LOGINNatalya was trained to be an assassin right from when she was little, when ever she showed a little affection. she would be tied up and being beaten to a plump for showing emotion. Her father being the Russian Mafia boss made it his motion to make sure , she was trained brutally by throwing her into base two. there she undergo a training meant for prisoners and those used as assassin for the mafia work. She tried her best night and day which earned her the name, "Natalya" which means the nemesis. she was feared and adored and used as nothing but a weapon fashioned by her dad's enemy.
View MoreSuara derit ranjang memenuhi kamar hotel bernuansa putih itu. Di sana, di atas ranjang, dua manusia beda gender itu tengah mereguk surga dunia yang sama-sama baru pertama kali mereka rasakan. Minuman memabukkan yang sebelumnya mereka nikmati, menuntun keduanya pada kegiatan yang harusnya tak pernah terjadi.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang tak bisa dikendalikan. Sementara pria di atasnya terus saja mengerang menikmati sensasi yang belum pernah ia rasakan hingga akhirnya ia sampai pada pelepasannya yang memuaskan. Keesokan harinya, wanita dengan rambut berantakan itu berusaha membuka mata yang terasa berat. Dan hal pertama yang ia temukan adalah, kamar yang tampak asing baginya. “Sssh … di mana ini?” Suara parau wanita bernama Hanina Noura itu mengudara bersamaan saat ia bangun menegakkan punggungnya sambil memegangi kepala yang terasa berat. Ia mengedarkan pandangan dan seketika matanya melebar kala bayangan yang terjadi semalam terlintas. Wajah wanita yang lebih sering dipanggil Nina itu memucat, tubuhnya gemetar, dan semakin gemetar saat menyadari keadaannya yang berantakan. Di lain sisi, seorang pria baru saja keluar dari hotel tempatnya semalam menghabiskan malam panas bersama Nina. Pria itu bernama Riyon Arshaka, pendiri Riyon Group, sebuah perusahaan logistik di negeri seberang yang mulai berkembang beberapa tahun terakhir. Riyon mengusap tengkuk yang terasa berat dan pegal setelah memasuki mobilnya. Ia sempat terkejut saat bagun dan menemukan wanita telanjang di sampingnya, membuatnya teringat kegiatan panas mereka semalam. Riyon yakin ada yang tak beres dengan dirinya, biasanya ia dapat mengendalikan diri, tapi semalam, ia benar-benar tak bisa menahan hasrat yang begitu menggebu setelah menikmati segelas minuman di acara yang dihadirinya di hotel itu. Riyon mengembuskan napas panjang dari mulut sesaat sebelum menyalakan start mobilnya dan tak lama, mobilnya pun meninggalkan area parkir hotel tersebut. Ia sama sekali tak memikirkan wanita yang ia tinggalkan, sebab ia telah meninggalkan beberapa lembar uang sebagai bayaran kegiatan mereka semalam. *** Nina menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Saat ini wanita berusia 25 tahun itu telah berada di rumahnya, duduk di depan meja rias tanpa bisa berhenti menyesali apa yang dilakukannya semalam. Meski ia berusaha melupakannya, jejak yang pria itu tinggalkan pada tubuhnya membuatnya terus mengingatnya. Drt … drt …. Nina tersentak dari renungan dan menoleh pada ponselnya di ujung meja. Mengambil benda pipih itu, diangkatnya panggilan yang tak lain dari teman sekaligus rekan kerjanya, Asher Roland yang mana lebih kerap dipanggil Ash. “Halo. Ada apa, Ash?” “Nina, kau baik-baik saja? Suaramu terdengar berbeda.” Nina tersenyum getir. Ash selalu memperhatikannya dalam hal sekecil apapun. “Tidak apa-apa, Ash, aku baik-baik saja. Aku hanya … baru bangun tidur.” “Sungguh? Tidak biasanya kau bangun terlambat. Oh, ya, semalam kau jadi pergi? Maaf, aku tidak jadi berangkat. Ada sedikit masalah dengan mobilku.” “Ada apa dengan mobilmu?” “Mobilku tiba-tiba mogok di tengah jalan.” “Kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa menjemputmu.” “Aku melupakan ponselku, Nin. Sepertinya, tadi malam adalah hari sialku. Padahal aku sudah sangat antusias bisa pergi denganmu.” Nina hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengatakan, “Jangan bicara begitu, Ash. Jadi, bagaimana kau pulang?” “Ada orang baik yang menolongku. Dia membantu membawa mobilku ke bengkel.” “Syukur lah.” “Nin, apa kau ada waktu? Bagaimana jika kita keluar? Mungkin sekedar jalan-jalan, atau makan siang bersama.” Nina tersenyum kecut. Andai saja tidak dalam keadaan seperti ini, tentu saja ia akan dengan senang hati menerima ajakan Ash. Namun, apa yang terjadi semalam membuatnya ingin mengurung diri dan merenung. “Maaf, Ash. Mungkin lain kali. Aku … sedikit tidak enak badan. Maaf.” “Apa? Ada apa denganmu? Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke dokter.” “Tidak Ash. Aku hanya butuh istirahat. Sungguh. Kalau begitu, sampai jumpa besok di kantor.” Setelah mengatakan itu Nina mengakhiri panggilan meski ia tahu, Ash seperti masih ingin memperbanyak pembicaraan. Namun, keadaannya sekarang benar-benar membuatnya ingin merenung sendirian. Di tempat Ash sendiri, ia masih menatap layar ponsel di tangan. Ia merasa ada yang aneh dengan Nina, tapi sepertinya Nina tak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ash mengutak-atik ponselnya hingga terpampang foto Nina yang begitu menawan. Nina adalah temannya sejak kuliah dan ia telah mencintainya sejak dulu. Bahkan, ia sengaja bekerja di tempat Nina bekerja agar bisa selalu memperhatikannya. Sayangnya, ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanya. Terlalu takut hubungan pertemanan mereka justru hancur dengan pengungkapan cinta darinya. *** Dua minggu berlalu sejak kejadian malam panas waktu itu, Nina merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa pusing dan mual ketika melihat atau hendak menyantap makanan tertentu. Ia bahkan memuntahkan makan siangnya padahal makanan itu adalah makanan favoritnya. “Nina, kau baik-baik saja?” Ash bertanya dengan khawatir melihat wajah Nina begitu pucat. Nina juga tampak lemas. Ia dan Nina tengah makan siang bersama sampai Nina pergi ke toilet dan kembali dengan keadaan yang tampak memprihatinkan. Nina hanya tersenyum dan menjawab, “Aku … baik-baik saja, Ash. Jangan khawatir.” “Tapi, akhir-akhir ini kulihat kau tidak baik-baik saja. Bagaimana kalau kuantar ke dokter?” tawar Ash sedikit memaksa. Bagaimanapun ia mencintai Nina, ia tak mau terjadi sesuatu padanya. “Ta- tapi ….” Nina hendak menolak. Namun, Ash bersikeras bahkan tak menunggu pulang bekerja. Mereka segera pergi ke klinik terdekat setelah selesai makan siang. Sesampainya di klinik dan diperiksa oleh dokter, Nina tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, sebab dokter itu mengatakan bahwa ia tengah hamil sekarang.(A/N : well hello friends, decided to be dropping a chapter a day to keep my idea's awake, he he. Watch out I'd be updating daily but only one chapter yeah, love you all muah.)Natalya Pov : I swallowed my saliva in fright and stood up while Tasi was looking at me in fear of what the were calling me for.“I'm gonna be back real quick.”She nodded at me and I started walking up my way to the commander's office.Now the second thing I noticed about this place is that they call by your numbers if you're afar.Like the way they called me 223, like I was some weapon or something.Which of course I was because a normal assassin can't take me right now.The would have to train slot in order to challenge but they'd still not win by the way.When I got to the commander's office after the whole turning corners and shit, my hands where sweaty already and if I didn't clean it off.They would definitely start dripping that's the amount of nervousness I feel right now.Not that I'm scared of what'
(A/N : I won't be updating this book regularly, but I'd be sure to complete it before August so what I'm tryna say is that, my focus now is mainly on my other book “CLAIMED BY THE MAFIA DON” do well to check it too, so when that one is completed then I'd pay keen attention to this one but for now - I would update when I have extra Brain to spare just like right now, he he 😏, I love you all MUAH).Natalya Pov : “Why are you slumped down there like a lazy pig, get your ass up let's go join and eat break fast, Natalya.” I heard Tasi say behind me but I kept mute and made sure to keep my eyes well closed.“Natalya?”.I didn't bulge, I've had enough of this fancy place, I swear, I'm starting to miss out cave back at base two at least you get enough sleep but here, now I don't really want to go in details about shit going on around here.“Natalya I know you can hear me ?”I groaned and turned to face Tasi so she could at least keep her mouth shut.“Ha, you finally turned, get up let's go
REBECCA POV: (A/N : UHH SO BEFORE YOU ASK WHY I RANDOMLY ADDED REBECCA'S POV - SHE'S ONE OF THE MAIN CHARACTER BUT THE BITCHY ONE, YEAH YOU READ IT RIGHT, SHE'S THE ONE THAT RUNS SHIT HERE, SO THEY WOULD BE SOME KIND OF POWER HIERARCHY KIND OF SHIT YOU KNOW, LOVE YOU ALL MUAH 💋)I am more then pissed at commander right now.First I was woken up from my so not sweet sleep to go check whether the stupid new inmates from the other side of the operational group has settled.I swear any idiot i see right now, Is definitely going to take the blame no shitting.I grumble wore my Crocs slippers and walked out of my room, most people here are given roommates.Who am I kidding, Im the only one with a single room because I was practically the only sacrificial lamb who the commander's seem to take liking to.Starting from my fighting skill, to how I handle the business negotiation, they just loved it, so I gave them exactly what they wanted.Not that I'm complaining though but… it's kind of shi
Natalya Pov : I watched as commander talked to the man in a hushed voice, which I didn't quite grasp before he clasp his hand together and looked at us.He locked eye's with me and averted it immediately, something is definitely fishy.I felt something nudge me and I look beside me to see Tasi staring at me with the same confused expression.“You feel it right, like we kind of entered a lion's den.”I nodded, “ Commander couldn't even hold eye contact with me for long, I'm not sure they actually brought us here for training”Tasi furrowed her brow at that, “ So what are you implying?”I raised my hand up to calm her down, “ What I'm trying to say is that we are in deep shit, let's wait till they are done though “The man suddenly breathed out and turned to us, “ Stand at attention!!”We lined up immediately just like the puppet we are, one thing I know about us is that we always follow orders no matter what.The screams of, “ Sir, Yes sir!” Echoed through the wall.The man looked at






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews