The Mafia Heiress

The Mafia Heiress

last updateLast Updated : 2026-03-11
By:  Mystikal Loner Ongoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
8
1 rating. 1 review
16Chapters
937views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Natalya was trained to be an assassin right from when she was little, when ever she showed a little affection. she would be tied up and being beaten to a plump for showing emotion. Her father being the Russian Mafia boss made it his motion to make sure , she was trained brutally by throwing her into base two. there she undergo a training meant for prisoners and those used as assassin for the mafia work. She tried her best night and day which earned her the name, "Natalya" which means the nemesis. she was feared and adored and used as nothing but a weapon fashioned by her dad's enemy.

View More

Chapter 1

Princess

Suara derit ranjang memenuhi kamar hotel bernuansa putih itu. Di sana, di atas ranjang, dua manusia beda gender itu tengah mereguk surga dunia yang sama-sama baru pertama kali mereka rasakan. Minuman memabukkan yang sebelumnya mereka nikmati, menuntun keduanya pada kegiatan yang harusnya tak pernah terjadi.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang tak bisa dikendalikan. Sementara pria di atasnya terus saja mengerang menikmati sensasi yang belum pernah ia rasakan hingga akhirnya ia sampai pada pelepasannya yang memuaskan.

Keesokan harinya, wanita dengan rambut berantakan itu berusaha membuka mata yang terasa berat. Dan hal pertama yang ia temukan adalah, kamar yang tampak asing baginya.

“Sssh … di mana ini?” Suara parau wanita bernama Hanina Noura itu mengudara bersamaan saat ia bangun menegakkan punggungnya sambil memegangi kepala yang terasa berat. Ia mengedarkan pandangan dan seketika matanya melebar kala bayangan yang terjadi semalam terlintas.

Wajah wanita yang lebih sering dipanggil Nina itu memucat, tubuhnya gemetar, dan semakin gemetar saat menyadari keadaannya yang berantakan.

Di lain sisi, seorang pria baru saja keluar dari hotel tempatnya semalam menghabiskan malam panas bersama Nina. Pria itu bernama Riyon Arshaka, pendiri Riyon Group, sebuah perusahaan logistik di negeri seberang yang mulai berkembang beberapa tahun terakhir. 

Riyon mengusap tengkuk yang terasa berat dan pegal setelah memasuki mobilnya. Ia sempat terkejut saat bagun dan menemukan wanita telanjang di sampingnya, membuatnya teringat kegiatan panas mereka semalam. Riyon yakin ada yang tak beres dengan dirinya, biasanya ia dapat mengendalikan diri, tapi semalam, ia benar-benar tak bisa menahan hasrat yang begitu menggebu setelah menikmati segelas minuman di acara yang dihadirinya di hotel itu.

Riyon mengembuskan napas panjang dari mulut sesaat sebelum menyalakan start mobilnya dan tak lama, mobilnya pun meninggalkan area parkir hotel tersebut. Ia sama sekali tak memikirkan wanita yang ia tinggalkan, sebab ia telah meninggalkan beberapa lembar uang sebagai bayaran kegiatan mereka semalam.

***

Nina menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Saat ini wanita berusia 25 tahun itu telah berada di rumahnya, duduk di depan meja rias tanpa bisa berhenti menyesali apa yang dilakukannya semalam. Meski ia berusaha melupakannya, jejak yang pria itu tinggalkan pada tubuhnya membuatnya terus mengingatnya.

Drt … drt ….

Nina tersentak dari renungan dan menoleh pada ponselnya di ujung meja. Mengambil benda pipih itu, diangkatnya panggilan yang tak lain dari teman sekaligus rekan kerjanya, Asher Roland yang mana lebih kerap dipanggil Ash.

“Halo. Ada apa, Ash?”

“Nina, kau baik-baik saja? Suaramu terdengar berbeda.”

Nina tersenyum getir. Ash selalu memperhatikannya dalam hal sekecil apapun.

“Tidak apa-apa, Ash, aku baik-baik saja. Aku hanya … baru bangun tidur.”

“Sungguh? Tidak biasanya kau bangun terlambat. Oh, ya, semalam kau jadi pergi? Maaf, aku tidak jadi berangkat. Ada sedikit masalah dengan mobilku.”

“Ada apa dengan mobilmu?”

“Mobilku tiba-tiba mogok di tengah jalan.”

“Kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa menjemputmu.”

“Aku melupakan ponselku, Nin. Sepertinya, tadi malam adalah hari sialku. Padahal aku sudah sangat antusias bisa pergi denganmu.”

Nina hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengatakan, “Jangan bicara begitu, Ash. Jadi, bagaimana kau pulang?”

“Ada orang baik yang menolongku. Dia membantu membawa mobilku ke bengkel.”

“Syukur lah.”

“Nin, apa kau ada waktu? Bagaimana jika kita keluar? Mungkin sekedar jalan-jalan, atau makan siang bersama.”

Nina tersenyum kecut. Andai saja tidak dalam keadaan seperti ini, tentu saja ia akan dengan senang hati menerima ajakan Ash. Namun, apa yang terjadi semalam membuatnya ingin mengurung diri dan merenung.

“Maaf, Ash. Mungkin lain kali. Aku … sedikit tidak enak badan. Maaf.”

“Apa? Ada apa denganmu? Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke dokter.”

“Tidak Ash. Aku hanya butuh istirahat. Sungguh. Kalau begitu, sampai jumpa besok di kantor.”

Setelah mengatakan itu Nina mengakhiri panggilan meski ia tahu, Ash seperti masih ingin memperbanyak pembicaraan. Namun, keadaannya sekarang benar-benar membuatnya ingin merenung sendirian.

Di tempat Ash sendiri, ia masih menatap layar ponsel di tangan. Ia merasa ada yang aneh dengan Nina, tapi sepertinya Nina tak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ash mengutak-atik ponselnya hingga terpampang foto Nina yang begitu menawan. Nina adalah temannya sejak kuliah dan ia telah mencintainya sejak dulu. Bahkan, ia sengaja bekerja di tempat Nina bekerja agar bisa selalu memperhatikannya. Sayangnya, ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanya. Terlalu takut hubungan pertemanan mereka justru hancur dengan pengungkapan cinta darinya.

***

Dua minggu berlalu sejak kejadian malam panas waktu itu, Nina merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa pusing dan mual ketika melihat atau hendak menyantap makanan tertentu. Ia bahkan memuntahkan makan siangnya padahal makanan itu adalah makanan favoritnya.

“Nina, kau baik-baik saja?” Ash bertanya dengan khawatir melihat wajah Nina begitu pucat. Nina juga tampak lemas. Ia dan Nina tengah makan siang bersama sampai Nina pergi ke toilet dan kembali dengan keadaan yang tampak memprihatinkan.

Nina hanya tersenyum dan menjawab, “Aku … baik-baik saja, Ash. Jangan khawatir.”

“Tapi, akhir-akhir ini kulihat kau tidak baik-baik saja. Bagaimana kalau kuantar ke dokter?” tawar Ash sedikit memaksa. Bagaimanapun ia mencintai Nina, ia tak mau terjadi sesuatu padanya.

“Ta- tapi ….” Nina hendak menolak. Namun, Ash bersikeras bahkan tak menunggu pulang bekerja. Mereka segera pergi ke klinik terdekat setelah selesai makan siang.

Sesampainya di klinik dan diperiksa oleh dokter, Nina tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, sebab dokter itu mengatakan bahwa ia tengah hamil sekarang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Paragon
Paragon
It's rare to see a book that has this much action from a female. Love it!
2026-02-13 21:57:35
1
0
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status