Mag-log inThis is what we do. We fight, we fuck, and we pretend it's fixed. He rips his shirt over his head, the sound of tearing fabric loud in the silence. And I freeze. My hands, which were reaching for him, stop. There. Coiling over his ribs, wrapping around his side, crawling up toward his heart, is an identical replica of Madilyn’s tattoo. "Charlie," he breathes, but it doesn't sound like his voice. His hands are rough, grabbing my hips. One hand slides, pressing hard against my stomach. No. The baby. My baby.
view more“Eumh … kenapa diam saja? Ayo kita ke kamar dan bercinta! Apa kau bisa memberiku uang setelah ini?” racau Diana sambil mengalungkan tangan kepada pria asing yang ada di lorong itu.
“Berapa yang kau minta?” Bagai kucing diberi ikan, siapa yang akan menolak? Meski pria ini tidak mengenal wanita yang tetiba memeluknya, tapi hasrat bergelora dalam dirinya tak bisa ditahan. “Tidak banyak! Hanya … 10 juta untuk biaya hidup. Bagaimana kalau kita ke dalam sana. Kau tahu, milikku sudah….” Bibir tipis Diana menggumam, cekikikan dan tatapannya sayu karena dia menenggak alkohol begitu banyak. Sedangkan pria yang ada di depan Diana tadi menyeringai. Dia baru saja meeting dengan seseorang di bar ini dan memesan minuman. Ternyata, minuman itu itu mengandung obat perangsang. Dan sialnya, dia tak dapat menahan semua itu. Dia juga butuh penyaluran hasrat. “Baiklah kalau kau hanya meminta nominal itu. Kuharap kau tidak menyesal setelah ini, Nona,” kata pria itu sambil mendorong Diana masuk ke dalam kamar yang telah dipesankan rekannya. “Aku tak akan menyesal. Silakan lakukan sesuka hatimu, aku milikmu malam ini!” kekeh Diana yang semakin membakar hasrat pria itu malam ini. Sambil terkekeh, telapak tangan Diana mengusap tonjolan keras di celana. Dan tanpa sadar dia meracau, “Aku juga ingin tahu. Pria tegap dan gagah sepertimu apakah memiliki ukuran yang panjang dan besar? Satu lagi … aku juga ingin tahu. Apakah kau memiliki durasi ber-cin-ta yang lama atau tidak? Kurasa … mungkin hanya sepuluh menit!” “Kau merendahkanku? Oh, baiklah kalau begitu. Aku akan mencobanya. Jangan menyesal kalau kau tak bisa berjalan setelah ini, Nona." maki pria itu dengan kesal. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria itu segera membopong tubuh wanita cantik dengan tinggi 165 cm ini, lalu membawanya ke dalam kamar yang dipesan rekannya. Ia tak berbuat lembut sedikit pun! Begitu sampai di dekat ranjang, ia hempaskan tubuh itu ke atas ranjang. “Ah! Kau kasar sekali, Tuan! Bisakah saat bermain nanti kau juga memperlakukanku seperti ini? Oh, … ah!” racau Diana sambil merintih dan berkata yang tidak-tidak. Sejenak, pria itu memandang Diana sekilas. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Setelah menghempaskan benda berwarna abu-abu gelap itu sembarangan ke lantai, barulah ia melepaskan kemejanya. Kancing kemeja satu per satu terlepas, memperlihatkan pemandangan yang memanjakan mata. Otot-otot kekar terpampang jelas, hasil kerja keras di gym. Bisepnya meliuk indah saat ia mengangkat tangan, menunjukkan definisi yang sempurna. Rahangnya tegas, terpahat dengan ketampanan yang sangat alami khas pria pribumi. Mata cokelatnya memancarkan intensitas yang membuat jantung berdebar. Rambut hitamnya lebat dan sedikit berantakan, menambah kesan maskulin. Alisnya begitu tebal, membingkai tatapan tajam yang menusuk. Penampilan yang membuat siapa pun akan terpana, tak terkecuali Diana yang langsung menubruknya tadi. Setelah itu, pria ini memperhatikan wanita di atas rangjang yang bergerak bagai cacing kepanasan. Bagaimana tidak? Kemungkinan wanita itu juga terpengaruh obat perangsang. Sekian lama memindai tubuh Diana atas sampai bawah. Satu kata … cantik dan seksi. Payudara besar, bokong padat berisi dan tubuh ideal. Sial. Jakunnya bergerak liar naik dan turun seirama dengan gemuruh di dadanya yang makin menggila setiap detiknya. Bibir memuji lirih, “Apa dia tidak akan menyesal setelah ini? Sialan apa dia memang sungguh masih perawan?” Ia memperhatikan wanita itu dengan gelisah. Denyut di organ intinya tak dapat dicegah. Setiap detiknya berkontraksi, ingin sekali langsung menjamah. Tapi, ia tak akan terburu-buru. Sebelum ia melakukan itu dengan wanita ini, dia harus memastikan apakah wanita ini benar-benar masih ‘tersegel’ atau tidak. Begitu ia menjatuhkan bobot tubuh ke atas ranjang, ia lihat Diana sudah melepaskan rok mini setinggi di atas lutut. “Ah, gerah sekali! Kenapa kau tidak langsung memberiku penawar! Oh, ayolah! Kumohon, sentuh aku!” “Sial!” Pria itu berdecak. Pemandangan indah tersaji di hadapan, membuat sekujur tubuhnya meremang. Terutama di bagian bawah sana, semakin tegak paripurna di antara kedua paha. Kulit paha putih mulus tanpa cela, celana dalam tipis berendam model g-string, berwarna merah tua yang sangat kontras dengan kulit seputih susu. Kini, akal sehat pria itu mulai terkikis. Waktu beranjak malam, dan ia harus segera menuntaskan hasratnya detik ini juga. Lalu, dia jatuhkan tubuhnya di atas tubuh wanita itu, menindih kuat. Jemari kokoh membelai pipi tirus nan cantik, mengenyahkan anak rambut yang berseliweran di dekat wajah. Kemudian, bibir tipisnya bertanya, berbisik di dekat telinga Diana yang sepertinya sangat sensitif. “Apa kau yakin dengan ini?” “Ya.. aku butuh uang.” “Baiklah! Kita akan mulai sesi pertama!” Bangkit lagi dari atas tubuh Diana, pria itu kembali menegakkan badan di samping ranjang. Tak lupa, ia melepas celana dalam merah tua milik wanita itu dan terdengar lenguhan manja dari bibir seksi berpoles lipstick merah menyala. “Ah … cepat masukkan milikmu di sini! Milikku gatal sekali!” “Tunggu sebentar!” kata pria itu. Ia kemudian melepaskan celananya begitu saja, mengambil sebuah pengaman dan memasangkannya secara asal. Kemudian …. “Ah … sakit!” Diana memekik lirih. Dia mencakar tubuh pria yang ada di atasnya. Sebuah benda tumpul menerobos masuk, membuatnya memekik dan dirinya terasa sangat penuh. Pandangannya berkabut efek alkohol yang dia tenggak, pria itu tak jelas wajahnya tapi … sangat tampan. Maka, Diana menggumam dan meracau guna mengenyahkan rasa sakit yang terasa membelah tubuhnya. “Milikmu besar sekali! Kau ….” “Kau ternyata memang masih perawan, huh?” Sedangkan pria yang berada di atasnya menyeringai. Ia tetap menghentak kuat wanita yang ada di bawahnya tanpa peduli rintihan dan erang kesakitan terucap dari bibir Diana. Sakit, semua terasa sangat sakit. Namun, semua telah kepalang basah. Diana tak mungkin mundur. Dia pun akhirnya memohon dengan tatapan sayu pada pria itu. Tak merasakan gerakan apa pun, dia mendesak, “Ah … kenapa kau tidak bergerak? Bukankah aku memintamu melakukannya dengan keras? Atau, … kau justru impoten dan ingin keluar?”CharlieThe sun sets differently over the mountains now.Six months ago, I nearly watched the sun die. I saw it swallowed by a black disc, turning the world into a cold, purple twilight that smelled of rot and end-times.But tonight the sunset is a riot of tangerine and bruised gold, painting the snow-capped peaks of the Northern Territory in fire. It’s vibrant. It’s loud. It’s unapologetically alive.I stand on the balcony of the Alpha Suite at Bloodmoon, leaning against the stone railing. The air is crisp, carrying the scent of pine and the distant smoke of a bonfire down in the village.Below me, the pack is gathering.It’s the Summer Solstice festival. The first joint celebration between Silverwood and Bloodmoon.For generations, our packs were neighbors, then rivals, then unwilling allies. Now, looking down at the courtyard, I can’t tell where one pack ends and the other begins.I see Silverwood rangers sharing kegs with Bloodmoon enforcers. I see pups from both territories chasi
KalebThe bed is vast, a sea of cool, white linen, but all I see is her.Charlie lies beneath me, her dark hair fanned out like a halo against the pillows, her skin flushed pink from the heat of the shower and the orgasm I just tore from her.She is battered. There are bruises blooming like dark violets across her ribs, a bandage wrapping her wrist, and cuts scoring her beautiful skin.She looks like a ruin. She looks like a masterpiece."Kaleb," she whispers, her voice husky, her eyes half-lidded and heavy with desire.I brace my weight on my forearms, caging her, careful not to press down on her injured chest. My heart is hammering against my ribs, a frantic rhythm that hasn't slowed since I saw her standing in the dust of the ravine.For days, I’ve been a soldier. A weapon. I’ve been running on cold rage and tactical necessity. But here, in the quiet dark of this room, the soldier dies.The wolf takes over."I need to see you," I growl, my voice vibrating in my chest. "All of you."
CharlieThe transition from War to Peace isn't a switch, it’s a crash.One minute, I’m standing on the steps of the manor, the weight of the silver pin in my hand and the roar of the pack in my ears. The next, the adrenaline evaporates, leaving my knees shaking and my vision swimming at the edges."Clear the courtyard," Kaleb’s voice cuts through the noise.It’s the Alpha command, low, resonant, and leaving no room for argument. "The Alpha needs rest. Valerius, secure the perimeter. Aris, take care of Orion."He doesn't ask me before he scoops me up. One arm under my knees, the other around my back, mindful of my splinted wrist and bruised ribs.I don't protest. I bury my face in the crook of his neck, inhaling the scent of him. Grateful that he didn’t make me admit that I need help."I can walk," I mumble, though my head is spinning."I know you can," Kaleb rumbles, carrying me through the double doors. "But you’re not going to."He carries me through the house. We pass wolves who bo
CharlieThe silence of the ravine is different now. It isn't the heavy, suffocating silence of the Void. It’s the peaceful, chirping silence of a forest exhaling after a storm.I sit on the bumper of Hollen’s pickup truck, a medic from the support team wrapping my ribs. The adrenaline has crashed, leaving me trembling and hollowed out, but buoyed by relief."They’re surrendering," Hollen says, walking over from the ridge.He looks like hell, soot-stained and limping, but he’s grinning."Ironclaw comms are lighting up. Without Ryker or her they have no leadership. They’re laying down arms at the main gate.""Let them go," I say, leaning my head back against the metal. "Get them off our land. If they come back, we kill them. But today... I’m done with death."Kaleb is sitting next to me. He’s refusing medical attention until everyone else is checked. Typical hero-complex behavior.He has a nasty gash on his forehead and he’s bleeding from a hundred small lacerations, but he’s miraculous






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.