Home / Fantasi / The Empress / 6. Kunjungan

Share

6. Kunjungan

Author: Lord Devil
last update publish date: 2024-06-10 15:40:38

Beberapa bulan kemudian, Qin Lang memutuskan untuk mengajak kedua anaknya berkunjung ke Kerajaan Ling. Li Yan, sepupu Wang Yin menikah dengan pangeran mahkota, Xiao Zixuan dan dia hendak membawa si kembar bertemu dengan bibi mereka.

Barangkali bisa memberikan sedikit informasi yang lebih soal Wang Yin.

Soalnya, kedua anak itu terus menanyakan banyak hal soal ibu mereka dan tidak pernah puas.

Selama mereka berangkat, Jenderal Wen Xiu ikut bersama mereka sedangkan Lin Wen berjaga di Kerajaan Yi dan terutama fokus menjaga Wang Yin yang tertidur dengan cantiknya.

"Bibi," sapa Qin Lian tanpa malu-malu begitu bertemu dengan Li Yan.

"A Lian, bagaimana kabarmu?" tanya Li Yan dengan lembut dan memeluknya dengan lembut.

"Aku tentu saja tidak baik, Bibi tidak pernah melihatku bagaimana aku bisa baik-baik saja," kata anak itu dengan wajah merengut yang disengaja.

"Manja," ketus Xiao Ling dengan ekspresi berbeda.

Anak itu usianya 7 tujuh, dia seorang pangeran tetapi sangat tidak elegen. Maksudnya, dia suka marah-marah dan berteriak atau mengucapkan kata-kata yang tidak manis.

Selain itu dia sering mengatakan kata yang berkebalikan dengan makna yang sebenarnya dia inginkan.

"Biar saja. Memangnya kenapa?" kata Qin Lian tidak suka diprotes seperti itu.

"A Yue, mari masuk. Bibi sudah menyiapkan ini untuk kalian. Ini adalah makanan kesukaan ibu kalian," kata Li Yan menyadari anak itu hanya diam dan karakternya sama dengan Qin Lang.

"Bibi, aku akan makan banyak. Boleh tidak?" rengek Qin Lian pada Ratu yang anggun dan lembut itu.

"Tentu saja boleh. Kau bisa makan sesukamu," jelas Li Yan.

Beberapa pelayan menyiapkan makanan dengan sopan dan tanpa suara.

Qin Yue dan Qin Lian mulai makan dengan lahap dan tenang, begitu pula Xiao Ling yang tidak mau kalah. Dia ikut makan.

"Enak," kata Qin Lian memuji masakan bibinya.

"Tentu saja enak, kau pikir apa memangnya?" dengus Xiao Ling dengan nada tinggi.

"Aku tidak bicara padamu, wleekkk!"

Qin Lian menjulurkan lidahnya pada Xiao Ling dan membuat anak itu memutar bola matanya.

"Dilarang berbicara saat makan," kata Qin Yue dengan nada suara tegas.

Qin Lian dan Xiao Ling mendadak terkejut dan menatap putri Qin Lang itu dengan tatapan aneh.

"Kau," kata Xiao Ling tak tahu harus berkata apa.

Dia kehabisan kata-kata setiap kali bertemu dengan sepupunya yang sangat patuh aturan dan kaku itu.

"Kakak, ayolah ini bukan di Yi. Bisakah jangan ucapkan peraturan demi peraturan yang membuatku merasa menjadi manusia paling buruk? Tahukah kau kalau ibu juga tidak suka dengan aturan yang kaku seperti jenggot kakek Qin Qiu itu."

Qin Lian membela dirinya dan dia ingin sekali kabur dari aturan-aturan kaku itu.

"Makanlah dengan tenang," ucap Qin Yue.

Dia sendiri sejak tadi makan dengan tenang dan sopan.

"Ck, kau seperti ayahmu. Kaku dan banyak aturan," kata Xiao Ling pada Qin Yue.

Gadis kecil itu menatapnya sekilas dengan ujung matanya dan hal itu membuat Xiao Ling bergidik ngeri seolah Qin Lang sedang menatapnya dengan tajam.

"Baiklah, baiklah, aku akan diam. Aku makan dengan tenang. Lihatlah kau luar biasa, bukan? Kau bisa mengatur aku di rumahku. Aku adalah pangeran di sini dan aku patuh padamu. Kuakui kau hebat!"

Xiao Ling mengacungkan dua jempolnya pada Qin Yue dan gadis itu tampak biasa aja. Maksudnya, tidak ada yang berubah dari ekspresi atau mimik wajahnya.

Sementara Li Yan hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak itu yang menurutnya sangat lucu.

Qin Yue yang seperti Qin Lang, Qin Lian mirip Wang Yin sedangkan Xiao Ling sama seperti ayahnya dan Li Wanyin. Entah apa yang membuat anak itu tidak mirip dengannya sedikit pun.

Itu masih misteri ilahi.

"Bibi, ayo ceritakan soal ibuku," pinta Qin Lian setelah mereka selesai makan.

Qin Yue dengan sabar membersihkan mulut dan wajah Qin Lian yang ternoda makanan.

Diam-diam Xiao Ling memperhatikan hal itu dan mulai kagum padanya.

"Ternyata dia bisa perhatian dan lembut," gumamnya dalam hati.

"Baiklah, ibumu sangat periang. Sama sepertimu," jelas Li Yan memulai ceritanya.

Qin Lian tersenyum manis dan bangga.

"Ah, aku memang keturunan ibuku. Aku sangat bangga.  Aih, aku merindukannya," ucap Qin Lian.

Jeritan itu bercampur senang dan sedih.

"Dia belum bangun juga?" celetuk Xiao Ling yang tahu kalau bibinya itu sakit dan belum bangun sejak melahirkan kedua anaknya.

"Belum, entah sampai kapan," kata Qin Lian mengeluh dan bersedih atas nasibnya.

"Mengapa kau bersedih? Bukankah kau ceria seperti ibumu? Seharusnya kau tetap seperti itu," kata Xiao Ling.

Dia merasa sedikit bersalah karena sudah asal bicara. Kini dia bisa melihat wajah sendu Qin Yue dan Qin Lian yang besar tanpa ibu.

"Kalian jangan begitu," kata Xiao Ling mulai menangis.

Dia merasa tidak sanggup melihat wajah kedua kakak dan adik itu.

"Mengapa Gege yang menangis?" tanya Qin Lian bingung dengan apa yang terjadi.

"Aku hanya merasa ikut sedih, apa itu tidak boleh?"

Xiao Ling terus menangis sampai ibunya juga ikut bingung.

"A Ling, jangan menangis nanti ibu juga ikut sedih," pintanya.

Xiao Ling mencoba menghentikan tangisannya dan beralih pada ibunya dan memeluknya.

"Aku tidak bisa membayangkan kehilanganmu. Aku pasti akan akan sangat kacau dan menyedihkan kalau hidup tanpa ibu," katanya sambil memeluk ibunya dengan sangat erat seolah dia takut kehilangannya.

Li Yan tersenyum. Di satu sisi dia senang, tetapi di lain sisi hal itu tampak sangat menyedihkan.

"Lap!"

Qin Yue memberikan Xiao Ling sapu tangannya karena tidak tega melihat pangeran itu menangis dengan bercucuran air mata.

"Terima kasih," ucapnya sambil mengambil satu tangan itu.

Sapu tangan biru muda yang dibordir dengan corak awan melayang. Sangat lembut dan wangi Peony.

"Seharusnya kami yang menangis, mengapa malah Gege yang menangis. Aku bahkan belum mendengar cerita tentang ibuku," keluh Qin Lian.

Xiao Ling merasa malu dan dia terdiam.

Setelah beberapa saat barulah dia berucap.

"Maafkan aku, aku hanya terbawa perasaan. Pasti tidak mudah menjadi kalian," ucapnya.

Qin Lian mengangguk tanpa ekspresi. Dia sudah kehilangan semangat untuk bertanya.

"Apa makanan kesukaan ibuku?" tanya Qin Yue mengawali pertanyaannya.

"Dia suka yang pedas, bercita rasa tinggi dan semua daging. Kalau kau mau aku bisa memberikan resepnya," jelas Li Yan dengan senang.

Qin Yue mengangguk tanda tidak menolak ide dan pemberian itu.

"Lalu, bagaimana dia biasanya dan apa yang sering dia lakukan?" tanya Qin Yue lagi.

"Dia suka bermain seperti laki-laki ketika masih kecil. Seperti berburu ayam, memanjat pohon. Oh iya, ibumu sangat takut dengan anjing," jelas Li Yan.

Perempuan itu menceritakan sedikit kisah masa kecil mereka yang lucu soal anjing dan Wang Yin yang sudah bagai musuh abadi selain Qin Qiu.

"Mengapa dia tidak takut monster tapi takut anjing? Itu aneh," tanya Qin Lian dengan kening agak mengeryit.

Dia kadang-kadang berpikir ibunya adalah manusia aneh. Dia bisa menyukai sesuatu dan takut pada hal sepele. Dia bisa menciptakan Jenderal Li Wen, tetapi takut pada anjing?

Itu aneh, bukan?

"Dulu, ketika kecil. Waktu ibumu hidup sendiri. Dia sering berebut makanan dengan anjing nakal di jalanan," kata Li Yan.

Qin Lian mendadak merasa sedih dan ingin menangis. Bagaimana bisa perempuan itu berebutan makanan dengan anjing jahat sementara dia baru saja makan dengan kenyang. Setiap hari mereka makan dengan kenyang dan enak.

"Me-mengapa bisa," lirih anak itu dengan suara parau.

"Itu kisah masa lalu. Bukan cerita yang indah."

Qin Yue mengangguk itu memang bukan kisah yang bagus.

"Baiklah, ceritakan kami kisah yang indah saja," kata Qin Lian akhirnya membuang rasa pedih yang menusuk hatinya.

"Hmm, ibumu sangat senang saat dia tahu dirinya hamil. Dia mengubah semua kebiasaan buruknya demi kalian. Dia bahkan makin senang ketika tahu kalau kalian kembar."

Li Li Yan memberikan beberapa cerita yang menarik dan kedua anak itu dengan senang mendengarnya.

Beberapa kisah sudah pernah mereka dengar dan beberapa belum.

Setelah lelah, mereka beristirahat dan akan diam dia sana selama tiga hari selama lima kerajaan melakukan koordinasi bersama.

Ini pertama kalinya Qin Lang keluar setelah lima tahun dan pertama kalinya menghadiri acara pertemuan, biasanya akan diwakilkan oleh Qin Qiu.

Orang-orang bertanya-tanya ada apa, apakah Wang Yin sudah bangun atau bagaimana.

Namun, dari sekian banyak pertanyaan tidak ada yang keluar dari mulut mereka, hanya dalam hati saja.

Mereka tidak ingin melukai perasaan Qin Lang.

"Kakak, kurasa kisah masa lalu sudah cukup," kata Qin Lian sambil duduk di kolam bunga teratai dengan kakinya tercelup dalam air itu.

"Mengapa?" tanya Qin Yue penasaran.

"Sampai kapan pun kita tidak akan mendapatkan kisah yang utuh dan manis. Kurasa masa lalu tidak bisa diulang, kita perlu menyiapkan masa depan. Aku akan berlatih dengan baik dan belajar agar bisa membangunkan ibu. Kita harus memiliki kisah indah bersamanya," jelas anak itu dengan mata berbinar-binar.

Qin Yue kagum pada pemikiran Qin Lian yang selalu cemerlang walau tingkahnya seringkali aneh.

"Baiklah," jawabnya sambil memeluk adiknya.

Bulan menjadi saksi janji dua saudara itu. Mereka akan menunggu ibunya dan membuat kisah bersamanya.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Empress   90. Mahkota Phoenix Tidak Dipakai

    Pagi setelah gerbang kedua runtuh, ketika gunung cang untuk pertama kalinya memiliki bayangan utuh di bawah matahari seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun orang-orang lima kerajaan menunggu Wang Yin mengenakan Mahkota Phoenix sebagai tanda penyelamat, tetapi mahkota itu tinggal serpihan di telapak Qin Yue. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena kemenangan mereka tidak otomatis menyelesaikan politik lima kerajaan; justru para penguasa ing

  • The Empress   89. Api yang Tidak Membakar

    Lingkaran batu gerbang kedua yang retak, ketika api putih muncul dari bawah kaki qin yue tanpa melukai kulitnya seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Yue mengenakan Mahkota Kabut bukan karena ingin memakainya, melainkan karena ia ingin mendengar semua suara yang terperangkap di dalamnya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena setiap suara korban meminta dipulangkan, tetapi Mahkota Kabut mencampur permohonan asli dengan rayuan agar Qi

  • The Empress   88. Gerbang Kedua

    Puncak gunung cang saat fajar, ketika kabut membuka lingkaran batu kedua yang selama ini tersembunyi di bawah akar merah seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Gerbang Kedua muncul bukan sebagai pintu keluar, melainkan sebagai cermin raksasa yang memantulkan semua orang dengan mahkota di kepala. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Mahkota Kabut menawarkan mimpi paling diinginkan setiap tokoh: Wang Yin sehat, Qin Lang tanpa kehilangan,

  • The Empress   87. Pengadilan Para Leluhur

    87. Pengadilan Para LeluhurBalai leluhur phoenix yang tersembunyi di bawah akar pohon merah raksasa, tempat suara orang mati disimpan dalam batu-batu kecil seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Wang Yin dipanggil masuk seorang diri, tetapi Qin Lang menolak membiarkan pintu menutup sebelum ia menggenggam tangan istrinya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena para suara leluhur menuntut Wang Yin memba

  • The Empress   86. Racun Kabut di Istana Yi

    Istana yi yang jauh dari gunung cang, tempat para pelayan mulai batuk perak dan lentera-lentera kerajaan menyala tanpa minyak seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun serangan terjadi bukan pada rombongan, melainkan pada rumah yang mereka tinggalkan. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Qin Lang harus memilih antara meneruskan pencarian di Gunung Cang atau kembali menyelamatkan rakyat yang mempercayainya. Dalam dunia mereka, musuh jarang

  • The Empress   85. Malam Ketika Qin Lang Tersenyum

    Malam sunyi di desa tanpa bayangan, ketika rombongan akhirnya mendapat kesempatan makan bersama tanpa rapat perang seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Lian menuduh Qin Lang lupa cara tersenyum dan meminta Wang Yin membuktikan bahwa ayah mereka masih manusia. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena ketenangan kecil itu terasa mencurigakan setelah terlalu banyak malam berakhir dengan serangan, tetapi semua orang memilih tinggal sebent

  • The Empress   5. Bukit Ying

    Setelah lelah membaca cerita yang dituliskan oleh Qin Lang, Qin Lian merasa mengantuk dan tertidur dengan kepalanya di atas buku tebal itu."Qin Lian apa yang kau lakukan?" Qin Yue terkejut mendapati adiknya malah mengiler di atas buku kesayangan ayah mereka itu."Kenapa? Aku kenapa?" tanya anak itu

  • The Empress   4. Pesona Pria Itu

    Sebelum, pernikahan Qin Lang dan Wang Yin dilaksanakan semua pihak merasa senang dan bahagia. Kecuali Liu Ji yang merasa dirinya lebih tampan dan gagah dibandingkan manusia es itu."Mengapa dia memilih pangeran biasa saja dibandingkan aku?!" teriak Liu Ji tidak terima dengan keputusan Wang Yin yang

  • The Empress   3. Seorang Pria dari Jauh

    Suasana kamar pangeran mendadak riuh, Qin Lian sibuk mencari baju zirahnya dan mengenakannya.Tak hanya itu, dia juga mengambil pedangnya yang diasah dan diukir mirip seperti milik ibunya, Pedang Hong.*Pedang Hong : merah sesuai dengan warna sarungnya."Qin Lian mau ke mana?" tanya Qin Qiu terkejut

  • The Empress   2. Hukuman

    Seusai melaksanakan hukuman mandiri mereka, kedua anak Qin Lang dan Wang Yin berlari ke kamar Qin Qiu. Ketidakpuasan dalam hati Qin Lian mendorong dirinya untuk terus bertanya soal ibunya.Sebelum pergi meninggalkan kamar Wang Yin, anak itu sempat mencium pipi ibunya dan berbisik agar perempuan itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status