LOGINIn Ha, no, Lilian, staring at the people in front of her. This is her stage. This is her world. Wherever she is, she will always be a classy villain. The devil. So...became a kind-hearted protagonist? What a joke! She rejects the role, and without warning, her soul transmigrates into the protagonist's body. __________ EXCERPT : Hyun Jae kept his head looking around. In Ha, who saw her manager's unusual behavior, frowned. "Oppa, what are you doing? Are there paparazzi?" In Ha followed Hyun Jae's sight. It was quite cloudy and no one was around. Finally Hyun Jae turned his back, one hand covering a bit his mouth, and the other hand telling In Ha to come closer. In Ha leaned over. "You, I don't know what relationship you have with that man, but I have to warn you. That man is crazy! He's worse than the paparazzi! Scarier than sasaeng fans! You have to be careful, Seo In Ha!" In Ha looked at Hyun Jae and shook her head. "Now to me, you look more crazy." Hyun Jae sent her a death glare. "Hmp! Whatever if you don't believe me! Get down there! Just know yourself when something happens! Hmp! In Ha got out of the car and looked at her manager's car, which was getting away. She looked up at the sky. Raindrops began to fall. Hyun Jae's words earlier annoyed her a little. As soon as she turned around, that man was there. Standing not far from her. *sasaeng : obsessive* __________ *the original cover is not mine
View MoreTangan lembut itu meraba sesuatu yang nampak asing baginya. Selaras dengan pikiran dan kesadarannya yang belum pulih benar menemui paginya. Nada seketika membuka matanya perlahan. Dia kaget mendapati pria asing berbaring tenang di sampingnya dengan bertelanjang dada berselimut tebal.
"Astaghfirullah ... apa yang terjadi," gumam gadis itu terlonjak melebarkan netranya. Nada terduduk shock mendapati dirinya tidak mengenakan selembar kain pun. Selaras dengan pria yang tengah pulas di sampingnya. Jantung Nada berdebar rancak, dadanya bergemuruh marah mendapati dirinya dalam keadaan naked begini. Ada bercak merah di sprei yang membuatnya semakin yakin kalau semalam telah terjadi sesuatu yang sangat disesali. "Ini tidak mungkin! Siapa pria ini," gumam Nada dengan tubuh bergetar hebat. Matanya memanas dengan perasaan marah. Seketika pipinya basah tak bisa dicegah. Ini terlalu mengejutkan. Apakah seseorang telah menjebaknya. Kenapa dia bisa terdampar dengan sembarangan pria. Dengan perasaan berkecamuk tak karuan dan jantung berpacu kencang, dia memberanikan diri untuk menatap sungguh-sungguh pria di sampingnya. Memperhatikan siapa pria yang telah tega merampas kehormatannya. Deg Jantung Nada seolah berhenti berdetak, netranya membulat sempurna dengan dada bergemuruh sesak kala mendapati pria di sampingnya adalah seniornya di kampus yang paling disegani. Pria dingin, dominan, kharismatik, salah satu most wanted dan hampir seluruh mahasiswi di kampusnya mengaguminya. Sayangnya pria itu terlalu angkuh. Bukan type Nada sekali dan dia satu-satunya perempuan yang mungkin tidak mau berurusan dengannya. Namun, kenapa malam ini dia malah terjebak di ranjang yang sama. Bagaimana mungkin itu terjadi. Mustahil bagi Nada untuk mendekatinya walau sekedar menyapa. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Nada hanya sekedar tahu karena pria itu memang populer di kampusnya. Senior galak idaman sejuta umat. Salah satu pewaris petinggi kampus tempatnya bernaung mencari ilmu. Siapa pun perempuan akan berlomba-lomba menarik simpatinya. "Kak Saga," batin gadis itu memekik shock. Bagaimana mungkin dia bisa satu ranjang dengan pria dominan ini. Seketika rasa takut langsung menyelimuti sekujur tubuhnya. Seharusnya dia tidak terlibat apa pun dengan pria ini. Sungguh ini mimpi buruk baginya. "Sebenarnya apa yang terjadi semalam. Kenapa aku bisa seranjang dengan pria ini. Ah! Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas," batin gadis itu setengah frustrasi. Pikirannya kacau tak karuan. Serasa ingin mengamuk, tetapi tentu tak punya nyali hanya untuk sekedar mengusik tidurnya. Pelan gadis itu menyibak selimutnya. Memastikan pergerakannya tidak terbaca. Dia beringsut turun menjauh dari ranjang yang menjadi saksi pergulatan panas semalam. Isi pikirannya berantakan mencoba mencari ingatan semalam. Dia terlalu buntu untuk mendapatkan memorinya. Hati-hati Nada memungut pakaiannya yang berserakan. Ini sangat memalukan. Dia memakainya cepat dengan tubuh terasa tidak nyaman sekali. "Dasar brengsek! Bagaimana ini bisa terjadi," batin Nada marah tertahan. Apakah pria ini sengaja menariknya ke dalam lingkaran gelapnya. Atau justru keduanya sama-sama terjebak menjadi korban. "Sss ...," desis gadis itu merasa tidak nyaman sekali untuk berjalan. Ia memindai penglihatannya mencari ponsel miliknya. Dengan penuh hati-hati Nada mengulurkan tangannya meraih ponsel yang terdampar di pinggir bantal. Napasnya tertahan sejenak, takut sekali tiba-tiba pria ini bangun, lalu menuding dirinya telah lancang menidurinya. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Berharap tidak harus berurusan dengannya lagi walaupun jelas dia merasa dirugikan sekali. Jujur Nada marah, tetapi untuk berhadapan dengannya Nada tak punya nyali. "Ya Tuhan ... Kenapa aku bisa di ranjang cowok itu?" batin Nada terus memutar otaknya. Sayangnya memori semalam seakan buntu mengingat kepingan peristiwa yang terjadi. Ditambah tubuhnya seolah lelah dan ngilu di sana sini. Gadis itu berlalu dengan perasaan terluka. Kenapa dia bisa berada dalam satu ranjang bersama Saga. Sungguh itu musibah baginya. Dia merasa hancur dalam semalam. Bagaimana kehidupannya setelah ini, Nada hampir tidak sanggup membayangkan. Bukankah semalam Nada menghadiri pesta lajang salah satu temannya. Seingatnya dia tidak mengkonsumsi alkohol atau minuman aneh-aneh lainnya di tempat acara. Kenapa dia bisa tiba-tiba terjebak begini dengan pria brengsek itu. Apakah seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minumannya? Nada ingat betul dia semalam hanya seru-seruan menikmati acaranya. Tidak mengkonsumsi alkohol sedikit pun. Nada hanya minum red velvet yang tersaji di sana. Apakah minuman itu mengandung obat. Marah, kesal, bercampur dalam satu waktu. Kenapa dia bisa terdampar di ranjang pria dingin itu. Apa yang harus Nada lakukan setelah ini. Dalam kebingungan Nada mencoba mencerna kepingan semalam. Kejadiannya yang begitu tiba-tiba membuat perempuan itu tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tidak tahu siapa yang telah menggiringnya dan memberanikan keberanian untuk tidur dengannya. Sesampainya di kediamannya, Nada langsung membersihkan diri. Dia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri yang kini sudah terjamah pria itu. Pikirannya disibukkan dengan lamunan panjang hingga membuatnya semakin terpuruk sendu. Marah sekali rasanya, tetapi ia juga bingung harus melakukan apa. "Tidak mungkin kan aku mabuk lalu menggodanya. Kami tidak saling mengenal," dumel Nada tak punya petunjuk. "Ah, sial, kenapa harus Kak Saga sih," ujarnya setengah frustrasi. Menggosok-gosok tubuhnya sendiri bekas tanda merah di tubuhnya dengan kasar. Dia terduduk hancur di bawah guyuran air shower yang mengalir membasahi tubuhnya. Apa yang harus Nada lakukan, bagaimana kalau pria itu diam-diam mempunyai penyakit serius yang menular. Atau kemungkinan terburuk membawa virus mematikan. Oh my .... Yang tadinya masih ingin terpuruk dalam kesedihan, membuat Nada bangkit dan ingin segera mencari solusi. Dia bergegas mengeringkan tubuhnya. Dengan pikiran kacau Nada mencoba menghubungi salah satu temannya yang mengikuti pesta semalam. Tetapi justru panggilan darinya tak mendapat sahutan. Pesta lajang semalam adalah bentuk partisipasi dirinya terhadap salah satu temannya yang akan menikah minggu depan. Namun, kenapa justru Nada merasa sial. Sepertinya tidak mungkin sekali salah satu dari orang di pesta itu berniat berbuat curang padanya. Perempuan itu kembali ke hotel untuk meminta rekaman CCTV di sana. Mana tahu ada sedikit petunjuk yang dapat memberikan bukti tentang semalam. Nada benar-benar tidak begitu ingat dengan kejadian semalam. Apakah dia mabuk? Atau terperangkap pemuda hidung belang. Mereka melakukannya setengah sadar. Nada juga tidak ingat menolaknya. Seingatnya dia hanya merasa tubuhnya panas dan begitu nyaman saat pria itu menyentuhnya. Apakah dia dalam pengaruh afrodiksiak? Lantas, kenapa pria itu malah memanfaatkan keadaan. Siapa yang sudah memasukkan racun itu ke dalam minumannya. "Maaf Kak, kami tidak bisa membagikan data tamu pada orang sembarangan. Itu sudah menjadi prosedur kebijakan hotel." "Tapi Mbak, saya butuh tahu orang yang memesan kamar enam ratus enam puluh sembilan." Apakah benar Saga pelakunya, atau keduanya sama-sama korban. Padahal Nada penasaran sekali dengan kejadian yang menimpa dirinya. Tidak mendapatkan hasil membuatnya setengah frustrasi memutuskan kembali ke rumah. Dia benar-benar dalam masalah. Hal pertama yang harus Nada lakukan adalah melakukan sejumlah pemeriksaan setelah berhubungan dengan orang sembarangan. Dia bahkan tidak tahu orang itu pakai pengaman atau tidak. Sebelumnya punya riwayat penyakit serius atau sehat. "Oh no! Jangan sampai ada jejak setelahnya. Dasar badjingan!" batin Nada tidak karuan. Setelah berkutat dengan pikirannya yang tidak tenang, Nada merasa lapar karena semalam dia melewatkan makan karbo. Pagi jelang siang ini dia memutuskan untuk memesan makanan karena malas keluar. Tubuhnya masih terasa begitu lelah sisa adegan panas semalam. Dia bahkan memilih untuk menghuni kost seharian. "Kenapa nasibku jadi gini sih," batin gadis itu kesal bukan main. Setelah merasa kenyang, Nada memutuskan untuk tidur. Memulihkan pikirannya yang berat. Dia bisa stress kalau dihadapkan situasi seperti ini sendirian. Sementara untuk mengadukan pada orang tuanya tidak ada keberanian untuk itu. Seharian di kamar, panggilan dan juga chat dari teman-temannya pun dia abaikan. Sibuk memikirkan hari esok yang seperti dihadapkan mimpi buruk untuknya.An old woman looked down at the distance. Her gaze fell on a pair of smiling lovebirds.She squinted her wrinkled eyes to make sure what she saw was real."Well, I guess it's about time that bastard opened the portal, right?"The granny turned to her side. A big wolf with sprakling silver fur stared at the same point."That is the last one." he mumbled.The next second, they heard something crack behind them. The two of them turned their heads in the same time and looked back.From out of nothing, a red crack appeared in the air and slowly revealed the sides inside."Come on." The big wolf was already on all fours and stepped inside.The granny, who had been known as a shaman all her life, followed the wolf without hesitation.It was time for her to end her life in this world.And continue the one that has been interrupted in that world.
The photo of In Ha being discharged from the hospital a few days ago returned to the gossip forums. Her fans made a fuss on her social media.'Hey, just yesterday her photo with A guy was seen, this time he has taken B with her.''Eh, do you think this guy looks like the guy in the Writer Kim scandal?''Wow, my goddess did not choose the wrong partner.''Uh, I just want to cry. They look good together.’Lee Han massaged his forehead.Now he knew why this special actress always escaped when she was caught in a case. The man in the photo was the investor in every job In Ha took. He even owned shares in Jewel Entertainment.Lee Han felt that maybe he should start worshiping that woman.The woman he wanted to worship called.“Lee Han Oppa!”"Yes. What is it? Are you okay?""Yes thank you. I want to tell you something…” In Ha took a long pause in between.Lee Han raised his
"I'll ask again, did you sleep with In Ha too?" the way he caledl her name made it sounded intimate.In Ha felt Arthur's hand on her waist tighten. He stiffened. Either because he feel offended or angry at Ji Hoo's words. What was certain is that In Ha really didn't like the words that come out of his dirty mouth. Did he think people of the opposite sex should sleep together every time they met?"You-!"“For a well-known lawyer, your mouth doesn't live up to your reputation. Ah, I think a new reputation might be appropriate.” Arthur cut In Ha calmly. His demeanor made the opposite of his tight touch."Ha! Screw that reputation."Ji Hoo found out what Bon-Hwa was doing behind his back. At first, he hoped it would turn In Ha back to him, but instead, it made his name even more muddy.“I forgot to tell you. I already fired that woman. So there's no reason why we can't be together, right?” he looked at In Ha sharply.
…Alex's head was spinning. He wanted to abandon this case.Today, they gathered together on the grounds of mediation. With the excuse that she was still injured, In Ha stayed at the hospital so they decide to meet in her room.They here referred to In Ha as a victim, Alex as her lawyer and Anna Kim's representative as her defender.But who would have thought, the lawyer who came and sat in front of them was Won Ji Hoo?That scandalous lawyer?And Seo In Ha's rumored ex-boyfriend?The latest information he got, Won Ji Hoo took over the case that should be handled by Lawyer Wang.Alex hated criminal lawyers. Especially lawyers who defend everything for money. It didn't matter if they were guilty or not. And Won Ji Hoo fell into this category. Even so, his career in the world of lawyers couldn be said to be good. That made Alex even more reluctant to deal with him.It wasn't just Alex who had a wrinkled face.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews