The Legendary Mage and Her Golden Dragon

The Legendary Mage and Her Golden Dragon

last updateHuling Na-update : 2022-06-27
By:  CeliaNayaOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
8
4 Mga Ratings. 4 Rebyu
51Mga Kabanata
3.0Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Synopsis

Cassy had always felt different from others as if she didn't belong anywhere, and if it was because she didn't belong here but in another world, and if her destiny was more important than just going to college and getting a job after graduation. After a solar eclipse and apocalyptic visions, Cassy's destiny will be revealed to her, will she be strong enough to face the danger that will come her way. Fortunately, she won't be alone, her soul mate will always be there for her and so will her friends, together they will learn to fight and become strong enough to face the Demon God and his army. If you like fantasy novels about mages, warriors, shapesfithers, demons, travel between different worlds, systems, this novel is for you. WARNING, the main couple will be a straight couple and the side couple will be a gay couple (boys love), you have been warned. Update monday to friday For french people a french version is available on my personal website at https://celianayawebnovel.com/ in this website you can find all my stories :)

view more

Kabanata 1

Mysterious Fever

“Mas, kamu semalam pulang jam berapa? Aku nungguin sampai jam sebelas, tapi kamu belum pulang.”

Semalam, Elyssa memang menunggu kepulangan Albert, hingga ia ketiduran di sofa. Saat terbangun, ia masih berada di tempat yang sama, sedangkan Albert sudah terlelap di ranjang.

Hati Elyssa terasa perih. Ia teringat saat dulu, di mana Albert akan menggendongnya ke kamar, memindahkannya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Tapi semalam, ia diabaikan, dibiarkan sendirian di sofa yang dingin.

"Harusnya kamu bangunin aku, Mas. Gak enak tau tidur di sofa. Badan aku jadi pegel," keluh Elyssa dengan suara manjanya, berharap Albert akan memperhatikannya.

Namun, Albert tidak merespon. Ia terus mengunyah makanannya, berpura-pura tidak mendengar.

"Mas?" panggil Elyssa lagi, suaranya terdengar ragu.

Albert menyahut, tapi dengan topik yang berbeda. “Nanti sore dandan yang cantik! Pakai baju yang paling bagus!”

Elyssa diam sejenak. Lalu ia spontan mengukir senyum. Ia berpikir kalau Albert akan mengajaknya makan malam, menggantikan hari kemarin untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Setelah semalam Albert pulang larut karena lembur.

Tak apa kue dengan lilin-lilin kecil yang telah Elyssa siapkan semalam tidak dilirik oleh Albert jika gantinya adalah makan malam berdua di luar.

“Iya, Mas. Aku akan dandan yang cantik,” sahutnya. Senyumnya merekah, dengan mata penuh binar.

Dan sore itu, Elyssa sudah tampil memukau dalam balutan gaun malam. Potongan gaun yang elegan menampilkan lekuk tubuhnya dengan anggun, sementara aroma parfum musk yang memikat menyebar di udara. Ia begitu bahagia. 

Setelah sekian lama, akhirnya Albert meluangkan waktu untuknya, dan Elyssa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tepat pukul lima sore, suara mobil Albert terdengar. Elyssa bahkan sudah menunggu di depan pintu, bersiap menyambut sang suami.

“Akhirnya kamu pulang, Mas.”

Sejak Albert naik jabatan menjadi Direktur Keuangan di kantornya, sikap lelaki itu memang terasa berubah. Albert semakin sibuk, jarang memberikannya waktu, dan bersikap dingin.

Awalnya Elyssa memaklumi. Ia berpikir mungkin perubahan sikap suaminya itu pengaruh terlalu lelah bekerja. Tapi genap setahun, Albert masih saja bersikap dingin dan seperti menghindarinya. Hal ini membuat Elyssa makin tersiksa oleh rasa sepi.

Namun, hingga kini Elyssa masih terus mencoba memahami. Mungkin ini hanya fase sementara untuk menguji pernikahan mereka.

Ketika sore tiba, Elyssa sudah tampil memukau dalam balutan gaun malam. Potongan gaun yang elegan menampilkan lekuk tubuhnya dengan anggun, sementara aroma parfum musk yang memikat menyebar di udara. Ia begitu bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya Albert meluangkan waktu untuknya, dan Elyssa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tepat pukul lima sore, suara mobil Albert terdengar. Elyssa bahkan sudah menunggu di depan pintu, bersiap menyambut sang suami.

“Akhirnya kamu pulang, Mas.”

Saat itu juga, Elyssa langsung mematung. Albert ternyata tidak sendirian. Seorang pria ikut bersamanya dengan sebuah koper.

Pria itu menatap Elyssa cukup lama dengan senyum di bibirnya. Senyum yang terasa hangat, berbeda dengan senyum Albert yang terkesan kaku.

“Ayo, silakan masuk!” seru Albert.

Elyssa lalu menarik Albert ke sisi lain, meninggalkan tamu yang masih melihat sekeliling rumah mereka.

“Mas, dia siapa?” bisiknya.

“Dia Sean, temanku waktu kuliah. Dia ini lagi nyari tempat tinggal sementara, jadi aku membawanya ke sini,” jelas Albert.

Elyssa mengernyit, heran. “Maksudmu, dia akan menumpang di sini?”

“Iya. Dia baru pindah ke kota ini karena kerjaan. Dan belum dapat tempat tinggal, makanya aku nawarin dia untuk nginap sementara di sini.”

Elyssa terlihat tidak suka. Ia merasa tidak nyaman jika ada orang asing tinggal bersamanya di rumah. “Harusnya kamu ngomong dulu sama aku, Mas.”

"Gak semuanya harus aku ngomongin sama kamu, Elyssa! Pendapatmu itu gak penting!”

Ucapan Albert terasa seperti pukulan, langsung menusuk hati Elyssa. Ia mematung saat melihat suaminya berbalik dan kembali berbincang dengan temannya.

Albert lalu membawa Sean ke kamar tamu. “Buat dirimu nyaman. Anggap saja rumah sendiri.”

“Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Pasti kubalas suatu hari nanti.”

“Haha. Jangan terlalu sungkan begini! Kau itu temanku!”

Elyssa terus berdiri di samping Albert, mencoba terlibat dalam percakapan mereka, tapi usahanya sia-sia.

Saat Albert dan Sean larut dalam obrolan mereka, perhatian Sean justru diam-diam beralih pada Elyssa. Penampilan wanita itu sungguh memukau, membuat Sean tak bisa menahan diri untuk meliriknya. Ia tersenyum, bukan karena cerita Albert, melainkan karena pemandangan yang ada di depannya: seorang istri yang tampak diabaikan, namun begitu mempesona.

“Oh ya, kamu istirahat aja dulu. Nanti kupanggil lagi kalau makan malam udah siap,” ujar Albert menyudahi percakapan.

Albert langsung menyuruh Elyssa segera menyiapkan makan malam.

Elyssa tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Harapannya untuk makan malam romantis dengan Albert hancur berantakan.

"Kenapa kamu nyuruh aku dandan kalau cuman buat nyambut temenmu?” tanya Elyssa dengan nada suara yang menahan kekecewaan. "Aku pikir kamu mau ngajak aku makan di luar, Mas.”

“Biar temanku tau kalau aku punya istri yang cantik! Oh ya, nanti masaknya yang enak! Jangan malu-maluin aku di depan dia!”

Elyssa hanya menghela napas. Lagi-lagi, Albert hanya ingin pamer.

“Iya, Mas. Tapi aku ganti baju dulu.”

Saat hendak berganti pakaian, Albert melarangnya. “Kamu mau masak pakai daster atau piyama lusuhmu itu? Jangan bodoh, Elyssa! Jangan buat aku malu! Istri seorang direktur keuangan harus selalu rapi dan cantik, terutama saat ada tamu!"

“Tapi kalau pakai gaun ini ribet, Mas.”

Elyssa tetap kekeh berganti pakaian dengan blouse yang tertutup dan celana kain panjang.

“Jangan buang waktu! Sebentar lagi jam makan malam!” tegur Albert, mulai kesal.

Elyssa hanya mengangguk pelan. Riasannya bahkan masih sempurna, tapi ia harus bertempur dengan bahan makanan di dapur.

Satu jam kemudian, Elyssa akhirnya selesai memasak. Ia kembali menemui suaminya di kamar untuk memanggilnya makan.

“Panggilkan Sean juga!”

Elyssa mengomel dalam hati. Tapi ia sudah tak berani membantah. Ia pun berjalan menuju kamar tamu dan mengetuk pintu.

Tak lama, pintu terbuka.

Elyssa sontak mematung. Di hadapannya, Sean berdiri hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dadanya yang atletis terekspos jelas, dan bulir air masih membasahi kulitnya, membuatnya terlihat seksi dan maskulin.

Pemandangan itu membuat Elyssa merasa canggung dan panas. Seketika darahnya berdesir cepat. Bibirnya dengan kaku berkata, “M-maaf. Aku gak tau kamu baru kelar mandi.”

Elyssa makin salah tingkah karena Sean terus menatapnya tanpa berkedip. Tanpa aba-aba pria itu mengulurkan tangannya, mengusap pipi Elyssa dengan ibu jarinya.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Rebyu

katelinmueller570
katelinmueller570
Well guess this story is just another one that gets cold
2023-01-24 00:05:54
0
0
Celine moreau
Celine moreau
this story has a lot of potential I'm already hooked and looking forward the next chapters
2022-05-14 12:38:40
5
1
justin moore
justin moore
would be a 5 if it was finished. or at least update chapters everyday
2022-07-24 10:44:38
1
1
Bahadar Ali
Bahadar Ali
Bahadar bsirhfjfiejdiwmzowffw
2022-05-14 11:25:15
2
0
51 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status