LOGIN— Sold. Claimed. Bound to a monster. When Sena’s own family betrays her to supernatural slave traders, she thinks her nightmare can’t get worse. Then the cursed Alpha King buys her at auction—not as a servant, but as his mate. Kael Ravencroft is the beast who slaughtered his own pack in a single night of madness. Now he’s trapped Sena with an ancient moon bond, tying her life to his in the cruelest way possible: if he dies, she dies too. He claims he needs her healing magic to break his curse. She’d rather see him burn. But in his ruined kingdom, Sena discovers the horrifying truth—three hundred innocent souls died because of a betrayal that destroyed everything Kael loved. And her power might be the only thing standing between him and complete darkness. Now she faces an impossible choice: help the monster who bought her, or watch him fall to a curse that will consume them both. Some bonds are forged in darkness. Some love is born from fury. And some healers must decide if a beast is worth saving.
View More"Aahh... Lebih cepat, sayang. Terus ... aarggh."
Jantung Alea berdegup kencang saat mendengar erangan dan desahan dari dalam apartemen kekasihnya. Suara itu membuat kakinya gemetar, tetapi ia tetap melangkah, mengikuti sumbernya. Semakin dekat ke kamar, suara itu semakin jelas—menusuk telinganya seperti belati tajam. Jemarinya mencengkeram erat kotak merah yang dibawanya, hadiah kecil berisi kue yang dibuat dengan penuh cinta untuk kekasihnya, Martin. Namun, saat berdiri di ambang pintu, dunianya runtuh dalam sekejap. Napasnya tertahan. Kedua matanya membelalak, memaku pandangannya pada pemandangan yang menghancurkan hatinya. Di atas ranjang, Martin terbaring tanpa sehelai benang pun di tubuhnya—bersama seorang wanita yang sangat dikenalnya. Dadanya sesak, seolah udara menghilang dari ruangan. Kotak merah dalam genggamannya bergetar, hampir terlepas dari tangannya. Semua rasa cinta dan harapan yang dia bawa kini luruh, berganti dengan nyeri yang mengoyak hatinya tanpa ampun. "Aaarghh… baby… I feel so good," ucap Martin dengan suara parau. Dia baru saja mendapatkan euforianya. "Jalang dan bajingan." Suara dingin dan menusuk itu sontak membuat sepasang manusia yang tengah memadu kasih langsung menghentikan kegiatan mereka. Napas mereka tertahan, jantung berdegup kencang. Saat menoleh ke arah pintu, mereka melihat Alea berdiri di sana. Wanita itu menatap keduanya dengan sorot mata tajam dan penuh jijik, seolah pemandangan di depannya benar-benar menjijikkan. "Sa—sayang? Ka-kamu ada di sini?" Martin tergagap, buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Wajahnya pucat pasi, kepanikan tergambar jelas di matanya. Alea tidak menjawab. Bibirnya tertarik membentuk seringai dingin. Tatapannya berpindah ke wanita di samping Martin—seorang perempuan berambut panjang dengan wajah penuh ketakutan. “Jadi ini yang selama ini kamu lakukan di belakangku, Martin?” suara Alea terdengar tenang, tapi sarat dengan kemarahan yang ditahan. Martin menelan ludah, kebingungan mencari alasan. Sementara itu, wanita di sebelahnya hanya bisa menggigit bibir, tak berani menatap Alea. Suasana kamar yang tadi dipenuhi desahan kini terasa menyesakkan, mencekam. "Kamu ada main dengan wanita jalang ini? Ah... pantas saja kamu betah banget LDR sama aku. Ternyata selama aku jauh dari kamu, ada wanita jalang ini yang memuaskan kamu ya?" ucap Alea seraya menatap wanita yang berada di samping kekasihnya dengan tatapan yang merendahkan. "Alea, aku bisa jelasin... a-aku…" "Maaf, Alea. Selama ini aku dan Martin sudah saling mencintai," ujar Linda tanpa ragu. Linda, yang selama ini dianggap sahabat, ternyata adalah pengkhianat. Alea terdiam, berusaha mencerna pengakuan itu. "Linda, diamlah!" Martin mencoba menghentikan Linda, tapi semuanya sudah terlambat. "Aku mencintai Martin, dan kami sudah memiliki hubungan selama satu tahun." Nada suara Linda terdengar melas, tetapi berbanding terbalik dengan sorot matanya yang tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Dada Alea terasa semakin sesak. Pengkhianatan ini menyakitkan, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan dua orang yang telah menghancurkan kepercayaannya. "Oke, kalau kalian memang saling mencintai…" Alea berusaha tersenyum, meski hatinya hancur berantakan. "Kalian memang cocok. Jalang dan bajingan." Dia berjalan mendekati mereka, lalu membuka kotak yang sejak tadi dibawanya. Di dalamnya, ada kue ulang tahun yang dibuatnya dengan penuh cinta. Untuk Martin. Tapi kini, maknanya telah berubah. "Selamat ulang tahun… dan hubungan kalian berakhir denganku." Tanpa ragu, Alea melemparkan kue itu tepat ke wajah Martin dan Linda. Kue yang dibuatnya dengan susah payah, kini hancur, sama seperti hatinya. Martin dan Linda terlihat kacau, wajah mereka dipenuhi oleh krim kue. Tanpa menoleh ke belakang lagi, Alea melangkah pergi. Marah, kecewa, dan terluka karena dua orang yang paling dia percaya telah mengkhianatinya. "Sialan!" umpat Alea sembari mengusap basah di bawah matanya. "Jangan menangis Alea. Jangan menangis untuk orang-orang seperti mereka." Dalam keadaan hancur, Alea melangkah pergi keluar dari gedung apartemen Martin. Bukan pulang, dia malah pergi ke sebuah tempat hiburan malam yang menarik perhatiannya. "Mungkin aku bisa bersenang-senang di sini." Wanita itu keluar dari mobil taksi yang membawanya ke tempat ini. Sebuah club malam bernama Gold Night yang katanya sangat terkenal di kota ini. Wajah dan bentuk tubuh Alea yang indah, menjadi sorotan beberapa pria yang ada di sana. Mereka mencoba untuk menggoda Alea, tapi Alea mengabaikan mereka semua dan lebih memilih ditemani oleh minuman yang baru saja dia pesan. "Oh ... ya ampun. Kenapa rasanya aneh sekali? Lidahku seperti terbakar, tapi ada manis-manisnya juga." Alea berkomentar, setelah mencoba minuman yang baru pertama kali dicobanya. "Kamu baru pertama kali nyoba alkohol ya?" tanya seorang pria yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Namun, sendirian juga rasanya tak nyaman. Akhirnya Alea memutuskan untuk menyewa seorang pria bayaran, demi mengusir rasa kesepiannya. Usai menyebutkan pesanannya pada sang penyedia layanan, kemudian dia melangkah pergi ke kamar yang akan ditempatinya. Wanita itu berjalan sempoyongan, siapapun yang melihatnya, sudah pasti tahu kalau dia mabuk berat. Sebuah pintu kamar yang dituju Alea terbuka, dengan seorang pria di dalamnya. Alea yang mabuk tidak menyadari jika dia salah memasuki kamar. "Eh? Kok sudah ada di sini sih? Padahal aku baru pesan loh." Alea yang wajahnya sudah memerah itu tampak bingung, karena ada seorang pria yang sudah ada di dalam kamar. Padahal dia baru saja menelpon pemilik tempat yang menyewakan jasa gigolo tersebut. Juno, pria itu menatap Alea dengan tajam dan dia hendak berjalan keluar dari sana. Namun, Alea menghentikan langkahnya dengan memegang tangan Juno. "Jangan sentuh sa—" Lelaki itu tiba-tiba saja berhenti bicara ketika bibir Alea dengan berani menyentuh bibirnya. Kedua mata Juno terbelalak kala merasakannya. "Dasar gadis kurang ajar, kamu—" "Kamu ganteng juga ya, Om. Ayo temani aku Om.” Tanpa ragu, ia menarik Juno ke atas ranjang. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada di atas tubuh pria yang jelas lebih dewasa darinya. "Ayo tidur denganku, Om. Aku ini sudah berpengalaman loh." "Dasar anak zaman sekarang. Benar-benar keterlaluan," desis Juno yang berusaha bangkit dari tubuh Alea. Akan tetapi, Alea terus berusaha untuk menahan Juno di sisinya. "Hen-hentikan, atau saya tidak akan bisa menahan diri." Juno yang saat ini sudah bertelanjang dada, tidak mengira kalau dirinya akan tergoda oleh Alea yang saat ini sedang meninggalkan jejak-jejak di dadanya. Dia berusaha menahan diri akan sesuatu yang bisa meledak di dalam dirinya. Hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, dan wanita ini yang sudah membangkitkannya. Bak kucing yang diberi ikan asin, akhirnya Juno menerima apa yang Alea berikan padanya. Dia juga mulai membalasnya dengan hal serupa, hingga keadaan semakin memanas. Juno melahap bibir wanita mabuk itu dan menjamah tubuhnya. Keduanya kini sudah sama-sama menanggalkan pakaian yang mereka kenakan, karena terbawa suasana. Tubuh mereka sama-sama memanas, kala jari-jari Juno mulai merayap masuk ke paha dalam wanita itu. Dia pun berhasil masuk ke dalam sesuatu yang ada di dalam segitiga pengaman milik Alea. Namun, suatu hal yang janggal terjadi... kedua jari yang mencoba menerobos milik Alea itu terasa begitu kesusahan. "Aaahh! Sakit, Om." Pekik Alea, membuat kerutan di dahi Juno semakin jelas. Tidak lantas mempercayai asumsinya, Juno pun mengeceknya sekali lagi. Namun, mata pria itu membelalak tajam, menatap ke arah gadis yang sudah tidak berdaya di bawah kendalinya, "Ka-kamu masih virgin?"I woke up before Kael, though "woke up" was generous—I'd barely slept at all. Every time I'd closed my eyes, I saw them. Kael and Lydia. Kissing. Touching. His hands in her hair. Her arms around his neck.The images played on repeat in my mind like a curse I couldn't break.I carefully extracted myself from the bed, trying not to disturb him. My eyes felt puffy and swollen from crying, but I didn't care. They'd go back to normal eventually.I went through the motions of cleaning up—washing my face, brushing my hair, putting on a simple dress that accommodated my massive belly. All of it mechanical, automatic, like I was watching someone else perform these actions from a distance.Then I left the room before Kael could wake up. I couldn't face him right now. I couldn't pretend everything was fine when I could still see that kiss burned into my memory.I made my way down to the dining hall. It was early—the sun had barely risen—and the room was empty except for servants preparing for th
Sena's POVDays later, I noticed something was wrong.Kael hardly touched me anymore. Not in the way he used to—not with that easy affection, those casual caresses, the constant need to be close to me. Now, when he did touch me, it felt... perfunctory. Like he was going through the motions of being an attentive mate without actually feeling it.And there was something in his eyes. A guilt that flickered there sometimes when he looked at me, before he quickly covered it with smiles and reassurances.He was growing distant. I could feel it.At first, I tried to tell myself I was imagining it. That the pregnancy hormones were making me paranoid, making me see problems where there weren't any.But then I noticed he was leaving the bed every night.Around midnight, when he thought I was deeply asleep, he would carefully slip out of bed, place a pillow beside me so I wouldn't notice his absence immediately, and leave the room.The first time it happened, I'd dismissed it. Maybe he couldn't
That night, I retired to our bedroom feeling the weight of everything that had happened pressing down on me. My body ached from the fight with Lysander, and my mind was still processing Lydia's surrender and everything she'd admitted to in the throne room.Sena was already in bed when I entered, propped up against the pillows, her hand resting on her swollen belly. She looked exhausted but alert, clearly waiting for me.I undressed quietly and climbed into bed beside her, pulling her gently against me."How did everything go?" she asked softly. "With the questioning?""Lydia confirmed everything," I said. "Every crime, every betrayal. She didn't deny anything.""And what will you do with her?" Sena asked, her voice careful.I didn't want to tell her my plans. Not yet. Not when they were still forming, still taking shape in my mind. So I kissed her forehead gently and said, "Lydia will get the justice she deserves. Don't worry about it tonight."I changed the subject before she could p
The throne room was filled with an oppressive silence.Lydia stood in the center of the room, chains binding her wrists and ankles. A heavy collar was locked around her neck, connected to the chains on her hands, making it impossible for her to raise her arms higher than her chest. The metal gleamed dully in the torchlight.Guards surrounded her—six of them, all armed, all watching her every movement. They weren't taking any chances.I sat on the throne, with Callister to my right and Tristan to my left. Finn stood near the door. Other senior warriors lined the walls, their expressions hard and unforgiving.Everyone who had lost someone because of Lydia's actions was in this room. Everyone who had a reason to want her dead.Lydia herself looked small standing there in chains. Her face was gaunt, her eyes tired. She didn't look at anyone directly, just kept her gaze somewhere in the middle distance, waiting.The silence stretched on. I let it. Let her feel the weight of it, the anticip












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.