The Maid

The Maid

last updateLast Updated : 2024-03-18
By:  Elle MagomOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
15Chapters
1.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

"You're my Amber" I heard his low voice as he moved in and out at such a perfect pace that I felt like I would melt in a matter of seconds. There was very, very little left, and my belly was contracting painfully. "All mine! Amber, a spoiled young woman from a wealthy family, sees her world turn upside down when her father loses the family fortune due to scams. She and her mother are forced to move to the outskirts of New York City, finding themselves in a hostile environment where opportunities are scarce. Desperate for a means of support, Amber lands an unexpected job at a prestigious company. To her surprise, her boss is someone from her past whom she never imagined encountering again. Though initially reluctant to accept the maid position, she soon realizes it's her only chance to have a roof over her head. As Amber immerses herself in the responsibilities of her new job, she discovers long-forgotten memories beginning to resurface. Amidst the day-to-day challenges, she finds herself confronting uncomfortable truths about her past and her own identity. What she initially viewed as a mere temporary job unfolds into a journey of self-discovery and redemption, where secrets from the past intertwine with future possibilities.

View More

Chapter 1

1. Changes

    "AKU TIDAK GILA! AKU TIDAK GILA! LEPASKAN AKU! KAK ARKAN, TOLONG AKU. AKU TIDAK GILA!"

    Suara teriakan itu menggema di seluruh ruang sidang sesaat setelah hakim memutuskan hukuman untuk Kiana atas kejahatannya. Dia tidak dipenjara, melainkan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan selama kurang lebih satu tahun.

    Semua itu tidak lain karena pihak pengadilan menemukan kejanggalan pada saat pernyataan Kiana di sidang pertama. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah dan dengan lantang mengiyakan semua perbuatannya tanpa ragu. Bahkan mengaku puas setelah membunuh ibunya sendiri. Tertawa seperti orang gila. Hingga membuat mereka lantas memanggil seorang ahli kejiwaan untuk memeriksa kesehatan mental Kiana.

    Sampai tiba saatnya, ketika sebuah vonis yang menyatakan bahwa Kiana memiliki riwayat sakit mental, membuat hakim memberi sebuah keputusan pembebasan wanita itu. Namun tentu, Arkan menolaknya mentah-mentah dan menginginkan sidang kembali digelar untuk mengadili Kiana. Membebaskan Kiana sama saja dengan memberi wanita itu kesempatan untuk membalas atau paling menakutkan, membunuh istrinya.

    Kiana terlalu berbahaya, dan sampailah pada keputusan untuk memasukkan Kiana ke dalam rumah sakit jiwa, sekaligus melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kesehatan mentalnya. Kiana yang sama sekali tidak memiliki satu orang pun yang mau berpihak padanya, mau tak mau menuruti semua keputusan. Sekeras apa pun dia menolak dan menentangnya.

    "BERENGSEK! LEPASKAN AKU! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN SEMUA!"

    Kiana terus berontak saat dia dibawa paksa menuju jemputan mobil para perawat dari rumah sakit jiwa. Bahkan dengan sangat agresif, dia menggigit lengan salah seorang wanita yang memegangnya kuat. Menatap seorang laki-laki yang terlihat seperti dokter, tengah menatapnya sambil tersenyum.

    Ya, itu adalah orang yang mengatakan bahwa dia gila.

    Kemarahan Kiana semakin menjadi melihat senyum laki-laki itu. Bisa-bisanya orang itu tersenyum saat dia berada dalam masalah. Pernyataannya di sidang tadi, membuat Kiana harus mengalami hal mengerikan seperti ini. Mereka semua hanya menatapnya tanpa mau membantu.

    "AKKHHH, SIALAN! AKU AKAN MEMBALAS PERBUATAN KALIAN! LIHAT NANTI, AKU AKAN MEMBALASNYA!" teriak Kiana semakin tak terkendali. Air matanya bercucuran. Hatinya sesak melihat laki-laki yang dia cintai selama belasan tahun, hanya diam tanpa mau membantunya.

    Apa salahnya? Kiana hanya mencintai Arkan, tapi dia kini harus mendapatkan apa yang tidak dia mau.

    Ini semua gara-gara Sashi. Wanita itu merebut Arkan darinya! Harusnya, dia bisa menyingkirkan Sashi dan menjadi istri Arkan, tapi laki-laki itu tidak pernah mencintainya, karena Arkan sangat mencintai istrinya.

    Air mata Kiana kembali merebak, dia terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan para perawat. Sampai dengan spontan, kakinya menendang tulang kering kedua perawat itu dan berlari menghampiri Arkan yang berjarak beberapa meter darinya. Dia ingin memeluk laki-laki itu, namun sayang, sebelum sempat terjadi tubuhnya sudah didekap seseorang.

    Laki-laki yang tadi tersenyum culas ke arahnya. Membisikkan sesuatu ke telinganya, hingga kemudian sebuah benda dingin dan tajam menembus kulitnya.

    "Aakkhh ...."

    Kiana meringis kesakitan saat benda itu menancap di kulitnya. Seiring dengan kepalanya yang perlahan mulai berputar hebat. Seketika, Kiana langsung mengerti kalau dia baru saja disuntik bius. Sayangnya, semua terlalu terlambat untuknya memberontak, kesadarannya sudah direnggut paksa. Hanya kegelapan yang bisa dia rasakan saat itu.

    ***

    Cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela. Menyeruak membangunkan tubuh yang kini tengah tertidur lelap di atas ranjang kecil dengan kedua tangan dan kaki terikat oleh borgol. Layaknya sebuah hewan buas yang akan menyerang pemiliknya jika lepas.

    "Ughh ...."

    Suaranya terdengar. Dia tampaknya sudah mulai terusik. Terlihat dari kelopak matanya yang berkedip beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang tepat menyinari wajahnya. Sampai akhirnya, mata itu benar-benar terbuka namun tentu kesadaran belum sepenuhnya pulih.

    Dia masih linglung. Kepalanya pun terasa berdenyut, seperti sebuah batu menghantamnya keras. Butuh beberapa menit untuk Kiana bangun sepenuhnya dan menyadari di mana dia berada saat ini.

    Sebuah kamar berukuran kurang lebih dari 4 x 4 meter, terlihat olehnya. Menyadari, begitu asing ruangan itu baginya. Hingga ketika rasa penasaran membuatnya ingin melihat dan duduk, suara rantai yang bergemerincing spontan mengalihkan perhatian Kiana.

    "Apa ini?" tanyanya sambil terus menatap kedua tangannya yang terborgol. Lalu beralih melihat dua kakinya, yang juga mengalami hal yang sama.

    Wajahnya sontak menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Serangan panik seketika kembali menghantui Kiana. Dia menjerit dan berusaha melepaskan diri. Menatap sekitar dengan waswas. Kiana benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini.

    Ruangan itu hanya ruangan putih seperti sebuah kamar rawat. Namun hanya ada satu ranjang, yaitu ranjang yang saat ini tengah Kiana tempati. Ventilasi yang hanya berasal dari jendela yang ada di sebelah kirinya. Begitu pun dengan sinar matahari yang memancar dari sana.

    Di mana?

    Ingatan Kiana kembali berputar. Memikirkan apa yang terjadi padanya hingga dia berada di tempat asing. Sampai, sebuah ingatan tentang kejadian tadi siang di dalam sidang, kembali muncul dan mengacaukan pikirannya. Membuat Kiana kembali menjerit. Dia mengingat saat dirinya disuntik bius hingga jauh pingsan. Ketika orang-orang itu memutuskan memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa.

    "TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!" teriaknya.

    Mata Kiana tertuju ke arah pintu kamar. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan borgol di tangannya. Tidak mungkin, 'kan ini rumah sakit jiwa itu? Kiana tidak gila, dan dia tidak bisa berada di sana. Dia harus keluar untuk menjalani hidupnya seperti dulu. Kiana tidak mau terkurung seperti ini.

    Sayangnya, borgol itu benar-benar sulit dilepaskan. Dia sama sekali tidak bisa beranjak dari ranjang. Sendiri, di sana. Namun ketika melihat kalau hari sudah pagi, harusnya sudah ada perawat yang datang ke sini.

    Alhasil, dalam keadaan yang masih panik, Kiana menunggu kedatangan seseorang sambil sesekali, telinganya mendengar suara pasien-pasien lain di luar. Hingga di tengah telinganya yang mendengarkan kegiatan itu, suara langkah kaki seseorang terdengar. Mendekat ke arah tempatnya diborgol.

    Kiana bersiap untuk menyemburkan sumpah serapahnya pada orang yang masuk itu. Dia hendak memaki, sampai pintu akhirnya terbuka. Memunculkan seorang laki-laki bertubuh besar yang berjalan pelan ke arahnya. Di ambang pintu, laki-laki itu menyeringai hingga Kiana tersentak kaget melihatnya.

    Laki-laki itu, laki-laki yang sama dengan sosok yang membiusnya kemarin. Dia juga yang mengatakan kalau Kiana gila!

    "KAU!"

    "Apa kau tidak bisa tenang?"

    Kiana menatap benci ke arah laki-laki yang diduga merupakan seorang psikiater di rumah sakit jiwa ini. Sampai dia kemudian kembali memberontak, namun tentunya, semua itu hanya sia-sia. "BEBASKAN AKU! AKU INGIN PULANG!"

    Laki-laki itu dengan pelan berjalan ke arahnya. Menatap Kiana dari jarak yang cukup dekat, membuat Kiana langsung bisa menatap wajah tampan dan rahang tegasnya. Dia bisa melihat tatapan tajam dan sorot penuh kebencian di ssana. Kiana yakin, dia tidak salah lihat.

    "Tempatmu sekarang adalah di sini. Kau akan tinggal di sini, selamanya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status