LOGINZoe James got into trouble with vice president Henry Arthur after she insulted and unknowingly molested him at a club, and instead of apologizing, she ran away. Angry, he decided to track her down, things became more interesting after he found out she summited an application to work in his company.
View MoreMatahari masih terlampau pagi hari ini, tetapi Aland sudah disuguhi pemandangan mengejutkan saat melewati gedung belakang kampus. Ia terbiasa melalui jalan ini sejak tahu ada jalan menuju kampus melalui gedung belakang kampus.
Begitu melihat seorang mahasiswa dipukuli oleh beberapa orang yang membungkus kepala mereka dengan kain hitam, dan topeng hitam di wajah mereka. Aland segera bersembunyi di balik salah satu tiang besar gedung yang tak terpakai itu. Ada tiga orang. Entah laki-laki atau perempuan, Aland bahkan tidak tahu persis siapa mereka. Aland berniat menyelamatkan nyawa mahasiswa yang tengah dipukuli itu sebelum dia tewas di sini. Ia berpikir sebentar, mencari cara agar seseorang tidak mengetahui keberadaanya di sana.
Dengan hati-hati, agar keberadaannya tak diketahui, Aland merobek selembar kertas dari dalam tas. Lalu mendownload suara sirine dari internet. Suara ini biasa digunakan para senior saat sedang melakukan operasi di berbagai sudut kampus saat mereka menemukan kejanggalan. Aland menekan gambar sirine pada layar ponselnya, sirine pun berbunyi, bunyi yang dihasilkan seperti terdengar dari kejauhan, tatkala sobekan kertas tadi diletakkannya melingkar di sisi speaker ponsel.
Orang-orang bertopeng hitam itu terkejut mendengar suara sirine, salah satu dari mereka mengatakan bahwa Senior Petugas Operasi berada di sekitar, hingga akhirnya mereka berlari meninggalkan pemuda yang habis mereka pukuli.
Setelah memastikan semuanya aman, Aland baru bisa bernapas lega. Ia segera berlari ke arah pemuda itu untuk menolongnya. Dia tampak kesakitan sembari memegang perutnya yang mendapat tendangan dari orang-orang bertopeng tadi.
“Apa yang terjadi? Kenapa mereka memukulimu?” tanya Aland. Ia terus melihat ke sekeliling, memastikan bahwa mereka tak kembali lagi.
“Mereka menyerangku,” jawab pemuda itu dengan meringis.
“Siapa mereka?”
“Ak-aku tidak tahu.”
Aland mengernyit ketika menemukan hal janggal yang terlihat di samping pemuda itu tergeletak. Sebuah kuncir rambut berwarna hitam dengan motif bunga berwarna putih. Apakah ini milik salah satu dari orang-orang bertopeng itu? Aland meraihnya dan menyimpan benda itu di dalam saku.
“Baiklah, mari kubantu berdiri, aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan.”
****
Sementara di sisi lain, ruang club dansa ballroom sedang dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam club tersebut. Ada sekitar dua puluh orang yang ada di dalamnya, mereka semua duduk di lantai, seorang pelatih dansa memberi arahan kepada para peserta didiknya.
“Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kampus ini akan mengadakan acara penting tahunan yang tidak akan pernah kita lewatkan. Acara ini diadakan setiap satu tahun sekali, dan tahun ini akan diselenggarakan pada bulan depan mendatang. Setiap tahun, club dansa selalu ikut andil dalam memeriahkan acara ini, club kita akan memberi persembahan terbaik pada tahun ini. Jadi, persiapkan diri kalian. Karena acara ini sangat berpengaruh pada promosi, agar club dansa memiliki banyak peminat lagi, sehingga mahasiswa yang belum bergabung dengan club manapun akan bergabung dengan kita.”
“Baik, besok saya akan mulai membagikan kelompok. Cukup untuk pertemuan kita hari ini, dan jangan lupa tetap jaga kesehatan.”
“Baik, Bu,” ucap serempak para anggota club dansa.
Usai pelatih meninggalkan ruangan, semuanya bubar untuk membereskan barang-barang mereka dan meninggalkan ruangan, kecuali Jane, saat ingin memasukkan ponsel ke dalam tas, gadis yang sering dijuluki ‘Pendek’ oleh dancer lain karena postur tubuhnya itu berhenti karena melihat notifikasi pesan di ponselnya.
“Jane, aku duluan, ya.” Seseorang menepuk pundak Jane. Gadis itu sempat terdiam sesaat, saat menatap ponselnya. Namun, ia segera sadar kemudian saat mengetahui seseorang yang baru saja berpamitan padanya.
“Ken, tunggu!” ucapnya pada laki-laki gemulai yang sering dijuluki kemayu oleh orang-orang. Ken berbalik dan mengangkat kedua alisnya seraya beranya, “ada apa?”
Jane menatap ponselnya sekali lagi, lalu kembali menatap Ken. “Lihat ponselmu sekarang.”
Heran karena Jane tak langsung mengatakan kebenarannya, tak urung Ken mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Melihat sebuah notifikasi tertera di layar, Ken menekan notifikasi tersebut. Sejurus kemudian, laki-laki itu dibuat melotot saat menatap layar di ponselnya.
“Ya Tuhan!” pekik Ken.
Jane terburu-buru merapikan barang-barangnya, “ayo cepat!” ajaknya, yang disusul oleh Ken.
*****
Dua orang yang telah bertarung kini saling membungkukkan badan satu sama lain, setelah salah satu dari mereka berhasil mengalahkan lawannya. Laki-laki yang telah dikalahkan itu memberi selamat pada perempuan yang telah menang darinya. Setelah itu, semua orang membubarkan diri, karena waktu latihan telah selesai.
“Kate!” gadis yang memiliki potongan rambut pendek mirip laki-laki itu menoleh, lalu melambai pada seseorang yang memanggilnya tadi. Dia lalu berlari menuju tepi lapangan basket indoor, karena hari ini club karate-nya meminjam tempat ini untuk digunakan latihan.
Begitu duduk, Kate langsung meneguk botol air yang sudah disediakan di sana. Ia lalu menoleh pada laki-laki yang memakai pakaian yang sama dengannya, yang membedakan hanya warna sabuk mereka. Ia adalah seseorang yang memanggilnya tadi.
“Kate, Aku sangat bangga karena kemajuanmu cukup pesat akhir-akhir ini.”
“Terima kasih, Coach,” Kate justru malu saat rekan-rekannya kini menggodanya karena kemampuannya dipuji oleh pelatih mereka. Memelototi mereka, Kate mengarahkan telunjuknya di depan mulut agar teman-temannya berhenti menggodanya.
“Dalam kompetisi musim yang akan datang, aku akan mendaftarkan namamu sebagai perwakilan cabang putri, apa kau setuju?”
Kate yang tengah minum hampir tersedak karena terkejut. Bagaimana tidak? Mengikuti kompetisi karate mewakili kampus adalah impiannya sejak lama. Selama ini ia telah berlatih dengan keras untuk mendapatkan kesempatan berharga ini. Tentu saja, hal ini tidak mungkin ia lewatkan.
Kate memandang teman-teman se-karatenya, Ia sangat senang karena mereka semua mendukungnya tanpa keberatan, rasa percaya diri untuk mengikuti kompetisi pun kini sudah lengkap, tak ada alasan baginya untuk menolak karena teman-temannya pun setuju.
“Baik, Coach. Saya bersedia.”
Sang pelatih tersenyum lega. Sebelum pamit pergi kepada murid-muridnya, Kate diminta untuk berlatih lebih keras lagi untuk mempersiapkan dirinya.
“Kate, ponselmu berbunyi.” Kate berbalik saat salah satu rekannya menyerahkan ponselnya kepadanya, ia berterima kasih kemudian. Layar ponsel menyala, sebuah notifikasi tertera di layar, Saat membukanya, Kate menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang telah dilihatnya.
*****
Di bangku taman kampus, di bawah pohon-pohon rindang, tempat paling tenang dan juga paling nyaman, tetapi juga tempat paling jarang dikunjungi oleh banyak mahasiswa. Biasanya, hanya ada satu atau dua mahasiswa yang berkunjung ke tempat ini, tentunya bagi mereka-mereka yang menyukai ketenangan. Untuk sekadar melepas kepenatan terhadap serangkaian tugas dan kegiatan kampus yang tak ada habisnya.
Hari ini benar-benar sepi, di sana hanya ada seorang mahasiswa yang sedang serius berkutat dengan laptop di atas meja. Beberapa kali dia membenarkan kacamatanya, tak butuh waktu lama, pekerjaannya akhirnya selesai. Ia bernapas lega kemudian.
Menutup laptop, laki-laki berkacamata itu lalu meneguk minuman yang belum disentuhnya sama sekali, semenjak ia membelinya dari kantin. Kedua kakinya ia naikkan di atas kursi panjang yang didudukinya, lalu menyandarkan punggung pada pohon, laki-laki itu lalu memejamkan mata. Sesuatu hal yang paling menenangkan baginya.
Namun, ketenangan itu tak berselang lama, sebuah suara mengejutkannya, membuatnya kembali terjaga.
“Rome!” Laki-laki berkacamata itu refleks membuka mata karena terkejut, wajah menyebalkan seorang laki-laki langsung menjadi pemandangan pertamanya. Tak peduli, laki-laki berkacamata itu kembali memejamkan mata.
“Sombong sekali! Kau bersikap acuh kepada temanmu,” cibir laki-laki itu.
“Diam! Aku mengantuk.”
“Romeo, kau laki-laki yang sangat sombong, itulah mengapa banyak gadis-gadis yang takut kepadamu.” Laki-laki itu mengeluarkan suara seperti perempuan yang sontak membuat Romeo bangun dan merasa jijik padanya.
Romeo kembali menurunkan kakinya, dan duduk dengan tegak. “Ada apa?”
“Lihat ponselmu.”
Menurut, Romeo mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu meletakkannya di atas meja, dan dia hanya melihatnya.
Melihat kelakuan Romeo, laki-laki yang akrab dipanggil Joo itu mengusap wajah dengan kasar, ia lalu bergerak menampar udara seolah-olah menampar wajah Romeo karena kesal.
“Apa? Kau menyuruhku melihatnya, maka sudah kulakukan.” Romeo membela dirinya. Namun, tak urung membuat laki-laki itu mengecek ponselnya. Kerutan di dahinya mulai terlihat kala membuka notifikasi pesan yang ia dapatkan. Tanpa basa-basi, Romeo langsung memasukkan ponsel ke dalam saku dan membawa laptop-nya—buru-buru beranjak pergi.
“Kau ini, tunggu aku!” seru Joo, karena Romeo malah meninggalkannya.
Merasa melupakan sesuatu, Romeo berbalik lagi. Ia menatap tas di punggung Joo.
“Kenapa berhenti?” tanya Joo.
Bukannya menjawab, Romeo justru memaksa Joo berbalik dan membuka resleting tasnya. Lalu tanpa rasa berdosa, ia memasukkan laptopnya ke dalan tas milik Joo. “Di dalam tasmu pasti tidak ada apa-apa, aku titip laptop-ku dulu, ya. Jaga baik-baik.”
Jika bukan teman, Joo pasti akan memaki Romeo di depan wajahnya sekarang juga. Temannya yang satu itu memang suka sekali merepotkannya.
*****
Pintu atap gedung fakultas film terbuka lebar setelah berhasil didobrak. Jane, Ken, Kate, Romeo, dan Joo keluar dari sana. Raut wajah panik mereka berubah menjadi terkejut saat melihat seorang mahasiswa yang tidak mereka kenal, berusaha mencekik teman mereka.
Jane menutup mulutnya tak percaya saat berlari menuju kedua orang itu. “Aland!” teriaknya panik. Di susul oleh Kate, juga yang lain.
“Apa yang kau lakukan pada temanku?!” teriak Joo. Ia dan Ken berusaha memisahkan mahasiswa tersebut dari Aland. Tenaganya begitu kuat sampai-sampai Joo dan Ken kesulitan menanganinya. Kate datang menolong, gadis itu mengunci gerakan mahasiswa tersebut dengan membekuk kaki kanannya. Alhasil, mahasiswa yang tak dikenal itu langsung terduduk.
“Diam!” bentak Ken. Menyadari bahwa orang-orang datang untuk menolong mahasiswa yang dicekiknya, mahasiswa tersebut langsung diam.
Sementara Jane mencoba menenangkan Aland yang kini duduk dengan napas yang terengah-engah, gadis itu menyodorkan air minum karena wajahnya terlihat pucat, tetapi Aland tidak merespons sama sekali.
Romeo mendekat pada Aland dan duduk di sampingnya, tangannya menyentuh bahu Aland. Melihat wajahnya yang pucat, tubuhnya gemetar dan tatapannya yang kosong. Romeo merasa ada sesuatu yang terjadi.
“Aland, kau tidak apa-apa?” tanya Romeo.
Seperti baru terbangun dari mimpi, Aland baru sadar ada Romeo dan Jane di sampingnya, dia melihat teman-temannya dan baru menyadari mereka telah menyelamatkannya dari insiden yang hampir membuatnya meregang nyawa.
Aland menatap Romeo yang menatapnya dengan raut wajah tak bisa diartikan. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku,” ucap Aland dengan melihat semua teman-temannya. Mereka semua mengangguk.
“Lepaskan aku!” mahasiswa yang menyerang Aland itu meronta. Namun, Ken dan Joo memeganginya dengan kuat, sehingga dia tidak bisa bergerak.
“Tidak akan! Karena kau mencoba membunuh teman kami, kau tidak akan kami lepaskan dengan mudah!” teriak Kate di depan mahasiswa itu.
“Kami akan melaporkan tidakkanmu kepada wakil dewan supaya kau ditangani oleh direktur kemahasiswaan,” ucap Ken dengan gaya gemulai yang diangguki oleh Joo.
Romeo dan Jane mengajak Aland untuk berdiri. Tatapan Aland tertuju pada mahasiswa yang menyerangnya tadi. Ia masih terkejut atas insiden yang terjadi padanya, sehingga membuatnya menjadi lebih diam dari biasanya. Melihat Aland berdiri, rupanya menyulut emosi mahasiswa yang menyerangnya. Ia meronta dengan keras hingga hampir terlepas dari pegangan Joo, tetapi Kate berhasil menguncinya kembali dengan mendorongnya.
“Bisa diam tidak? Jika kau tidak bisa diam, maka aku akan menghabisimu sekarang juga,” ancam Kate.
“Teman-teman, aku dan Jane akan membawa Aland ke ruang kesehatan. Sementara kalian bawa dia ke wakil dewan,” titah Romeo. Semua orang mengangguk menyetujuinya. Meski kadang menyebalkan, Romeo menjadi orang yang disegani di antara mereka.
****
He was not sure who deepened the kiss first. It might have been Zoe- or at least a part of him wanted it to be her- but since it was all he had been thinking about since he saw her when she walked downstairs, it seemed more likely it was him. It stopped being important who deepened it first when their mouths collided fully in a clash of wet, warm tongues. Zoe’s arms went up and around his neck, clinging to him. Henry slid his hands down her body to her backside, scooping her up into his arms. She wrapped her legs around his waist and pushed her mouth further into his, exploring, tasting. The soft moans she released from her throat made his body tremble slightly. His knees weakened as his erection lengthened. Zoe kissed her way down his face, around his mouth to his neck, his throat, inhaling deeply when she got there. She felt perfect in his arms. He dropped her mouth to her shoulder and bit her there softly which caused her to moan louder. Bringing his mouth back to hers, he move
Zoe went to Mario’s house the next day with rage. She had made herself clear about leaving Henry to her. Why he kept meddling, she could not tell. She went into his room without knocking, and saw a half naked girl on his bed. The sheets was the only thing covering her nude body. "Welcome," the girl looked at Zoe from toe to head. "Mario did not say anything about a third person joining us." "Where is he?" "He stepped out for a bit." Zoe groaned in frustration. He was having fun with girls while also making things hard for her. The door to Mario’s room opened and he walked in wearing a black robe. He took one last puff of his cigar and put out the flame on a steel plate, furrowing his eyebrows at Zoe."What are you doing here? I did not ask you to come over." "I needed to discuss with you," she glanced at his visitor on the bed. "In private." "Excuse us," Mario told the girl as she got up from the bed, shrugged on a dress and walked out. "You can speak now.""I thought we agreed
Zoe stared up to the face of the voice in shock. Henry’s eyes searched her face worriedly. "What is wrong?" he asked. "You look like you have just seen a ghost." "I needed to step outside for a moment," she replied, checking to see if Mario was anywhere in sight. Zoe could no longer find him in the swarm of people. "You should have told me. Let us go somewhere else if you do not feel comfortable here." Zoe shook her head. "You still have guests to meet. I do not want to keep you away from them.""You are more important to me. Let us go." She felt bad making him leave early because of her. Zoe followed him outside, letting Henry open the front door for her. "Since when are you this nice?" "I am a changed man." Zoe snorted at his claims. "That is hard to believe." Henry was trying everything he could to gain her trust but she was being too hard headed. He should have known winning her over would take more effort and work. Coercing her into a contract marriage was obviously not e
Henry cleared out his work schedule to spend the day with Zoe. The last time they went out together on a date, he ended up messing everything up. This was his second chance to earn her trust again. Maybe if she trusted him, she would not have to be sneaking around in the house and be open to him. If she was hiding something from him then there must be a reason. She had never been one to be too secretive. Zoe would come to him herself whenever she was ready, but for now, he had to focus on winning her back. Zoe changed out of her clothes into something perfect for a date. She wore a dress with heels and a sling bag. Henry suggested a date together out of nowhere. Was he really changing for the better? Why did he have to be nice to her now of all times? If Mario had asked her a year ago to crash the servers, she would have done so with glee and without hesitation. But not now that he is actually putting in effort to make sure she was happy. Zoe joined Henry outside who waited for he
Emily went to Magatech to check on Zoe on her day off. She had been protective of Zoe since news of the pregnancy came to light, making sure she did not overwork herself. Emily had advised her to quit the job at Magatech but Zoe did not think it was a good idea. Henry would get suspicious if she sud
Maybe it was because if he let her leave, then he wouldn't have anyone else to work with him in catching the hacker."And note, if you aren't working in the office again, you must be at my place 24/7. I can't even trust you anymore. You are trying to breach the contract. What the h** Is it wrong with
"This is genuinely unbelievable! If I become your mistress, then what? You don't even know me!" Zoe said."You should've thought about it twice before sexually harassing me at the club!""We both know that was a mistake," Zoe continued to argue."No one is going to believe that! Girl molests a youn
“Take a seat,” Zoe heard and slowly walked to the chair in front of her. She took a sit, but kept her gaze low, hoping that he would not recognize her.“So, what is your name?”“Zoey James sir,” Zoe replied, still keeping her gaze down.“And how old are you?”“I'm 19 years old, I'll be turning 20 i












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews