Share

10. Kegagalan

SEMUA makhluk dalam ruangan tersebut tampak tegang. Terkecuali sang pemimpin-- Leon yang duduk dengan wajah bosan di atas singgasana. Ia, anehnya, masih sabar dalam menghadapi salah satu dari para Interessengruppen-nya. Padahal usulan orang terpercayanya itu bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang merendahkan keagungannya. Hal yang menjadi kebanggaan Lucifer-- Lord of Corruption.

"Jangan bertele-tele, Alair," tuntut Leon jengah.

Seketika Alair menunduk dalam. "Ampun, My Lord. Saya tidak bermaksud untuk lancang." Tubuh iblis itu bergetar ketakutan ketika merasakan embusan ringan kekuatan Leon padanya.

"Angkat kepalamu."

Alair mengangkat kepala sesuai perintah Leon. Ia menatap tuannya itu tepat di netra keemasannya demi menunjukkan keseriusan dalam kata-katanya.

"Ada baiknya kalau Nona Felenia belajar tentang Dunia Iblis lebih dahulu," lanjut Alair tegas.

Leon tidak langsung menolak atau pun menerima. Ia tengah menimbang usul dari Alair.

"Jadi maksudmu, aku harus memasukkan dia ke Sekolah Iblis?" Setelah hening sesaat, Leon akhirnya menanggapi.

"Benar, My Lord."

Jari telunjuk Leon mengetuk lembut sandaran tangan singgasananya. Sesekali kening iblis itu mengernyit ketika berbagai skenario di dalam pikiran memainkan peran. Lalu, setelah beberapa menit berlalu, Leon memberikan jawaban yang memuaskan bagi Alair.

"Baiklah akan kupikirkan, kalian boleh pergi."

Kepergian para orang kepercayaannya membuat Leon kembali berpikir tentang usulan Alair. Menurutnya, yang disampaikan Alair tidak salah. Felen memang membutuhkan pengetahuan tentang Devil Reign sebelum resmi menjadi pengantinnya, dan cara paling efektif adalah bersekolah.

Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan.

Namun, membiarkan Felen bersekolah berarti mengundurkan tahap peresmian gadis itu untuk menjadi calon pengantinnya. Leon tidak terlalu menyukai gagasan tersebut. Padahal ia sangat menantikan untuk bercinta dengan Felen, dan mengotori energi suci dalam diri gadis manusia itu dengan gelap nan kelam energi miliknya.

Lalu, ada beberapa hal yang Leon cukup khawatirkan. Termasuk, bisakah Felen bertahan di kelilingi berbagai macam makhluk, bukan hanya iblis saja. Apalagi satu-satunya sekolah yang ada di Devil Reign adalah milik saudaranya, Asmodeus. Saudara sekaligus bawahan setianya itu pasti setidaknya sekali saja ingin bermain-main dengan Felen untuk menghakimi pantas tidaknya gadis itu untuk menjadi pengantinnya.

Leon tidak ingin pengantinnya disakiti, apalagi dilukai oleh iblis lain yang mungkin memiliki dendam dan obsesi tersendiri padanya. Cukup dirinya saja yang boleh menghancurkan Felen hingga hancur berkeping-keping.

Namun, bayangan Felen yang menangis dan berteriak ketakutan hingga gadis itu tidak memiliki pilihan selain meminta tolong padanya, membuat gairah dalam diri Leon membuncah dengan kegilaan yang terpatik sempurna. Leon menyeringai lebar sembari menjilat sensual bibir merah gelapnya.

***

Felen terbangun dengan napas memburu. Tubuhnya dibanjiri oleh peluh yang membuat kulitnya terasa lengket dan tidak nyaman. Mata gadis itu menatap nyalang ke setiap sudut kamar yang terlihat kosong. Tidak ada siapa pun di sana selain dirinya sendiri.

Nyawa Felen yang belum terkumpul sepenuhnya membuat gadis itu menatap nyalang sekeliling kamar. Ia merasa was-was dengan keadaan sekitar. Lalu, setelah kesadarannya mulai pulih, Felen langsung memeriksa kondisi seluruh anggota tubuhnya. Mulai dari kaki, lengan, tubuh bagian atas, dan kepala.

"Masih utuh ... dan tidak ada luka ... " gumamnya tidak percaya. Terselip nada syukur di sana.

Tanpa sadar Felen menggigil ketakutan. Dua kali ia merasa kematian menjemput, dan dua kali juga ia terbangun dalam keadaan masih bernapas dengan tubuh utuh tanpa lecet yang menyisakan ngeri.

"Iblis jahanam!" umpatnya benci.

"Sepertinya kau sudah sehat, Felenia."

Suara tersebut terdengar dari balik kegelapan di sudut kamar. Felen memerhatikan ke arah sana dengan mata menyipit waspada. Perlahan siluet hitam mulai muncul dari bayang-bayang. Kemudian, ketika siluet tersebut mulai melangkah semakin dekat, seraut wajah di baliknya mulai terlihat dengan bantuan cahaya parafin.

"Leon ... " Felen menggeram berang.

"Hallo~" sapa Leon girang dengan tawa renyah yang memuakkan.

"Woah ... ! Tatapan matamu sudah mulai berubah, eh?" Ucapannya kentara sekali dengan nada mencemooh, tetapi Felen tidak memiliki niatan untuk membalas walau emosinya sudah terasa panas membara.

"Kau tidur selama dua hari dua malam. Aku kira kau akan mati." Leon menampilkan ekspresi muram yang dibuat-buat.

"Dan kau pikir salah siapa ini semua?" Felen bertanya tenang namun tajam.

"Tentu saja salahmu. Kau tidak boleh menjadikanku kambing hitamkan, Felenia."

Felen memutar bola matanya malas.

"Yang aku tahu wujudmu ‘kan memang kambing hitam."

Leon tertawa senang ketika Felen terus saja membalas ucapannya dengan kalimat-kalimat menyebalkan yang memang sesuai kenyataan.

"Untuk hal itu aku tidak bisa mengingkarinya~"

Felen tidak menyahut ucapan Leon. Matanya menatap tajam pria itu, lebih tepatnya ia tengah mengamati Leon. Sedangkan Leon yang ditatap intens seperti itu masih tetap tenang, dan tidak terganggu sama sekali. Ia justru menikmatinya, dan menginginkan Felen untuk memerhatikannya lebih lekat lagi.

"Kau heran dengan dirimu sendiri, eh?"

Ucapan Leon menyentak Felen dari keterdiamannya. Tebakan iblis itu tepat sasaran. Sedari tadi Felen memang merasa tidak mengerti tentang dirinya sendiri.

Kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan rumit yang tiba-tiba muncul memenuhi kepala. Salah satunya adalah ‘Bagaimana bisa ia masih bisa bersikap tenang di hadapan iblis yang hampir merenggut nyawanya?’

Padahal saat terbangun tadi, ia merasakan ketakutan yang amat sangat besar hingga tubuhnya bergetar hebat. Tetapi, sesaat kemudian perasaan itu hilang begitu saja, seolah tidak ada sedari awal, dan hal itu justru menakutinya lebih daripada berhadapan dengan Leon.

Tarikan napas panjang dilakukan gadis manusia itu.

"Berhenti mengintip pikiranku!" Felen berkata tegas. Sorot matanya tampak mengancam.

"He~ Kau sudah berani mengancamku?" tanya Leon tertarik. "Yah, aku tidak keberatan dengan kau yang seperti ini. Justru aku senang dengan keberanianmu," lanjutnya.

"Akan sangat membosankan kalau kau hanya bersembunyi ketakutan."

Felen berdecak pelan. Leon yang melihat itu melangkah semakin dekat ke arah Felen, memperpendek jarak di antara keduanya. Felen ingin mundur dan menjauh, tetapi kakinya terpaku serta sulit untuk digerakkan dari tempatnya.

"Diam di sana, Milady. Jangan memaksakan diri untuk bergerak, atau kau hanya akan melukai dirimu sendiri."

Peringatan Leon menyadarkan Felen kalau ia tengah dimantrai. Felen mendesis tidak terima. Sederet sumpah serapah siap dilayangkan, namun jari telunjuk Leon yang menempel di bibir menghentikan Felen.

"Sssstttt ... kau tidak boleh mengumpat. D.O.S.A," lontar Leon dengan wajah serius yang tentunya dibuat-buat.

Fokus Felen terbagi antara ucapan Leon, dan taring yang mencuat di balik bibir pria itu. Entah kenapa taring tersebut sangat menarik perhatiannya. Tinggi Felen yang hanya sebatas dada Leon membuat kepalanya harus terus menengadah demi bisa mengamati dengan lebih jelas.

Dengan sengaja Leon membuka mulutnya, membiarkan Felen menyentuh gigi taringnya dengan jemari lentik gadis itu.

"Kau menyukai taringku?" Suara rendah Leon membuat jantung Felen berdebar. Tatapan pria itu yang melihat tepat pada matanya menambah kegugupan Felen. Namun, ia tidak mengurungkan niat untuk mendaratkan ujung telunjuknya di taring Leon.

"Kau kan iblis, kenapa memiliki taring?" tanya Felen penasaran.

"Hmm ... entahlah, menurutmu?" Leon bertanya balik.

Lalu tanpa diduga, Leon menancapkan taringnya di telapak tangan Felen. Ia meresapi tekstur kulit dan daging gadis itu yang robek sedikit demi sedikit.

"Shhh ..." Felen meringis ketika darah segar mulai mengalir dari luka tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" pekik gadis itu panik sembari mencoba melepaskan lengannya yang digenggam erat oleh Leon. Hampir terasa meremukkan tulang.

Tubuh Felen lunglai. Sengatan panas menjalar ke seluruh tubuh ketika Leon menghisap darah dari lukanya. Tenaga gadis manusia itu terkuras. Hanya untuk berdiri tegak pun ia tidak mampu. Kalau Leon tidak menahannya, Felen sudah dipastikan terjerembap ke lantai.

Di ambang batas kesadaran, Felen merasakan tubuhnya melayang dan jatuh ke atas ranjang yang empuk. Walau pandangannya mengabur, Felen masih bisa melihat Leon yang berada di depannya.

"Buka mulutmu," perintah Leon tegas.

Felen menuruti dengan patuh. Ia membuka mulutnya. Setelahnya Felen merasakan benda lembut dan basah di bibirnya, dan sebuah energi yang berasal dari Leon mulai masuk ke dalam tubuhnya. Bibir Felen meraup rakus, seolah hidupnya bergantung pada energi itu. Lalu, kedua lengannya mengalung erat di leher Leon.

Sepersekian detik kemudian, Leon lebih dulu melepaskan tautan mereka. Jejak saliva terlihat di sekitar bibir pria itu, menandakan betapa ganas Felen ‘menghajarnya.’

"Kau ternyata lebih agresif dari yang kukira."

Wajah Felen tersipu mendengar pujian Leon. Tubuh mereka yang hampir tak berjarak, semakin memperparah rona merah di pipinya. Dengan sekuat tenaga Felen mendorong Leon untuk menjauh, namun pria itu enggan bergeser dari posisinya-- justru semakin menempel erat.

"Hei ... " panggil Leon.

"Apa?" Felen menjawab ketus.

Sebelah alis Leon naik ke atas. Entah pria itu sadar atau tidak, tangannya mengelus lembut kepala Felen.

"Mulai besok kau akan masuk ke sekolah para iblis," tandasnya.

"Sekolah para iblis?"

"Benar, untuk sekarang lebih baik kau tidur." Leon menyapukan jemarinya ke kelopak mata Felen. Gadis itu seketika tertidur damai. Tertarik oleh kegelapan dalam dirinya.

"Have a nightmare," pungkas Leon dengan kekeh pelan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status