dengan posisi yang terjepit di antara paha mulus si wanita muda, pria tampan itu menoleh dengan seringai tajam.
“Astaga!” pekik Jovie akhirnya.
Badannya berbalik cepat, memunggungi kedua orang yang masih saling bergelut dalam permainan panas di antara desahan yang semakin cepat. Tanpa disuruh, Jovie segera bergerak cepat meninggalkan ruangan itu, tapi saat itu juga dia menyadari bahwa tindakannya adalah salah besar. Dia tidak bisa berlalu begitu saja.
Dalam keadaan mata yang terpejam erat, Jovie kembali membalikkan badannya. “Maafkan saya! Maaf saya salah kamar.”
Pria itu kembali menoleh tak merespon ucapan Jovie. Sorot matanya tak terbaca, sedangkan seringai tipis kembali terukir di wajahnya sebelum dia kembali memuaskan wanitanya yang semakin menggeliat.
Di luar kamar, Jovie terdiam sejenak setelah menutup pintu kamar dengan perlahan. Berkali-kali dia mengusap matanya kasar, tak peduli maskara yang berantakan dan membekas di jari-jarinya.
“Miss, Anda salah kamar! Seharusnya tamu yang bermasalah itu di kamar sebelahnya!” Housekeeping yang tadi melaporkan keluhannya itu sedang tergopoh-gopoh menghampiri Jovie setelah dia menyadari bahwa atasannya itu telah salah mengambil master key.
Jovie menatap housekeeping itu dengan wajah datar. Badannya terasa lemas, tindakan cerobohnya telah membuat tamu hotelnya tidak nyaman. Meskipun perbuatan yang dilakukan tamunya itu juga membuatnya tidak nyaman.
Jovie mengangguk, sambil melenggang lemas melewati housekeeping yang menatapnya cemas. Mati-matian Jovie menahan malu saat dia masuk ke dalam lift yang sepi. Saat pintu lift tertutup, tubuhnya secara refleks merosot ke lantai. Sebelah tangannya memukul-mukul kepalanya sendri.
“Bodoh sekali kau, Jovie!”
***
Pagi hari saat Jovie kembali ke Hotel untuk bekerja, pikirannya masih diliputi dengan rasa bersalah dan kecemasan, jika tamu semalam melaporkan keluhannya. Namun sampai dia duduk di ruangannya sekitar dua jam kemudian setelah jam operasional staff manajemen berlangsung, tidak ada laporan satu pun yang masuk mengenai kejadian semalam.
Interkom dari ruangan CEO menyala, Jovie segera menyambar gagang interkom dengan fokus matanya yang masih tertuju untuk meniliti pada email keluhan, mencari-cari keluhan yang dilayangkan padanya.
“Jovie, ke ruanganku sekarang.”
“Baik, aku akan segara ke sana.”
Jovie kembali meletakkan gagang interkom pada tempatnya. Benar tidak ada laporan keluhan di email, tapi mungkinkah tamu tadi langsung melaporkan keluhannya pada CEO Luxio Hotel? Shit! Jovie mengumpati kebodohannya.
Detak jantung Jovie kembali berantakan saat tiba di depan ruangan Corey, CEO dari Luxio Hotel. Setelah tiga ketukan lembut, dia masuk ke ruangan dan segera menutupnya kembali setelah berada di dalam.
“Akhirnya, Jovie sudah datang. Masuklah,” pinta Corey pada Jovie.
Jovie melangkah masuk ke dalam, dan seketika tubuhnya membeku melihat sosok pria tak asing sedang duduk di depan kursi CEO-nya. Beberapa kali Jovie memejamkan mata, memastikan bahwa apa yang dia lihat ini salah. Namun, tidak! Apa yang dia lihat sekarang ini benar-benar nyata. Tidak salah sama sekali.
“Jace, perkenalkan wanita cantik di depanmu adalah Jovie Montgomery, dia manajer operasional Luxio Hotel. Kau bisa bicara dan meminta bantuan padanya terkait apa pun mengenai layanan hotel. Dia adalah orang kepercayaanku di sini.” Corey mengenalkan Jovie pada Jace.
“Jovie, pria tampan di depanmu adalah Jace Sherwood, salah satu investor VIP hotel yang baru memulai kerja sama bersama dengan kita terhitung hari ini. Dia adalah pemilik perusahaan Food and Beverage—Wood Foods Company, yang akan memasok seluruh kebutuhan hotel kita kedepannya. Tolong kau layani dia dengan sangat baik.” Penjelasan Corey terdengar seperti dengungan di telinga Jovie.
Jace terkekeh melihat reaksi Jovie yang terlihat lucu baginya. Meskipun dia terlihat enggan untuk mengalihkan pandangannya, pria itu tetap menoleh pada Corey. “Terima kasih, Corey. Firasatku bagus mengenai kerjasama ini. Jadi, mulai saat ini aku mendapat wewenang khusus untuk berkomunikasi dengan wanita cantik di depanku ini, bukan?”
Corey mengangguk sambil terkekeh. “Tentu saja. Kau bisa meminta bantuan apa pun padanya,” ucapnya, kemudian menatap tajam pada Jace. “Asalkan masih dalam konteks pekerjaan.”
Jace menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya. “Semua pasti karena tentang pekerjaan,” jawabnya sambil berdiri, mendekat pada Jovie yang masih terdiam, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“Kedepannya, kita akan terus bekerja sama dengan baik.” Jace mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jovie.
Jovie menatap ngeri pada Jace. Jelas terlihat dia enggan membalas jabat tangan itu. Pikirannya sekarang benar-benar berkecamuk. Kepingan memorinya teringat akan di mana dirinya memergoki Jace berhubungan badan dengan wanita lain. Pemandangan yang sangat tabu di matanya.
Jovie menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Dia berusaha untuk setenang mungkin. Dia tak ingin Corey mencurigai dirinya. Detik itu juga, dia menyambut jabatan tangan Jace.
“Tentu saja, Tuan Sherwood. Kita akan bekerja sama dengan baik,” ucap Jovie hangat dan tulus.
Jace menyeringai senang saat Jovie menjabat tangannya. Gengamannya menjadi semakin erat, membuat Jovie terkejut dan refleks menatap kedua mata Jace. Jovie bermaksud ingin menarik tangannya, tapi sangat sulit untuk melepaskan tangannya yang telah digenggam erat oleh Jace.
“Senang bertemu denganmu lagi, Jovie.” Jace tersenyum jahil, sambil mengedipkan sebelah matanya.
MaxineIt is Xavier’s birthday at gaya ng nagdaang birthdays niya ay hands on ako sa pag-aasikaso ng lahat. Although may kinuhang event planner ang panganay na anak ko na si Joshua Xenn ay hindi ko pa rin mapigilang makialam.“Mommy, relax! Everything’s settled!” Josh said habang naka-akbay sa akin while trying to calm me downNandito kami sa garden ng mansion kung saan namin ice-celebrate ang birthday ng aking asawa and Josh really sees to it na walang detalyeng malalampasan. I guess mana siya sa Daddy niya na OC pagdating sa mga bagay-bagay He is already twenty-five pero kahit may edad na siya, malambing pa rin siya sa akin lalo na sa Daddy niya.He is already working at the family company at dahil na din sa rigid training niya with his Dad and his Tito Xyrus, masasabi ko na handa na ang anak ko to create a name of his own.“Mommy, why don’t you go upstairs and get ready!” napalingon naman ako and saw my daughter, Alyssa Xianelle, who is beautiful while wearing a designer gown ma
Maxine Nagising ako and opened my eyes upon hearing some voices kung nasaan ako. Medyo maliwanag kaya ipinikit ko uli ang aking mga mata and then I opened them once again. Nakita ko si Xavier na nakaupo sa tabi ko and is holding my hand. “Hey baby!” sabi niya saka siya lumipat sa kama at naupo I smiled at him to make him see that I am okay lalo pa at nakikita ko ang pag-aalala sa mga mata niya. “How’s our son?” medyo malat pa ang boses ko at nanghihina pa rin talaga ako ng dahil sa panganganak “Sabi ng doktor, he is healthy! Hindi ko pa siya nakikita.” dumukwang si Xavier to give me a kiss on my forehead habang hawak pa rin ang kamay ko Nagtagal ang halik niya doon so I closed my eyes but then I felt something wet in my face kaya napadilat akong muli. “Baby?” tawag ko kay Xavier at nang lumayo siya ay nakita ko ang pamamasa ng mga mata niya “Are you crying?” tanong ko kahit pa obvious naman but he just shook his head and kissed my hands “Why?” tanong ko ulit then h
Xavier Maxine is currently on her seventh month at buhat noong dinugo siya ay ibayong pag-iingat ang ginagawa ko when ot comes to her. Palagi akong naka-alalay sa kanya at kahit alam ko na OA na ako ay wala akong pakialam dahil para sa akin, kailangan kong ingatan si Max at ang anak ko. Pababa kami ng hagdan at nakasunod naman si Andeng sa amin na siyang may dala ng bag ni Maxine. Schedule ng check-up niya ngayon sa OB and after that ay pupunta kami kina Marcus para makita ang triplets niya dahil nakalabas na ng ospital si Ria. Andeng is really a great help to us lalo kapag kailangan kong umalis para magtrabaho. Panatag ako na hindi mapapabayaan si Max because of her, idagdag pa si Mommy at si Manang Helen. “Well I guess inaalagaan mong mabuti si Max, Xavier! She is in great shape!” masayang sabi ng doktor after niyang basahin ang laboratory tests nito “Salamat naman po kung ganun!” medyo kinakabahan talaga ako pagdating sa kalusugan ni Maxine Praning na nga yata ako dahil
Maxine“Welcome home!” masayang bati sa akin ng mga kasambahay nang tuluyan na kaming makapasok sa living room ng mansion habang nakaalalay si Xavier sa akinNandito din si Mommy at si Tito Clark pati na si Kuya Xyrus at si Angie. Nakangiti sila lahat sa akin and I guess they are really happy that I am finally home.Nagkaroon kami ng pagkakataon ni Mommy na mag-usap sa ospital and she cried hard habang walang tigil ang paghingi ng tawad sa akin. And because I wanted to have a happy life, I forgave my Mom. Actually kahit naman noong nasa CamSur pa ako, masasabi ko na napatawad ko na si Mommy. I wanted to free my heart from anger and pain dahil gusto kong maging positive ang lahat ng nasa paligid ko. In that way, magiging healthy ang anak ko. Ayoko na ng negative vibes within the period of my pregnancy.Agad akong nilapitan ni Manang Helen and hugged me tight habang umiiyak siya.“Iha saan ka ba nagpunta? Alalang-alala kami sayo, bata ka!” may pagmamaktol na sabi ni Manang Helen kaya
MaxineUnti-unti kong idinilat ang mata ko the moment I regained my consciousness. Wala akong makita kung hindi puti and that’s when I realized that I am in a hospital.Nakita ko ang swerong nakakabit sa akin kaya lalo akomg nag-panic. Naalala ko din ang nangyari kanina kaya agad ko naman hinipo ang
XavierNandito kami ngayon sa office ni Marcus at gaya ng dati, kwentuhan at kulitan ang nagaganap sa aming magkakaibigan.Marcus is sharing his experience about Ria’s pregnancy. Pinalabas daw siya nito sa kwarto dahil nabahuan ito sa kanya and Lucian can relate to that dahil na-experience niya rin i
MaxineIsang buwan na buhat ng makaalis si Xavier papuntang US and since then ay hindi ko sinasagot ang messages niya sa akin. I even blocked his number lalo nung malaman ko na kasama niya si Aurora sa biyahe niya.Ang sakit sa kalooban that we ended up like this at kahit mahirap, hahayaan ko na siya
MaxineNakita ko kung paano tumaas ang kilay ni Mommy nung magpaalam ako sa kanya na pupunta ako ng Davao for Valeen’s wedding.Nakaramdam pa ako ng kaba dahil nakikita ko ang labis na pagtataka sa mukha ng aking ina.“Since when have you been friends with your Kuya Xavier’s friends? As far as I can r






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
리뷰더 하기