LOGINIdentical Mafia Twins are different.Mirror Images.Handsome and Deadly.Who do everything together.Especially women.The Duchess is young.She is innocent and beautiful.The Twins want her.They always get what they want.But the Mafia is watching.They want her too.She is clever and must learn fast.Hit the ground runningFiguring it out as she hides in plain sight.She is a prize worth having.Captured for love?or slavery?
View More"Tidurlah denganku!" kata Dion yang membuat Renata membatu.
Air mata Renata merembes keluar, dirinya tidak menduga kalau Dion atasannya meminta hal yang tidak seharusnya diminta oleh seorang pria beristri.
Renata menatap Dion dengan tatapan yang tak biasa, dia tidak menduga jika Dion tega terhadap bawahannya sendiri.
Suami Renata sakit keras saat ini sehingga dia memerlukan banyak uang untuk biaya operasi sang suami dan Dion lah opsi terakhir Renata namun syarat dari Dion pantang dilakukan.
Apa ini, bagaimana bisa seorang istri tidur dengan pria lain saat suaminya sakit keras?
"Pak, suami saya sedang sakit keras bagiamana anda bisa meminta saya untuk tidur dengan anda?" tanya Renata dengan air mata yang terus mengalir.
Dion tertawa lalu beranjak dari kursi kebesarannya, dia mendekati Renata dan
meletakkan sebagian pantatnya di ujung meja dengan kaki yang ikut menumpu tubuhnya."Itu masalah kamu Renata, aku hanya memberikan dua opsi, pertama tidur denganku dan dapatkan uangnya. Kedua, kamu menolak permintaan aku dan melihat suami kamu meregang nyawa," kata Dion.
Air mata Renata mengalir semakin deras, hatinya sungguh tercabik, dilema kini bersarang di hatinya. Apa dia terima saja keinginan Dion, toh Andika suaminya juga nggak akan tau.
"Cepatlah Renata, aku tidak ada waktu menunggumu berpikir apalagi dibarengi dengan tangisan yang membuat aku muak," ucap Dion.
Renata mengiba dan memohon namun Dion tidak mau diajak berunding sehingga mau nggak mau dirinya menyetujui keinginan Dion.
"Baiklah," kata Renata.
Tersungging senyuman di bibir Dion, akhirnya dia dapat menyalurkan hasrat yang selama sebulan ini tak tersalurkan.
Dion adalah seorang CEO, dia memiliki istri seorang dokter, sedangkan Renata adalah staf di kantor Dion. kemungkinan Dion kurang perhatian dan sentuhan dari sang istri.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Dion.
"Satu Milyar," jawab Renata.
Dion membolakan matanya, tak disangka Renata memerlukan uang yang sangat banyak.
"Banyak sekali," sahut Dion.
"Anda bisa memotong dari gaji saya setiap bulan Pak?" ucap Renata.
Dion tertawa, kalau dipotong dari gaji, berapa tahun Renata baru bisa melunasinya.
"Karena kamu adalah staf aku jadi kamu nggak perlu hutang," tukas Dion.
Mata Renata berbinar tak disangka Dion masih berbiak hati padanya.
"Terima kasih pak," ucap Renata.
"Tapi satu kali kamu tidur denganku aku akan membayarnya seratus juta, kalau kamu memerlukan uang satu milyar bearti kamu harus tidur denganku sepuluh kali," ungkap Dion.
Lagi-lagi Renata membolakan matanya, dia kira Dion hanya sekali tidur namun Dion meminta lebih.
Kalau dipikir seratus juga adalah nilai yang kecil jika ditukar dengan harga dirinya tapi bagaimana lagi? biaya rumah sakit untuk pasien kanker memang tidak murah apalagi harus kemoterapi dan lain-lain.
"Kenapa harus begitu?" tanya Renata.
"Seratus juta itu sudah angka yang fantastis mengingat kamu tidak virgin lagi, tapi kalau menurut kamu harga yang aku tawarkan terlalu murah, kamu cari saja orang lain," jawab Dion lalu dirinya beranjak dan siap-siap untuk pulang.
Pikiran Renata kalut, dia sungguh dilema. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima harga yang ditentukan bos nya tersebut.
"Bagus, habis ini ikut aku ke hotel," kata Dion.
"Baik Pak," sahut Renata.
Setibanya di kamar hotel, Dion membersihkan diri lalu keluar dengan handuk kimono yang sudah di sediakan oleh pihak hotel sedangkan Renata hanya diam membatu di sofa sembari meremat jari-jemarinya.
Dion menghela nafas, dia sungguh kesal dengan Renata yang malah duduk mematung di sofa.
"Renata, apa kamu pikir dengan hanya duduk di sana hasrat aku akan tersalurkan?" protes Dion.
"Maaf pak, kalau begitu saya mandi dulu," sahut Renata lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setalah selesai mandi, Renata keluar dengan memakai pakaiannya kembali. Dion yang melihatnya menepuk tempat di sampingnya meminta Renata untuk mendekat.
"Kemari lah Renata," titah Dion.
Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar, Renata mendekati Dion, dia duduk di tepi ranjang dengan pandangan ke bawah alias menunduk.
"Kalau kamu duduk membelakangi aku kira-kira kapan kita bisa memulai percintaan kita Renata." Lagi-lagi Dion protes pada Renata.
Dion sungguh heran perasaan Renata adalah wanita bersuami seharusnya dia tau bagaimana adabnya orang yang akan bercinta.
"Maaf Pak," kata Renata.
Renata menghela nafas, perlahan dia mendekat namun masih dengan pakaian lengkapnya.
"Kamu sungguh membuat aku pusing, aku memberi kamu pilihan, aku atau kamu sendiri yang melepas pakaian kamu," kata Dion dengan nada yang tinggi.
"Biar saya saja," sahut Renata dengan takut.
"Oh ya tapi aku ingatkan, kamu jangan sekali-kali baper dengan percintaan panas kita, ini hanya untuk kesenangan semata nggak lebih," kata Dion.
Renata mengangguk sambil melepas satu persatu kancing bajunya.
Setelah semua terlepas dari tubuhnya, Renata menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku heran denganmu, baju dilepas tapi kini tubuh dibungkus selimut, mau kamu itu apa?" tanya Dion heran.
"Saya malu pak," jawab Renata, seakan tidak ingin tubuhnya dinikmati oleh Dion.
"Buka!" bentak Dion, dirinya sudah kehilangan kesabaran.
Dengan gemetar Renata membuka selimut yang menutup tubuhnya dan kini tubuhnya polos di samping Dion.
Dion menelan salivanya, sungguh Renata memiliki tubuh putih bersih dengan bagian dada yang lumayan besar.
"Apa kamu siap dengan percintaan panas kita?" tanya Dion yang juga ikut melepas handuk kimono yang dia pakai.
Langsung saja Dion menerjang Renata, dengan hasrat yang terus bergejolak dirinya menikmati bibir manis Renata, tangannya terus bergerilya menjelajah seluruh tubuh wanita yang akan memuaskannya.
Air mata Renata lolos sudah, tubuh yang seharunya dia jaga untuk sang suami kini harus dia bagi dengan pria lain yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Maafkan aku mas Andika yang telah berhianat," batin Renata.
Lidah Dion terus menjelajah pucuk dada Renata sehingga membuat Renata mengeluarkan desahan lirih.
Puas dengan dada Renata dia segera menyatukan miliknya dan milik Renata.
"Aaahhhhhhh," lengu-han panjang dari keduanya terdengar nyaring.
Baik Dion maupun Renata sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa. Goa yang masih sempit membuat Dion terasa dijepit.
"Nikmat sekali Renata, bagiamana bisa wanita bersuami memiliki goa yang begitu menggigit seperti ini," kata Dion yang mulai memaju mundurkan miliknya.
"Iya," sahut Renata dengan memejamkan matanya membayangkan kalau yang bercinta dengannya adalah Andika sang suami.
Renata memang masih memiliki goa yang sempit karena dirinya baru dua tahun menikah dan setahun terakhir ini dirinya jarang sekali disentuh karena sakit yang diderita Andika sang suami.
Keduanya hanyut dalam percintaan panas penuh nikmat hingga mereka lupa kalau mereka adalah istri dan suami orang.
Lifting his head he locked his eyes onto hers, ‘No, Tash, no, you are wrong, you are the most important thing in my life, you are the very air I breathe. Baby girl you are my everything. I love you with every cell in my body.’ He kissed her again more savagely pressing her to him determined to break the ice she had built around her heart and she could feel his arousal. She wanted to give in to him, her body screamed for him to ravish her right there in front of his Capos she did not care but she pushed him away, ‘How many times have you said that to me Romero and how many times have you broken my heart?’ He growled then did what her body had been craving he picked her up and slung her over his shoulder taking the stairs two at a time he demanded, ‘Your bedroom’ With a squeak of alarm, she pointed and he pushed open the door and tossed her onto the huge four-poster bed then slammed and locked her door. Leaning against it he growled again, ‘Take off your clothes’ He ordered and s
He hiked up her skirt and pushed her legs apart,‘Good girl’He said and thrust his hard cock into her, Tash cried out, she was so wet and aroused she almost came as he thrust harder slamming into her so deeply he hit her g-spot and she shattered around him squeezing him until he followed her into orgasm. He picked her up and carried her over to the bed tugging off her dress he lay her down and trailed kisses down her body. He moved over her breasts and down her belly spreading her legs he licked and sucked and nipped and bit until she was writhing beneath him.‘Please, oh God please,’She begged as he raked his teeth over her clit,‘Do you want to come little Duchess?’He teased as she arched her back and gripped his biceps,‘Yes, please yes yes’She bucked and raked her nails down his back,‘Come for me now Natasha’Her scream of pleasure could be heard by his guards and they smiled at one another, they had been under no illusions as to why the hot little Duchess had turned up at th
Slipping into the cubicle she hitched up her dress and removed her sodden panties, leaning against the door she gave herself the relief she craved coming hard against her fingers. Half an hour later she opened the door and rejoined the royal party cool and composed with not a hair out of place she made her way to the Royal Couple and made her excuses relieved when they gave her their permission to leave early. She allowed the footman to show her out to her car just as Havard came back into the room and spotted her. Getting into the chauffeur-driven Rolls Royce she told him to leave immediately and there was nothing Harvard could do as the car slid silently away into the night.‘You can run little English Rose but tomorrow I will take what is mine.’This is what Romero saw as the handsome Norwegian Prince helped the beautiful English Duchess into the royal carriage and then climbed in to sit beside her. The British crowds cheered as the carriages passed them and Romero flipped open his
They settled into a routine, the children had their private tutor and a huge castle as their playground instead of Capos they had servants and it was only a matter of weeks until their American accents were replaced by the cut glass accents of the Royal family. Lady Natasha became a recluse, she caught up with everything that was required of her regarding the castle and then just stopped. They would find her sitting in the library an open book untouched on her knee gazing outside at nothing, she never smiled and rarely spoke to anyone it was clear she was suffering. Her eyes were red-rimmed and her skin was grey, she did not eat much and she never went outside. Danilo and Reuben were worried she was fading away before their eyes and they could not understand why Romero did not come for her and their children,‘What is fucking wrong with him?’Reuben exploded as they watched Lady Natasha drift from one room to another like a little lost soul.Romero did not come for her because he had
Romero was on his feet,‘Nothing, nothing is more important than her, she knows that she knows she is my life, I love her so much.’‘Do you?’John-Joe countered,‘Then why have you ignored her for six months? Why have you kept her away from her children, again? That’s not how you treat someone you love
It also meant she was not seeing her children again, after all the problems she had struggled past she had built a wonderful relationship with them. She loved them and was fiercely protective spending all her free time playing with them. She taught the boys to swim and then bought ponies so she coul
He whispered to the older man,‘Let her stay with my Marianne, she’s a strong girl, she won’t be a victim, I promise she just needs a little time.’He gave her the space to recover but the nightmares did not stop they got worse and everyone's sleep was broken when her screaming started. It was exhaust
Almost leaping out of his arms she ran into Marianne and John-Joe's eager hugs,‘You stayed, you stayed’She cried happily before turning to Kelly and Luigi,‘OMG, this is going to be the best Christmas ever.’She was laughing and crying and hugging them until Romero stepped in and scooped her up again,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews